Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan bersama
"Istri saya merupakan putri dari keluarga Wijaya," mulai Sean, suaranya rendah. Ia menghela nafas panjang, seolah mengingat masa lalu yang tidak ingin ia ingat. "Sembilan bulan yang lalu kami menikah karena perjodohan."
"Keluarga Wijaya... termasuk crazy rich Indonesia kan?" gumam Awan, matanya terbelalak sedikit.
"Crazy rich nomor sembilan di Indonesia. Apa hebatnya?" cibir Nagara sinis, matanya memandang ke samping dengan jijik.
"Hanya nomor sembilan? Kenapa Tuan Sean menikahi nona muda dari kalangan bawah? Nomor sembilan kan berarti termasuk kalangan bawah dibanding anda," tanya Nayla, saudari kembar Nayra, menatap Nagara seolah bertanya mencari kepastian. Nagara hanya menggeleng pelan, tidak menjawab.
"Benar," lanjut Sean, mengabaikan komentar mereka. "Jika ini pernikahan bisnis, seharusnya tidak setara. Karena kekayaan keluarga Wijaya tidak ada apa-apanya dibanding kekayaan keluarga Samir yang berhasil menduduki peringkat satu di Indonesia. Tapi Nyonya Wijaya merupakan sahabat mama saya sejak muda, itulah kenapa kami dijodohkan."
Mereka semua ber-oh ria, akhirnya mengerti alasan di balik pernikahan itu. Namun, mereka masih penasaran, apa aib yang sebenarnya ingin diceritakan Sean?
"Hanya itu? Saya rasa itu bukan aib keluarga," cicit Nathan, mengerutkan kening.
"Tidak sesederhana itu," jawab Sean pelan, kepalanya menunduk dalam. "Selama sembilan bulan usia pernikahan kami, kami tidak pernah melakukan malam pertama."
Keheningan menyelimuti ruangan. Mata mereka semua terbelalak tak percaya.
"Serius? Sampai sekarang? Apa Nona Wijaya tua dan jelek?" tanya Alam tanpa tedeng aling-aling, seolah berfikir Sean tidak tertarik dengan wanita itu sama sekali.
"Hust! Mas Alam, diam kau!" tegur Nagara keras, memberinya isyarat agar tidak bicara sembarangan. Nagara sendiri memang sudah tahu bagaimana wajah istri Sean, dan ia tahu wanita itu cantik.
Sean mengangkat kepalanya, matanya terlihat sendu. "Flash back sekitar satu tahun yang lalu, mungkin sudah satu tahun lebih peristiwa itu terjadi. Saya mengalami kecelakaan di luar negeri hingga membuat tulang ekor saya bermasalah. Semenjak kecelakaan itu, saya jadi laki-laki cacat. Aset berharga saya sebagai seorang lelaki... tidak berfungsi."
Ia menarik napas panjang lagi, dadanya terasa sesak mengingat kenyataan pahit itu. Mereka semua saling tatap, ekspresi wajah mereka berubah dari kaget menjadi prihatin.
"Saya tidak bisa ereksi terhadap seorang wanita," lanjut Sean, suaranya bergetar. "Saya tidak tahu sampai kapan. Dokter berkata masih besar peluang untuk sembuh. Tapi saya tidak tahu kapan keajaiban itu akan terjadi." Ia tersenyum getir, senyum yang menyakitkan.
"Jadi itu alasannya Tuan melakukan inseminasi buatan? Agar Tuan segera memiliki keturunan?" tanya Nayla pelan. Sebagai saudari kembar Nayra, ia tentu sama bingungnya dengan ketiga kakaknya dan dua laki-laki yang merupakan anak Bi Surti itu. Nayra sendiri menatap Sean dengan tatapan prihatin, hatinya terasa sakit mendengar pengakuan itu. Sean melirik ke arahnya, kembali tersenyum getir.
"Benar," jawab Sean. "Awalnya saya melakukan ini karena keinginan Silvi, istri saya. Tapi ternyata, selama sembilan bulan usia pernikahan kami, Silvi bermain curang di belakang saya."
Matanya memerah, emosinya mulai meledak. Nagara, yang melihat itu, berdiri perlahan dan berjalan ke arah Sean. Ia duduk di samping pria itu, lalu mengelus bahunya lembut. sebagai seorang teman, bukan hanya sebagai kakak pertama Nayra. Ia mencoba menenangkan Sean yang terlihat begitu hancur.
"Tidak perlu kasihani saya Tuan," ucap Sean, mencoba tersenyum meski matanya masih merah. "Saya baik-baik saja. Saya pemuda kaya raya dengan aset ratusan triliun, selain itu saya tampan dan memiliki banyak penggemar." Ia mencoba melucu, meski suaranya masih terdengar berat. Ia sengaja melakukan itu agar tidak dipandang dengan tatapan melas oleh orang-orang di sekitarnya.
"Cih, ngeselin ya kau!" cibir Nagara, lalu berdiri dan kembali duduk di tempat semula dengan bibir menyungut, meski di hatinya ia merasa kasihan pada Sean.
"Kapan anda tahu tentang perselingkuhan istri anda? Apa anda yakin?" tanya Nick ragu-ragu. Sebagai kakak nomor dua, ia harus lebih hati-hati mencerna setiap kata Sean, ia khawatir ini hanya tipuan untuk mendapatkan anak yang ada di perut Nayra.
"Saya sudah lama dengar desas-desus ini," jawab Sean, matanya menatap lurus ke depan, penuh amarah yang tertahan. "Tapi bawahan saya tidak pernah menemukan hal yang aneh dari istri saya. Beberapa hari yang lalu, papa saya baru memberi tahu yang sebenarnya, bahwa sebenarnya bawahan saya dibayar oleh Silvi. Dan... Silvi sedang mengandung anak selingkuhannya."
Suara Sean pecah. Ia tertawa kecil, namun tawa itu penuh kepahitan. "Itulah kenapa dia mengajak saya melakukan inseminasi buatan. Silvi juga membayar seorang dokter untuk menutupi perihal kehamilannya. Setelah inseminasi itu terjadi, Dia akan bilang inseminasi itu berhasil, dia akan mengakui anak yang ada di kandungannya adalah hasil inseminasi buatan yang kami lakukan. dan anak itu adalah anak saya. Sayangnya rencana dia gagal total, dokter salah mengenali dia, dan saya tahu kebenaran nya"
Mereka semua diam, terpaku. Tidak ada yang tahu harus bereaksi apa mendengar cerita itu. Betapa liciknya wanita itu, memanfaatkan kekurangan suaminya untuk menutupi aibnya sendiri.
"Iya, saya bodoh," ucap Sean akhirnya, suaranya berat dan matanya mulai beranak sungai. "Saya memang sangat bodoh. Kalian boleh kok tertawa atau pun memaki saya, saya pantas mendapatkannya."
"Licik! Wanita seperti itu memang licik!" desis Alam, menggelengkan kepalanya tak percaya. "Beruntungnya anda sadar tepat waktu, Tuan!"
"Tuan, ini bukan hanya cerita bohong karena anda ingin menjual kesedihan demi mendapatkan anak yang ada di perut adik saya kan?" tanya Nathan ragu-ragu, masih tidak sepenuhnya percaya.
Sean mengusap pipinya, tertawa kecil, tawa yang jelas terpaksa. "Anda bisa cari tahu yang sebenarnya. Anda bisa bayar seorang detektif untuk memastikan kebenaran ucapan saya," jawabnya tenang, tidak tersinggung.
"Anda bercanda Tuan, kami mana berani melakukan itu," ucap Awan sungkan, matanya menunduk. Ia merasa tidak enak telah mencurigai Sean.
"Benar, anda keluarga yang sangat berpengaruh di Indonesia," tambah Nagara pelan.
Sean tidak menjawab, ia hanya menoleh ke arah pintu. "Roy!" serunya memanggil asistennya.
"Iya Tuan!" jawab Roy, berlari mendekati Sean dan yang lainnya dengan langkah cepat.
"Catat semua data tentang kehidupan saya, termasuk apa yang saya suka dan tidak saya suka, riwayat kesehatan saya, dan semua hal yang perlu mereka ketahui. Lalu berikan itu semua ke Nayra," perintah Sean gegas, diangguki cepat oleh Roy.
"Tuan, saya rasa tidak perlu," ucap Nayra ragu-ragu, merasa tidak pantas menerima semua data pribadi pria itu.
"Tidak apa-apa," jawab Sean datar, menatap Nayra dengan tatapan yang lembut namun tegas. "Kau berhak tahu sebagai calon istri ku."