NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:443
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Bima Tumbang

...GAMON...

...Bab 5: Bima Tumbang...

...POV Bima...

---

Hari Pertama

Bima nggak ingat gimana caranya dia pulang.

Yang dia ingat cuma: duduk di pinggir kali, air mata, suara knalpot, dan kata-kata Keana yang muter di kepala kayak rekaman rusak.

"Kamu nggak akan pernah bisa seperti mereka, kamu terlalu monoton."

"Aku butuh sesuatu yang lebih... lebih dari semua yang pernah dia (Bima) kasih."

"Maaf, Bim."

Maaf.

Orang minta maaf kalau mereka bersalah. Tapi kenapa dia yang minta maaf, dia yang pergi, dia yang hancurin semuanya—dan Bima yang ngerasa bersalah?

Bima nggak ngerti.

Yang dia tahu: dia buka pintu kost, masuk, jatuh di lantai, dan nggak bangun-bangun lagi.

---

Hari Kedua

Matahari udah naik. Bima masih di lantai. Posisi sama kayak semalem. Badan kaku. Mata perih. Tapi nggak bisa tidur.

Ponsel bunyi.

Ibu (08.47): "Nak, udah sarapan? Ibu kangen. Kapan pulang?"

Bima liat pesan itu. Ingin balas. Tapi jarinya nggak bisa gerak.

Dia taruh ponsel. Balik badan. Lantai dingin nempel di pipi.

Di luar, suara orang lalu lalang. Motor lewat. Anak kost teriak-teriak. Dunia jalan. Tapi dunianya berhenti.

---

Hari Ketiga

Bima nggak tahu ini hari apa. Yang dia tahu: dia belum mandi, belum makan, cuma minum air keran pas haus banget.

Kost-an berantakan. Baju bekas di mana-mana. Piring kotor numpuk. Lampu mati—atau mungkin dia nggak pernah nyalain.

Ponsel bunyi lagi.

Doni (19.23): "Bim, lo kemana aja? Kantor lo nggak masuk? Lo sakit?"

Doni (20.47): "Gue ke kost lo ya."

Bima liat pesan itu. Mau nolak. Tapi badan nggak gerak.

---

Pukul 21.30

Pintu digedor.

"BIM! BUKA!"

Doni. Suaranya panik.

"BIM, GUE TAHU LO DI DALEM! BUKA!"

Bima bangun. Males. Tapi suara Doni keras banget sampe tetangga keluar.

Dia buka pintu.

Doni melongo.

"Astaga, Bim. Lo... lo kenapa?"

Bima diem. Badannya ambruk ke tembok.

Doni masuk. Nutup pintu. Lihat sekeliling—kost kayak kapal pecah. Bau. Kotor. Dan Bima di tengahnya, pucat, mata cekung, bau nggak karuan.

"Bim, lo sakit?"

Bima geleng. Lemah.

"Putus?"

Bima diem. Tapi matanya—matanya jawab.

Doni menghela napas. Dia duduk di lantai—nggak peduli kotor. Ambil rokok, nyalain, kasih ke Bima.

"Ngerokok."

Bima liat rokok itu. Dia udah berhenti setahun lalu—karena Keana nggak suka. Tapi sekarang?

Dia ambil. Isap dalam. Asap masuk ke paru-paru, bikin batuk. Tapi juga bikin... sedikit lega.

"Cerita," kata Doni.

Bima diem lama. Rokok di jari. Asap naik ke langit-langit yang kusam.

"Dia bilang aku nggak akan pernah bisa saingin mereka."

Suaranya serak. Habis. Kayak orang abis nangis seminggu.

Doni nggak ngomong. Cuma denger.

"Dia bilang aku predictable. Itu kata dia. Predictable." Bima ketawa pahit. "Cintaku, perhatianku, semua yang aku kasih—predictable."

Doni hembuskan asap. "Lo percaya?"

Bima nengok. "Apa?"

"Lo percaya omongan dia?"

Bima diem.

"Lo tahu, Bim, orang putus itu kadang ngomong apa aja. Nyakitin. Biar mantannya hancur. Biar dia sendiri ngerasa menang." Doni tatap dia. "Tapi lo tahu nggak? Yang paling bahaya itu bukan omongan dia. Tapi kalau lo percaya."

Bima diem. Rokoknya abis.

"Gue... gue nggak tahu."

"Itu jawabannya. Lo belum tahu." Doni berdiri. "Makanya, bangun. Mandi. Makan. Hidup. Nanti lo cari tahu."

Dia berjalan ke pintu. Sebelum keluar, dia menoleh.

"Gue akan balik besok. Kalau lo masih kayak gini, gue bawa lo ke ibu lo."

Pintu ditutup.

---

Hari Keempat

Bima mandi.

Air dingin, tapi dia ngerasa. Untuk pertama kalinya dalam empat hari, dia ngerasa sesuatu.

Bukan sakit. Bukan sedih. Tapi... kesel.

Kesel sama dirinya sendiri. Karena dia hancur. Karena dia lembek. Karena dia biarin kata-kata Keana ngerusak dia.

Dia berdiri di bawah shower. Muka nengadah. Air bercampur air mata—tapi dia nggak tahu mana yang mana.

"Lu pikir gue bakal hancur selamanya?" bisiknya. "Salah, Kean. Gue akan bangkit. Dan suatu hari... suatu hari gue akan buktiin."

---

Hari Kelima

Bima keluar kost. Pertama kalinya dalam lima hari.

Dia pergi ke masjid dekat rumah. Duduk di saf belakang. Sendirian.

Maghrib. Adzan berkumandang. Dia denger, tapi nggak sholat. Cuma duduk. Menatap mimbar kosong.

Di tangannya, ada buku catatan kecil. Baru. Dia beli tadi dari warung.

Dia buka. Nulis pelan-pelan.

---

Hal-hal yang Harus Aku Buktikan:

Aku bukan cuma "predictable".

Aku bisa jadi sesuatu—tanpa dia.

Suatu hari, dia akan lihat. Dan dia akan tahu: dia salah.

---

Dia tutup buku itu. Tangannya gemetar. Matanya basah. Tapi dia nggak nangis.

Di luar, hujan mulai turun. Sama kayak malam Keana pulang larut. Sama kayak malam semuanya mulai hancur.

Tapi kali ini, Bima nggak diem aja.

Kali ini, dia mulai gerak.

---

Malam Itu

Bima pulang ke kost. Bedakan. Badannya capek, tapi pikirannya mulai jalan.

Dia buka laptop. Cari kursus online. Public speaking. Digital marketing. Apa aja yang bisa bikin dia naik level.

Dia daftar tiga kursus dalam satu malam.

Ponsel bunyi. Ibu.

Ibu (22.47): "Nak, kok udah lima hari nggak kabar? Ibu khawatir."

Bima liat pesan itu. Untuk pertama kalinya dalam lima hari, dia balas.

Bima: "Maaf, Bu. Banyak kerjaan. Aku sehat. Ibu gimana?"

Ibu: "Ibu sehat, Nak. Cuma kangen. Kapan pulang?"

Bima: "Nanti, Bu. Aku janji. Aku lagi... lagi beresin sesuatu."

Ibu: "Ibu doain yang terbaik. Ibu sayang kamu, Nak."

Bima: "Aku juga sayang Ibu. Lebih dari apa pun."

Dia taruh ponsel. Napas panjang.

Di luar, hujan reda. Langit mulai bersih.

Bima tahu, perjalanannya baru mulai. Tapi setidaknya, dia udah nggak di dasar lagi.

Dia mulai bangkit.

---

Bersambung ke Bab 6: Bima Pindah Gigi

---

📝 Preview Bab 6:

Bima mulai berubah. Bukan dalam sehari, tapi pelan-pelan. Kursus. Gym. Karier. Satu per satu dia bangun.

Tapi di tengah semua itu, ada yang mengganjal: kenangan. Dan suatu sore, dia akan lihat sesuatu yang bikin dia mundur dua langkah.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!