NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33. Jamuan para predator

Kabut pagi itu tidak kunjung hilang; ia justru merayap masuk melalui celah-celah pintu besar The Velvet Manor, menyelimuti lantai marmer dengan lapisan kelembapan yang dingin.

Di gerbang depan, bunyi ladam kuda yang menghantam batu terdengar seperti detak jam beralas besi.

Aira berdiri di balik tirai beludru kamarnya, mengamati rombongan berbaju zirah perak itu.

Di barisan paling depan, seorang pria dengan jubah abu-abu gelap turun dari kudanya. Itu adalah Baron Krow. Ia tidak terlihat seperti prajurit, melainkan seperti burung pemakan bangkai—kurus, tajam, dengan mata yang seolah bisa menembus dinding batu.

"Jangan biarkan dia melihat setitik pun keraguan di matamu," bisik Isabella asli.

Sosoknya kini duduk di pinggiran tempat tidur Aira, membelakangi cahaya fajar sehingga ia hanya tampak seperti siluet hitam yang miring.

"Krow adalah interogator terbaik Kekaisaran. Jika kau bernapas terlalu cepat, dia akan tahu kau berbohong."

Aira tidak menjawab. Ia meraih Soul-Severing Mirror dari meja rias, meraba permukaannya yang sedingin es, lalu menyelipkannya ke dalam korset gaunnya—tepat di atas jantungnya. Rasa dingin logam itu sedikit menenangkan debar jantungnya yang liar.

Aira menuruni tangga utama dengan langkah yang sengaja diperlambat. Di bawah, di aula luas yang masih berbau sisa anggur dan lilin semalam, Dante sudah menunggu. Wajah sang Panglima tampak pucat di bawah cahaya fajar yang kelabu, namun rahangnya mengeras saat melihat Aira.

"Mereka menuntut untuk segera bertemu Pangeran," bisik Dante saat Aira mencapai anak tangga terakhir. Suaranya sangat rendah, nyaris tenggelam oleh suara langkah sepatu bot berat para utusan di luar.

"Zane sedang mengawasi dari langit-langit. Julian telah memindahkan Valerius ke ruang isolasi di balik dinding dapur. Tapi jika Krow membawa anjing pelacak sihir..."

"Maka kita akan memberi mereka sesuatu yang lebih menarik untuk dilacak," potong Aira dingin. Ia memperbaiki letak sarung tangan sutranya.

"Buka pintunya, Dante. Biarkan mereka masuk ke sarang kita."

Pintu besar itu terbuka dengan derit yang panjang dan menyakitkan. Baron Krow melangkah masuk, diikuti oleh empat pengawal istana yang memegang tombak dengan posisi siaga.

Krow tidak membungkuk. Ia hanya melepas sarung tangan kulitnya, matanya langsung menyapu seluruh aula hingga berhenti tepat di mata Aira.

"Nyonya Isabella," suara Krow serak, seperti gesekan kertas tua.

"Mansion ini jauh lebih gelap daripada yang saya ingat. Apakah Anda sedang berhemat lilin, atau ada sesuatu yang sedang Anda sembunyikan di balik bayang-bayang ini?"

Aira memberikan senyum tipis, jenis senyum yang tidak mencapai mata.

"Kegelapan lebih nyaman bagi mata yang lelah, Baron. Silakan, meja makan sudah disiapkan. Saya yakin perjalanan dari Ibukota membuat Anda haus akan... penjelasan."

Mereka duduk di meja makan mahoni yang panjang. Hanya ada Aira, Baron Krow, dan Dante yang berdiri membeku di belakang kursi Aira seperti patung kematian. Julian datang membawa nampan perak berisi teko porselen dan dua cangkir.

Setiap gerakan Julian terasa sangat lambat. Suara teh yang mengucur ke dalam cangkir terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu.

Krow tidak menyentuh tehnya. Ia justru mengambil sebuah pisau kecil untuk mengupas apel yang tersedia di meja.

Srek.

Srek.

Suara pisau yang menguliti kulit buah itu terdengar seperti suara eksekusi.

"Pangeran Valerius," mulai Krow tanpa menatap Aira.

"Beliau adalah putra kesayangan Permaisuri. Dan semalam, burung pengintai kami melihat cahaya ungu yang tidak wajar memancar dari menara barat mansion ini. Cahaya yang biasanya muncul saat seseorang menggunakan sihir terlarang untuk memanipulasi memori."

Aira menyesap tehnya perlahan. Ia bisa merasakan uap panasnya, namun hatinya tetap sedingin salju di luar.

"Pangeran Valerius memiliki imajinasi yang liar, Baron. Mungkin cahaya yang Anda lihat adalah sisa-sisa kembang api dari perjamuan kami. Beliau... sangat menikmati minumannya semalam."

"Begitukah?" Krow mendongak. Matanya menyipit, mengunci pandangan Aira.

"Lalu mengapa informan kami mengatakan bahwa Isabella yang asli telah 'menghilang' dan digantikan oleh sesuatu yang lain? Sesuatu yang bahkan tidak memiliki detak jantung yang sama?"

Dante di belakang Aira sedikit menggeser kakinya, tangannya secara refleks mendekat ke gagang pedang. Suasana di meja itu mendadak menjadi sangat tipis, seolah-olah oksigen telah disedot keluar.

Krow meletakkan pisau apelnya. Ia mencondongkan tubuh ke depan, melintasi meja.

"Anda tahu, Nyonya... ada tes sederhana untuk membuktikan identitas seseorang dalam hukum Kekaisaran. Tes Garah. Darah dari anggota keluarga Velvet harus bereaksi terhadap perak murni dari tambang Solis."

Krow mengeluarkan sebuah jarum perak panjang dari balik jubahnya. Ujungnya berkilau tajam, mengancam akan merobek kebohongan Aira.

"Hanya satu tetes, Nyonya. Jika darah Anda tidak mendidih di atas perak ini, maka saya harus membawa kepala Anda ke Ibukota pagi ini."

Aira merasakan jiwanya bergetar. Isabella di dalam kepalanya mulai menjerit panik.

“Darahmu bukan darahku! Perak itu akan membongkarmu, Aira! Lakukan sesuatu!”

Aira tidak menarik tangannya. Sebaliknya, ia justru mengulurkan telapak tangannya yang halus di atas meja, tepat di depan Baron Krow.

"Anda ingin darah, Baron?" bisik Aira, suaranya sangat tenang hingga membuat para pengawal di belakang Krow merasa gelisah.

"Silakan. Tapi jika tes ini membuktikan saya adalah Isabella, maka saya menuntut kepala Anda sebagai ganti atas penghinaan ini. Apakah Anda siap mempertaruhkan nyawa Anda di atas meja makan saya?"

Krow ragu sejenak. Keberanian Aira yang begitu dingin membuatnya goyah. Ia tidak melihat ketakutan seorang penipu; ia melihat kekejaman seorang penguasa yang tersinggung.

Namun, sebelum jarum itu menyentuh kulit Aira, sebuah bayangan melintas di langit-langit dengan kecepatan yang tidak manusiawi.

Cling!

Sebuah belati tipis jatuh dari atas, tertancap tepat di antara jari-jari Baron Krow, hanya berjarak beberapa milimeter dari jarum perak yang ia pegang. Itu adalah belati milik Zane.

"Baron," suara Zane terdengar dari kegelapan di atas lorong, tak terlihat namun terasa ada di mana-mana. "Nyonya kami tidak suka disentuh oleh tangan yang kotor."

Krow menarik tangannya dengan kaget. Ia menatap belati yang tertancap di meja, lalu menatap ke atas. Dante kini sudah menghunus pedangnya setengah jalan, suaranya menggelegar memenuhi aula.

"Cukup sandiwara ini, Krow! Kau tidak punya wewenang untuk menumpahkan darah di rumah ini tanpa surat perintah langsung yang ditandatangani oleh Kaisar sendiri!"

Aira berdiri perlahan. Ia menarik napas dalam, merasakan beratnya Soul-Severing Mirror di balik dadanya. Ia tahu, jarum perak itu benar-benar akan membunuhnya jika tes itu dilakukan. Ia harus mengalihkan perhatian Krow ke sesuatu yang lebih menakutkan.

"Baron," ucap Aira, suaranya kini bergetar dengan kekuatan yang aneh—kekuatan yang ia pinjam dari Isabella asli.

"Anda mencari Pangeran? Mari. Saya akan membawa Anda menemuinya. Tapi saya peringatkan Anda... apa yang akan Anda lihat mungkin akan membuat Anda berharap Anda tidak pernah menginjakkan kaki di The Velvet Manor."

Aira melangkah menuju pintu menuju ruang bawah tanah, gaun merahnya menyapu lantai seperti aliran darah yang membeku.

Ia tahu, di bawah sana, Julian sedang menunggu. Dan di tangannya, ia memiliki cermin yang sanggup mencabut nyawa siapa pun yang berani menatapnya terlalu dalam.

Ketegangan sekarang berada di puncaknya. Krow mulai curiga, Zane mengancam dari bayangan, dan Dante siap meledak.

1
Airin
Suka banget update babnya banyak👍
Senja_Puan: Semangat dong kak💪
total 1 replies
Syifa234
semuanya ada, kecuali Kael. Jangan diskriminasi Kael Thor. mentang-mentang dia yang paling petantang, petenteng
Senja_Puan: Kael aman kak🤭
total 1 replies
Syifa234
Plot twist banget et dah/Scowl//Sob/
Senja_Puan: Banget kak???
total 1 replies
Senja_Puan
makasih kakak-kakak sayang😍
Anisa675
min jadi double ngasih cermin nya
Senja_Puan: lah iya yah kak😄 makasih kak Anisa
total 1 replies
Anisa675
Typo thor😄

btw udah lama Kael tidak menampakkan diri Thor...
Senja_Puan: Makasih kakak sayang🤭 Suka kalau ada yang jeli dan kasih masukan😍
total 1 replies
Irsyad layla
si kael dimana thor?
Anisa675: wkwkw nah loh ditagih Mulu thor🤭
total 2 replies
Irsyad layla
kael mana?
Anisa675: wah ada yang sama sadar juga atas ketiadaan Kael
total 2 replies
Airin
makasih thooor. semangat
Anisa675
Widiiiih badas
Anisa675
gilaaaa, jadi Isabella udah meninggal??
Senja_Puan: nah kaget kaaaaan
total 1 replies
Anisa675
mantap Aira
Anisa675
wah mantap Thor. kebayang badan luka-luka, mandi air garam
Senja_Puan: Jangan dibayangin kak. cukup mereka aja yang rasain😄
total 1 replies
.
Kaya cerita Anime ya,
Lanjuutt
Anisa675: Iya bener, kayanya bakal lebih seru tambah visualnya thor
total 1 replies
Eka Putri Handayani
lebih bnyk lg up nya kak
Airin: selalu Thor. semangat
total 4 replies
Yasa
semangat updatenya thor
Senja_Puan: Makasih kakak😍 semangat juga bacanya
total 1 replies
Anisa675
nah kan bener
Anisa675
jadi curiga sama Isabella asli
Anisa675
Bahaya ini, dari awal Zane yang paling punya insting kuat, dan cara dia eksekusi Aira itu udah bener-bener bikin deg-degan
Senja_Puan: Nah, adakan perkembangannya😄
total 1 replies
Anisa675
suka, karakternya jadi kuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!