Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Sampel DNA
Ge menatap Arif beberapa detik setelah tantangan itu keluar dari mulut pria kurus tersebut.
“Tes DNA?” ulang Ge.
Arif mengangguk tenang. “Kalau kamu memang anak Tarno dan Marni, hasilnya akan membuktikan itu. Tapi kalau tidak… kamu akan tahu bahwa saya tidak berbohong.”
Ge menyilangkan tangan. Beberapa detik dia berpikir. Lalu dia menyeringai.
“Oke.”
Arif sedikit mengangkat alis.
Ge menunjuk dirinya sendiri. “Aku suka tantangan.”
Arif berkata serius, “Kalau begitu ambil sampel DNA mereka.”
Ge mengangguk santai. “Berarti aku harus pulang dulu dong.”
“Ya.”
Ge berjalan ke pintu sambil bersiul. “Om tunggu aja hasilnya. Biar sekalian aku buktiin kalau cerita Om itu drama.”
Malam itu Ge pulang ke rumah kecilnya seperti biasa. Rumah sederhana di gang sempit dengan cat tembok yang mulai mengelupas. Kontras sekali dengan rumah besar yang baru saja dia datangi tadi.
Begitu masuk rumah, Marni langsung menoleh dari dapur.
“Kamu dari mana aja?” tanya Marni.
Ge melempar tas ke sofa. “Main.”
Tarno yang sedang duduk di kursi plastik sambil nonton televisi hanya melirik sekilas. “Bolos lagi ya?”
Ge menjawab santai, “Iya.”
Namun di dalam kepalanya sekarang hanya ada satu misi. Yaitu mengambil sampel DNA.
“Ini bukan hal sulit,” gumamnya dalam hati.
Langkah pertama ternyata mudah.
Keesokan paginya Ge melihat sisir rambut Marni di meja rias. Beberapa helai rambut masih menempel di sana.
Ge langsung menyeringai. “Jackpot!”
Dia mengambil tisu lalu memungut beberapa helai rambut itu dengan hati-hati. “Maaf ya Mak… buat eksperimen ilmiah,” gumamnya.
Sampel pertama beres. Namun masalah muncul ketika dia harus mengambil DNA Tarno. Tarno… botak. Botak mengkilap.
“Anjir…” keluh Ge sambil memandangi kepala ayahnya dari belakang.
Tidak ada rambut. Satu helai pun tidak. Ge mencoba berpikir.
“Oke… sikat gigi.” Dia langsung masuk ke kamar mandi. Di sana ada tiga sikat gigi. Namun beberapa detik kemudian dia menghela napas panjang.
“Anjir…”
Tarno ternyata punya kebiasaan aneh. Kadang dia pakai sikat gigi Ge. Kadang pakai milik Marni. Kadang pakai yang mana aja.
Ge keluar dari kamar mandi sambil menggaruk kepala. “Ini orang hidupnya random banget.”
Selama dua hari Ge mencoba mencari cara. Dia sempat berpikir untuk mengambil kuku Tarno. Tapi Tarno selalu memotong kukunya pendek. Dia juga sempat menunggu rambut hidung Tarno. Tapi itu terlalu ekstrem.
Sampai suatu malam kesempatan Ge akhirnya datang. Tarno tertidur di sofa ruang tamu sambil menonton televisi.
Televisi masih menyala dengan suara pelan. Tarno tidur dengan posisi setengah rebah. Satu tangannya terangkat ke atas kepala. Saat itulah Ge melihat sesuatu. Yaitu bulu ketiak, cukup lebat.
Ge langsung berhenti di tengah langkah. Pupil matanya membesar. “Anjir… ini dia.” Dia berjalan pelan seperti pencuri. Pelan… sangat pelan.
Ge membungkuk di dekat sofa. Tarno masih mendengkur ringan. Ge mengangkat tangan Tarno sedikit.
“Maaf ya Pak… demi sains,” bisiknya.
Ge mencubit satu helai bulu ketiak. Perlahan dia tarik dengan cepat.
CKREK!
“AAAAK!”
Tarno langsung terbangun. Matanya membelalak.
“WOY! NGAPAIN LU?!”
Ge langsung refleks berdiri tegak sambil menyembunyikan bulu ketiak itu di belakang punggung.
Tarno masih memegang ketiaknya. “NGAPAIN LU CABUT BULU KETIAK GUE?!”
Ge panik sepersekian detik. Lalu otaknya bekerja cepat. “Ada kutu!”
Tarno berkedip bingung. “Kutu?”
Ge langsung menunjuk ketiak Tarno. “Iya! Aku liat ada kutu, Pak!”
Tarno langsung panik. “Hah?! Serius?!”
Ge mengangguk cepat. “Iya! Besar lagi!”
Tarno langsung bangun dan mengangkat kaosnya. “Mana?!”
Ge pura-pura mencari. “Udah aku ambil tadi. Untung aku lihat tadi, Pak!"
Tarno terlihat masih curiga. “Lu nyabut pake tangan?!”
Ge mengangkat bahu. “Refleks.”
Tarno menggaruk kepalanya. “Kok bisa ada kutu di ketiak…”
Ge mundur pelan sambil menyeringai kecil. “Mungkin kutu mutasi.”
Tarno menggerutu. “Besok gue mandi pake sabun antiseptik.”
Ge langsung masuk kamar sambil menahan tawa. Begitu pintu tertutup, dia mengangkat bulu ketiak itu seperti trofi kemenangan.
“YES!”
Misinya selesai.bDi tangannya sekarang ada dua sampel DNA. Rambut Marni dan bulu ketiak Tarno. Besok dia akan menyerahkannya pada Arif.
Ge tertawa kecil. “Kita lihat siapa yang benar. Apa benar gue anak konglomerat?" gumamnya.