Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pria Berjubah Hitam
Angin dingin berhembus di puncak tebing Gunung Cheonma. Kabut tipis masih menyelimuti area itu, namun sinar matahari mulai menembus perlahan.
Goo Yoon akhirnya mencapai puncak.
Napasnya berat, tubuhnya penuh luka kecil, dan pakaiannya kotor oleh debu serta darah dari pertarungan sebelumnya. Namun di depan matanya, bendera merah ujian berkibar pelan tertiup angin.
Ia berjalan mendekat.
Saat tangannya hampir menyentuh bendera itu—
“Tidak buruk.”
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
Goo Yoon langsung menoleh.
Beberapa langkah di belakangnya berdiri seorang pria berjubah hitam. Wajahnya tampak tenang, namun auranya terasa sangat dalam dan menekan.
Goo Yoon bahkan tidak merasakan kapan pria itu muncul.
“Siapa Anda?” tanya Goo Yoon waspada.
Pria itu tersenyum tipis.
“Tidak perlu tegang. Jika aku ingin membunuhmu, kamu sudah mati sejak tadi.”
Kalimat itu diucapkan dengan sangat santai.
Namun justru itulah yang membuatnya terasa menakutkan.
Goo Yoon menggenggam tongkatnya lebih erat.
“Apakah Anda pengawas ujian?”
Pria itu menggeleng pelan.
“Bukan.”
Ia melangkah mendekat beberapa langkah.
Tatapannya mengamati Goo Yoon dari kepala hingga kaki.
“Kamu mengalahkan Beruang Kabut sendirian. Bahkan sebagian besar murid dalam sekte ini membutuhkan tiga atau empat orang untuk menjatuhkannya.”
Goo Yoon tidak menjawab.
Ia hanya berdiri tenang.
Pria berjubah hitam itu tertawa kecil.
“Menarik. Biasanya murid baru akan langsung membanggakan diri.”
“Tidak ada yang perlu dibanggakan,” jawab Goo Yoon. “Saya hanya berusaha bertahan hidup.”
Untuk sesaat pria itu terdiam.
Lalu senyumnya semakin lebar.
“Jawaban yang bagus.”
Angin kembali berhembus.
Jubah hitamnya berkibar ringan.
“Tahukah kamu,” lanjut pria itu, “ujian ini sebenarnya hanya untuk melihat potensi murid baru. Tapi terkadang… muncul seseorang yang lebih menarik dari yang kami harapkan.”
Tatapan matanya tiba-tiba menjadi tajam.
“Dan kamu salah satunya.”
Goo Yoon tetap tidak lengah.
“Jika Anda tidak ada urusan lain, saya ingin menyelesaikan ujian.”
Ia menunjuk bendera merah di depan.
Pria itu mengangguk.
“Silakan.”
Goo Yoon berjalan beberapa langkah lalu mencabut bendera itu dari tanah.
Pada saat yang sama—
GONGGG!
Suara gong besar bergema dari bawah gunung.
Itu tanda bahwa ujian tahap kedua telah selesai.
Goo Yoon menghela napas pelan.
Akhirnya ia lulus.
Namun ketika ia menoleh lagi…
Pria berjubah hitam itu masih berdiri di tempat yang sama.
“Goo Yoon.”
Goo Yoon terkejut.
“Kamu tahu nama saya?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Informasi tentang murid baru bukan hal sulit bagi kami.”
Ia kemudian berkata dengan suara rendah.
“Jika kamu ingin menjadi lebih kuat… datanglah ke Aula Batu Hitam malam ini.”
Goo Yoon mengerutkan kening.
“Aula Batu Hitam?”
“Itu tempat yang biasanya tidak boleh dimasuki murid biasa.”
Pria itu berbalik berjalan pergi.
Kabut perlahan menelannya.
Sebelum benar-benar menghilang, ia berkata satu kalimat lagi.
“Kalau kamu tidak datang… mungkin kamu akan menyesal.”
Beberapa saat kemudian, pria itu benar-benar lenyap.
Goo Yoon berdiri diam di puncak tebing.
Angin gunung berhembus pelan.
“Aula Batu Hitam…”
Ia tidak tahu siapa pria itu.
Namun satu hal yang pasti.
Aura pria itu jauh lebih kuat daripada siapa pun yang pernah ia temui.
Hari mulai sore ketika para peserta ujian kembali ke halaman sekte.
Para tetua berdiri berjajar menunggu.
Banyak murid yang terluka.
Beberapa bahkan harus dipapah oleh temannya.
Namun ketika Goo Yoon muncul membawa bendera merah…
Beberapa orang mulai berbisik.
“Dia salah satu yang sampai ke puncak…”
“Bukankah dia murid baru?”
“Bagaimana bisa…?”
Salah satu tetua maju selangkah.
“Para murid yang membawa bendera… kalian telah lulus ujian tahap kedua.”
Beberapa murid langsung bersorak kecil.
Namun bagi Goo Yoon…
Pikirannya justru tertuju pada satu hal.
Malam ini.
Aula Batu Hitam.
Ia merasa bahwa pertemuan itu…
akan mengubah hidupnya...
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/