NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:91k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Rahasia yang Mulai Retak

Ting tong.

Suara bel rumah berbunyi. Alvian yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh.

“Aku buka!” serunya cepat, lalu berlari kecil.

Tak lama, ia kembali dengan sebuah kotak di tangan. Wajahnya langsung cerah.

“Umi… ini buat Al?”

Ayza yang sedang di dapur melangkah keluar. Tatapannya jatuh ke kotak itu. Lalu ke label pengirim.

Sekejap… ekspresinya berubah. Tidak drastis. Tidak marah. Tapi cukup… untuk membuat suasana ikut dingin.

“Dari siapa, Mi?” tanya Alvian, masih penasaran.

Ayza mengambil kotak itu. Membaca nama yang tertera beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

“Ini… dari Om Reza.”

Alvian terdiam.

Binar di wajahnya tidak langsung hilang. Tapi perlahan… berubah jadi ragu. Seolah mengingat sesuatu.

“Yang di minimarket dan sekolah kemarin…?” tanyanya pelan.

Ayza mengangguk. Lalu Ayza mengembalikan kotak itu ke tangan Alvian.

“Kita balikin, ya.”

Nada suaranya lembut. Tidak memaksa, tapi tidak memberi pilihan lain.

Mata Alvian jatuh ke kotak itu, lalu ke Ayza beberapa detik. Wajahnya sedikit mengernyit. Mengingat kembali pria itu. Senyumnya. Caranya bicara. Dan perasaan yang muncul saat itu. Tidak nyaman.

Ia mengangguk cepat.

“Iya, Umi.” Kali ini jawaban itu tanpa ragu.

Ayza mengusap kepala anaknya perlahan.

“Pinter.”

Ia lalu mengambil kembali kotak itu. Berjalan ke arah meja. Tangannya sudah meraih ponsel. Tanpa banyak kata, ia memesan kurir.

Dan keputusan itu… selesai di situ.

***

Beberapa jam kemudian.

Pintu rumah Rahman terbuka. Seorang kurir berdiri di depan. Membawa kotak yang sama.

“Pak Reza?”

Reza yang membuka pintu mengangguk.

“Iya.”

“Ini paket dikembalikan, Pak. Dari alamat sebelumnya.”

Reza tidak langsung bergerak. Perhatiannya tertuju ke kotak itu. Nama pengirim. Namanya sendiri.

Beberapa detik… ia hanya berdiri. Lalu mengambil paket itu pelan.

“Terima kasih.”

Pintu tertutup.

Reza masuk ke kamarnya, berdiri di balik pintu. Kotak itu masih di tangannya. Tidak langsung dibuka. Sorotnya tajam. Tidak lagi santai seperti sebelumnya. Lalu, ia tertawa kecil. Pendek.

"Dikembalikan.”

Ia berjalan ke meja, meletakkan kotak itu di sana. Tangannya menyentuh permukaannya sebentar.

“Berarti…” gumamnya perlahan, “…masih dijaga dengan ketat.”

Sudut bibirnya terangkat tipis. Namun kali ini… jelas bukan hangat.

“Gak apa-apa…”

Nada suaranya rendah. Santai. Tapi mengandung sesuatu yang lain.

“Kalau pintu depan ditutup…masih ada cara lain.”

Kotak itu akhirnya dibuka. Namun bukan isinya yang ia perhatikan. Melainkan… sesuatu yang sedang ia rencanakan.

Dan kali ini, ia tidak akan berhenti hanya di luar.

***

Ruang kerja itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Ridho berdiri di depan meja. Beberapa berkas masih terbuka. Namun fokusnya… tidak benar-benar di sana.

Pintu di ketuk dua kali.

Tapi sebelum Ridho membuka mulut untuk memberi izin, pintu sudah terbuka.

Husain masuk. Langkahnya tenang. Tapi auranya… tidak biasa.

“Pak Husain,” sapa Ridho, sedikit terkejut. “Silakan duduk.”

Husain tidak langsung duduk. Ia hanya menatap Ridho.

“Di mana Kaisyaf?” tanyanya langsung. Tanpa pembuka.

Ridho membiarkan satu detik berlalu, lalu bicara.

“Beliau sedang di luar negeri, Pak. Terkait—”

“Cukup.”

Satu kata itu memotong. Tidak keras, tapi membuat udara langsung berubah.

Husain melangkah mendekat.

“Kamu pikir saya datang ke sini untuk dengar jawaban itu?”

Ridho menelan ludah kecil.

“Pak, saya—”

“Saya sudah tahu.”

Kalimat itu cukup untuk membuat Ridho membeku.

“Dia di rumah sakit,"tanya Husain.

Ridho hampir mundur.

“Sekarang…” lanjut Husain, suaranya lebih rendah, “…saya tanya sekali lagi. Anak saya sakit apa?”

Tidak ada tekanan berlebihan. Justru itu… yang membuatnya lebih berat.

“Pak…”

Suara Ridho akhirnya keluar. Namun tidak sekuat biasanya.

“Saya tidak dalam posisi—”

“Jangan katakan itu.” Husain memotong lagi. “Saya ayahnya.”

Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk menutup semua alasan.

“Kalau sesuatu terjadi…” lanjutnya, tertahan, “…dan saya tidak tahu apa-apa…” Ia berhenti. “…apa kamu siap menanggung itu?”

Tak satu kata pun keluar dari mulut Ridho. Tangannya di samping tubuh… perlahan mengepal.

“Ini bukan soal perintah dia lagi,” lanjut Husain. “Ini soal tanggung jawab.”

Kali ini… Ridho terlihat benar-benar tertekan. Bukan karena dimarahi. Tapi karena… ia tahu ini salah.

Ia menarik napas dalam. Lalu—

“Beliau dirawat di luar negeri, Pak.”

Husain tidak bergerak. Tidak terkejut. Ia sudah menduga.

“Penyakitnya?”

Ridho menunduk sejenak.

“Paru-paru, Pak.” Suaranya turun. “…stadium akhir.”

Ruangan itu… seperti kehilangan suara.

“Dokter… sudah menyampaikan…” lanjut Ridho, lebih hati-hati, “...kemungkinannya tidak lama lagi.”

Kalimat itu hampir tidak terdengar. Namun cukup… untuk menghancurkan.

Husain berdiri diam.

Matanyanya kosong sejenak. Seolah… mencerna sesuatu yang tidak ingin ia pahami.

Anaknya.

Yang selama ini ia pikir hanya sibuk bekerja… ternyata sedang bertarung… sendirian.

Napasnya tertahan. Bahkan ia tidak tahu… sejak kapan ia kehilangan kabar tentang anaknya sendiri.

Ia selalu berpikir… semuanya baik-baik saja.

Selalu mengira… diamnya Kaisyaf adalah tanda kekuatan. Padahal, itu mungkin hanya cara… agar tidak terlihat rapuh.

Jemarinya mengepal perlahan. Bukan karena marah. Tapi karena… terlambat.

“Bodoh.”

Satu kata itu keluar berat. Tidak marah, lebih seperti… sakit.

Ridho menunduk.

“Maaf, Pak…” Suaranya rendah. “Ini keinginan beliau.”

Husain tidak menoleh.

Ridho melanjutkan, “Saya sudah berulang kali membujuk beliau… untuk memberi tahu keluarga. Tapi beliau menolak.”

Ia menarik napas.

“Beliau bilang…” lanjutnya, “…tidak ingin membuat keluarga sedih.”

Kalimat itu menggantung. Dan justru itu… yang membuatnya terasa lebih menyakitkan.

Husain tertawa kecil. Namun tidak ada humor di sana.

“Tidak ingin membuat kami sedih…?” ulangnya lirih. Ia menggeleng pelan. “Dia pikir… kami akan lebih baik kalau tidak tahu?”

Tangannya perlahan terkepal.

“Dia pikir… kehilangan tanpa persiapan itu tidak menyakitkan?”

Husain akhirnya menyandarkan tangannya ke meja. Kali ini… tubuhnya terlihat sedikit goyah. Namun ia tidak jatuh. Ia hanya… menahan.

“Sejak kapan?” tanyanya tak lebih dari gumaman.

“Beberapa waktu lalu, Pak.”

Husain mengangguk kecil. Lalu menghela napas panjang. Lebih berat dari sebelumnya.

“Ayza tahu?”

Pertanyaan itu tiba-tiba. Singkat tapi langsung.

Ridho menggeleng tipis.

“Belum, Pak.”

Satu jawaban. Namun cukup… untuk membuat sesuatu di wajah Husain berubah.

Ia memejamkan mata sesaat. Seolah satu per satu potongan mulai tersusun. Berarti… selama ini mereka semua… sama-sama tidak tahu.

Lalu—

 

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua yang disembunyikan bertujuan melindungi,...

...kadang justru perlahan menghancurkan."...

..."Kebenaran tidak selalu datang dengan suara keras,...

...kadang cukup satu celah… untuk merobohkan semuanya."...

..."Yang paling menyakitkan bukan kehilangan,...

...tapi tidak diberi kesempatan untuk bersiap."...

..."Ada batas yang tidak boleh dilewati,...

...dan ada kebenaran yang tidak bisa terus disembunyikan."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Yunita Sophi
akhir nya semua orang menyerah krn Al menginginkan Fahri...
Yunita Sophi
Al kangen sama om Fahri yah...
Anonim
Fatima sedih dan prihatin pastinya melihat cucunya tak seceria biasanya.

Fatima bertanya - Om Fahri ngga ke sini ? Ayza yang menjawab.

Alvian tahu Umi bohong dengan jawabannya.

Alvian sampai tak ada selera untuk makan. Padahal lapar.

Alvian...big hug 🥲
Anonim
Ayza - itu anakmu tidur pun memanggil "Om." Sampai terbawa di tidurnya saking rindunya sama Om Fahri.

Tega sekali Ayza.

Ayza. Coba resapi apa kata kedua mertuamu.

Fatima di sini baru tahu yang terluka yang paling kecil.

Fahri juga terluka.

Husain mesti ketemu dengan Fahri ini. Bicara dari hati ke hati. Apa Fahri setuju dengan jalan yang di pilih Ayza.
Anonim
Fahri kangen sama Alvian. Dengan duduk di atas motor yang berhenti, dia berada di seberang jalan di depan sekolah Alvian.

Mesin tidak dimatikan.

Fahri matanya terus menatap gerbang sekolah.

Fahri hanya bisa melihat Alfian dari jarah jauh. Alfian yang terlihat tidak ceria.

Alfian tidak capai Umi. Tapi kangen sama Om Fahri. Andai Alvian boleh jujur.

Benar-benar jarak yang dipilih Ayza - membuat dua pria saling merindu.

Husain dan Fatima berkunjung ke rumah Ayza.

Tak ada sambutan dari Alvian.
Anonim
Pada menjalankan perjodohan yang dipilihkan orang tua masing-masing.

Bertemu calon yang dijodohkan.

Di awal pertemuan - reza maupun Fahri cuma sekedar menjalankan. Bertemu, tak ada niat untuk melangkah serius.

Kasihan sekali Naila. Reza sudah merasa cukup mengenal Naila dari data yang dikirim ke orang tua Reza.

Reza tidak menolak perjodohan - tapi sikap dan kalimat yang terucap sudah jelas tak bisa diharapkan.

Naila - mundur saja.
abimasta
pertahankan sikapmu ayza,lama2 juga al terbiasa
Puji Hastuti
kasian Al
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
GK ada masalah klo Fahri tetap dekat dg Alvian..tapi bukan berarti kawin semangat ayza dong..kan Fahri diamanatin suruh ngurusin perusahaan sampe Alvian cukup umur 🤭
menjaga bukan berarti MEMPERISTRI 👻🤣
abimasta: setuju,lebih baik fahri menikah dengan wanita lain
total 1 replies
Sugiharti Rusli
padahal Kaisyaf melakukan itu karena dia tahu kalo Alvian butuh seseorang yang bisa membuatnya nyaman,,,
Sugiharti Rusli
dan orang yang sangat dipercayai olehnya adalah Fahri, tapi Ayza kekeh menolaknya
Sugiharti Rusli
mendiang Kaisyaf bukan hanya sekedar menitipkan, tapi dia juga mengiklaskan sang istri dan putranya mendapatkan perlindungan utuh,,,
Sugiharti Rusli
padahal kedua mertuanya sudah memahami apa yang dulu disampaikan mendiang putranya tuh sangat mendalam yah,,,
Sugiharti Rusli
karena Ayza hanya berpikir tentang perasaannya sendiri yang tidak mau memberi kesempatan orang lain masuk
Sugiharti Rusli
sepertinya apa yang diutarakan oleh ibu mertua Ayza tentang ada hal kecil yang dipaksa menjauh dan menimbulkan luka itu sangat benar,,,
Wardi's
fahri tetaplah jd om nya elfayen tanpa metubah posisi.., silahkan pilih jodoh yang lain.,
Oma Gavin
ternyata ayza egois demi ego nya alvian yg jadi korbannya jgn sampai kamu nyesel ayza teruskan ego mu tinggal tunggu waktu alvian akan jadi anak introvert
Marsiyah Minardi
Ayolah Ayza ,kesampingkan dulu egomu dan sederet alasan lainnya
Kasihanilah Alvian yang kehilangan figur ayah
Dek Sri
ayolah ayza biarkan Fahri jemput Alvian, daripada Alvian kenapa-napa
Anitha Ramto
😭😭😭😭😭nyeseeeekkkk
aku setuju Ayza nikah dengan Fahri demi Al..yang sudah kehilangan seorang Ayah...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!