NovelToon NovelToon
Frosen King OF Calestial

Frosen King OF Calestial

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Raja Ilusi

Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12:Labirin Batu Dan Jembatan Yang Rapuh

Setelah mengalahkan monster-monster di pintu masuk gua, Kaelen dan Lira melanjutkan perjalanan mereka ke dalam perut Gunung Hitam. Gua itu ternyata bukan sekadar lorong biasa, melainkan sebuah labirin batu yang luas dan rumit, dengan ratusan cabang jalan yang berbelok-belok, naik turun, dan tampak sama sekali tidak memiliki pola. Dinding-dinding labirin itu terbuat dari batu hitam yang kasar dan dingin, dan di mana-mana, ada ukiran-ukiran aneh yang menggambarkan makhluk-makhluk mengerikan dan ritual-ritual gelap.

"Labirin ini sangat rumit," kata Lira, berhenti di sebuah persimpangan jalan dan memandang ke tiga arah yang berbeda yang semuanya tampak gelap dan menakutkan. "Bagaimana kita bisa tahu jalan mana yang harus kita ambil, Yang Mulia? Kita bisa saja tersesat di sini selamanya."

Kaelen mengeluarkan peta yang diberikan oleh wanita peramal itu, dan dia membukanya di bawah cahaya redup dari kristal-kristal hitam yang ada di dinding. Dia memeriksa peta itu dengan cermat, lalu dia menatap ke sekelilingnya dengan pandangan yang serius.

"Menurut peta ini, labirin ini memiliki pola tertentu," kata Kaelen. "Jalan yang benar selalu memiliki ukiran bunga matahari di dindingnya—meskipun ukirannya mungkin sudah pudar atau tersembunyi di balik bayang-bayang. Itu adalah tanda yang ditinggalkan oleh nenek moyang wanita peramal itu untuk membantu orang-orang yang berniat baik melewati tempat ini."

Lira terkejut. "Jadi, kita hanya perlu mencari ukiran bunga matahari di dinding?"

"Ya," jawab Kaelen, tersenyum. "Itu adalah kuncinya. Mari kita cari."

Mereka mulai berjalan perlahan-lahan melalui labirin itu, mata mereka teliti memindai setiap inci dinding batu di sekitar mereka. Sesekali, mereka menemukan ukiran-ukiran, tapi kebanyakan adalah ukiran makhluk-makhluk mengerikan atau simbol-simbol gelap. Namun, mereka tidak putus asa. Mereka terus mencari, didorong oleh harapan dan tekad yang kuat.

Setelah berjalan selama beberapa waktu, Lira tiba-tiba berhenti di sebuah sudut lorong yang gelap. "Yang Mulia! Lihatlah di sini!" teriaknya dengan antusias.

Kaelen segera berlari ke arahnya. "Apa itu, Lira?"

"Lihatlah," kata Lira, menunjuk ke sebuah bagian dinding yang agak tersembunyi di balik bayang-bayang. "Di sana ada ukiran bunga matahari. Meskipun sudah pudar, tapi saya bisa melihat bentuknya dengan jelas."

Kaelen melihat ke arah yang ditunjuk oleh Lira, dan dia tersenyum bahagia. "Benar! Itu adalah ukiran bunga matahari. Bagus sekali, Lira. Kamu memiliki mata yang sangat tajam."

Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, mengikuti jalan yang memiliki ukiran bunga matahari itu. Setiap kali mereka sampai di sebuah persimpangan, mereka mencari ukiran bunga matahari itu lagi, dan itu selalu menunjukkan jalan yang benar. Berkat itu, mereka berhasil menghindari banyak jalan buntu dan jebakan-jebakan berbahaya yang tersembunyi di dalam labirin itu.

Namun, perjalanan melalui labirin itu tidaklah mudah. Lorong-lorong itu sempit dan gelap, dan udara di dalamnya terasa pengap dan berbau busuk—bau seperti belerang dan daging busuk. Kadang-kadang, mereka harus merangkak melalui lorong-lorong yang sangat rendah, atau memanjat dinding-dinding batu yang curam. Tapi mereka tidak berhenti. Mereka terus maju, semakin dekat dengan tujuan mereka.

Setelah berjalan selama berjam-jam, mereka akhirnya sampai di ujung labirin itu. Di depan mereka, ada sebuah pintu besar yang terbuat dari besi hitam yang tebal dan kokoh, dihiasi dengan paku-paku besar yang tajam. Di atas pintu itu, tertulis tulisan dalam bahasa kuno: "Di sini berakhir labirin, di sini dimulai akhir segalanya. Siapa yang melewati pintu ini, harus siap untuk hidup atau mati."

Kaelen dan Lira saling menatap dengan mata yang penuh dengan tekad. Mereka tahu bahwa di balik pintu itu, ada sesuatu yang sangat berbahaya yang menanti mereka. Tapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak bisa mundur sekarang. Mereka sudah terlalu jauh, dan mereka memiliki terlalu banyak hal yang dipertaruhkan.

"Kita sudah sampai, Lira," kata Kaelen, suaranya tegas. "Di balik pintu ini, ada benteng Malakar. Dan di sana, kita akan mengakhiri semua ini."

Lira mengangguk dengan tegas. "Ya, Yang Mulia. Saya siap. Apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama-sama."

Kaelen mengulurkan tangannya, dan dengan kekuatan yang besar, dia mendorong pintu besi itu. Pintu itu bergerak dengan suara gemuruh yang keras dan mengerikan, dan akhirnya terbuka lebar.

Saat mereka melangkah keluar dari pintu itu, pemandangan di depan mereka membuat mereka tertegun. Mereka berada di sebuah tebing yang tinggi dan curam di sisi Gunung Hitam. Di depan mereka, ada sebuah jurang yang sangat dalam dan gelap, yang memisahkan tebing tempat mereka berdiri dengan sebuah benteng tua yang megah namun juga mengerikan yang terletak di tebing yang lain. Benteng itu terbuat dari batu hitam dan besi, dengan menara-menara yang tinggi dan runcing yang menjulang ke langit yang gelap. Di sekitar benteng itu, ada asap hitam yang terus mengepul, dan dari sana, mereka bisa merasakan aura gelap yang sangat kuat dan jahat—aura yang tidak salah lagi adalah aura Malakar.

Itu adalah benteng Malakar. Tujuan mereka.

Namun, untuk sampai ke benteng itu, mereka harus menyeberangi jurang yang dalam dan gelap itu. Dan satu-satunya cara untuk menyeberanginya adalah melalui sebuah jembatan yang terbuat dari rantai-rantai besi dan papan-papan kayu yang sudah tua dan lapuk. Jembatan itu sangat sempit, dan itu bergoyang-goyang kencang karena angin yang berhembus kencang melalui jurang itu. Tampaknya, jembatan itu bisa putus kapan saja.

"Itu adalah Jembatan Kematian," kata Kaelen, suaranya rendah dan serius sambil menatap jembatan yang rapuh itu. "Konon, tidak banyak orang yang berhasil menyeberangi jembatan ini. Jembatan ini sangat rapuh, dan angin di jurang ini sangat kuat. Selain itu, ada monster-monster yang tinggal di dalam jurang ini yang suka menyerang orang yang sedang menyeberang."

Lira merasa jantungnya berdegup kencang melihat jembatan itu. Dia takut ketinggian, dan melihat ke bawah ke jurang yang gelap dan dalam itu membuatnya merasa pusing dan mual. Tapi dia tahu bahwa dia harus menyeberanginya. Dia tidak punya pilihan lain.

"Baiklah, Yang Mulia," kata Lira, mencoba untuk menenangkan suaranya. "Kita akan menyeberanginya bersama-sama. Kita bisa melakukannya."

Kaelen menatapnya dengan mata yang penuh dengan kekaguman dan cinta. "Kamu sangat berani, Lira. Tapi ingat, jika kamu merasa takut atau tidak bisa melanjutkan, katakan saja pada saya. Saya akan membawa kamu menyeberang."

"Tidak, Yang Mulia," kata Lira, menggeleng. "Saya akan berjalan sendiri. Saya harus belajar untuk berani dan kuat. Tapi saya akan memegang tangan Anda, jika Anda tidak keberatan."

Kaelen tersenyum, dan dia mengulurkan tangannya kepada Lira. "Tentu saja tidak keberatan. Peganglah tanganku dengan erat. Saya tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu."

Lira memegang tangan Kaelen dengan erat, merasakan kekuatan dan kehangatan yang mengalir dari tangan Kaelen ke tubuhnya. Mereka pun mulai menyeberangi Jembatan Kematian itu.

Jembatan itu sangat licin dan bergoyang-goyang kencang karena angin yang berhembus kencang. Setiap langkah yang mereka ambil terasa sangat sulit dan berbahaya. Lira menundukkan kepalanya, tidak berani melihat ke bawah ke jurang yang gelap dan dalam itu. Dia hanya fokus pada langkah kakinya dan pada tangan Kaelen yang erat memegang tangannya.

Namun, saat mereka berada di tengah jembatan, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Tiba-tiba, dari dalam jurang yang gelap itu, muncul makhluk-makhluk yang mengerikan. Makhluk-makhluk itu memiliki tubuh yang besar dan bersisik, dengan sayap yang lebar dan cakar-cakar yang tajam. Mereka memiliki mata yang merah menyala dan mulut yang penuh dengan gigi-gigi yang tajam. Itu adalah Naga Hitam—monster-monster yang tinggal di dalam jurang dan menjadi penjaga jembatan ini.

Naga-naga Hitam itu terbang ke atas, dan mereka menyerang Kaelen dan Lira dengan ganas. Mereka menggeram dengan keras, dan mereka menyemburkan api hitam yang panas dan berbahaya ke arah mereka.

"Awasi dirimu!" teriak Kaelen, segera melepaskan tangan Lira dan mengeluarkan pedang esnya. "Mereka datang!"

Lira juga segera mengeluarkan pedangnya, siap untuk bertarung. Namun, jembatan itu sangat sempit dan bergoyang-goyang kencang, membuatnya sulit untuk bertarung dengan bebas. Salah satu Naga Hitam itu menyemburkan api hitam ke arah Lira. Lira sempat menghindar, tapi api itu masih menyentuh ujung bajunya, membuatnya terbakar sedikit. Lira dengan cepat memadamkan api itu dengan kekuatan esnya.

Kaelen bertarung dengan berani melawan naga-naga itu. Dia menggunakan kekuatan esnya untuk membekukan sayap naga-naga itu, membuat mereka tidak bisa terbang, dan kemudian dia memotong mereka dengan pedangnya. Namun, jumlah naga-naga itu cukup banyak, dan mereka terus menyerang dengan ganas.

Salah satu naga yang paling besar dan kuat melompat ke arah Lira, siap untuk mencengkeramnya dengan cakar-cakarnya yang tajam. Lira tidak sempat menghindar. Dia menutup matanya, siap untuk menerima serangan itu. Tapi tiba-tiba, dia merasakan kekuatan yang besar mengalir melalui tubuhnya. Cahaya biru dan emas yang biasa muncul kembali bersinar terang dari tubuhnya.

Lira membuka matanya, dan dengan cepat, dia mengangkat tangannya dan melemparkan sebuah bola energi yang besar—yang berwarna biru bercampur emas—ke arah naga yang sedang menyerangnya itu. Bola energi itu menghantam naga itu dengan kekuatan yang besar, dan naga itu menjerit kesakitan dan jatuh kembali ke dalam jurang yang gelap itu.

Naga-naga lainnya melihat itu, dan mereka merasa takut. Mereka tahu bahwa Lira memiliki kekuatan yang sangat besar yang bisa melawan mereka. Mereka pun berteriak ketakutan dan melarikan diri kembali ke dalam jurang, menghilang di dalam kegelapan.

Kaelen dan Lira berdiri di tengah jembatan itu, napas mereka terengah-engah dan tubuh mereka lelah. Tapi mereka tersenyum bahagia. Mereka berhasil mengalahkan naga-naga itu.

Kaelen segera berjalan ke arah Lira dan memegang tangannya lagi dengan erat. "Kamu hebat, Lira. Kamu sangat hebat. Sekali lagi, kamu menyelamatkan kita berdua."

Lira tersenyum, wajahnya memerah karena pujian Kaelen. "Terima kasih, Yang Mulia. Tapi kita belum selesai. Kita harus segera menyeberangi jembatan ini sebelum naga-naga itu kembali atau sebelum jembatan ini putus."

"Benar," kata Kaelen. "Mari kita pergi."

Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menyeberangi jembatan itu. Kali ini, mereka berjalan lebih cepat dan lebih berani. Mereka tahu bahwa mereka sudah melewati bahaya yang terbesar di jembatan ini. Akhirnya, setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, mereka sampai di tebing yang lain, di depan pintu utama benteng Malakar.

Saat mereka melangkah turun dari jembatan itu, mereka mendengar suara gemuruh yang keras. Mereka menoleh ke belakang, dan mereka melihat bahwa jembatan itu tiba-tiba putus dan jatuh ke dalam jurang yang gelap itu. Jembatan itu hilang, seolah-olah tidak pernah ada.

Kaelen dan Lira saling menatap dengan mata yang terbelalak. Mereka baru saja menyadari betapa berbahayanya perjalanan mereka baru saja. Jika mereka sedikit saja terlambat, mereka pasti akan jatuh ke dalam jurang itu bersama dengan jembatan itu.

"Itu sangat dekat," bisik Lira, suaranya gemetar.

"Ya," kata Kaelen, memeluk Lira dengan erat. "Tapi kita selamat. Kita ada di sini, di depan benteng Malakar. Dan sekarang, tidak ada jalan kembali. Kita harus maju dan mengakhiri semua ini."

Mereka melepaskan pelukan itu, dan mereka menatap pintu besar benteng Malakar yang tertutup rapat di depan mereka. Mereka tahu bahwa di balik pintu itu, Malakar dan kekuatan gelapnya sedang menunggu mereka. Mereka tahu bahwa pertarungan terakhir mereka akan segera dimulai. Tapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak sendirian. Mereka memiliki satu sama lain, mereka memiliki kekuatan yang besar, dan mereka memiliki cinta yang menghubungkan mereka. Dan mereka yakin bahwa mereka akan menang.

"Mari kita pergi, Lira," kata Kaelen, suaranya tegas. "Mari kita masuk dan mengakhiri semua ini."

Lira mengangguk dengan tegas. "Ya, Yang Mulia. Mari kita pergi."

Mereka pun berjalan mendekati pintu besar benteng itu, siap untuk menghadapi apa pun yang ada di dalamnya.

1
Ridwani
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!