"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Taksi berhenti di depan pagar rumah yang catnya mulai mengelupas di beberapa sudut. Aku turun dengan langkah gontai, menyeret tas ransel yang terasa seberat beban di pundakku. Begitu gerbang terbuka, aroma tanah basah dan melati langsung menyambutku.
Aku berjalan menuju halaman belakang. Di sana, Bunda sedang berjongkok, tangannya yang terbungkus sarung tangan karet sibuk memindahkan bibit anggrek ke pot yang lebih besar. Rambutnya yang sedikit beruban tertutup topi bambu, tampak sangat kontang dengan kericuhan yang baru saja kutinggalkan di sekolah dan lapangan bola.
"Baru pulang, Sayang?" tanya Bunda tanpa menoleh, seolah ia punya indra keenam untuk mengenali suara langkah kakiku.
Aku tidak menjawab. Aku hanya mendekat, lalu duduk di rumput tepat di sebelah Bunda. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya yang hangat.
Bunda menghentikan aktivitasnya. Ia melepas sarung tangan karetnya yang kotor, lalu mengusap puncak kepalaku dengan lembut. "Lemas banget. Ada masalah di sekolah? Guntur lagi?"
Mendengar nama itu disebut, dadaku terasa sesak. "Fis capek, Bun. Capek pura-pura nggak tahu, capek pengen balas dendam, capek lari dari semuanya."
Bunda menghela napas panjang, suaranya tenang seperti air yang mengalir di kolam kecil kami. "Tanaman itu kalau akarnya sudah busuk, mau dipangkas daunnya berkali-kali pun nggak akan pernah sehat lagi, Fis. Satu-satunya jalan ya dicabut, lalu ganti tanahnya dengan yang baru."
Aku terdiam, meresapi setiap kata-kata Bunda. Selama ini aku hanya sibuk memangkas rasa sakitku, tanpa berani mencabut "akar" masalahnya—yaitu ketergantunganku pada Guntur dan lingkaran pertemanannya yang beracun.
"Bunda tahu kamu anak kuat. Tapi orang kuat pun butuh berhenti sejenak buat tarik napas," lanjut Bunda sambil menatap mataku yang mulai berkaca-kaca. "Sore ini nggak usah bahas sekolah dulu ya? Mau Bunda buatkan teh jahe kesukaan kamu?"
Aku mengangguk pelan. Di pelukan Bunda, dunia luar terasa sangat jauh. Tidak ada Radit yang memprovokasi, tidak ada Alan yang menuntut, dan tidak ada Guntur yang mengkhianati. Hanya ada aku dan ketenangan yang selama ini kucari.
Namun, ketenangan itu terusik saat suara bel rumah berbunyi nyaring dari arah depan. Jantungku mencelos. Aku tahu siapa yang punya kebiasaan menekan bel tiga kali berturut-turut seperti itu.
Ting-ting-ting!
Tiga kali bunyi bel itu beradu dengan debar jantungku. Aku menghela napas panjang. Itu bukan cara Guntur memencet bel, juga bukan gaya Radit yang kasar. Ketukan itu penuh kehati-hatian, sebuah ritme yang sangat kukenal sebagai milik Bintang.
Bunda tersenyum tipis, seolah sudah menebak siapa tamunya. "Sana samperin. Kasihan kalau dibiarin nunggu di depan pagar."
Aku berdiri dengan kaki yang terasa berat, menyeka sudut mataku, lalu berjalan menuju pintu depan. Begitu daun pintu terbuka, sosok Bintang berdiri di sana. Ia masih mengenakan seragam sekolah, tapi kali ini wajahnya terlihat sangat cemas. Tangannya menggenggam sebuah plastik berisi kotak obat dan sebotol minuman elektrolit.
"Fis..." Suaranya terdengar lega sekaligus penuh tanda tanya. "Tadi aku ke kelas, tapi kamu sudah nggak ada. Aku kirim pesan, kamu bilang bareng saudara, tapi..." Ia menggantung kalimatnya, matanya menatapku lekat. "Tadi aku lihat kamu naik motor sport hitam di depan sekolah. Itu benar saudaramu?"
Aku tertegun. Jadi Bintang melihatku? Dia melihatku pergi dengan Radit? Kebohonganku yang baru berumur satu jam langsung runtuh di hadapannya.
"Bin, gue..." Aku kehilangan kata-kata.
Bintang tidak marah. Ia justru melangkah mendekat, lalu menyodorkan kantong yang ia bawa. "Aku cuma khawatir. Tadi kata Pak Danu kamu kurang enak badan. Terus pas aku lihat kamu pergi buru-buru, aku takut terjadi apa-apa. Ini ada vitamin sama minuman, diminum ya?"
Ketulusannya terasa seperti tamparan keras di wajahku. Di saat aku sibuk bermain api dengan Radit untuk membalas dendam pada Guntur, Bintang tetap menjadi sosok yang memikirkan kesehatanku. Aku merasa sangat jahat karena menjadikannya pelarian dari rasa sakitku.
"Makasih, Bin. Dan soal tadi... maaf gue bohong," bisikku sambil menunduk, tak berani menatap matanya yang jernih.
Bintang terdiam sejenak, lalu ia tersenyum tipis—senyum yang mengandung luka namun berusaha tetap tegar. "Nggak apa-apa, Fis. Aku tahu kamu lagi nggak baik-baik saja. Aku nggak akan tanya itu siapa, tapi tolong... jangan sakiti dirimu sendiri hanya untuk membuat orang lain merasa bersalah."
Kalimatnya menghunjam tepat di ulu hati. Bintang tahu. Dia tahu aku sedang mencoba memanasi Guntur.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2