Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turnamen yang Berubah
Pagi datang perlahan di Akademi Arclight. Matahari yang baru terbit memancarkan cahaya hangat di atas menara-menara batu akademi, seolah-olah tidak ada apa pun yang terjadi malam sebelumnya.
Namun bagi Ren dan yang lain, malam itu masih terasa sangat dekat.
Ren berdiri di balkon asrama sambil melihat ke arah hutan Arclight yang terlihat tenang dari kejauhan. Jika seseorang melihatnya dari sini, mereka mungkin tidak akan percaya bahwa di dalam hutan itu baru saja terjadi pertarungan besar yang hampir menghancurkan seluruh area.
Ren menghela napas panjang.
Tubuhnya masih sedikit terasa berat, tetapi jauh lebih baik dibanding tadi malam. Energi di dalam dirinya sudah kembali stabil, walaupun ia masih bisa merasakan sisa kekuatan itu berdenyut perlahan seperti api yang belum sepenuhnya padam.
Pintu kamar terbuka.
Mira masuk sambil meregangkan tubuhnya.
“Kamu sudah bangun?”
Ren menoleh sedikit.
“Aku bahkan hampir tidak tidur.”
Mira tertawa kecil.
“Setelah bertarung dengan penyihir gelap gila, aku juga mungkin tidak akan bisa tidur.”
Ia berjalan ke balkon dan berdiri di samping Ren.
Beberapa detik mereka hanya diam sambil melihat pemandangan pagi.
Mira akhirnya berkata pelan.
“Kamu masih memikirkan Kael?”
Ren mengangguk.
“Dia bilang dia ada di sana… malam ketika keluargaku diserang.”
Mira menatap Ren dengan ekspresi yang lebih lembut dari biasanya.
“Kalau itu benar… berarti kamu baru saja bertarung dengan seseorang dari masa lalumu.”
Ren mengepalkan tangannya sedikit.
“Dan aku bahkan tidak mengingat apa pun.”
Mira menepuk bahunya pelan.
“Kalau ingatanmu memang disembunyikan, mungkin suatu saat akan kembali.”
Ren tidak menjawab.
Namun jauh di dalam dirinya, ia merasa Selene benar.
Masa lalunya bukan sesuatu yang sederhana.
Tiba-tiba lonceng besar akademi terdengar.
DONG.
DONG.
DONG.
Mira langsung tersenyum.
“Sepertinya pertunjukan hari ini akan dimulai.”
Ren mengangkat alis.
“Kamu menyebutnya pertunjukan?”
Mira menyeringai.
“Turnamen, pertarungan, drama… semua sama saja.”
Beberapa menit kemudian, para siswa mulai berkumpul di arena utama akademi. Bangku-bangku penonton dipenuhi oleh murid dari berbagai kelas yang penasaran dengan pertandingan hari ini.
Setelah pertandingan kemarin, banyak yang berharap melihat Ren bertarung lagi.
Di tengah arena, Gareth sudah berdiri dengan tangan di belakang punggungnya.
Ketika semua siswa sudah berkumpul, ia mulai berbicara dengan suara yang jelas.
“Pertandingan hari ini akan menentukan tim yang masuk ke semifinal.”
Kerumunan langsung menjadi lebih ramai.
Papan kristal besar di belakang Gareth mulai menyala lagi.
Nama-nama tim muncul satu per satu.
Ren berdiri bersama Mira dan Aria di sisi arena sambil melihat papan itu.
Aria terlihat sedikit gugup.
“Semoga kita tidak langsung bertemu tim Lilia…”
Namun harapannya langsung hancur beberapa detik kemudian.
Nama tim muncul di papan kristal:
Ren Valen – Mira Ignis – Aria Sylva
melawan
Lilia Frost – Nyra Noctis – Selene Virel
Mira langsung tertawa.
“YA! Akhirnya!”
Aria terlihat semakin gugup.
“Ini pertandingan yang sangat sulit…”
Ren menghela napas kecil.
“Sepertinya kita tidak bisa menghindarinya.”
Di sisi lain arena, Lilia, Nyra, dan Selene juga melihat papan kristal itu.
Nyra langsung menyeringai lebar.
“Akhirnya.”
Lilia terlihat tenang seperti biasa.
“Ini akan menjadi pertandingan yang serius.”
Selene tidak mengatakan apa pun.
Namun matanya perlahan bergerak menuju Ren di sisi lain arena.
Beberapa detik mereka saling menatap dari kejauhan.
Nyra memperhatikan itu dan tertawa kecil.
“Sepertinya pertandingan ini akan lebih menarik dari yang aku kira.”
Beberapa menit kemudian, Gareth mengangkat tangannya.
“Tim pertama harap memasuki arena.”
Ren dan timnya berjalan ke tengah arena dari sisi kiri.
Di sisi kanan, Lilia, Nyra, dan Selene juga masuk.
Sorakan penonton langsung terdengar dari segala arah.
Banyak siswa yang tahu bahwa ini adalah pertarungan antara dua tim terkuat di turnamen tahun ini.
Mira memutar bahunya sedikit.
“Baiklah… ini akan seru.”
Aria mengambil napas dalam-dalam.
“Aku akan fokus pada pertahanan dan penyembuhan.”
Ren mengangguk.
“Kerja sama seperti kemarin.”
Di sisi lain arena, Nyra terlihat sangat santai.
“Aku ingin melawan Ren secara langsung.”
Lilia berkata datar.
“Fokus pada tim.”
Nyra tertawa kecil.
Selene akhirnya berbicara.
“Jangan menahan diri.”
Nyra menyeringai.
“Tenang saja.”
Gareth melihat kedua tim sudah siap.
Ia mengangkat tangannya tinggi.
“PERTANDINGAN DIMULAI!”
Begitu kata itu keluar, Lilia langsung bergerak lebih dulu.
“Ice Domain.”
Lingkaran sihir besar muncul di tanah arena.
Udara di sekitar langsung menjadi jauh lebih dingin.
Lapisan es mulai menyebar di tanah.
Mira langsung bereaksi.
“Flame Wave!”
Api besar menyapu area di depan mereka, mencairkan es yang mendekat.
Namun Nyra sudah bergerak dari samping.
“Shadow Step.”
Tubuhnya menghilang dalam bayangan dan muncul tepat di depan Ren.
Ia mengayunkan tendangan cepat.
Ren menahan serangan itu dengan lengannya.
BOOM.
Keduanya mundur beberapa langkah.
Nyra tersenyum lebar.
“Bagus.”
Ren juga masuk ke posisi bertarung.
“Sepertinya kamu memang ingin duel.”
Nyra menjawab santai.
“Tentu saja.”
Di sisi lain arena, Mira sudah berhadapan dengan Lilia.
Api dan es bertabrakan di udara berkali-kali.
Sementara Aria berdiri di belakang Ren, menjaga perisai sihir untuk melindungi timnya.
Namun Selene masih belum bergerak.
Ia hanya berdiri sambil memperhatikan pertarungan dengan mata tajam.
Ren meliriknya sebentar.
“Kamu tidak ikut?”
Selene tersenyum tipis.
“Belum.”
Nyra menyerang lagi dengan serangan bayangan cepat.
Ren menangkisnya sambil bergerak mundur.
“Kalau begitu kapan?”
Selene menjawab pelan.
“Ketika kamu mulai menggunakan kekuatanmu yang sebenarnya.”
Angin di arena mulai berputar.