Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dugaan yang tak terucap
Beberapa hari setelah pertemuan dengan Rizal, hidup kami kembali ke ritmenya.
Pagi hari dimulai dengan suara air dari kamar mandi.
Ashar biasanya bangun lebih dulu, lalu menyeduh kopi sebelum berangkat kerja.
Namun pagi itu aku terbangun lebih dulu.
Dan sesuatu terasa… aneh.
Aku menatap langit-langit kamar beberapa detik.
Perutku terasa kosong, tetapi bukan seperti lapar biasa.
Lebih seperti ada sensasi mual yang datang perlahan.
Aku duduk di tepi ranjang.
Mengambil napas dalam-dalam.
“Kenapa ya…” gumamku.
Biasanya aku jarang sekali merasa seperti ini.
Aku berdiri dan berjalan ke dapur.
Ashar sudah di sana.
Ia sedang membuka kulkas dengan ekspresi serius seperti ilmuwan yang sedang meneliti sesuatu yang sangat penting.
“Apa yang kamu cari?” tanyaku.
Ia menoleh.
“Selamat pagi.”
“Pagi.”
Aku membuka lemari mengambil gelas.
Tetapi begitu membuka kulkas—
aroma telur yang disimpan di dalamnya langsung terasa sangat kuat seolah aroma telur menusuk langsung indra penciumanku.
Perutku tiba-tiba bergejolak.
Aku langsung menutup pintu kulkas.
Ashar memperhatikanku.
“Kamu kenapa?”
“Tidak tahu…”
Aku memegang dahi.
“Aromanya tiba-tiba membuatku pusing.”
Ia menatap kulkas.
“Telur?”
“Iya.”
“Tapi kemarin kamu makan telur.”
“Aku tahu.”
Aku duduk di kursi dapur.
Sensasi mual itu tidak lama.
Beberapa menit kemudian hilang begitu saja.
Ashar masih berdiri memperhatikanku.
Matanya menyipit sedikit.
Seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Ada yang salah?” tanyaku.
Ia menggeleng.
“Tidak.”
Tetapi aku tahu Ashar.
Kalau ia sudah memasang ekspresi seperti itu, berarti ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.
Hari itu aku merasa cepat sekali lelah.
Padahal pekerjaanku di rumah tidak terlalu banyak.
Hanya menyapu, mencuci beberapa pakaian, lalu memasak makan siang sederhana.
Tetapi setelah itu aku langsung duduk di sofa.
Tubuhku terasa berat.
Ashar pulang sedikit lebih awal sore itu.
Begitu masuk rumah, ia langsung melihatku.
“Kamu tidur?”
“Tidak.”
“Hanya berbaring?”
“Iya.”
Ia berjalan mendekat.
Tangannya menyentuh dahiku.
“Apa kamu demam?”
“Tidak.”
“Tubuhmu hangat.”
“Karena aku baru bangun dari sofa.”
Ia masih terlihat khawatir.
“Aku hanya sedikit lelah.”
Ashar duduk di kursi di depanku.
Ia menatapku beberapa detik.
Lalu berkata pelan:
“Mala.”
“Hm?”
“Sudah berapa lama kamu merasa seperti ini?”
“Seperti apa?”
“Mual. Lelah. Sensitif terhadap bau.”
Aku mengerutkan kening.
“Sejak kapan kamu memperhatikan itu?”
Ia tidak langsung menjawab.
“Aku hanya memperhatikan.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu seperti detektif.”
Ashar menghela napas.
“Boleh aku tanya sesuatu?”
“Tanya saja.”
Ia terlihat ragu.
Tetapi akhirnya tetap bertanya.
“Siklus bulananmu… terlambat?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu membuatku berpikir.
Aku mencoba mengingat.
Beberapa detik kemudian mataku sedikit membesar.
“Sepertinya… iya.”
Ashar tidak langsung bicara.
Ia hanya menatapku.
Lalu berkata pelan.
“Mala…”
“Iya?”
“Ada kemungkinan kamu… hamil.”
Aku menatapnya.
Lalu tertawa kecil.
“Kamu terlalu cepat menyimpulkan.”
“Aku tidak menyimpulkan.”
“Lalu?”
“Aku hanya mempertimbangkan kemungkinan.”
Aku menggeleng.
“Tubuhku hanya sedikit lelah.”
“Tapi tanda-tandanya cukup banyak.”
“Ashar.”
“Iya?”
“Kamu membaca terlalu banyak artikel di internet.”
Ia terlihat sedikit bersalah.
“Memang.”
Aku menahan senyum.
“Kamu benar-benar membaca tentang itu?”
Ia mengangguk.
“Beberapa artikel.”
“Berapa banyak ‘beberapa’?”
Ia berpikir sebentar.
“Mungkin… dua puluh.”
Aku tertawa.
“Ya ampun.”
Ashar terlihat serius.
“Aku tidak ingin melewatkan sesuatu yang penting.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan:
“Kita baru menikah.”
“Aku tahu.”
“Tidak harus terburu-buru.”
“Aku juga tidak terburu-buru.”
“Lalu kenapa kamu terlihat seperti orang yang sedang menunggu hasil ujian?”
Ia tersenyum kecil.
“Mungkin karena aku memang seperti itu.”