Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.
Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Kita Pergi Menemui Anak
Bab 2 Kita Pergi Menemui Anak
Kita Saja
itu! Denzel tidak akan melupakan wajah
Wanita itu adalah istri yang dinikahi oleh Denzel sebelumnya. Saat itu, Fiona jelas menjaganya dengan sangat baik, tapi Denzel tidak pernah memedulikannya. Setelah merasakan rasa sakit dari kehilangan anak, Fiona pun meninggalkannya selama dua puluh tahun!
Kenapa Fiona datang ke sini?
Denzel bahkan mulai curiga apakah dirinya muncul ilusi? Fiona sama sekali tidak mungkin muncul di sini saat ini!
Fiona tidak mungkin akan kembali untuk menyelamatkannya.
Ini pasti ilusi.
Ini adalah ilusi yang muncul sebelum meninggal!
Saat ini, Fiona bernapas terengah-engah, ekspresinya tiba-tiba berubah ketika pandangannya tertuju pada Denzel. Dia berjalan menghampiri Denzel tanpa ragu-ragu.
Denzel melihat wanita yang bergegas ke arahnya tanpa ragu di lautan api dengan tatapan tidak percaya.
Ilusi ini terlalu nyata
Fiona dengan cepat tiba di depan Denzel.
Fiona tercengang ketika melihat pria yang lemas dan pucat di lantai. Dia berjongkok dan mengulurkan tangannya untuk memegang wajah pria itu, matanya seketika memerah.
Kenapa bajingan ini menyiksa
dirinya sendiri seperti ini?
Fiona dengan susah payah menemukan kesempatan untuk membeli tiket pesawat agar bisa pulang dari luar negeri ketika kakak dan keponakannya tidak memperhatikannya. Dia ingin pulang untuk melihat anak-anaknya di hari kematian mereka.
Setelah pulang ke Unifia, Fiona sangat jelas mengetahui bahwa pria ini sama sekali tidak memedulikannya. Akan tetapi, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencari tahu keberadaannya dan datang untuk mencarinya.
Namun, Fiona sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya sendiri akan melihat Denzel yang kurus seperti terserang penyakit di situasi seperti ini.
Denzel melihat wanita yang sangat nyata di depannya, dia merasakan sentuhan yang dingin dan halus di
Pipinya. Hatinya benar-benar merasa sangat kaget!
Ini bukan ilusinya...
Fiona benar-benar pulang!
Kenapa Fiona pulang ke sini?
Bukankah dia tidak ingin melihatnya lagi?
Setelah tercengang sejenak, Denzel pun mengerahkan semua tenaga di seluruh tubuhnya untuk bertanya pada Fiona dengan nada lemah dan tidak percaya, "Kenapa kamu pulang ke sini?"
Begitu mendengar suara Denzel yang
lemah serta melihat situasinya yang
rapuh, bibir tipis Fiona sedikit gemetar. Fiona berusaha sekuat tanaga untuk menenangkan suasana hatinya yang sedih, dia bertanya pada Denzel dengan nada gemetar, "Kamu jangan berbicara dulu, aku akan membawamu keluar!"
Setelah berkata, Fiona pun meraih salah satu tangan Denzel dan meletakkan di pundaknya yang ramping, kemudian tangan halusnya yang satu lagi merangkul pinggang Denzel.
Fiona memapah Denzel sambil menggertakkan giginya. Meskipun kulitnya sangat sakit dan mulai memerah karena terkena suhu panas di sekitarnya, Fiona masih saja mengerahkan semua tenaganya dan mencoba untuk memapah Denzel agar bisa membawanya keluar dari sini.
Namun, tenaganya yang kecil sudah habis ketika menghacurkan pintu bobrok itu untuk masuk ke sini.
Meskipun berat badan Denzel hanya sekitar lebih dari lima puluh kilogram, kalau ingin memapah Denzel yang lemah keluar dari sini dengan situasi yang penuh dengan asap tebal dan sangat panas, itu benar-benar sangat sulit dari yang dibayangkan oleh Fiona.
Fiona menggertakkan giginya untuk mengerahkan tenaganya beberapa kali, tapi dia sama sekali tidak bisa memapah Denzel yang ada di lantai. Pakaian di tubuhnya sudah mulai berubah bentuk di bawah suhu tinggi, kemudian membakar kulitnya sehingga membuatnya terasa sangat sakit.
Setelah Fiona gagal untuk mengerahkan tenaganya, mereka berdua pun jatuh ke lantai.
Begitu merasakan tindakan Fiona, hati Denzel tergerak. Ujung hidungnya tanpa sadar sedikit memasam.
Meskipun Denzel tidak tahu kenapa Fiona kembali untuk menyelamatkannya, dia tahu bahwa kondisi fisiknya tidak memungkinkannya untuk keluar dari pintu hari ini. Sebab itu, Denzel tidak bisa melibatkan Fiona.
Namun, sekarang Denzel sama sekali
Tidak memiliki kekuatan untuk menarik kembali tangannya dari pundak Fiona. Dia hanya bisa berkata pada Fiona dengan nada lemah tetapi tegas, "Kamu.
cepat keluar dari sini. Aku menderita kanker stadium lanjut, aku akan segera mati. Kamu cepat keluar!"
Denzel berutang banyak pada Fiona, jadi dia tidak bisa membiarkannya mati di lautan api hanya karena dirinya yang sekarat.
Fiona berusaha sekuat tenaga untuk memapah Denzel agar bisa duduk, dia tampak sedikit kaget ketika mendengar kata-katanya. Fiona menoleh dan melirik wajah Denzel yang sangat tirus, dia tercengang sejenak, kemudian air mata seukuran kacang tiba-tiba mengalir dari rongga matanya. Ini sungguh tak terbayangkan.
"Kanker stadium lanjut... akan segera mati... bagaimana mungkin..."
Tidak memiliki kekuatan untuk menarik kembali tangannya dari pundak Fiona. Dia hanya bisa berkata pada Fiona dengan nada lemah tetapi tegas, "Kamu.
cepat keluar dari sini. Aku menderita kanker stadium lanjut, aku akan segera mati. Kamu cepat keluar!"
Denzel berutang banyak pada Fiona, jadi dia tidak bisa membiarkannya mati di lautan api hanya karena dirinya yang sekarat.
Fiona berusaha sekuat tenaga untuk memapah Denzel agar bisa duduk, dia tampak sedikit kaget ketika mendengar kata-katanya. Fiona menoleh dan melirik wajah Denzel yang sangat tirus, dia tercengang sejenak, kemudian air mata seukuran kacang tiba-tiba mengalir dari rongga matanya. Ini sungguh tak terbayangkan.
"Kanker stadium lanjut... akan segera mati... bagaimana mungkin..."
Denzel menahan rasa sakit di tubuhnya, dia mengangguk sembari berkata dengan nada serak, "Jadi, kamu cepat keluar dari sini
Denzel merasa sangat bingung, kenapa Fiona tiba-tiba pulang ke sini padahal sudah menyuruh dirinya sendiri untuk tidak menganggunya.
Kenapa Fiona ingin bergegas masuk untuk menyelamatkannya?
Namun, sekarang bukan waktunya bagi Denzel untuk bertanya pada Fiona.
Kalau menunda lagi, mereka berdua akan mati di lautan api.
Namun, pada detik selanjutnya, suara rendah dari Fiona seketika membuat pikiran Denzel menjadi kosong.
"Denzel ... jangan tinggalkan aku lagi, oke?"
Fiona melihat Denzel dengan mata memerah. Di bawah suara rendah itu, dia seolah-olah berusaha untuk menekan suasana hati yang bergolak.
Denzel melihat Fiona yang ada di depannya, hatinya tanpa sadar menegang dan sangat bingung.
Denzel yang meninggalkan Fiona?
Dalam dua puluh tahun ini, bukankah Fiona yang berinisiatif untuk bercerai dan meninggalkan Denzel?
Kobaran api di sekitarnya semakin membesar dan akan segera menyelimuti dua orang itu. Fiona mengabaikan kobaran api di sekitarnya, kedua matanya berkedip-kedip dan penuh dengan pria yang dia cintai dan benci selama dua puluh tahun. Fiona tidak tahan lagi dan menangis sembari berkata dengan nada gemetar.
"Selama dua puluh tahun ini, aku
Sudah berusaha keras untuk melupakanmu dan juga segala kenangan bersamamu."
"Tapi aku tidak bisa melakukannya, aku masih saja membencimu selama dua puluh tahun!"
"Aku membencimu karena kamu muncul di kehidupanku untuk menghangatkanku serta membuatku jatuh cinta padamu."
"Aku membencimu karena kamu sudah menikah denganku, tapi kamu masih mencari wanita lain tanpa sepengetahuanku."
"Aku membencimu karena kamu tidak pernah mencintaiku. Meskipun aku selamat dari keguguran dua puluh tahun yang lalu, kamu sama sekali tidak pernah datang ke rumah sakit untuk melihatku!"
Fiona mengeluh dan suasana hatinya
Sudah tak terkendali. Air matanya terus mengalir dari pipinya dan menetes di punggung tangan Denzel, itu jauh lebih panas dari suhu di sekitarnya.
"Aku sudah membencimu selama dua puluh tahun, aku pun mengalami depresi selama dua puluh tahun. Konyolnya, aku masih belum bisa melepaskanmu..."
Fiona terus mengeluh tanpa henti, sementara Denzel merasa kepalanya penuh dengan kekosongan. Kedua orang itu bahkan tidak tahu bahwa kobaran api sudah menyelimuti mereka.
Fiona masih menyukainya?
Fiona bahkan mengalami depresi selama dua puluh tahun?
Denzel sama sekali tidak tahu.
Sebelum Denzel sempat bereaksi, Fiona menghela napas dan mengulurkan
Tangan untuk menyeka air mata di wajahnya. Ketika melihat Denzel lagi, Fiona menampakkan senyuman indah di wajahnya, seolah-olah dia sudah menyingkirkan semua pikiran.
Fiona mengulurkan kedua tangannya untuk memegang wajah Denzel. Meskipun kobaran api yang menyapu di belakangnya membakarnya hingga terasa sangat sakit, dia tetap melihat Denzel dengan tatapan lembut dan tegas. Fiona tersenyum indah sembari berkata dengan nada lembut, "Denzel, kita pergi bersama saja hari ini. Kita pergi bersama untuk melihat anak-anak kita yang tidak dilahirkan. Kita pergi untuk menebus dosa-dosa kita."
Fiona berkata sambil tersenyum.
Sebelum Denzel sempat bereaksi, kobaran api yang telah menyebar di belakang Fiona seketika menyapu ke arahnya.
"Tidak!!!"
Pupil mata Denzel menyusut dan berteriak dengan suara rendah. Dia mengerahkan semua tenaga yang tersisa di tubuhnya untuk memeluk wanita di depannya tanpa ragu. Pada detik selanjutnya, dua orang di tengah lautan api pun mati secara bersamaan.
Sebelum kejadian hari ini, Denzel tidak tahu bahwa Fiona begitu mencintainya.
Denzel mungkin tidak puas karena orang tuanya menjadikan pernikahannya sebagai umpan dari kepentingan keluarga. Meskipun Denzel pernah jatuh cinta beberapa kali pada Fiona, dia pun segera menghilangkan rasa cinta yang tidak seharusnya muncul itu. Denzel mencari lebih banyak wanita untuk bersenang-senang agar bisa mengalihkan perhatiannya, dia sengaja membiarkan dirinya sendiri tidak jatuh cinta pada Fiona.
Kenapa Fiona bisa jatuh cinta padanya?
Padahal Denzel telah menyakiti wanita cantik itu, kenapa wanita cantik itu masih menyukainya dan bahkan ingin mati di lautan api bersamanya?
Kebajikan dan kemampuan apa yang dimiliki oleh Denzel?
Denzel memeluk wanita itu dengan erat. Sebelum kesadaran terakhirnya menghilang. Dia hanya memiliki sebuah pemikiran, kalau mereka berdua bisa terlahir di kehidupan selanjutnya dan Fiona masih menyukainya, Denzel pasti akan menyayanginya dan mencintainya, kemudian tidak akan mengecewakannya dan menyakitinya lagi...