Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Setelah 365 Hari
Satu Tahun Kemudian
Hening adalah suara yang paling menyakitkan bagi seorang Emrys Aetherion Kaito.
Sudah 365 hari berlalu sejak tawa Gabriella Queensa Vanessa terakhir kali memantul di dinding penthouse ini. Sejak saat itu, Gaby seolah menguap dari muka bumi. Tidak ada jejak digital, tidak ada rekaman CCTV yang tersisa, bahkan detektif swasta terbaik di Eropa pun hanya bisa menggelengkan kepala di hadapan Emrys.
Emrys masih ingat malam di mana ia hampir kehilangan akal sehatnya. Frustrasinya memuncak hingga ia siap meratakan London demi satu nama.
"Bakar kota ini jika perlu! Geledah setiap sudut, setiap celah bawah tanah!" perintahnya kala itu, suaranya parau oleh amarah dan keputusasaan.
Namun, ia dihadang oleh satu-satunya orang yang cukup berani (atau cukup gila) untuk menghalangi jalan seorang Aetherion Kaito. Armor Keytlon Gardermoen. Sang bintang pop itu berdiri di hadapan barisan mobil hitam Emrys dengan wajah tenang namun tajam.
"Kau ingin membakar London demi satu gadis, Emrys? Yang kau lakukan bukan menyelamatkannya, tapi menghapus jejak terakhirnya dari dunia ini," ucap Keytlon tenang. "Gaby tidak butuh api. Dia butuh kau tetap waras agar bisa menemukannya."
Kini, setahun kemudian, Emrys harus kembali menjadi mesin yang efisien. Di siang hari, ia adalah Managing Director yang bertangan besi. Ia memimpin rapat, menandatangani kontrak bernilai jutaan dolar, dan memastikan kerajaan bisnis keluarganya tetap tegak.
Namun, ketika lampu-lampu kantor padam dan dunia mulai tertidur, topeng itu luruh.
Setiap malam, Emrys tidak pulang ke kamarnya sendiri. Ia akan melangkah menuju kamar di ujung lorong, kamar yang aromanya masih menyimpan sisa parfum vanila milik Gaby.
Emrys merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang Gaby yang tertata rapi. Ia memejamkan mata, memeluk bantal yang kini terasa dingin, dan mulai merapalkan doa-doa yang sama setiap malamnya.
“Di mana pun kau berada, tetaplah bernapas, Gaby. Kakak akan menjemputmu. Tunggu sebentar lagi.”
Di bawah bantal itu, tangannya menyentuh sebuah benda kecil. Sebuah kalung perak yang tertinggal. Satu-satunya bukti bahwa Gaby bukan sekadar ilusi dalam ingatannya.
Sementara Itu
Ribuan mil dari hiruk pikuk London yang dingin, matahari bersinar terik di sebuah pulau yang tak tercantum dalam peta komersial. Namun, keindahan alam itu terasa mati bagi gadis yang duduk termenung di tepi kolam kecil berlumut.
Gadis itu adalah Gabriella.
Tidak ada lagi kemeja rapi khas mahasiswi Oxford atau tawa riang saat membahas teori apapun. Kakinya yang jenjang dibiarkan telanjang, kotor oleh tanah basah dan lumut. Gaun sutra putih yang dipakainya dibiarkan menyentuh tanah, melukiskan noda cokelat di kain yang mahal itu.
Gaby menatap bayangannya di air kolam yang keruh. Wajahnya masih secantik dulu, namun matanya kehilangan binar kehidupan. Di sinilah ia menghabiskan 365 hari terakhir. Bukan di perpustakaan Oxford yang megah, melainkan di pengasingan yang sunyi ini.
Sebuah suara bzzzt halus, hampir tak terdengar, melintas di dekat telinganya. Gaby tidak bergeming. Ia tahu apa itu.
Itu adalah salah satu 'Lalat' milik Melvin. Robot mungil, mahakarya teknologi spionase, yang beterbangan di sekujur pulau. Lalat-lalat itu bukan sekadar kamera pengawas. Mereka dilengkapi sensor gerak dan termal yang terhubung langsung ke gawai Melvin.
Jika Gaby melangkah terlalu dekat ke pantai, atau jika detak jantungnya meningkat drastis karena panik, 'Lalat' itu akan mengirimkan sinyal bahaya. Sebuah sistem pertahanan otomatis yang memastikan Gaby tidak akan pernah bisa lari.
Melvin Jabulani-Blackwood.
Tahun ini, dunia mengenalnya sebagai jenius eksentrik. Di Oxford, ia berlabel 'seniman gila' dengan karya-karya instalasi yang provokatif. Di dunia fashion, label streetwear mewahnya mulai digilai para selebriti, memberinya julukan 'pebisnis gila'.
Namun bagi Gaby, Melvin hanyalah satu hal. "Seorang pria obsesif yang mengerikan."
Pria berambut putih keperakan dan bermata biru sedingin es itu selalu memperlakukannya bagaikan porselen rapuh. Ia menyuapi Gaby dengan makanan terlezat, menyisir rambutnya setiap pagi, dan membawakannya buku-buku langka.
"Kau akan selalu berada di sisiku, Gaby girl," bisik Melvin suatu malam, sambil membelai pipi Gaby dengan lembut.
Tapi, kemanisan itu adalah racun. Di balik sentuhan lembutnya, ada paksaan yang menyesakkan. Jika Gaby menolak makan, atau mencoba merusak salah satu 'Lalat', tatapan mata biru Melvin akan berubah menggelap. Ia tidak akan memukulnya, tapi ia akan mengurung Gaby di kamar tanpa cahaya selama berhari-hari, sampai gadis itu memohon ampun dan berjanji untuk menurut.
Gaby mendongak, menatap langit biru yang luas. Di suatu tempat di luar sana, Emrys mungkin sedang mencarinya. Tapi di pulau ini, di bawah pengawasan mata-mata robot Melvin, kebebasan terasa seperti mimpi yang mustahil.
.
.
.
Langkah kaki Gaby yang kotor oleh tanah akhirnya menapak pada bebatuan tangga yang rapi di halaman rumah. Rumah itu, dengan arsitektur klasik modern dan balkon yang menghadap langsung ke danau dan hutan, seharusnya menjadi rumah impian bagi siapa pun. Namun bagi Gaby, setiap sudut rumah itu adalah pengingat akan kehilangannya.
Meskipun hatinya hancur, fisik Gaby tampak sehat. Pipinya yang sedikit chubby adalah bukti bahwa Melvin tak pernah membiarkannya kekurangan nutrisi. Melvin sangat terobsesi dengan kesehatan Gaby. Ia memastikan setiap suapan yang masuk ke mulut gadis itu adalah bahan organik terbaik, seolah-olah Gaby adalah karya seni berharga yang harus dijaga agar tidak retak.
Seorang pelayan wanita sudah berdiri di dekat pintu masuk, wajahnya datar namun matanya memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan.
"Nona Gabriella, Anda sudah kembali," sapa pelayan itu sambil membungkuk kecil. "Tuan Melvin meminta Anda segera membersihkan diri. Gaun Anda kotor, dan Tuan tidak suka melihat ketidakteraturan saat jam makan siang."
Gaby tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, membiarkan pelayan itu menuntunnya masuk ke dalam kemewahan yang mencekik.
Di lantai atas, di balik pintu kayu ek yang tebal, Melvin Jabulani-Blackwood berada di dunianya sendiri.
Ruang kerja itu adalah perpaduan antara studio seni dan kantor korporat. Sketsa-sketsa streetwear terbaru berserakan di atas meja besar, berdampingan dengan kain-kain mahal bertekstur unik. Di layar monitor besar, terlihat grafik penjualan global dari label miliknya yang sedang meroket.
Keputusan Melvin untuk meninggalkan Oxford tidak membuatnya jatuh. Justru, dengan "menyembunyikan" Gaby di sini, kreativitasnya seolah meledak. Ia menciptakan desain yang terinspirasi dari setiap gerak-gerik Gaby, menjadikannya muse abadi dalam kesunyian pulau ini.
Melvin meletakkan pensil sketsanya. Ia melirik salah satu layar kecil di sudut meja, tampilan dari 'Lalat' yang baru saja merekam Gaby menangis di hutan. Mata birunya tidak menunjukkan rasa bersalah. Hanya ada kepuasan yang dingin.
"Menangislah sepuasmu, Gaby," bisiknya pelan, suaranya halus seperti sutra namun tajam seperti sembilu. "Setidaknya kau menangis di sisiku, bukan di pelukan kakakmu yang sombong itu."
Ia bangkit, merapikan kemeja putihnya yang tanpa cela, dan bersiap untuk turun. Makan siang bersama Gaby adalah ritual suci yang tidak boleh diganggu oleh siapa pun.
Ruang makan itu sunyi, hanya terdengar denting samar dari alat makan perak yang disiapkan pelayan. Cahaya matahari siang menembus jendela kaca besar, menerangi meja makan yang dipenuhi hidangan mewah, namun suasana di dalamnya terasa beku.
Melvin Jabulani-Blackwood sudah duduk di kursi utamanya, tampak tenang dan berwibawa dalam balutan kemeja hitam yang elegan. Rambut putihnya tertata rapi, dan mata birunya menatap pintu dengan antisipasi yang dingin.
Tak lama kemudian, Gaby muncul, diapit oleh dua pelayan wanita yang tampak kaku. Ia mengenakan gaun sutra baru berwarna biru pucat, kontras dengan kulitnya yang putih bersih, namun wajahnya tampak pucat dan tanpa ekspresi.
Melvin mengulas senyum tipis, lalu menepuk pelan paha kirinya. "Kemarilah, Gaby girl."
Tanpa membantah, Gaby melangkah mendekat. Ia sudah tahu ritual ini. Setiap kali makan bersama, ia harus duduk di pangkuan Melvin, menerima suapan dari tangannya, layaknya seorang anak kecil yang rapuh. Ini bukan sekadar perhatian, melainkan penegasan kepemilikan. Melvin ingin mengontrol setiap aspek kehidupan Gaby, termasuk apa yang masuk ke dalam tubuhnya.
Gaby duduk perlahan di pangkuan Melvin, tubuhnya terasa kaku. Melvin melingkarkan lengan kirinya di pinggang Gaby, sementara tangan kanannya mengambil sendok perak berisi suapan pertama.
Melvin menyuapkan makanan ke mulut Gaby, lalu setelah Gaby menelannya, ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendaratkan ciuman dalam di bibir Gaby. Itu bukan ciuman yang lembut, melainkan ciuman yang mengisap, penuh nafsu posesif yang mencekik.
"Kau menyukainya?" tanya Melvin pelan, setelah melepaskan bibir Gaby, matanya menatap tajam ke dalam mata gadis itu.
Gaby mengangguk kaku. "Ya. Enak."
Di balik anggukan itu, Gaby merasa jijik dan takut. Ia mengingat jelas kejadian enam bulan lalu. Seorang koki Prancis yang didatangkan khusus oleh Melvin telah memasak hidangan istimewa untuknya. Namun, karena suasana hatinya sedang buruk, Gaby menolak suapan Melvin dan melempar makanan itu ke lantai.
Kemurkaan Melvin meledak saat itu juga. Ia tidak memarahi Gaby, tapi ia memanggil koki itu ke ruang makan. Di hadapan Gaby yang ketakutan, Melvin mengakhiri nyawa koki itu dengan sadis, memisahkan kepalanya dari tubuhnya dalam sekali tebas.
Gaby masih teringat tangisan histerisnya malam itu, gemetar dalam pelukan Melvin yang mencoba menenangkannya dengan kata-kata manis namun mengerikan. Sejak saat itu, Gaby berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah membiarkan amarahnya membahayakan nyawa orang lain lagi. Kepatuhannya adalah harga yang harus dibayar untuk melindungi orang-orang di sekitarnya dari kegilaan Melvin.
Makan siang berlanjut dengan sunyi, hanya diiringi suara Melvin yang terkadang menceritakan tentang desain terbarunya atau rencana masa depannya dengan Gaby. Gaby hanya mengangguk, tersenyum palsu, dan menelan setiap suapan yang diberikan Melvin, sembari berdoa dalam hati agar penderitaannya segera berakhir.
Tapi... Kapan semuanya akan berakhir?