Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
...«----------------🍀{DIMAS}🍀----------------»...
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui sela gorden, menyinari tumpukan kotak kardus berisi peralatan elektronik yang baru saja tiba di apartemen nomor 404. Aku berlutut di atas lantai ruang tamu, dikelilingi oleh gulungan kabel data, bor nirkabel, dan empat unit kamera CCTV high-definition yang baru saja aku beli dengan cicilan kartu kredit yang cukup menguras tabungan.
“Ini bukan lagi soal kenyamanan,” Keluh ku dalam hati sembari mengupas ujung kabel dengan tang yang presisi. “Ini soal kedaulatan. Dua garis biru itu bukan sekadar kabar gembira; itu adalah deklarasi perang terhadap siapa pun yang mencoba mengganggu ketenangan kami. Genta, klan rubah, atau bahkan kurir paket yang terlalu ingin tahu, mereka semua adalah ancaman potensial sekarang.”
Aku naik ke atas tangga lipat, mencoba memasang braket kamera di sudut plafon yang mengarah langsung ke pintu utama. Rencananya sederhana: aku ingin setiap inci apartemen ini terpantau. Aku memasang kunci slot tambahan, sensor gerak di balkon, dan sistem alarm yang terhubung langsung ke ponsel ku dengan prioritas interupsi tinggi.
"Dimas? Apa yang sedang kau lakukan pada plafon kita?"
Suara lembut namun bernada menyelidik itu membuat ku hampir kehilangan keseimbangan. Aku menoleh ke bawah. Linda berdiri di sana, mengenakan sweter longgar yang mulai terlihat sedikit sesak di bagian perutnya. Telinga rubahnya bergerak-gerak, menunjuk ke arah bor yang sedang aku pegang.
"Memasang mata tambahan, Sayang," jawab ku tenang. "Hanya untuk memastikan tidak ada yang bisa menyelinap tanpa kita ketahui."
Linda mendengus, sebuah suara kecil yang sangat menggemaskan tapi penuh dengan ketidaksetujuan. "Kita berada di lantai empat, Dimas. Satu-satunya yang bisa menyelinap melalui jendela adalah burung pipit atau siluman yang bisa terbang. Dan jika itu siluman, kamera plastik mu itu tidak akan bisa menangkap bayangan mereka."
"Mungkin tidak menangkap sihir mereka, tapi setidaknya aku bisa melihat jika ada orang asing yang mondar-mandir di koridor," aku turun dari tangga dan menghampirinya, mencoba mengusap perutnya yang masih terasa hangat. "Aku hanya ingin kita aman. Elkan butuh benteng yang kokoh."
Linda memutar bola matanya, ekor tebalnya menyapu lantai dengan gerakan gelisah. "Kau berlebihan. Kemarin kau memasang tiga kunci tambahan di pintu depan. Tadi malam kau hampir mematahkan jari kurir pizza karena dia berdiri terlalu dekat dengan ambang pintu. Sekarang ini? CCTV? Kau membuat apartemen ini terasa seperti penjara, bukan sarang."
"Ini bukan penjara, Linda. Ini perlindungan," aku membela diri.
"Perlindungan?" Linda tertawa kecil, melangkah mendekati ku hingga hidungnya hampir menyentuh hidung ku. Aura melatinya yang kuat mulai memenuhi indra penciuman ku. "Dimas, akulah yang paling kuat di sini. Aku bisa merasakan detak jantung tetangga kita dari tiga lantai di bawah. Aku bisa mencium emosi buruk dari siapa pun yang menyentuh gagang pintu kita. Kenapa kau bertingkah seolah-olah kau yang harus menjadi penjaganya?"
“Karena aku manusia,” jawab ku dalam benak, menatap matanya yang hijau cemerlang. “Karena aku tidak punya indra tajam atau sihir pelindung. Satu-satunya cara aku bisa merasa berguna sebagai calon ayah adalah dengan teknologi dan barikade fisik. Aku ingin menunjukkan pada mu bahwa aku juga punya taring, meski taring ku terbuat dari besi dan sirkuit.”
"Aku hanya ingin melakukan bagian ku, Linda," kata ku pelan. "Kau mengurus bagian spiritual dan sihir, aku mengurus bagian fisik dan logistik. Adil, kan?"
Linda menghela napas, tangannya yang lembut menyentuh rahang ku. "Aku tahu kau cemas sejak Genta datang. Tapi agresivitas mu ini mulai lucu, Manajer. Kau bertingkah seolah-olah sedang mengelola gudang senjata, bukan rumah tangga."
"Lucu? Kau bilang aku lucu?" aku mengangkat alis, mencoba terlihat tersinggung.
"Iya. Sangat lucu melihat pria manusia yang biasanya hanya sibuk dengan laporan Excel, tiba-tiba menjadi ahli instalasi keamanan amatir," Linda menarik kerah kaos ku, membawa ku ke arah meja makan di mana dua mangkuk sup dan nasi hangat sudah menunggu. "Sekarang, letakkan bor mu. Waktunya sarapan. Bayi mu lapar, dan dia tidak bisa makan kabel."
Aku duduk dengan enggan, masih melirik kamera yang belum terpasang sempurna. Saat aku mulai menyuap nasi, aku memperhatikan sesuatu yang aneh. Linda duduk di kursi yang biasanya aku pakai, kursi yang menghadap langsung ke pintu masuk. Posisinya sangat waspada. Ekornya melingkar di kaki kursi ku, menarik ku agar duduk lebih dekat dengannya.
"Tadi kau bilang aku yang berlebihan?" goda ku sambil menunjuk lilitan ekornya di kaki ku. "Tapi kau sendiri tidak mau melepaskan lilitan mu sejak aku duduk."
Linda tersipu, rona merah muncul di pipinya yang pucat. "Ini berbeda. Ini insting. Aku hanya... memastikan kau tidak pergi mendadak ke toko elektronik lagi."
"Dan kenapa kau duduk di kursi ku?"
"Pandangannya lebih bagus di sini," jawabnya singkat, namun matanya terus melirik ke arah pintu setiap kali ada suara langkah kaki di koridor luar.
“Lihat siapa yang bicara soal berlebihan,” Keluh ku sambil tersenyum tipis. “Dia memprotes CCTV- ku, tapi dia sendiri sudah mengubah dirinya menjadi radar hidup. Setiap kali ada suara lift berdenting, telinganya tegak sempurna dan auranya menajam. Dia bahkan tidak menyadari bahwa rasa protektifnya sepuluh kali lipat lebih agresif daripada sensor gerak mana pun yang bisa aku beli.”
"Kau tahu, Linda," kata ku sambil menyesap teh hangat, "aku melihat mu tadi pagi saat aku masih pura-pura tidur. Kau berdiri di depan pintu selama sepuluh menit hanya untuk mengendus celah di bawah pintu. Apa itu juga bagian dari 'pemandangan yang bagus'?"
Linda tersedak supnya. Ia menatap ku dengan tatapan tajam yang pura-pura galak. "Itu... itu prosedur pemeriksaan rutin! Udara di koridor sedang tidak enak. Aku hanya memastikan tidak ada polusi yang masuk."
"Polusi? Atau aroma klan rubah?" tanya ku telak.
Linda terdiam sejenak. Ia meletakkan sendoknya, lalu merangkak naik ke pangkuan ku, posisi favoritnya belakangan ini. Ia melingkarkan lengannya di leher ku, membiarkan perutnya yang sedikit menonjol bersentuhan dengan dada ku.
"Genta benar-benar mengusik ku, Dimas," bisiknya. "Kehadirannya membuktikan bahwa sarang kita tidak lagi rahasia. Aku tidak takut pada CCTV- mu. Aku takut kau merasa terbebani. Aku takut kau merasa harus berubah menjadi tentara hanya untuk bersama ku."
"Aku tidak merasa terbeban, Linda," aku memeluk pinggangnya erat. "Aku merasa memiliki tujuan. Dulu, aku bekerja hanya untuk membayar tagihan. Sekarang, aku memasang CCTV untuk memastikan istri siluman ku bisa tidur siang dengan tenang tanpa harus terus-menerus mengendus pintu."
Linda membenamkan wajahnya di ceruk leher ku. "Tapi tetap saja, CCTV itu terlihat sangat jelek di plafon. Warnanya putih, tidak cocok dengan cat dinding kita yang krem."
"Aku akan mengecatnya besok jika itu mau mu," aku terkekeh.
"Dan kunci tambahan itu? Aku hampir tidak bisa membukanya tadi pagi karena ada empat slot yang berbeda. Bagaimana jika aku ingin cepat-cepat keluar untuk membeli martabak?"
"Aku sudah memasang kode digital di salah satunya. Kau hanya perlu ingat tanggal pernikahan kita."
Linda terdiam lagi. "Tanggal pernikahan kita?"
"Iya. Kenapa? Kau lupa?"
"Tentu saja tidak!" Linda mendongak, matanya berkilat jahil. "Tapi aku lebih suka jika kodenya adalah jumlah hari sejak pertama kali kau melihat ekor ku. Itu lebih... personal."
"Itu ribuan hari, Linda. Aku tidak bisa mengingat angka sebanyak itu setiap kali ingin masuk rumah!"
Kami berdua tertawa, sebuah tawa yang memecah ketegangan yang sempat menyelimuti apartemen beberapa hari terakhir. Komedi kecil di tengah paranoia ini adalah cara kami tetap waras. Di satu sisi ada aku dengan teknologi keamanan ku, di sisi lain ada Linda dengan indra silumannya.
“Kami adalah pasangan yang aneh,” pikir ku. “Seorang manajer logistik yang terobsesi pada sistem keamanan rumah tangga, dan seorang siluman rubah yang sedang mengandung namun tetap ingin menjadi alfa di rumah ini. Tapi inilah benteng kami. Inilah awal dari Volume 2 kehidupan kami.”
Setelah sarapan, Linda menolak turun dari pangkuan ku. Sifat manja dan protektifnya mulai bercampur secara agresif. Ia mulai mengendus kerah kemeja ku, memastikan tidak ada aroma asing dari toko elektronik yang tertinggal.
"Dimas?"
"Ya?"
"Jangan pasang kamera di dalam kamar mandi. Atau aku akan menghancurkannya dengan sekali kibasan ekor."
Aku tertawa keras. "Tentu saja tidak, Sayang. Aku tidak memata-matai diri ku sendiri."
"Bagus. Karena satu-satunya 'pengawas' yang diizinkan melihat ku tanpa busana hanyalah kau. Itu adalah peraturan mutlak di benteng ini," Linda memberikan ciuman singkat namun intens di bibir ku, sebuah segel kepemilikan yang lebih efektif daripada alarm mana pun.
Aku kembali menatap tangga lipat ku. Pekerjaan ku masih banyak. Aku harus memastikan jaringan sensor ini stabil. Aku harus bekerja lebih keras, mencari proyek sampingan untuk menutupi biaya renovasi keamanan ini, dan mungkin mencari rumah di pinggir kota yang lebih privat.
"Linda, jika suatu saat kita harus pindah dari sini... kau ingin rumah yang seperti apa?" tanya ku.
Linda memejamkan mata, membayangkan sesuatu. "Rumah dengan halaman luas, dikelilingi pagar duri yang tinggi, bukan untuk menghalangi orang masuk, tapi untuk memberi ku tempat berlari tanpa harus menyembunyikan ekor. Dan... mungkin sebuah ruangan bawah tanah untuk mu menyimpan semua mainan elektronik mu ini."
"Kedengarannya seperti rencana yang bagus," kata ku.
Malam harinya, sistem keamanan ku akhirnya aktif. Di layar ponsel ku, aku bisa melihat koridor depan yang sepi, balkon yang gelap, dan ruang tamu kami yang tenang. Di sofa, aku melihat Linda sedang tertidur pulas, ekornya yang sembilan, yang terkadang muncul saat dia rileks, menyelimuti tubuhnya sendiri.
“Beristirahatlah, Ratu ku,” Keluh ku sambil mematikan lampu ruang kerja. “Mata elektronik ini akan berjaga. Telinga ku yang biasa ini akan terus mendengarkan. Dan hati ku akan terus berjuang. Kita mungkin hanya sebuah keluarga kecil yang aneh di tengah jutaan manusia Jakarta, tapi siapa pun yang berani mengusik benteng ini akan menyadari bahwa kombinasi antara teknologi manusia dan kemarahan siluman adalah hal terakhir yang ingin mereka hadapi.”
Aku naik ke tempat tidur, menyelinap ke samping Linda. Ia segera berbalik dalam tidurnya, membelit kaki ku dengan ekornya secara otomatis. Aku tersenyum. Alarm terbaik ku bukan ada di plafon, tapi ada di samping ku, sedang bernapas pelan, memimpikan masa depan anak kami.
Benteng nomor 404 telah resmi beroperasi. Dan aku, sang Manajer, siap melakukan apa pun untuk menjaga inventaris paling berharga di dalam hidup ku ini.