Empat tahun lalu, Flaire Nathasha menghilang setelah melahirkan secara rahasia, meninggalkan Jaydane Shelby dengan luka pengkhianatan dan seorang putra balita bernama Jorden. Jaydane, sang penguasa bisnis sekaligus mafia, membesarkan Jorden dengan kebencian mendalam, mengira Flaire membuang anak mereka demi kebebasan dan karier.
Kini, Flaire kembali ke Jerman sebagai CEO Fernandez yang memukau dengan julukan "Queen of Lens". Kecantikannya yang tak tertandingi membuat Aurora, tunangan Jaydane, merasa terancam dan mulai menggali identitas ibu kandung Jorden yang misterius.
Jaydane yang dibutakan dendam mulai menghancurkan bisnis Flaire untuk memaksanya berlutut. Namun, di balik lensa kontak yang selalu menutupi warna mata aslinya, Flaire menyimpan luka trauma masa lalu difakta bahwa ia adalah korban pengasingan paksa keluarganya dan sama sekali tidak tahu bahwa bayinya masih hidup di tangan pria yang kini mencoba menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon caxhaaesthetic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DI BALIK JERUJI BESI
Aurora mengangkat kepalanya perlahan, rambutnya yang kotor menutupi wajahnya. Ia mendecak pelan, lalu sebuah seringai dingin muncul di bibirnya yang pecah-pecah.
"Kau tertawa?" suara Aurora serak, hampir seperti bisikan iblis. "Kau pikir kau lebih baik dariku? Kau hanya pion yang gagal, Seraphina. Kita berdua berada di sini karena alasan yang sama... kita sama-sama ingin menghancurkan Flaire."
"Tapi setidaknya aku tidak sebodoh dirimu yang menculik anak Jaydane!" balas Seraphina sengit.
Aurora tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk berdiri. "Anak Jaydane? Kau benar-benar tidak tahu apa-apa, ya?"
Seraphina mengernyit. "Apa maksudmu?"
Aurora menarik rantainya hingga menimbulkan bunyi gemerincing yang nyaring. Ia menatap Seraphina tepat di mata. "Kau membenci Flaire karena kau mengira dia hanya 'jalang' baru yang merebut posisi permaisurimu. Tapi kau tidak tahu rahasia terbesarnya, bukan? Flaire adalah ibu kandung Jorden. Bayi yang dibuang oleh Fernandez empat tahun lalu adalah miliknya."
Seraphina membeku. Ponselnya yang tadi ia pikir berisi foto-foto kemenangan terasa sia-sia di ingatannya. "Apa? Tidak mungkin... Fernandez bilang bayi itu mati!"
"Kebohongan yang indah, bukan?" Aurora mendekatkan wajahnya ke jeruji. "Jaydane menyelamatkan anak itu dari kematian. Itulah sebabnya kau tidak akan pernah bisa menggeser posisi Flaire. Karena dia bukan sekadar kekasih... dia adalah ibu dari pewaris tunggal Shelby. Dan Jaydane akan menghanguskan seluruh dunia hanya untuk memastikan wanita itu tersenyum."
Wajah Seraphina berubah pucat pasi. Ia menyadari bahwa dendamnya selama ini hanyalah debu di hadapan ikatan darah yang sangat kuat itu.
Di ruang kerja tersembunyi di vila Karibia, layar monitor menampilkan rekaman hitam putih dari penjara bawah tanah di Berlin. Jaydane duduk terdiam, jemarinya mengetuk meja kayu mahoni dengan irama yang mematikan. Suara parau Aurora yang membocorkan rahasia identitas Flaire sebagai ibu kandung Jorden terdengar sangat jelas di telinganya.
Rahang Jaydane mengeras. Rahasia itu adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun. Jika publik tahu sebelum ia siap mengumumkannya dengan cara yang aman, musuh-musuh Shelby akan memburu Flaire lebih gila lagi.
"Siapkan jet. Kita kembali ke Berlin sekarang," perintah Jaydane melalui interkom.
"Tapi Tuan, Nyonya Flaire dan Tuan Muda sedang tidur..."
"Bawa mereka ke pesawat saat mereka tidur. Jangan bangunkan mereka. Aku punya 'sampah' yang harus dibuang malam ini juga."
Beberapa jam kemudian, udara dingin Berlin menyambut kedatangan sang penguasa. Jaydane melangkah masuk ke ruang bawah tanah tanpa pengawal. Suara langkah sepatunya yang berat bergema, membuat Seraphina dan Aurora menoleh dengan ngeri.
Jaydane berhenti tepat di depan sel Aurora. Ia tidak membawa senjata api, hanya sepasang sarung tangan kulit hitam yang ia kenakan perlahan.
"Jay... kau kembali untukku?" Aurora mencoba tersenyum, meski wajahnya hancur. "Kau merindukanku?"
Jaydane menatapnya dengan pandangan kosong, seolah melihat serangga yang mengganggu. "Kau bicara terlalu banyak, Aurora. Kau menyentuh rahasia yang seharusnya kau bawa sampai mati."
Jaydane memberi isyarat, dan pintu sel terbuka. Ia masuk dan mencengkeram leher Aurora, mengangkat tubuh wanita itu hingga kakinya bergelantungan. Oksigen mulai menipis di paru-paru Aurora.
"Jay... kumohon..." rintih Aurora. Air mata mengalir di pipinya yang kotor. "Aku mencintaimu... aku hanya ingin... dunia tahu..."
"Dunia tidak perlu tahu apa pun dari mulut busukmu," desis Jaydane. Tekanan di leher Aurora semakin menguat. "Kau bukan tunanganku. Kau hanyalah alat yang gagal."
Aurora menatap Jaydane untuk terakhir kalinya. Di ambang kematiannya, ia membatin dengan getir: "Hanya karena aku ingin membongkar identitas sosok ibu kandung anak tunanganku sendiri, nyawaku berakhir di tangan pria yang paling aku puja."