Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Kaca Gedung Pencakar Langit
Sabtu pagi di pesisir Sussex terasa lebih tenang. Eleanor Lichtenzell—atau sekarang hanya dikenal sebagai Eleanor—sedang melakukan rutinitas yang paling ia sukai untuk menjernihkan pikiran: jogging. Dengan mengenakan setelan olahraga hitam yang simpel namun pas di tubuhnya, ia berlari kecil menyusuri jalur setapak yang bersisian dengan sebuah danau buatan di pinggiran kota.
Napasnya teratur, namun pikirannya tidak. Setiap kali ia menoleh ke arah timur, dari kejauhan di balik jalan raya utama dan batas cakrawala, ia bisa melihat puncak gedung Zollern Group yang menjulang tinggi di pusat London, meski jaraknya berkilo-kilometer. Gedung itu tampak seperti pedang perak yang menghujam langit—dingin, kokoh, dan tak tersentuh. Persis seperti pemiliknya.
Eleanor memperlambat larinya, berhenti sejenak untuk mengatur napas sambil bertumpu pada pagar pembatas danau. Ia menyeka keringat di dahinya dan terkekeh sinis.
"Pasti manusia sinting itu sekarang sedang berdiri di depan pintu kafe, menunggu dengan wajah angkuhnya," gumam Eleanor pada dirinya sendiri.
Ada kepuasan tersendiri saat memikirkan wajah Edward Zollern yang mungkin sedang menatap pintu kafe yang masih terkunci, atau lebih parah lagi, mendapati bahwa Eleanor tidak ada di sana. Karena hari ini, Eleanor mengambil shift malam. Ia sengaja ingin menghindari jam-jam sibuk di mana pria itu biasanya muncul untuk "menindasnya" dengan pesanan kopi yang rumit.
"Silakan saja kau membeli seluruh meja di sana, Tuan Zollern. Kau tidak akan menemukan sasaranmu sampai matahari terbenam," batinnya dengan senyum penuh kemenangan.
Di depan kafe L'Horizon di waktu yang sama. Prediksi Eleanor seratus persen akurat. Sebuah mobil mewah sudah terparkir rapi di depan kafe. Edward Zollern berdiri di samping mobilnya, melirik jam tangan Patek Philippe miliknya dengan dahi berkerut. Ini sudah lewat lima menit dari jam biasanya ia tiba, dan kafe itu sudah buka, tapi ia tidak melihat sosok gadis galak itu di balik konter.
Edward melangkah masuk dengan langkah yang membuat para pelanggan lain refleks menepi. Ia langsung menuju kasir, tapi yang ia temukan hanyalah seorang pria muda yang tampak gugup.
"Di mana Eleanor?" Tanya Edward tanpa basa-basi. Suaranya rendah namun mengandung tekanan yang kuat.
"Ah... Nona Eleanor? Dia... dia masuk shift malam hari ini, Sir," jawab kasir itu sambil gemetar.
Edward terdiam. Matanya menyipit. "Shift malam?"
"I-iya, Sir. Dia baru akan datang pukul enam sore nanti."
Rey, yang berdiri di belakang Edward, harus sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menghela napas. Ia bisa merasakan aura kekecewaan yang berubah menjadi kekesalan di pundak tuannya. Edward Zollern, pria yang waktu satu menitnya bernilai jutaan Poundsterling, baru saja "dikelabui" oleh jadwal kerja seorang pelayan kafe.
"Sir, kita punya jadwal makan siang dengan menteri—"
"Batalkan," potong Edward tajam. Ia berbalik dan kembali ke mobilnya.
Eleanor kembali ke apartemennya setelah berolahraga. Ia mandi dan menyeduh teh hijau, duduk di balkon kecilnya yang menghadap ke jalanan yang ramai. Dari sini, ia merasa bebas. Tidak ada pelayan yang mengikutinya, tidak ada Ayah yang memaksanya kencan, dan untuk beberapa jam ke depan, tidak ada Edward yang mengganggunya.
Namun, rasa tenang itu sedikit terusik. Ia teringat tatapan mata Edward tempo hari. Pria itu tidak menatapnya seperti pria-pria kencan buta yang dikirim ayahnya. Pria-pria itu menatapnya sebagai aset atau piala. Tapi Edward... Edward menatapnya seolah-olah Eleanor adalah sebuah wilayah yang harus ia taklukan sepenuhnya.
"Dia berbahaya," gumam Eleanor sambil menyesap tehnya. "Dia tipe pria yang tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan sialnya, yang dia inginkan adalah mengusik ketenanganku."
Eleanor melihat ke arah jam dinding. Masih ada beberapa jam sebelum shift malamnya dimulai. Ia memutuskan untuk membaca beberapa jurnal ekonomi terbaru. Meskipun ia sedang bersembunyi, otaknya tidak bisa berhenti menganalisis pasar. Ia melihat berita tentang Zollern Group yang berencana mengakuisisi perusahaan logistik di pelabuhan.
"Bodoh," kritik Eleanor pada artikel tersebut. "Jika mereka mengambil langkah itu sekarang, mereka akan terjebak regulasi lingkungan yang baru bulan depan. Zollern seharusnya menunggu."
Eleanor tertawa kecil. Ia sadar ia baru saja mengkritik strategi bisnis pria yang sedang terobsesi padanya. Tanpa ia sadari, meskipun mereka tidak bertemu secara fisik pagi ini, pikiran mereka saling terpaku satu sama lain. Edward yang kesal karena jadwal yang meleset, dan Eleanor yang diam-diam masih mengamati langkah kaki sang raksasa dari kejauhan.
Satu hal yang tidak Eleanor tahu... Edward Zollern bukan tipe orang yang akan pulang dan menunggu sampai jam enam sore.