Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas budi
"Kamu itu cuma anak supir. Mana pantas sekolah di sini. Dasar miskin!"
Gadis berseragam putih abu-abu dengan rambut dikuncir kuda itu terjatuh untuk yang ke sekian kalinya.
Lututnya terasa perih. Baru saja dia menghantam jalan setapak di samping perpustakaan sekolah karena di dorong oleh kakak kelasnya.
Air mata perlahan menetes. Rambut yang berantakan dan penuh lumpur terasa begitu menganggu.
Namun, gadis itu tak bisa apa-apa. Terakhir kali dia melawan, wajahnya babak belur dan itu membuat sang Ayah jadi khawatir.
"Kamu kayaknya haus, deh. Nih, aku kasih minum," ucap salah satu kakak kelas yang merupakan ketua dari geng pembully yang paling terkenal di sekolah.
"Nggak, Kak. Airnya kotor," tolak gadis itu sambil menggeleng cepat.
"Kotor? Nggak, ah. Airnya bersih, kok. Iya kan, teman-teman?"
"Yap. Betul. Airnya bersih banget, kok. Kamu jangan suka fitnah Kak Metha, ya!"
Seorang gadis dengan jepit rambut pita yang besar mendorong bahunya dengan kasar.
"Sekarang, cepat minum airnya!" titah gadis yang dipanggil Metha itu. Air keruh yang dia isi di wadah bekas air mineral itu ia arahkan ke mulut sang adik kelas.
Wajah yang semula ramah kini berubah bengis.
"Nggak mau," tolak gadis itu. Air matanya semakin deras mengalir.
"Minum, nggak?!" Metha tetap memaksa. Teman-teman yang lain sudah memegangi bahu gadis itu agar tak melawan.
"Hei, kalian ngapain?" tegur seorang pemuda yang tak sengaja lewat.
Dia menatap gadis dengan tubuh penuh lumpur yang duduk diatas genangan air yang kotor. Ekspresinya terlihat datar.
"Eh, ada Ibas," kata Metha yang tiba-tiba bersuara dengan nada manja.
"Aku tanya, kalian lagi ngapain?" Ibas melangkah mendekat. Tatapannya tajam, penuh intimidasi.
"Ka-kami cuma lagi main," jawab Metha seraya tersenyum kagok.
"Main? Main apaan sampai anak orang jadi kotor kayak gitu?"
"Hari ini dia ulang tahun. Jadi, kami cuma kasih dia kejutan. Iya kan, Al?"
Metha memelototi anak baru yang bernama Aliya itu. Dia memberi isyarat agar Aliya mau membantunya berbohong.
"Nggak," geleng Aliya. Dia berusaha berdiri meski lututnya terasa begitu sakit. "Kak, mereka bully aku."
"Bas, jangan percaya!" geleng Metha. "Anak ini cuma mengada-ada."
"Aku nggak mengada-ada. Aku beneran. Kak Metha dan teman-temannya bully aku."
Ibas memperhatikan sosok Aliya dari atas ke bawah. Meski sudah begitu kotor, namun gadis itu tetap terlihat manis di matanya.
"Kak, tolong..." mohon Aliya.
Ibas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Aih! Bagaimana ini? Sebenarnya, dia malas ikut campur dengan urusan orang lain.
Tapi, tangis adik kelas itu sungguh membuatnya terganggu. Ibas tak bisa tenang jika membiarkan gadis itu tetap di sini bersama Metha.
"Kamu, siapa nama kamu?" tanya Ibas.
"Aliya," jawab Aliya singkat.
"Aliya, kesini!" titah Ibas.
Aliya pun menurut. Dia berjalan ke arah Ibas meski agak pincang.
"Al, balik ke sini! kamu itu mainan aku!" kata Metha dengan suara menggeram.
"Mulai sekarang, Aliya ada didalam perlindungan ku. Siapapun yang berani ganggu dia, maka siap-siap untuk berhadapan sama aku!" ujar Ibas menegaskan.
"Ibas! Kamu apa-apaan, sih?" protes Metha.
"Metha, lebih baik kamu hilangkan kebiasaan jelek kamu ini. Kasihan kalau Om Anang sama Tante Ina sampai tahu bahwa anak kesayangan mereka malah jadi bos pembully di sekolah."
Setelah itu, Ibas menarik tangan Aliya untuk pergi dari tempat itu. Dan, sejak saat itu, Ibas benar-benar melindungi Aliya. Dia tak pernah membiarkan gadis itu dibully hingga akhirnya Ibas lulus sekolah.
"Kamu tenang aja! Selama ada aku, kamu akan selalu aman."
Aliya ingat tentang kalimat itu. Tapi, Ibas yang justru sudah lupa.
.....
"Non Aliya, kenapa ngelamun?" tanya Bi Wati pada Aliya.
Aliya tersentak kaget. Dia tersenyum canggung kemudian melanjutkan kegiatannya untuk memotong wortel.
"Nggak apa-apa, Bi," jawab Aliya.
Ingatan tentang masa lalu muncul begitu saja. Aliya tak bisa mencegahnya sama sekali.
"Non Aliya masih mikirin soal yang tadi, ya?" tanya Bi Wati dengan senyum tak enak.
Dan, Aliya hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Sebaiknya, Non Aliya nggak perlu mikirin soal perempuan tadi. Dia itu cuma perempuan matre yang kerjanya cuma morotin duit Den Ibas doang."
"Tapi, Mas Ibas cinta sama dia kan, Bi?" timpal Aliya.
Bi Wati menghela napas. "Itu karena Den Ibas belum mengenal Non Aliya saja. Nanti, kalau Den Ibas sudah cukup tahu tentang Non Aliya, pasti cintanya Den Ibas bakalan beralih ke Non Aliya."
Mendengar itu, Aliya hanya tertawa kecil. Mungkin, dia memang jatuh cinta pada Ibas. Tapi, terkadang cinta tidak boleh dipaksakan.
Jika Ibas memang mencintai Nadia, maka Aliya tidak akan merebut pria itu dari Nadia. Aliya menerima kekalahannya dengan legowo.
Alasan dia bertahan, itu karena dia ingin membalas budi Ibas di masa lalu. walau bagaimanapun, jika bukan karena Ibas, mana mungkin Aliya sanggup bertahan di hutan rimba berkedok sekolah saat itu.
"Loh, kok Non Aliya malah ketawa, sih?" tanya Bi Wati heran.
"Bi, aku nggak butuh cintanya Mas Ibas," kata Aliya. "Mau dia dengan siapapun, itu haknya dia."
Kemudian, Aliya menjeda sesaat kemudian melanjutkan dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Toh, sebentar lagi aku juga akan pergi."
"Pergi? Siapa yang mau pergi, Non?" tanya Bi Wati.
Aliya agak kaget. Ternyata, suaranya masih bisa didengar oleh Bi Wati.
"Siapa yang bilang mau pergi? Bi Wati pasti cuma salah dengar."
"Masa' sih?" Perempuan paruh baya itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Udah, nggak usah dipikirin. Mending, Bi Wati bantu aku potongin ayam aja. Ya?"
"Ya udah, Non," angguk Bi Wati dengan hati yang masih merasa aneh.
Jelas-jelas, dia tak salah dengar. Dia yakin seratus persen dengan pendengarannya. Aliya memang mengatakan jika akan pergi dalam waktu dekat.
****
Sore harinya, Ibas kembali dengan wajah yang terlihat lelah. Ia duduk di sofa sambil melonggarkan dasi yang selama seharian ini sudah mencekik lehernya.
"Al, tolong bikinin kopi, dong!" pinta Ibas saat Aliya lewat disampingnya.
Aliya tak menjawab. Namun, perempuan itu tetap melaksanakan perintah Ibas. Walau bagaimanapun, istri yang sedang dalam masa iddah tetap dianjurkan melayani keperluan suaminya seperti soal makan dan minum.
"Ini kopinya," ucap Aliya sekembalinya dia dari dapur.
"Al, mau kemana?" tanya Ibas ketika Aliya tidak duduk dan langsung hendak pergi lagi.
"Mau ke kamar," jawab Aliya.
"Ngapain?"
"Nggak ngapa-ngapain."
"Kamu di sini aja! Temenin aku cerita. Hari ini, berat banget buat aku."
"Kalau Mas Ibas butuh teman cerita, kenapa nggak ketemu Nadia aja? Bukannya, tadi Mas Ibas udah janji mau ke tempat Nadia sehabis pulang kerja? Kok, malah pulang ke sini?"
Ekspresi wajah Ibas langsung berubah keruh. Dia tak suka melihat Aliya yang sekarang terlihat begitu masa bodoh.
"Al, kamu lebih senang kalau suami kamu pergi ke tempat perempuan lain?" tanya Ibas.
"Suami?" Aliya tertawa lagi. "Aku mana punya suami, Mas. Mas lupa, ya?"
"Apa maksud kamu, Aliya?" celetuk Saraswati yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka bersama Ikhsan.
"Bu-Bunda..." lirih Ibas dengan gugup.
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺