Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni Haru Biru
Dari kejauhan, Aris melihat targetnya melarikan diri. Ia mengumpat keras, memukul lantai beton hingga tangannya berdarah. Ia tahu polisi akan segera tiba karena laporan baku tembak ini.
"Lari saja terus, Gavin! Lari ke ujung dunia sekalipun, aku akan menemukan kalian!" Aris berteriak di tengah ruangan kosong yang gelap, suaranya menggema penuh kegilaan.
Ia segera membereskan senjatanya dan menghilang ke dalam kegelapan lorong bangunan tua tersebut sebelum pasukan Brimob mengepung lokasi.
Di dalam mobil yang melaju kencang menjauhi Jakarta, suasana sangat mencekam. Devina memeluk Bu Imroh yang masih dalam keadaan syok berat. Bu Ines di sisi lain hanya bisa menggenggam tangan putrinya dengan erat, air matanya mengalir tanpa suara.
Gavin duduk di depan, menatap ke spion luar. Rahangnya mengeras sekeras baja. Ia tidak menyangka Aris akan senekat ini, melakukan baku tembak di area terbuka.
"Kita tidak akan kembali ke Jakarta sampai pria itu membusuk di penjara atau di bawah tanah," ucap Gavin dengan suara dingin yang mematikan.
Devina menatap punggung Gavin, lalu beralih ke Bu Imroh yang masih gemetar dalam diam. Ia menyadari satu hal: selama Aris masih bernapas, tidak ada tempat yang benar-benar aman. Mereka bukan lagi sekadar lari dari seorang penipu; mereka sedang berperang melawan seorang monster yang tidak memiliki rasa takut akan kematian.
****
Udara dingin pegunungan yang menyelimuti villa tersembunyi milik keluarga Aryaga seharusnya membawa ketenangan, namun bagi penghuninya, setiap derit ranting pohon terdengar seperti ancaman. Di dalam ruang tengah yang luas dengan perapian yang menyala redup, suasana mencekam itu mendadak pecah oleh deru mobil yang mendekat ke gerbang utama.
Devina dan Bu Ines tersentak dari duduk mereka. Gavin yang saat itu sedang memeriksa laporan keamanan segera memberi isyarat agar mereka tetap di belakangnya. Namun, begitu monitor CCTV menampilkan sosok pria paruh baya yang turun dengan langkah terhuyung dan wajah penuh kecemasan, tangis Bu Ines pecah.
"Pak... itu suamiku," bisik Bu Ines parau.
Pintu jati besar itu terbuka, dan Pak Pamuji menghambur masuk. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini berantakan, dan gurat kelelahan serta ketakutan tercetak jelas di wajahnya. Begitu matanya menangkap sosok istri dan anaknya yang selamat, pria itu hampir ambruk di lantai.
"Ines! Devina!" suara Pak Pamuji serak, tersumbat oleh emosi yang membuncah.
Mereka bertiga bertemu di tengah ruangan, menciptakan sebuah lingkaran pelukan yang begitu erat. Pak Pamuji mendekap kepala putrinya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya merangkul bahu istrinya seolah takut jika ia melepaskan sedetik saja, mereka akan hilang ditelan kegelapan.
"Bapak takut sekali... Bapak dengar soal penembakan di apartemen. Bapak tidak bisa tenang di rumah," isak Pak Pamuji, air matanya jatuh membasahi bahu kebaya Bu Ines. "Jangan pernah tinggalkan Bapak lagi. Bapak tidak peduli harta atau apa pun, yang penting kalian selamat."
Devina menangis sesenggukan dalam dekapan ayahnya. "Maafkan Devina, Pak... Devina yang sudah membawa petaka ini ke keluarga kita."
"Ssssh, jangan bicara begitu, Nak. Ini bukan salahmu. Ini murni kebiadaban pria itu," Pak Pamuji mencium kening Devina berkali-kali, sebuah ungkapan syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta.
****
Sementara kehangatan keluarga kembali bersemi di kaki gunung, Jakarta kembali menjadi saksi kegilaan seorang Aris Wicaksana. Di pusat kota, gedung pencakar langit yang menjadi markas besar Aryaga Kitchenware baru saja akan menutup operasionalnya. Para karyawan bersiap pulang, beberapa masih bercengkerama di lobi yang mewah.
Ketenangan itu hancur saat sebuah mobil SUV hitam menabrak pintu kaca lobi hingga hancur berkeping-keping. Sebelum debu kaca mereda, Aris keluar dari mobil dengan senapan laras panjang di tangannya. Matanya merah, bengkak, dan memancarkan aura kematian yang nyata.
DAR! DAR! DAR!
Suara desing peluru memekakkan telinga, memantul di dinding marmer dan menghancurkan lampu-lampu kristal yang menggantung indah.
"GAVIN! KELUAR KAMU, PENGECUT!" Aris meraung, suaranya menggelegar di tengah teriakan histeris para karyawan.
"Lari! Semuanya lari!" teriak seorang petugas keamanan sambil mencoba menarik senjatanya, namun Aris lebih cepat. Ia menembak ke arah langit-langit, membuat serpihan beton berjatuhan.
Para karyawan berhamburan, merangkak di balik meja resepsionis, bersembunyi di dalam lift, atau berlari keluar melalui pintu darurat. Suasana berubah menjadi neraka dalam hitungan menit. Aris berjalan di tengah lobi layaknya malaikat maut, menghancurkan pajangan-pajangan produk tembaga kebanggaan keluarga Aryaga sebagai bentuk penghinaan.
"Kamu mencuri wanitaku, maka aku akan menghancurkan kerajaanmu, Gavin!" Aris tertawa histeris, sebuah tawa yang merusak kewarasan siapa pun yang mendengarnya.
****
Di villa, ponsel Gavin bergetar hebat. Saat ia mengangkatnya, hanya suara jeritan dan letusan senjata yang terdengar di seberang sana.
"Pak Gavin! Aris... Aris menyerang kantor pusat! Banyak yang terluka, Pak! Dia menggila!" suara Rian terdengar terputus-putus di balik suara tembakan.
Wajah Gavin seketika berubah menjadi sekeras baja. Rahangnya mengatup rapat, dan urat-urat di lehernya menonjol. Ia menatap ke arah keluarga Devina yang masih saling berpelukan, lalu beralih ke arah asisten keamanannya.
"Jaga tempat ini dengan nyawa kalian," perintah Gavin, suaranya dingin dan tajam. "Jangan biarkan siapa pun masuk atau keluar tanpa instruksi dariku."
Devina melepaskan pelukan ayahnya, menatap Gavin dengan ketakutan. "Gavin, kamu mau ke mana?"
"Dia menyerang kantorku, Devina. Karyawanku dalam bahaya. Aku harus kembali ke Jakarta sekarang juga," jawab Gavin sambil menyambar jaket dan senjatanya.
"Tapi itu jebakan! Dia memancingmu keluar!" teriak Devina sambil menahan lengan Gavin.
Gavin memegang tangan Devina, menatap mata wanita itu dengan keyakinan yang mendalam. "Aku tidak bisa membiarkan orang lain mati karena urusanku. Aku akan kembali, aku janji. Percayalah padaku."
Gavin mengecup tangan Devina sekilas sebelum berlari menuju mobilnya, meninggalkan villa dengan kecepatan tinggi menuju pusat badai di Jakarta.
****
Di sebuah kamar kecil di sudut villa, suasana justru terasa sangat kontras. Bu Imroh baru saja menyelesaikan salat Isya-nya. Ia masih mengenakan mukena putihnya yang sudah kusam, duduk bersimpuh di atas sajadah yang menghadap ke arah kiblat.
Jarinya terus bergerak di atas butiran tasbih, namun matanya terpejam rapat. Di tengah dentuman dendam dan desing peluru yang sedang terjadi di luar sana, Bu Imroh sedang melancarkan "serangan" dalam bentuk lain.
"Ya Allah, Penguasa Langit dan Bumi... Hamba-Mu yang lemah ini memohon..." bisik Bu Imroh, air matanya membasahi kain mukenanya. "Lindungilah Nak Gavin yang sedang berjihad demi keadilan. Lunakkanlah hati yang keras, atau hancurkanlah tangan yang zalim sebelum ia merusak lebih banyak lagi. Berikanlah kekuatan pada Nak Devina dan keluarganya."
Ia tak henti-hentinya berzikir. Baginya, di saat senjata api merajalela, hanya kekuatan doa yang sanggup menembus takdir. Bu Imroh merasakan getaran di hatinya, sebuah firasat bahwa puncak dari segala ujian ini sudah sangat dekat. Antara hidup dan mati, antara cahaya dan kegelapan, semuanya akan ditentukan di bawah langit malam ini.
Di jalanan menuju Jakarta, Gavin memacu mobilnya, sementara di lobi kantornya, Aris berdiri di atas puing-puing kaca, menunggu mangsanya datang untuk pertarungan terakhir yang akan mengubah hidup mereka selamanya.