NovelToon NovelToon
Dekapan Maut Gadis Manja

Dekapan Maut Gadis Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Cloud_berry

Crystal Kusuma sih bungsu dari keluarga Kusuma yang terobsesi pada sang daddy sejak bayi.
Sedari dalam kandungan bayi mungil berusia dua tahun tersebut selalu ingin berada dekat dengan Jimmy Kusuma sang daddy.
Mereka pikir itu hanya ketertarikan biasa putri kecil pada daddynya. Siapa sangka obsesi tersebut malah berubah menjadi dosa terlarang selama belasan tahun?

Dosa terlarang dimana sang daddy Jimmy Kusuma pun tidak menyadarinya.

Selama ini kematian-kematian pegawai di kantor hukumnya, jimmy kira semata hanya kecelakaan biasa.

Tapi mereka salah, semua itu adalah dosa yang dilakukan Crystal kecil.....

Lalu dosa apa itu? Apa yang bisa dilakukan oleh bayi berusia dua tahun?

Saksikan eklusif disini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 22 : Uang Muka

Negosiasi di lantai eksekutif akhirnya berakhir dengan jabat tangan dingin antara Jimmy Kusuma dan Logan Ritchie. Setelah memastikan pria berbahaya itu meninggalkan gedung dengan pengawalan ketat, Jimmy segera melangkah menuju lift. Ketegangan di bahunya luruh, digantikan oleh rasa rindu yang mendesak pada putrinya.

​Begitu pintu lift lantai 80 terbuka, Jimmy disambut oleh pemandangan yang tak pernah ia duga. Di sana di tengah area istirahat, Crystal sedang duduk tenang sembari memegang sebuah wadah es krim premium yang baru saja dibelikan oleh salah satu staf.

​"Daddy!" seru Crystal dengan binar mata yang begitu cerah. Ia berlari kecil ke arah Jimmy, memeluk kaki pria itu dengan erat.

​"Sudah selesai urusannya? Crystal tidak nakal tadi," lapornya dengan nada yang sangat manis, membuat para staf di sana memberikan kesaksian bahwa Nona Muda mereka adalah malaikat paling penurut sepanjang sore.

​Sore itu, saat mereka sampai di Mansion Kusuma, Crystal melakukan sesuatu yang membuat Jimmy terpaku.

Begitu melihat Alice yang sedang berdiri di dekat tangga, Crystal tidak langsung lari ke arah mainannya atau merengek minta digendong Jimmy. Sebaliknya, ia berjalan mendekati Alice sembari menyodorkan es krim yang ia bawa dari kantor.

​"Mommy... ini untuk Mommy. Tadi Crystal beli sama Bibi Arum," ucapnya dengan suara lembut yang bisa melelehkan es di kutub utara.

​Jimmy yang berdiri di belakang mereka, merasa dadanya sesak oleh haru yang luar biasa. Matanya sedikit berkaca-kaca melihat interaksi itu. Di pikirannya, segala ketakutannya tentang trauma psikologis Crystal setelah kejadian Stella dan Riana seolah sirna seketika.

​Dia sudah sembuh, batin Jimmy lega. Ketakutannya akan kehilangan perhatianku sudah terkontrol. Dia mulai bisa menerima ibunya kembali.

​Alice menerima wadah es krim itu dengan dahi yang berkerut. Ia menatap lekat-lekat mata bulat putrinya, mencari jejak kemarahan atau rencana licik yang biasanya bersembunyi di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan yang tampak begitu murni.

​"Terima kasih, Sayang," balas Alice pelan, suaranya sedikit ragu. Ia merasa ini agak aneh, mengingat kemarin Crystal baru saja histeris hanya karena ia menyandarkan kepala di bahu Jimmy.

​Jimmy mendekat, mengusap puncak kepala Crystal lalu merangkul pundak Alice. "Sepertinya dia sadar kalau dia terlalu keras padamu kemarin, Alice. Crystal tumbuh menjadi anak yang sangat pengertian."

​Alice menatap Jimmy yang tampak begitu bahagia, lalu beralih menatap Crystal yang kini sedang tersenyum lebar sembari menggenggam tangan Alice dan Jimmy secara bersamaan menyatukan mereka dalam satu lingkaran.

​Mungkin Jimmy benar, pikir Alice dalam hati, mencoba menepis rasa curiganya. Dia tetaplah darah dagingku. Keluar dari rahimku setelah sembilan bulan yang berat. Tidak mungkin kami benar-benar menjadi musuh dalam selimut. Persaingan kemarin... mungkin memang hanya fase posesif balita biasa.

​Alice merasa sedikit bersalah karena sempat berpikir putrinya adalah "iblis kecil". Ia mulai melunak, menganggap perubahan sikap Crystal sebagai tanda bahwa kedamaian di rumah ini akhirnya akan kembali.

​Namun, di balik wajah malaikatnya, Crystal sedang memantau segalanya dengan presisi seorang jenderal. Ia merasakan kehangatan tangan Alice di satu sisi dan tangan daddynya di sisi lain. Ia melihat bagaimana Alice mulai lengah dan bagaimana daddynya merasa tenang.

​Pintar, batin Crystal sambil tersenyum manis ke arah ibunya.

​Ia tidak membenci Alice saat ini. Ia sedang mengukuhkan posisi Alice sebagai "tembok pelindung".

Dengan membuat Alice merasa aman dan Jimmy merasa haru, Crystal baru saja memastikan bahwa Alice akan tetap tinggal di rumah ini—menjadi penjaga pintu yang akan mencakar siapa pun "rubah" luar yang berani mendekat.

​Baginya, es krim itu hanyalah kontrak perdamaian sementara. Ia membagikan porsi perhatian Jimmy pada Alice hari ini, demi memastikan investasi jangka panjangnya. Agar tidak ada wanita asing yang bisa menggantikan posisi mereka di Menara Kusuma.

​"Ayo makan es krimnya di dalam, Mommy! Daddy juga!" ajak Crystal riang, menarik kedua orang tuanya menuju ruang keluarga.

​Jimmy tertawa rendah, merasa hidupnya kini sempurna. Sementara Alice mulai menikmati es krimnya, merasa bahwa mungkin hubungannya dengan putrinya akan membaik mulai sekarang.

Mereka tidak menyadari bahwa di antara tawa riang itu, si bungsu kembar delapan baru saja memenangkan bidak catur terpenting dalam permainannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!