NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Menceraikan, Diceraikan, Cerai

"Kharisma!"

Tegang tubuh Kharisma langsung memancing sedak di dadanya. Makanannya tersangkut di tenggorokan, dipicu oleh suara seruan melengking yang tiba-tiba menembus telinga.

Kinnar, dengan kecepatan mengalahkan kilatan cahaya menyambar dari balik pintu. Tangannya terentang, dan belum sempat Kharisma cegah, perempuan itu sudah lebih dulu berhasil menempel di tubuhnya, memeluknya erat. Terlalu erat hingga nyaris memutus pasokan udara.

"Kinnarr! Aku tidak bisa bernapas!" Kharisma terengah protes, tangannya berusaha mendorong-dorong tubuh Kinnar yang terlalu keras kepala untuk bergerak.

"Gue kangen banget sama lo!"

Alih-alih melepaskan, justru Kinnar mengeratkan lengannya di tubuh Kharisma. Mereka terhuyung-huyung karena kekuatan Kinnar yang terlalu meledak-ledak, hampir membuat Kharisma lepas dari kursinya.

"Iya! Iya! Lepas dulu!"

Kharisma mendorong lebih kuat kali ini, untungnya berhasil membuat Kinnar menjauh. Dia meraup udara dengan rakus, merah di wajahnya kian menghilang saat udara memasuki paru-parunya yang sesak.

Kinnar ini menjengkelkan sekali.

Kinnar terkekeh puas, lantas menarik kursi di hadapan Kharisma dan duduk manis. "Gue kira kita nggak bakal ketemu lama. Pas gue denger kabar dari Tante Isabella kalo lo dateng, gue langsung berangkat tanpa babibu!" celotehnya heboh.

Kharisma memberengut, bibirnya mengerucut sebal. Kinnar sama sekali tidak merasa bersalah setelah membuatnya hampir mati konyol.

"Seharusnya Mama tidak memberitahumu, malas sekali bertemu dengan orang heboh," dengusnya, menyilangkan tangan di depan dada.

"Ih, lo nggak boleh gitu!" Kinnar balas melotot. "Gue kan kangen!"

Pada akhirnya Kinnar ikut-ikutan merajuk karena tidak disambut dengan baik oleh sahabatnya. Dia memasang tampang dramatis, membuang muka dengan bibir mengerucut. Tak lupa sesekali mencuri pandang, memastikan Kharisma masih kesal atau tidak padanya.

"Kangennya yang biasa saja, jangan mencekik-cekik," respon Kharisma ketus, tapi perlahan-lahan tersenyum. Dia menatap Kinnar yang masih sok merajuk. "Senang tidak, kalau aku pulang?"

Kinnar melirik gengsi. "Senang."

"Benar?"

Kinnar mengangguk enggan.

"Ah, sepertinya tidak—"

"Seneng ah, bawel," Kinnar menyela gemas, gerimutan sendiri pada sahabatnya yang dengan sengaja memancing-mancing reaksi.

Kharisma terkikik puas mendapati raut frustrasi Kinnar. Baru datang saja ia sudah berhasil menjahili perempuan itu. Mengerjai Kinnar memang sangat menyenangkan menurut Kharisma.

"Ada apa ini? Kenapa sepertinya ribut sekali?"

Dari arah dapur muncul Isabella yang membawa nampan berisi dua gelas panjang, cairan berwarna oranye terlihat menyegarkan di dalam gelas.

Wanita cantik dengan rambut di sanggul dan pakaian modis itu meletakkan gelas di hadapan masing-masing anak. Satu untuk putrinya tersayang, satunya lagi untuk sahabat putrinya yang sudah dianggap seperti anak sendiri.

"Asik! Jus buatan Tante Isa!" Kinnar berseru antusias, wajahnya berseri-seri memandangi jus jeruk menyegarkan yang terpampang di hadapan. "Terimakasih, Tante!"

Kharisma yang berada di hadapan Kinnar pun ikut mengangguk antusias. "Iya! Iya! Jus buatan Mama memang terbaik!" Kharisma mengacungkan dua ibu jarinya ke arah Isabella, lalu meraih gelas panjangnya.

"Kalian ini memang selalu juara kalau memuji, ya?" Isabella tertawa lembut, suaranya yang menenangkan terdengar bagai alunan musik. "Terimakasih, ya."

"Apapun yang dibuat Tante selaluuu enak!" Kinnar ikut-ikutan terkekeh, menyesap jus di dalam gelas dan bersenandung puas.

"Apa yang dikatakan Kinnar itu benar, Mama." Kharisma mengangguk setuju, senyum cerah terukir di wajahnya saat memperhatikan Kinnar menegak dengan cepat. Sudut-sudut matanya menyipit.

"Iya, iya, sudah dong memujinya. Mama jadi malu." Isabella tersenyum simpul, menarik kursi di samping Kharisma.

Sejenak, sorot matanya yang hangat berubah menjadi sebuah ungkapan kerinduan yang diam. Tangan wanita itu bergerak membelai surai halus putrinya, hal yang biasa dia lakukan setiap saat namun sudah dua hari kemarin tidak bisa dia lakukan.

Jujur saja, Isabella benar-benar rindu.

"Bagaimana hari-hari kamu di sana? Senang?" Isabella bertanya dengan nadanya yang hangat. "Prabujangga baik kan, sama kamu?"

Pertanyaan Isabella jelas ditunjukkan untuk kehidupan baru Kharisma di rumah suaminya.

Kharisma berhenti sejenak, gelas melayang tepat di depan bibirnya yang terbuka. Senyumnya perlahan surut. Pertanyaan Isabella jelas membuatnya teringat kembali pada situasi pernikahannya yang entah mengapa berubah rumit.

Apakah ini saatnya ia memberitahu sang Mama tentang Prabujangga? Apakah tepat jika Isabella tau bahwa Prabujangga menikahinya bukan karena kemauan sendiri tapi karena terdesak?

Baru saja mulut Kharisma terbuka hendak menjawab, tiba-tiba saja salah seorang pelayan menyela lebih dulu.

"Maaf menganggu Bu, Non, di depan ada tamu yang mendesak untuk menemui Non Kharisma," lapor pelayan itu, seketika menciptakan hening diantara ketiganya.

Kinnar, Isabella, dan Kharisma sendiri seketika senyap.

Kharisma dan Kinnar bertukar pandang.

"Tamu yang mendesak?" ulang Isabella, sedikit nada keheranan terselip di suaranya. "Siapa?"

Pelayan itu sejenak melirik ke arah Kharisma sebelum menjawab, "suami Non Kharisma," ujarnya. "Pak Prabujangga."

...***...

Satu menit.

Dua menit.

Bahkan memasuki menit ke lima, belum ada tanda-tanda pergerakan dari balik pintu ganda Mansion Respati.

Prabujangga mengetuk-ngetuk tepi jendela mobil tak sabaran, setiap ketukan berubah semakin cepat, menggambarkan bagaimana perasaan itu lenyap di setiap detak jam yang bergerak.

Menjengkelkan. Perempuan itu benar-benar menjengkelkan.

Prabujangga tidak ingin repot-repot masuk ke dalam sana, dia hanya berdiri di sisi jalan, tepat di samping gerbang tinggi yang menjulang. Dia tidak mau berurusan dengan orang-orang yang tidak mempengaruhi tujuannya sama sekali.

Kecuali si kecil itu. Istri mudanya yang lancang.

Barulah ketika yang dipikirkannya mulai keluar dari tempat yang diharapkan, Prabujangga mulai menegakkan tubuhnya. Ekspresinya dingin, berbeda dengan gejolak menggelegar di dalam dirinya.

"Berani kamu membantah saya sekarang?"

Suara itu terlalu halus, terlalu tenang, terlalu lembut jika diucapkan oleh seseorang yang tengah marah.

Tapi rasanya, ketenangan itu adalah suara paling tidak nyaman untuk didengar.

Itulah yang mungkin dipikirkan oleh Kharisma.

Perempuan dengan sweater kuning cerah dan rok kain semata kaki itu menunduk begitu tiba di hadapan Prabujangga. Kakinya menendang-nendang krikil, mengotori sneaker putih susu yang terpasang di kakinya.

"Aku hanya rindu Mama."

Tapi Prabujangga tak hirau dengan alasan klasiknya.

"Apa yang kamu katakan pada mereka?" Nada Prabujangga mulai mengintrogasi. "Berhasil menjelek-jelekkan nama saya lagi?"

Kharisma mendongak, kepalanya menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak pernah menjelekkan nama Mas, kok."

"Tidak pernah?" Prabujangga melangkah mendekat—cukup untuk membuat yang didekatinya menciut. "Saya sudah tau apa yang kamu katakan pada Mama saya. Kamu mengadu padanya seperti anak kecil."

"Tapi yang aku adukan pada Bunda tidak salah." Kharisma mendongak, memberanikan diri untuk menatap suaminya. "Mas Prabu memang menyita ponselku, kan? Mas juga tidak membiarkanku keluar dari kamar."

Sikap keras kepala inilah yang membuat Prabujangga jengkel ternyata.

Ia salah mengira bahwa perempuan seperti Kharisma ini akan memudahkannya dalam mencapai tujuan karena otaknya belum ternoda oleh kepandaian. Prabujangga menganggap bahwa perempuan itu bodoh, tidak sempat mengira bahwa perempuan itu juga mungkin keras kepala.

"Coba pikirkan dengan otakmu yang sempit itu kenapa saya melarangmu untuk keluar dari kamar." Nada bicara Prabujangga nyaris membentak. "Pikirkan kenapa saya mengobatimu saat kamu merengek kesakitan."

Nada Prabujangga yang naik satu oktaf agaknya berhasil membuat Kharisma terkesiap.

"Saya tidak mau obat itu sia-sia dioleskan padamu. Saya menyuruhmu tetap di kamar agar kamu bisa beristirahat."

Kharisma terbelalak, seperti menyadari sesuatu.

Mungkin dia sebelumnya beranggapan bahwa Prabujangga mencoba untuk mengurungnya di kamar, bukan memberinya waktu istirahat.

"Mas... ingin agar aku cepat membaik?" dia mencicit, menggigit bibir bawah dengan gugup.

"Tidak."

Tapi bantahan dingin Prabujangga melenyapkan dugaannya.

"Saya hanya memastikan bahwa saya bisa tetap menyentuhmu sampai kamu mengandung putra saya tanpa adanya kendala seperti ini. Saya bisa saja tidak peduli dengan rasa sakitmu jika saya mau."

Pengakuan yang berhasil membuat Kharisma terdiam kelu.

Prabujangga meraih dagu Kharisma dengan ujung jarinya, mendongakkan kepala perempuan itu dan memaksa agar Kharisma membalas tatapannya.

"Sejak awal sudah saya jelaskan tujuan saya, kan? Bahwa saya hanya menginginkan seorang putra darimu," bisik Prabujangga, napasnya berhembus seperti ancaman halus. "Apa yang saya lakukan kemarin hanya untuk mempermudah jalan saya setiap malam untuk menidurimu. Jangan salah paham."

Prabujangga menangkup rahang perempuan yang berkaca-kaca, menekan jari-jarinya pada pipi Kharisma. "Lebih sedikit membantah saya akan mempermudah ini semua."

Ibu jari Prabujangga menghapus jejak air mata di pipi Kharisma. Gerakkannya terlalu kaku. Terlalu mengejek.

"Setelah kamu memberikan saya seorang putra, saya akan membebaskanmu. Saya akan menceraikanmu."

Cerai.

Satu kata yang mampu memutus pasokan udara di paru-paru Kharisma yang tiba-tiba menolak untuk berfungsi. Mata yang berkaca-kaca menumpahkan tetesan air mata dalam diam yang kelu.

Menceraikan. Diceraikan. Cerai.

Kata-kata yang ia mengerti tapi tidak pernah ia anggap bisa terjadi. Tumbuh di keluarga bahagia membuat Kharisma menganggap kata-kata itu sebagai susunan huruf tidak berguna.

Tapi sekarang itu berubah.

Kata-kata itu... adalah kutukan yang dijatuhkan padanya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!