Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Penawar di Antara Napas Terakhir
Bau obat-obatan yang pahit memenuhi ruangan, mengalahkan aroma darah dan asap yang tadi sempat merajai penciuman Aruna. Kesadarannya terasa seperti lilin yang tertiup angin... nyaris padam, namun masih menyisakan sedikit pijar panas di dadanya. Aruna bisa merasakan permukaan kasur yang empuk di bawah punggungnya, tapi tubuhnya sendiri terasa seperti terbuat dari balok es yang retak.
"Jangan berani-berani mati, Ratri. Aku belum selesai menghukummu."
Suara itu berat, serak, dan penuh dengan emosi yang tertahan. Aruna memaksa matanya terbuka sedikit. Di sana, di samping tempat tidurnya, Jenderal Arvand duduk dengan bahu yang merosot. Rambutnya berantakan, dan pakaian perangnya masih penuh dengan noda darah hitam.
Aruna mencoba menggerakkan jarinya, tapi rasanya sangat jauh. "A-Arel..." bisiknya, suaranya lebih mirip desisan kering.
Pintu kamar terbuka dengan kasar. Arel berlari masuk, napasnya tersengal-sengal. Di tangannya, ia memegang sebuah mangkuk kecil porselen yang masih mengepulkan uap. Wajah anak itu merah padam, matanya bengkak seolah baru saja menangis hebat.
"Ini penawarnya! Master Daryan bilang ini harus diminum sekarang!" Arel berseru sambil mendekati tempat tidur.
Arvand segera mengambil mangkuk itu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyangga leher Aruna dan mendekatkan cairan pahit itu ke bibirnya. "Minum ini. Jika kau memuntahkannya, aku akan benar-benar membencimu seumur hidupku."
Aruna menelan cairan itu dengan susah payah. Rasanya sangat mengerikan, seperti menelan bara api yang membakar tenggorokannya. Ia terbatuk keras, membuat cairan itu tumpah sedikit di dadanya, tapi Arvand tetap memaksa sisa obat itu masuk ke kerongkongannya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam. Aruna merasakan dadanya seperti dihantam palu godam. Panas menjalar ke seluruh pembuluh darahnya, bertarung melawan rasa dingin yang dibawa oleh racun tadi. Keringat dingin membanjiri tubuhnya hingga bantalnya basah kuyup.
Sistem Karma Ibu Aktif.
Status: Proses detoksifikasi sedang berlangsung.
Efek Samping: Nyeri otot hebat dan kilasan ingatan masa lalu.
Tiba-tiba, penglihatan Aruna berubah putih. Ia tidak lagi berada di kamarnya. Ia melihat sosok Ratri yang asli, berdiri di depan sebuah cermin besar, menangis sambil memegang sebuah cambuk. Di belakangnya, ada bayangan seorang wanita tua yang membisikkan kata-kata jahat ke telinganya. “Anak itu adalah kutukan. Dia akan mengambil segalanya darimu, seperti ibunya mengambil suamimu.”
Aruna tersentak bangun dari kilasan itu. Napasnya memburu. Ia melihat ke arah Arel yang masih berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Arel... kemari," bisik Aruna.
Anak itu ragu sejenak, lalu melangkah maju. Aruna meraih tangan kecil Arel yang dingin. Kali ini, Arel tidak menarik tangannya dengan kasar. Ia membiarkan Aruna menggenggamnya, meski jarinya masih kaku.
"Maafkan aku," kata Aruna pelan, menatap langsung ke mata anak itu. "Maaf karena aku terlambat menyadari... betapa berharganya kamu."
Arel menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan air mata yang kembali menggenang. "Kau hampir mati. Kenapa kau melindungiku sampai seperti itu? Kau kan bisa saja lari dan membiarkan Barka menangkapku."
Aruna tersenyum tipis, meski wajahnya masih sangat pucat. "Karena nyawaku tidak ada artinya jika aku harus melihatmu terluka lagi. Ibu yang jahat pun... masih punya hati yang ingin menebus dosanya."
Arvand, yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, akhirnya berdiri. Ia menepuk pundak Arel pelan. "Arel, pergilah istirahat. Biar ayah yang menjaga ibumu malam ini."
Arel mengangguk pelan, lalu menoleh sekali lagi ke arah Aruna sebelum keluar dari kamar. Kehadiran anak itu meninggalkan sedikit kehangatan di hati Aruna yang mulai membaik.
Setelah pintu tertutup, suasana kamar menjadi sangat sunyi. Arvand berjalan menuju jendela, menatap ke arah luar di mana fajar mulai menyingsing di ufuk timur.
"Siapa kau sebenarnya, Ratri?" tanya Arvand tanpa berbalik.
Jantung Aruna berdegup kencang. "Apa maksudmu, Jenderal?"
Arvand berbalik, menatap Aruna dengan mata elangnya yang tajam. "Istriku yang aku kenal selama lima tahun ini tidak akan pernah sudi mempertaruhkan nyawanya untuk Arel. Dia tidak akan bisa membedakan bau racun dengan dupa. Dan dia... tidak akan pernah menatapku dengan tatapan seolah aku adalah orang asing yang harus diwaspadai."
Aruna menelan ludah. Ia tahu ia harus tetap pada perannya. "Kematian mengubah orang, Arvand. Saat aku merasa nyawaku dicabut oleh racun Selina, aku melihat semua kejahatanku. Aku tidak ingin mati sebagai monster."
Arvand melangkah mendekat, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Aruna. "Aku harap kau jujur. Karena jika aku menemukan satu saja bukti bahwa kau sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar dengan Pangeran Kaelan, aku sendiri yang akan memisahkan kepalamu dari tubuhmu."
Aruna menahan napas saat mendengar nama Kaelan disebut. "Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Pangeran."
"Bagus," Arvand tegak kembali. "Istirahatlah. Besok, kita harus pindah ke kediaman musim panas di pinggiran kota. Rumah ini sudah tidak aman lagi setelah pengkhianatan Barka."
Keesokan harinya, perjalanan menuju kediaman musim panas dilakukan dengan pengawalan ketat. Aruna ditempatkan di dalam kereta kuda yang empuk bersama Arel. Sepanjang jalan, Arel tidak banyak bicara, tapi ia sesekali memberikan segelas air atau buah untuk Aruna.
Namun, di tengah perjalanan yang melewati hutan bambu yang rimbun, kereta kuda tiba-tiba berhenti mendadak. Suara ringkikan kuda dan teriakan prajurit terdengar dari luar.
"Tetap di dalam, Arel!" Aruna segera memeluk Arel dan menariknya ke lantai kereta kuda.
Pintu kereta terbuka, dan seorang prajurit dengan wajah penuh ketakutan berteriak, "Jenderal! Ada serangan dari atas bukit! Mereka menggunakan panah api!"
Aruna bisa merasakan panas yang mulai merambat ke dinding kayu kereta. Bau kayu terbakar kembali menghantui penciumannya. Ia melihat dari jendela kecil, puluhan pria berpakaian hitam... berbeda dari kelompok Barka mulai mengepung mereka.
Arvand berada di depan, menebas setiap musuh yang mendekat dengan brutal. Gerakannya seperti tarian maut, namun jumlah musuh terlalu banyak.
Di saat genting itu, sebuah anak panah dengan ujung yang menyala melesat masuk melalui jendela kereta, menancap tepat di jok tempat Aruna duduk tadi. Api dengan cepat menjalar ke kain sutra di dalam kereta.
"Kita harus keluar, Arel! Sekarang!" Aruna menarik tangan Arel dan menendang pintu kereta yang mulai berasap.
Mereka melompat keluar tepat saat kereta itu meledak kecil karena terkena kotak amunisi yang dibawa di bagian belakang. Aruna terjatuh di atas tanah berbatu, melindungi kepala Arel dengan tubuhnya.
Saat ia mencoba berdiri di tengah kekacauan itu, seorang pria dengan jubah abu-abu mendarat tepat di depan mereka. Ia tidak membawa pedang, melainkan sebuah seruling perak.
"Lady Ratri," pria itu menyapa dengan suara yang sangat lembut, namun penuh dengan ancaman yang mematikan. "Sayang sekali, rencana 'pembersihan' ini harus melibatkan anak kecil."
Pria itu mengangkat serulingnya ke bibir. Aruna menyadari sesuatu, ini adalah pembunuh yang menggunakan frekuensi suara untuk merusak saraf. Detail sensorik dari sistem bergetar hebat.
Peringatan Tingkat Tinggi! Serangan gelombang suara terdeteksi.
Target: Merusak sistem pendengaran dan saraf pusat.
Aruna meraih batu tajam di tanah dan menyayat telapak tangannya sendiri. Rasa sakit yang tajam membantu otaknya tetap fokus di tengah suara melengking yang mulai keluar dari seruling itu. Ia menerjang ke depan, bukan untuk memukul pria itu, tapi untuk menjatuhkan diri ke arah Arel dan menutup telinga anak itu dengan telapak tangannya yang bersimbah darah.
"Jangan dengarkan, Arel! Tutup matamu!" teriak Aruna.
Tiba-tiba, sebuah bayangan biru melesat dari atas pohon. Sebuah belati terbang memotong seruling perak itu menjadi dua bagian sebelum pria berjubah abu-abu itu menyelesaikan nadanya.
Itu Pangeran Kaelan. Ia mendarat dengan anggun di antara Aruna dan si pembunuh. "Sudah kubilang, Aruna. Musuhmu jauh lebih banyak dari yang kau kira."
Kaelan menoleh sedikit, matanya yang dingin menatap Aruna. Namun, di saat yang sama, Aruna melihat Jenderal Arvand sedang bertarung sengit beberapa meter di belakang mereka. Arvand melihat Kaelan berdiri di dekat istrinya, dan kemarahan di wajah sang Jenderal meledak melampaui rasa takutnya pada musuh.
"Kaelan! Menjauh dari istriku!" raung Arvand sambil menebas musuh terakhirnya dan berlari ke arah mereka.
Aruna terjepit di antara dua pria paling kuat di kerajaan ini, di tengah hujan panah api yang masih terus berjatuhan. Namun, perhatian Aruna teralih ketika ia melihat sesosok bayangan lain di balik semak-semak, membidikkan panah langsung ke arah punggung Arvand yang sedang lengah karena emosi.
"Arvand, awas di belakangmu!" teriak Aruna.
Aruna berlari, mencoba mendorong Arvand, namun tubuhnya yang masih lemah justru membuatnya tergelincir. Anak panah itu melesat cepat, bukan ke arah Arvand, melainkan berbelok tajam ke arah... Arel.
Siapakah pemanah misterius yang mampu membelokkan arah anak panah di udara? Dan mampukah Aruna melakukan satu pengorbanan terakhir demi menyelamatkan Arel dari ancaman yang tidak terlihat itu?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.