Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Tangan kanan Alex itu pun mengangguk kemudian menyerahkan beberapa laporan yang harus diperiksa oleh Alex.
"Mereka berusaha menyerang perusahaan Aditama?". Ucap Alex begitu melihat laporan yang diberikan oleh tangan kanannya itu.
"Benar bos, mereka sengaja menyerang nyonya Wina dan kawan-kawannya untuk menjatuhkan perusahaan mereka agar bisa menguasai persaingan di pasar". Ucapnya menjelaskan secara rinci.
"Inilah orang-orang yang mau melejit dan kaya tanpa mau bersaing secara sehat dan memakai cara licik, sungguh memalukan".
Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, sungguh orang-orang itu suka sekali mencari masalah jika orang lain menghalangi mereka.
"Benar bos, mereka ada kaitannya dengan keluarga Wicaksana dan keluarga Pratama, mereka masih ada hubungan kekerabatan".
"Kerja kalian bagus, kalian sudah mendapatkan keterangan siapa mereka, mereka memang keluarga serakah dan selalu bermain kotor dalam menyingkirkan orang yang tidak mereka sukai".
"Terima kasih bos, kita harus waspada bos, mereka bekerjasama dengan para Mafia dari jepang untuk membantu mereka, bos tahu sendiri bagaimana mafia jepang itu".
"Tenang saja, aku akan menemui mereka sendiri dan meminta mereka mundur, aku yakin mereka pasti bersedia, kita adalah lawan yang imbang untuk mereka".
Alex sangat yakin jika dia datang sendiri dan meminta mereka secara sukarela maka mereka pasti akan mundur, jika masalah ganti rugi uang, dia bisa memberikan berapapun yang mereka inginkan.
"Bos yakin akan kesana?". Tanyanya dengan khawatir dan tidak percaya
Dia jelas sangat tahu jika mereka semua sangat licik dalam menjalankan organisasi mereka. Dia khawatir terjadi sesuatu pada bosnya itu saat datang kesana sendiri.
"Tentu, kamu pasti sudah mengenalku dengan baik, aku tak pernah main-main dengan ucapanku". Ucap Alex dengan mantap.
"Tapi bos". Jawabnya ragu.
"Tidak perlu khawatir, aku bisa menanganinya dengan baik, pastikan saat aku kesana kalian menjaga tamu-tamu istimewa ku dengan sangat baik".
"Baik bos, percayakan pada kami".
Alex mengangguk pelan, tangannya mengepal dan tengah memikirkan untuk menghilangkan mereka dari muka bumi karena berani mencelakai kesayangannya.
"Perkuat posisi perusahaan Aditama dan perusahaan teman-teman Wina, dan pastikan mereka tidak bisa menyentuhnya".
"Apa kita akan mengeksekusi perusahaan mereka secara langsung bos?". Tanyanya dengan penasaran.
Perusahaan Aditama kini tengah goyang karena serbuan dari orang-orang yang berusaha menghancurkannya itu sebabnya mereka harus bergerak cepat untuk menyelamatkannya.
"Tidak perlu, perkuat saja perusahaan Aditama, dan perusahaan orang-orang yang berusaha menjatuhkan mereka yang kalian eksekusi".
"Baik bos, saya mengerti". Ucapnya pelan.
"Bagaimana dengan keturunan dan keluarga mereka, apa kami juga mengeksekusi mereka bos?".
Dia sengaja bertanya seperti itu karena tuannya ini memiliki hati yang perasa terutama soal anak-anak.
"Silahkan kalian eksekusi mereka, tapi jangan libatkan anak-anak mereka, kalian pasti paham maksudku, dan pastikan tidak banyak dari anak buah kita jadi korban, ingat itu".
Tangan kanan Alex bernama Arfan itu mengangguk mengiyakan perkataan Alex barusan.
Lelaki yang bersama dengan Alex sejak mereka sekolah menengah atas itu memang mengenal baik bagaimana watak dan cara kerja Alex selama ini dan itu membuatnya sangat segan kepadanya.
Sekalipun Alex berdarah dingin dia tidak pernah menyerang kaum lemah terutama anak-anak dibawah umur.
"Kalau begitu saya pamit bos". Ucapnya segera keluar dari ruangan itu.
Alex mengangguk mempersilahkan sahabat sekaligus tangan kanannya itu untuk pergi.
Mereka akan bersikap professional saat mereka bekerja tetapi saat santai mereka akan bersikap sama seperti pertemanan pada umumnya.
"Kalian akan tahu akibatnya karena berani mengusik orang yang ku sayangi, kalian semua tidak akan lolos ".
Sedangkan diruangan sebelah tempat Wina berada terjadi kehebohan karena pertemuan mereka itu.
"Bunda". Ucap Tania dan Wira bersamaan.
Mereka meminta turun dan ingin berlari menuju sang ibu tetapi ajudan Alex menggeleng pelan dan tetap menggendong mereka dan mendudukkannya ketempat tidur karena tadi Alex berpesan agar mereka tidak terlalu banyak bergerak.
"Maaf tuan dan nona muda, kalian belum bisa terlalu banyak bergerak, kalian baru sadar dan belum stabil, maafkan saya". Ucap ajudan itu dengan sopan.
Yang lainnya hanya bisa menghela nafas, kebahagiaan mereka terlalu besar sehingga lupa jika mereka semua baru sadar beberapa jam yang lalu, betul yang dikatakan ajudan Alex itu
"Terima kasih telah membantu anak saya". Ucap Wina dengan ramah.
"Sama-sama nyonya, kalau begitu kami permisi". Ucap mereka dengan sopan.
Wina mengangguk mempersilahkan mereka keluar.
Sedangkan ketiga sahabat Wina itu langsung memeluk Wina yang tengah duduk di kursi roda karena mereka merasa lega
"Syukurlah kita bisa berkumpul, rumah Alex sangat mengagumkan yah". Ucap Ratna pelan.
Sejak tadi dia betul-betul terkesima melihat rumah Alex yang menurutnya luar biasa.
"Kamu benar sayang, aku juga sangat mengagumi rumah ini, awalnya aku ngeri karena kita masuk kedalam hutan, tapi saat berada digerbang dan didepan rumah, aku bahkan tak bisa berkata-kata selain mengagumkan".
Wina mengkerutkan keningnya mendengar perbincangan sepasang calon pengantin itu, sejak dia sadar, dia memang tidak pernah keluar dari kamar tempatnya kini karena kepalanya masih berdenyut hebat
"Benarkah?, aku jadi penasaran ingin berkeliling rumah ini jika seperti apa yang kalian katakan".
Wina dan para sahabatnya memang memiliki kesamaan dalam hal menyukai interior rumah yang bagus itulah sebabnya dia menjadi penasaran tentang rumah Alex ini.
" Memang kamu belum pernah keluar dari ruangan ini Win?". Tanya Ratna pelan.
Wina sudah beberapa jam sadar dirumah ini tetapi dia bahkan tidak tahu bagaimana keadaan rumah yang dia tempati.
"Boro-boro mau keluar Na, jalan saja kepalaku sudah berdenyut hebat belum lagi kakiku ini masih mati rasa dan sulit digerakkan, gimana coba mau keliling rumah". Ucap Wina dengan cemberut.
Semua yang ada disana mengangguk, sedangkan Wira dan Tania kini tengah berbaring di ranjang sang ibu karena kepalanya terasa sangat sakit.
"Sebaiknya anak-anak dipindahkan keruangan mereka saja sekarang, biar mereka mendapatkan perawatan, kelihatannya kepala mereka sangat sakit". Leo memperhatikan kedua keponakannya itu.
Ketiga orang dewasa itu langsung menoleh dan melihat apa yang dikatakan oleh Leo barusan.
Wina mendorong kursi rodanya mendekati sang anak untuk mengecek keadaanya.
"Kamu benar, mereka harus segera mendapatkan perawatan, bi tolong urus mereka, mereka harus mendapatkan perawatan segera, apa bibi bisa?". Tanya Wina dengan penuh harap.
Dia memandang maid itu dengan mata berkaca-kaca dan sedikit memohon, dia sungguh tak tega melihat keadaan kedua anaknya
"Baik nyonya, saya akan panggil beberapa orang untuk mengangkat tuan dan nona muda". Ucapnya mengundurkan diri dan keluar dari ruangan itu.
"Ini semua gara-gara manusia-manusia itu". Geram Wina.