NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Era Kolonial / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."

Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.

Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.

Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.

Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

"Nyonya Ayln, sebelum saya pamit... " Violet menggantungkan ucapannya, meletakkan teh cangkir nya pelan, ia hendak membuka obrolan lebih serius sebelum pergi dari sini, beberapa hal yang sejak tadi ingin ia tanyakan, akhirnya ia beranikan untuk mengungkapkan nya sekarang, karena berpikir mereka sudah lebih akrab. Album foto Adriel masih ada di meja di antara mereka, halaman terakhir masih terbuka pada foto Adriel berusia tujuh belas tahun dengan wajah yang sudah tidak menyimpan senyum sama sekali.

Violet berdeham sejenak sebelum membuka mulut nya.

"Maaf kalau ini kurang berkenan, tapi saya sangat penasaran soal ibu Adriel." Violet memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Saya mendengar beberapa cerita di luar, tapi saya tidak tahu mana yang benar."

Melihat dari matanya,Nyonya Ayln sepertinya tertegun untuk seperkian detik, lalu setelah itu mengambil cangkir tehnya, kemudian menyeruput pelan dengan matanya memandang ke luar jendela sebentar.

"Jika kamu memang sangat ingin tahu. Ibunya pergi waktu Adriel berusia sembilan tahun," katanya akhirnya. "Dini hari. Dengan koper yang sudah dipersiapkan jauh sebelumnya." Ia berhenti. "Dan Adriel yang melihatnya pergi."

Violet diam, menyimak dengan serius.

"Lebih dari itu..." Nyonya Ayln meletakkan cangkirnya dengan cara yang terasa seperti penutup percakapan. "Saya rasa itu urusan keluarga Voss yang tidak seharusnya saya ceritakan lebih jauh." Senyumnya masih hangat tapi ada sesuatu di baliknya yang tidak bergerak. "Aku harap kamu mengerti." Ia tersenyum lembut.

Meski kurang puas dengan jawaban itu, Violet akhirnya mengangguk."Tentu."

Ia mengerti. Tapi ada yang masih mengganjal.

"Boleh satu pertanyaan lagi?"

"Boleh."

"Kali ini soal adik Adriel." Violet menatap nyonya Ayln langsung. "Nama dan ceritanya. Saya hanya tahu dia sudah tidak ada, tapi—"

Dan di saat itulah ia melihat Nyonya Ayln tampak gelagapan.

Bukan gelagapan yang dramatis. Tapi cukup jelas untuk Violet yang terbiasa membaca ekspresi dan gerak- gerik orang. Tangan perempuan itu menyentuh tepi meja sebentar, matanya bergerak ke arah lain lalu kembali dengan ekspresi yang terlalu rapi untuk sesuatu yang muncul secara natural.

"Adiknya..." Nyonya Ayln mengambil napas pelan. "Saya tidak terlalu tahu banyak soal itu, Violet. Sejak awal saya bekerja untuk keluarga itu saya hanya mengasuh Adriel dan fokus padanya. Adapun Adriel tidak pernah banyak bercerita pada saya tentang adiknya."

Violet menatapnya.

Tidak terlalu tahu banyak? Tapi tadi ia bercerita tentang hampir setiap detail masa kecil Adriel dengan sangat lancar.

"Baik, saya mengerti anda tidak nyaman dengan topik ini. maafkan saya." Violet menundukkan kepala sebentar, ia tidak menekan lebih jauh.

Nyonya Ayln terlihat tersenyum sedikit canggung. "Tidak apa- apa nak, santai saja.

Violet sekali lagi meminta maaf. Tapi ia mencatat sesuatu di belakang kepalanya dengan rapi. "Terima kasih sudah menerima kedatangan saya, Nyonya Ayln." Ia tersenyum tulus.

"Kapan saja, nak. Mulai sekarang rumah ini akan selalu terbuka untuk mu. " Nyonya Ayln membalas senyum itu dengan sama tulusnya.

Lalu kemudian dia mengantarkan Violet ke pintu dengan hangat yang kembali terasa natural. "Hati-hati di jalan ya."

Violet melangkah keluar.

Di balik senyumnya, rasa penasaran soal adik Adriel semakin besar dan lebih dari itu, ia ingin mengenal sosok pria itu lebih jauh.

Bisakah?

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pak Rudy sudah menunggu di depan dengan mesin menyala ketika Violet keluar dari gang kecil menuju jalan besar.

"Sudah selesai non? " Tanya basa- basi pria paruuh baya itu ketika Violet masuk ke dalam mobil.

"Sudah pak. " Violet tersenyum dari balik kaca spion. "

"Kita langsung pulang, non? "

"Iya, langsung pulang saja pak. "

Perjalanan pulang berjalan lancar selama dua puluh menit pertama, sampai sepertinya sesuatu terjadi ketika dari depan Pak Rudy menghela napas panjang yang bunyinya sudah cukup untuk membuat Violet tahu ada masalah sebelum laki-laki itu bilang apa-apa.

"Nyonya, sepertinya ban kita bocor."

Mobil kemudian ditepikan. Pak Rudy turun memeriksa, lalu menggaruk kepala, dan meminta izin untuk mendorong mobil ke bengkel yang katanya tidak terlalu jauh, cukup jalan kaki.

"Tidak apa-apa, saya tunggu di sini," kata Violet. Tidak enak jika harus di dalam mobil, meski pak Rudy memaksa. Pak Rudy yang tak enak hanya bisa meminta maaf lalu mendorong belakang mobil di bantu oleh beberapa warga yang kebetulan lewat.

Violet lalu memilih duduk di bangku taman kecil di pinggir jalan itu, mengeluarkan ponselnya, scrolling tanpa tujuan yang jelas sambil menikmati angin siang yang lumayan enak.

Sepuluh menit berlalu.

Dua belas menit.

Sampai tiba-tiba saja sesuatu menarik tas di tangannya dengan begitu kuat, membuat Violet kontan terlonjak kaget.

Ketika ia menoleh, ternyata seorang jambret yang ingin mencuri tasnya.

Tarikan itu keras, tiba-tiba dan tanpa peringatan.

Tapi Violet refleks tidak melepaskannya.

"Lepas!" Ia mempertahankan tasnya dengan sekuat tenaga seraya ia menjerit keras untuk meminta tolongm

Tapi tangan si jambret itu tidak kunjung melepas, seolah dia tidak takut sama sekali dengan teriakan minta tolong Violet. Dan Violet juga semakin kuat mempertahankan miliknya. Dia sampai berdiri dan menarik balik dengan seluruh tenaganya, heels-nya mencengkeram aspal, bahunya hampir keluar dari sendi, tapi tasnya tidak ia lepas juga karena di dalam sana ada dompet, ponsel cadangan, dan yang paling penting dokumen yang tadi ia bawa dari kediaman.

Jambret itu laki-laki, lebih besar, lebih kuat, dan mulai kesal karena mangsanya ternyata tidak semudah yang diperhitungkan.

"Tidak takut kamu hah?dasar maling!" Violet mendengus, menarik lagi.

Laki-laki itu menarik lebih keras.

Violet hampir terjatuh.

Lalu tiba-tiba tangan itu melepas tasnya.

Krak! Diiringi dengan suara bunyi seperti tulang patah.

Bukan karena Violet yang menang atau melawan dengan kekerasan . Tapi karena ada sesuatu yang lebih cepat terjadi, seseorang dari arah kiri bergerak dengan sangat efisien, satu gerakan yang membuat pergelangan tangan jambret itu terputar ke arah yang tidak nyaman dan laki-laki itu meringis lalu berlari begitu dilepaskan.

Violet berdiri dengan napas tidak teratur dan tas yang akhirnya kembali di tangannya.

Lalu ia menoleh ke orang yang menyelamatkannya.

Dan ia harus akui, penampilan orang itu tidak biasa untuk situasi seperti ini.

Tinggi, dengan jaket kulit hitam yang terbuka di atas kaus putih, rambut yang tidak rapi dengan cara yang jelas disengaja, ada anting kecil di telinga kirinya, dan sunglasses yang sekarang ia geser ke atas kepala dengan gerakan yang terlalu santai untuk seseorang yang baru saja menghadang jambret.

"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.

Suaranya enak didengar. Violet membenci fakta bahwa ia memperhatikan itu.

"Iya. Terima kasih." Violet merapikan tas di bahunya. "Untung anda bergerak cepat tadi."

Laki-laki itu tersenyum. "Benarkah? Ku anggap itu pujian."

Violet mengernyit kecil, laki- laki ternyata tengil juga, pikirnya.Ia ingin pergi setelah mengucapkan terimakasih tadi tapi sebelum kakinya melangkah seseorang dari arah belakang berteriak, dan dalam waktu kurang dari tiga detik laki-laki itu sudah dikerubungi empat perempuan yang entah dari mana munculnya.

"Kak Reyhan! Boleh foto?"

"Kak Reyhan lagi syuting di sini?"

"Oh em ji! Oh em ji! Aaarggg! Kak Reyhan gantengnya nggak ada obat!"

Violet menatap pemandangan itu dengan alis yang naik sedikit.

Sementara pria yang bernama Reyhan, yang tadi masih terlihat santai, sekarang senyumnya berubah jadi senyum lain, senyum yang terlatih dan sudah hafal dengan situasi seperti ini. Ia kemudian membiarkan ciwik- ciwik itu mengantri untuk berfoto bersama nya dengan sabar sambil sesekali melirik ke arah Violet.

Tapi Violet tidak urusan dengan itu semua, hingga ia memilih pergi namun baru beberapa kali kakinya melangkah tiba-tiba ia merasa bajunya seperti sengaja ditarik oleh seseorang dari belakang.

"Eeitts! mau kemana? "

Violet kaget, seketika menoleh ke belakang.

Hah? rupanya laki-laki itu lagi. Cepat sekali dia mengejar langkah nya, bukankah tadi masih dikerumuni oleh para fansnya itu?

"Maaf, ada apa lagi? bukankah tadi aku sudah mengucapkan terimakasih? "

"Buru-; buru banget, emangnya mau kemana sih? "

Pria itu tersenyum seakan menggoda sambil mengedipkan matanya, yang sontak saja membuat Violet berjengit, ngeri.

******

BERSAMBUNG

1
Arai Cadella
Aku tinggalkan jejak. Aku suka pemilihan kata-katanya, sederhana namun sampai.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!