Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Pertemuan yang Tidak Direncanakan
Malam itu restoran tempat Isya bekerja terlihat lebih ramai dari biasanya.
Lampu-lampu hangat menerangi ruangan, suara piring dan gelas saling bersahutan dari dapur. Aroma makanan memenuhi udara.
Isya yang baru saja datang langsung memakai celemek kerjanya.
“Assalamu’alaikum, Kak Rara.”
“Wa’alaikumussalam!” jawab Rara cepat.
Namun berbeda dari biasanya, wajah Rara terlihat sangat bersemangat.
Ia mendekat sambil berbisik heboh.
“Isyaaa… kamu tahu nggak?”
Isya menoleh polos.
“Tahu apa kak?”
Rara menepuk meja kecil di dekat kasir.
“Katanya malam ini ada boyband yang mau datang makan di sini!”
Isya berkedip pelan.
“Boyband?”
“Iyaaa!” jawab Rara makin semangat.
“Yang kemarin konser dekat sekolahmu itu loh!”
Isya berpikir sebentar.
“Ohhh…”
Yang terlintas di pikirannya justru suara speaker yang memekakkan telinga kemarin.
“Ihhh… yang bikin kuping sakit itu?”
Rara langsung menatapnya tidak percaya.
“Hah?!”
“Kuping sakit?”
Isya mengangguk santai.
“Iya kak… yang musiknya kenceng banget itu.”
Rara langsung memegang kepalanya.
“Aduh Isyaaa…”
“Itu bukan sembarang boyband.”
“Itu boyband terkenal!”
“Penggemarnya banyak banget!”
Isya hanya tersenyum kecil.
“Ohh gitu ya…”
Rara mendekat lagi sambil berbisik seperti menyimpan rahasia besar.
“Kamu tahu ga, salah satu personelnya yang paling terkenal.”
“Namanya Ahnaf.”
Isya mengangguk pelan.
“Hmm.”
Namun ekspresinya tetap biasa saja.
Rara menatapnya heran.
“Kamu nggak penasaran?”
Isya menggeleng kecil.
“Enggak juga kak.”
“Yang penting mereka pesan makanan, bayar, terus pulang.”
Rara langsung tertawa.
“Dasar kamu ini ya!”
“Kalau orang lain mungkin sudah heboh dari tadi.”
Isya hanya tersenyum sambil mengambil buku pesanan.
Baginya malam itu tetap sama seperti malam-malam lainnya.
Ia datang untuk bekerja.
Bukan untuk melihat artis.
Namun ia tidak tahu…
Bahwa malam itu justru akan mempertemukannya kembali dengan seseorang yang tidak ia sangka.
------------------------------------------------------------------------
Malam semakin larut.
Restoran masih cukup ramai dengan pengunjung yang datang silih berganti.
Isya sibuk di bagian kasir, mencatat pesanan dan sesekali mengangkat telepon dapur.
Sementara itu Kak Rara tampak beberapa kali melirik ke arah pintu masuk.
Seperti sedang menunggu sesuatu.
“Isya…”
“Iya kak?”
“Menurut kamu mereka jadi datang nggak ya?”
Isya menoleh sebentar.
“Siapa kak?”
Rara langsung menatapnya.
“Ya boyband itu!”
Belum sempat mereka berbicara lagi…
Tiba-tiba pintu restoran terbuka.
Beberapa pemuda masuk bersama-sama.
Mereka memakai topi dan masker.
Namun dari cara mereka berjalan dan bercanda satu sama lain… terlihat mereka cukup mencolok.
Beberapa pegawai restoran langsung saling berbisik.
“Eh… itu mereka bukan sih?”
“Iya kayaknya…”
Kak Rara yang melihat ke arah pintu langsung menepuk meja kasir pelan.
“ISYA!”
Isya sedikit terkejut.
“Iya kak?”
Rara berbisik cepat dengan mata berbinar.
“Kayaknya itu mereka!”
Isya melirik sekilas.
“Hmmm…”
Di matanya mereka hanya terlihat seperti sekumpulan anak muda biasa yang datang makan.
Namun bagi Kak Rara, itu jelas berbeda.
Rara langsung merapikan celemeknya dengan wajah penuh semangat.
“Isya, sebentar ya… kakak yang ambil pesanan mereka.”
Isya mengangguk santai.
“Iya kak.”
Rara sudah bersiap melangkah menuju meja mereka.
Namun tiba-tiba salah satu pegawai dapur datang dengan tergesa.
“Kak Rara!”
Rara menoleh.
“Iya kenapa?”
“Pak Boss manggil kakak sekarang.”
“Hah? Sekarang?”
Pegawai itu mengangguk.
“Iya, katanya penting.”
Kak Rara langsung menghela napas panjang.
Wajahnya terlihat sedikit merajuk.
“Duhh… padahal lagi ada tamu penting.”
Ia melirik ke arah meja rombongan itu dengan ekspresi sayang sekali melewatkan kesempatan.
Kemudian ia menoleh ke arah Isya.
“Isya… kamu dulu yang layani ya.”
Isya hanya mengangguk tenang.
“Iya kak.”
Rara masih terlihat sedikit kesal sambil berjalan pergi.
“Padahal kakak yang mau ambil pesanan mereka…”
Ia menggerutu kecil sambil menuju ruang belakang menemui Pak Boss.
Sementara Isya hanya tersenyum kecil melihat tingkah Kak Rara.
“Hihi…”
Tak lama kemudian seorang pria yang tampak seperti manajer rombongan itu berjalan menuju kasir.
“Permisi.”
Isya langsung berdiri dengan sopan.
“Iya kak, mau pesan apa?”
Pria itu mulai melihat daftar menu.
Awalnya Isya mencatat seperti biasa.
“Yang ini satu.”
“Yang ini juga.”
“Tambah ini.”
Isya menulis dengan tenang.
Namun pesanan itu terus bertambah.
“Yang ini juga.”
“Minuman yang ini semua.”
“Tambah dua lagi yang ini.”
Tangan Isya yang sedang menulis tiba-tiba sedikit terhenti.
Matanya berkedip pelan.
Ia kembali melihat daftar menu… lalu melihat catatan di bukunya yang sudah hampir penuh.
Namun pria itu masih berbicara.
“Yang ini juga ya.”
Isya langsung menulis lagi dengan cepat.
Dalam hati ia mulai terkejut.
Ya Allah… ini banyak banget…
Namun wajahnya tetap sopan dan tenang.
Ia hanya mengangguk kecil sambil terus menulis.
Pria itu masih menambahkan pesanan.
“Tambahkan juga yang ini.”
Sekarang Isya benar-benar sedikit membelalakkan matanya.
Ia melirik sekilas ke arah meja rombongan itu.
Ini orang… mau makan satu restoran apa gimana…
Namun Isya segera kembali menunduk mencatat dengan rapi.
Ia menarik napas pelan supaya tetap terlihat tenang.
“Baik kak… ada lagi?”
Pria itu berpikir sebentar.
“Sepertinya cukup.”
Isya akhirnya menutup buku catatannya perlahan.
Di dalam hatinya ia masih terkejut.
Masyaa Allah… ini pesanan atau borong menu…
Namun ia tetap tersenyum sopan.
“Baik kak, mohon ditunggu.”
Ia lalu mengangkat telepon kecil di kasir.
“Dapur?”
“Iya Isya.”
“Ada pesanan.”
Isya mulai menyebutkan menu satu per satu.
Di dapur sempat hening beberapa detik.
“Ini serius semua?”
Isya tersenyum kecil.
“Iya pak… semuanya.”
Setelah itu Isya menutup telepon.
Namun belum lama ia berdiri di kasir…
Tiba-tiba terdengar suara riuh dari luar restoran.
“AHHH!”
“ITU DIA!”
Beberapa orang berteriak dari luar.
Isya langsung terkejut.
Ia menoleh ke arah pintu kaca.
Di luar terlihat banyak orang berkumpul.
Namun mereka tertahan oleh para bodyguard yang berjaga di depan pintu.
Akhirnya orang-orang itu hanya bisa berkumpul di luar sambil berteriak-teriak.
Isya celingak-celinguk kebingungan.
“Ihh…”
Ia bergumam pelan.
“Kenapa orang-orang pada rame di luar…”
Wajahnya sedikit cemas.
“Hii takutt…”
Isya masih melihat ke arah pintu dengan penuh heran.
Ia sama sekali belum menyadari…
bahwa keramaian itu terjadi karena tamu yang sedang ia layani malam ini.
------------------------------------------------------------------------
Tak lama kemudian pintu belakang restoran terbuka.
Kak Rara keluar dari ruang Pak Boss dengan wajah sedikit kesal.
“Ihh… padahal lagi genting-gentingya.”
Ia berjalan sambil menggerutu kecil.
Namun baru beberapa langkah keluar ke area restoran…
Tiba-tiba ia berhenti.
Matanya langsung membesar.
“BUJEEETT!”
Ia menatap ke arah pintu kaca restoran.
Di luar terlihat begitu banyak orang berkumpul.
Beberapa bahkan melompat-lompat sambil berteriak.
Rara langsung bengong beberapa detik.
“Ini kok rame banget?!”
Namun tak lama kemudian wajahnya berubah.
Ia langsung menepuk dahinya pelan.
“Oh iya…”
“Pasti gara-gara mereka.”
Rara langsung berjalan cepat kembali ke kasir.
Ia mendekati Isya yang masih terlihat bingung melihat keramaian di luar.
Dengan wajah jahil, Rara menyenggol bahu Isya pelan.
“Tuh kan.”
“Lihat sendiri.”
“Banyak banget yang ngefans.”
Isya melirik ke arah luar lagi.
Kemudian kembali menatap Kak Rara dengan wajah polos.
“Ehh…”
“Ini manusia cuma mau lihat laki-laki ya?”
Ia menggeleng kecil.
“Aihh… ngapain sih.”
Rara langsung tertawa.
“Kamu ini ya Isya…”
“Kalau orang lain mungkin sudah teriak-teriak juga.”
Namun Isya hanya mengangkat bahu santai.
Baginya keramaian itu tetap terasa aneh.
Ia sama sekali tidak mengerti kenapa orang-orang bisa seheboh itu hanya untuk melihat seseorang.
------------------------------------------------------------------------
Di luar restoran, teriakan para penggemar semakin ramai.
“DEV!!!”
“KEVIN!!!”
“VIKIII!!!”
“SAM!!!”
Beberapa orang bahkan melompat-lompat sambil melambaikan tangan ke arah kaca restoran.
Namun satu nama terdengar paling keras di antara semuanya.
“AHNAFFF!!!”
“AHNAFFF!!!”
Isya yang mendengar itu sedikit membelalakkan matanya.
Ia melirik ke arah pintu, lalu kembali melihat ke arah meja tempat rombongan itu duduk.
Wajahnya tampak kagum sekaligus heran.
“Wah…”
Ia bergumam pelan.
“Namanya dipanggil-panggil semua.”
Teriakan dari luar terus terdengar.
“DEV!!!”
“KEVIN!!!”
“AHNAF!!!”
Isya menggeleng kecil sambil berbisik.
“Ihh… sampai segitunya ya…”
Ia benar-benar tidak menyangka ada orang yang bisa dipanggil-panggil sebanyak itu hanya karena lewat di suatu tempat.
------------------------------------------------------------------------
Sementara itu di meja mereka…
Kelima pemuda itu duduk santai sambil menunggu pesanan datang.
Suasana mereka jauh lebih santai dibandingkan keramaian di luar.
Kevin melirik ke arah pintu kaca.
“Wah… rame juga.”
Dev tertawa kecil.
“Biasa.”
“Kalau kita keluar memang suka begitu.”
Sam menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Untung bodyguard cepat datang.”
Viki menatap Ahnaf sambil tersenyum jahil.
“Yang paling rame sih tetap nama kamu.”
Ia menirukan suara penggemar di luar.
“AHNAF! AHNAF!”
Yang lain langsung tertawa.
Kevin menambahkan sambil menggoda,
“Iya, tiap kita keluar pasti yang diteriakin paling keras dia.”
Ahnaf hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Ah… biasa aja kali.”
Dev langsung menyikut bahunya.
“Biasa katanya.”
“Tuh dengar di luar.”
Teriakan kembali terdengar dari luar restoran.
“AHNAFFF!!!”
Semua langsung tertawa lagi.
Ahnaf ikut tertawa sambil menggeleng.
“Ah… kalian ini.”
Kevin masih menggoda.
“Udah terkenal, pura-pura rendah hati lagi.”
Sam menambahkan sambil tertawa.
“Besok-besok kalau keluar, jangan lupa bawa helm, takutnya fansnya makin banyak.”
Mereka kembali tertawa.
Ahnaf juga ikut bercanda.
Namun di tengah tawa itu… tiba-tiba ia berhenti.
Matanya tanpa sengaja menoleh ke arah kasir.
Seketika ekspresinya berubah sedikit serius.
Ia terdiam beberapa detik.
Di sana berdiri seorang gadis yang sedang melihat ke arah pintu restoran dengan wajah kebingungan.
Ahnaf memperhatikan sejenak.
Seolah-olah ia pernah melihat wajah itu.
Rasanya sangat familiar. Namun ia tidak tahu di mana.
Ahnaf sedikit mengerutkan kening.
Kayaknya pernah lihat… Ia masih menatap beberapa detik lagi.
Namun pikirannya belum berhasil mengingat dengan jelas.
Akhirnya ia hanya mengalihkan pandangan kembali ke teman-temannya.
Meski begitu… perasaan aneh itu masih tertinggal di benaknya.
Seolah-olah gadis di kasir itu bukan orang yang benar-benar asing.
------------------------------------------------------------------------
Tak lama kemudian…
Beberapa pegawai dapur keluar membawa nampan besar berisi makanan.
Aroma masakan langsung memenuhi ruangan.
Steak panas yang masih mengepul.
Ayam panggang dengan saus mengkilap.
Sup hangat.
Dan berbagai hidangan lain yang terlihat sangat menggugah selera.
Kak Rara sampai membelalakkan mata.
“Buset…”
“Makanannya banyak banget!”
Isya yang melihat itu ikut tersenyum kecil.
“Hehe… tadi waktu nyatet juga Isya sempat bingung kak.”
“Kayaknya hampir semua menu dipesan.”
Kak Rara mengangguk cepat.
“Iya ini sih bukan makan lagi… ini pesta!”
Para pelayan mulai menaruh makanan satu per satu ke meja boyband itu.
Kak Rara berdiri sedikit ke depan, matanya berbinar melihat mereka.
Ia berbisik kecil ke arah Isya.
“Eh, syaa…”
“Itu yang duduk ujung kiri… ganteng banget.”
Isya tidak menjawab.
Kak Rara melirik.
Namun ia malah mendapati Isya sedang memperhatikan meja itu dengan serius.
Rara langsung menyeringai jahil.
“Ohooo…”
“Keliatan banget tuh.”
“Isya yang katanya nggak tertarik… jadi kagum juga kan?”
Isya masih diam.
Padahal di dalam pikirannya justru berbeda.
MasyaAllah… ayamnya kelihatan enak banget…
Kalau ini dibungkus buat Ba’da sama nenek pasti mereka senang…
Dua orang itu sama-sama kagum…
tapi dengan pemikiran yang sangat berbeda.
Kak Rara lalu menyikut pelan bahu Isya.
“Eh Isya…”
“Kamu suka yang mana?”
Isya yang sedang melamun langsung tersadar.
“Hah?”
“Emm… apa ya…”
Ia menunjuk ke arah meja.
“Ah itu… Aaa—”
Belum selesai bicara…
Kak Rara langsung memotong dengan wajah jahil.
“EITSS!”
“Kakak tahu!”
“Kakak juga suka!”
Ia langsung memeluk lengan Isya sambil tertawa.
“Tuh kan kamu juga suka!”
Isya yang polos hanya ikut tertawa kecil.
Di dalam hatinya ia berkata,
Oh… Kak Rara juga suka ayam ternyata…
“Hehe… iya kak.”
Saat itu seorang pegawai dapur datang membawa nampan lagi.
Kak Doby memanggil dari dekat dapur.
“Eh Rara! Isya!”
“Bantu antar dulu ya! Lagi rame banget ini!”
Kak Rara langsung menjawab dengan semangat.
“Ahh siap 45!”
“Ayo Sya bantu bantu!”
“Ah iya kak,” jawab Isya.
Mereka berdua masuk ke dapur sebentar.
Isya mengambil satu piring besar berisi ayam panggang yang masih panas.
Ia membawa piring itu dengan hati-hati.
Namun begitu keluar dari dapur…
Isya langsung melihat keramaian di luar kaca restoran.
Puluhan orang masih berdiri di luar sambil berteriak.
Beberapa bahkan menempelkan wajah ke kaca.
Isya langsung panik.
“Ihh…”
Isya perlahan menuju meja mereka.
Tangannya memegang piring ayam dengan hati-hati.
Namun semakin dekat… ia semakin merasa gugup.
Matanya sempat bertemu dengan beberapa dari mereka.
Entah kenapa…
tatapan mereka membuat Isya merasa seperti sedang diperhatikan.
Seolah-olah mata mereka berkata sesuatu.
“Itu dia pelayannya…”
“Ngapain dia ke sini…”
“Lihat-lihat amat…”
“Awas aja macam-macam…”
Firasat Isya membuat hatinya semakin tidak tenang.
Tangannya mulai sedikit gemetar.
Di meja itu…
manajer rombongan tiba-tiba menunjuk salah satu hidangan.
“Ohoho… ini hidangan penutup ya?”
Ia menunjuk ke arah piring lain di meja.
“Yang ini apa namanya?”
Kak Doby yang mengantarkan makanan menjawab.
“Oh iya, siap pak.”
“Ini Beef Wellington.”
“Daging sapi premium yang dipanggang dengan puff pastry.”
Manajer itu mengangguk kagum.
“Ooo… kelas juga.”
Lalu ia menunjuk lagi ke hidangan lain.
“Kalau yang ini?”
Kak Rara yang berdiri di dekat meja sedikit gugup menjawab.
“Ehh… itu… Grilled Salmon with Lemon Butter Sauce, pak.”
Manajer itu tersenyum puas.
Namun kemudian…
tatapannya berpindah.
Ke arah Isya.
Yang sedang membawa piring ayam.
“Ohoho…”
“Kalau yang ini apa?”
Isya langsung panik.
Matanya membelalak sedikit.
Di dalam hatinya langsung kacau.
Ihh… ayam apa ini…
Ayam apa namanya…
Ayam… ayam…
Ihh ayam apa ya…
Ia benar-benar tidak tahu nama menu itu.
Yang ia tahu cuma satu.
Ayam.
Kak Rara mulai sedikit gugup.
Isya malah makin panik.
Manajer itu kini menatap Isya dengan penuh rasa ingin tahu.
Isya berjalan semakin pelan.
Langkahnya kaku.
Tangannya gemetar.
Dan tepat saat ia hampir sampai di meja—
Tiba-tiba dari arah pintu depan terdengar teriakan keras.
Seorang fans berhasil lolos dari penjagaan bodyguard.
“AHHHH AHHNAFFF!!!”
Suara itu sangat keras.
Isya yang memang sudah panik langsung kaget setengah mati.
Refleks.
Ia ikut berteriak.
“AAHHH!!”
“AYAM!! AYAMM!!”
Dan tanpa sadar—
PLAK!
Ia menaruh piring ayam itu tepat di atas kepala seorang laki-laki yang duduk di depannya.
Topi hitam.
Masker.
Itu Ahnaf.
Semua orang langsung membeku.
Sunyi.
Benar-benar sunyi beberapa detik.
Mulut manajer terbuka lebar.
Kak Rara melotot.
Teman-teman Ahnaf terpaku.
Sementara Ahnaf sendiri juga kaget.
Perlahan ia mengangkat tangan menyentuh piring ayam yang sekarang ada di atas kepalanya.
Isya langsung sadar dengan apa yang ia lakukan.
Wajahnya berubah merah.
Merah sekali.
“ASTAGHFIRULLAH!”
Ia langsung panik.
“Maaf! Maaf! Maaf!”
“Isya nggak sengaja!”
Ia menunduk berkali-kali.
“Sumpah nggak sengaja!”
Ahnaf yang masih terdiam tiba-tiba menyadari sesuatu.
Matanya menatap wajah Isya lebih jelas.
Ini…
Gadis yang kemarin itu…
Yang ia lihat di dekat sekolah.
Yang memberi makan kucing.
Ia sedikit tertegun.
Sementara Isya masih terus meminta maaf.
“Maaf kak!”
“Maaf banget!”
Manajer mereka sempat terlihat ingin mengomel.
Namun Ahnaf cepat menahan.
“Ah… nggak apa-apa pak.”
Ia tersenyum kecil.
“Ini hal wajar kok.”
Lalu ia menatap Isya.
“Tenang aja.”
“Kamu nggak apa-apa kan?”
Isya masih merah wajahnya.
“Ah… astaghfirullah…”
Kemudian menghela nafas
“Huftt Alhamdulillah KK GK marah… Maaf ya… Isya nggak sengaja…”
Tanpa sadar…
Isya melakukan sesuatu yang spontan.
Ia menepuk-nepuk kepala Ahnaf pelan.
Seperti menenangkan anak kecil.
“Udah ya… udah…”
“Maaf ya…”
Semua orang langsung tercengang lagi.
Benar-benar diam.
Teman-teman Ahnaf melotot.
Manajer membeku.
Kak Rara jantungya seakan berdiri melihatnya.
Ahnaf menjadi tertegun dan terdiam karenanya.
Beberapa detik sunyi.
Lalu tiba-tiba—
Kevin tertawa.
“HAAHAHAHAHA!”
Disusul Dev.
Sam.
Viki.
Seluruh meja langsung pecah tertawa.
Ahnaf sendiri akhirnya ikut tertawa kecil.
“Ah… iya… nggak apa-apa.”
Isya yang baru sadar apa yang ia lakukan langsung panik lagi.
Wajahnya makin merah.
“Astaghfirullah…”
Ia langsung berbalik.
Dan berlari cepat menuju kasir.
Semua mata mengikuti kepergiannya.
Isya langsung jongkok di belakang meja kasir.
Menutup wajahnya dengan buku menu.
“HIH…”
“MALUUU BANGET…”
Ia benar-benar bersembunyi di bawah meja kasir sambil menutup wajahnya rapat-rapat.
---Namira Ahsya\_\_
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘