Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 Pelampiasan.
Letisha saat ini sampai ke salah satu butik yang tak lain adalah butik milik keluarganya yang dikelola oleh Vanila.
Vanila berada di ruangannya bersama dengan Liana sang ibu yang baru saja datang membawakan makanan untuknya.
"Mama serius, aku akan dikenalkan dengan salah satu anak kyai besar?" tanya Vanila memastikan informasi yang baru saja diberikan ibunya.
"Benar Vanila, bukan hanya anak kyai besar yang dikenal dengan memiliki pondok pesantren terbesar di Indonesia, tetapi mereka juga memiliki perkebunan yang luas di Kalimantan dan terlebih lagi memiliki pabrik kaca di Jakarta," jawab Vanila.
"Wau, apa dia lebih kaya daripada suami Letisha?" tanyanya memastikan.
"Sudah pasti sayang. Itu hanya beberapa kekayaan saja dan belum lagi hal-hal kecil yang tidak Mama ketahui. Nama kamu akan dikenal banyak orang ketika kamu dipersunting oleh putranya," ucap Liana penuh janji pada Letisha.
"Sungguh! Wau itu benar-benar tidak terduga. Baguslah jika memang seperti itu. Maka aku sudah tidak sabar ingin menikah dengan orang itu dan mama harus memperkenalkanku dengannya," ucap Letisha.
"Papa kamu saat ini sedang mengatur pertemuan, jadi kamu tenang saja," ucap Liana.
"Huhhhh, akhirnya aku bisa menikah dengan laki-laki yang jauh di atas Rakash," ucap Vanila merasa begitu bahagia.
"Lalu kenapa? Jika kamu menikah dengan laki-laki di atas Rakash?" terdengar suara Letisha membuat arah pandang Vanila dan Liana melihat ke arah suara tersebut.
"Kalian akan mengatur siasat bagaimana caranya supaya suamiku jatuh dan suamimu jauh lebih di atasnya?" tebak Letisha.
"Apa maksud perkataan kamu Letisha?" tanya Liana.
"Jangan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi? Bukankah Mama sudah puas merencanakan semua ini dan mempermalukanku, menjatuhkan fitnah kepadaku dengan tuduhan palsu dan menjatuhkan orang lain," ucap Letisha.
"Hah! jadi kamu menuduh bahwa Mama melakukan semua ini?" tanya Liana.
"Jika bukan iya siapa lagi? kalian adalah orang yang tidak menyukai hal itu dan baru saja aku melakukan hal ini. Baru saja aku bersaing dengan Mama dan Mama sudah melakukan semua ini kepadaku," ucap Letisha.
"Letisha kamu jaga bicara kamu dan jangan menuduh tanpa bukti! Saya tidak serendah itu melakukan hal yang kamu tuduhkan desain oleh kamu!" tegas Liana.
"Mana ada maling mau mengaku, bukankah seperti itu yang diucapkan wanita itu kepadaku? Benar-benar keterlaluan, kalian yang memintaku menikah dengan dia dan ketika aku bahagia menikah dengan dia dan aku mendapatkan apa yang aku mau. Kalian menghancurkannya begitu saja dan sekarang ini menyaingi kembali, tapi kapanpun hidup kalian tidak akan pernah bahagia jika memiliki rasa iri kepadaku!" tegas Letisha.
"Astaga Letisha, kamu sebaiknya istighfar sebelum berbicara. Jangan memberi tuduhan sembarangan!" tegas Vanila.
"Jangan membawa-bawa agama ada yang aku akan buktikan jika aku tidak bersalah. Kalian harus bersujud di kakiku dan meminta maaf di depan semua orang!" tegas Letisha kemudian langsung berlalu begitu saja.
"Apa katamu? Hey, jangan sembarangan memberi tuduhan, Letisha urusan kita belum selesai!" Vanila berteriak-teriak tidak terima dengan apapun yang dikatakan Letisha.
"Mama kenapa diam saja dikatakan seperti itu? Dengan sangat lancang dia baru saja menjatuhkan tuduhan kepada Mama dan mama kan diam saja?" Vanila benar-benar kesal kepada Letisha.
"Mama merasa tidak ada gunanya berbicara dengan anak itu. Terserah dia ingin mengatakan apapun. Mama tidak peduli sama sekali," jawab Liana dengan santai.
"Tetap saja dia sangat kurang ajar, semakin lama memang tidak menghargai Mama sebagai seorang ibu yang sudah membesarkannya," Vanila tetap saja emosi.
****
Rakash berada di rumahnya yang terlihat duduk santai di sofa dengan membaca buku. Rakash seperti biasa tampak begitu tenang. Seketika pikirannya terganggu dan melihat arloji di tangannya sudah menunjukkan pukul 12.00 malam.
"Apa dia belum pulang?" ucapnya ketika menyadari istrinya memang sejak tadi tidak berada di rumah.
Tadi siang Rakash bertemu dengan istrinya di jalan dan tampak akrab dengan pria yang baru dia kenal dan sampai saat ini tidak kembali.
Tidak bohong jika dari ekspresi wajahnya terlihat begitu khawatir, Rakash melihat ponselnya dan jarinya sudah pada kontak istrinya tetapi tetap saja jari itu tidak menyentuh kontak tersebut untuk menghubungi sang istri.
Jika Rakash saat ini sedang memikirkan istrinya dan sementara Letisha berada di salah satu club bersama dengan Winona sahabat. Suara musik terdengar cukup kuat dengan para tamu tampak menari-nari untuk menghilangkan penat dalam pikiran mereka.
Asap rokok di mana-mana dengan bau alkohol cukup menyengat. Walau suasana club identik dengan minuman alkohol dan kesenangan, tetapi tetap saja Letisha bersama dengan temannya tidak minum dan mereka hanya minum orange juice yang duduk di salah satu bangku.
"Letisha, apa kita tidak akan pulang? ini sudah cukup malam dan bagaimana jika suami kamu mencari kamu?" tanya Winona.
"Hah! Mencariku, itu adalah alam mustahil yang tidak mungkin terjadi, bagaimana mungkin dia mencariku, semua tidak masuk akal, lihat saja meninggalkanku disaat semua orang menggunjing ku, tidak mencoba membela hanya karena takut namanya tercoreng, padahal aku sudah mengingatkannya untuk tidak mengenalkanku sebagai istrinya dan jika terjadi sesuatu padaku dia tidak akan terseret," ucap Letisha tersenyum getir seolah mengejek diri sendiri.
"Kamu tidak hanya salah paham, mungkin saja Rakash pada saat itu hanya pergi untuk melakukan sesuatu dan tidak bermanfaat untuk meninggalkan kamu," ucap Winona mencoba untuk berpikir positif.
"Sudahlah jangan menyebut namanya, kepalaku bertambah sakit mendengarnya," ucap Letisha.
Winona tidak berbicara lagi saat ini dia hanya mencoba untuk memahami temannya yang memang sedang frustasi dengan masalah yang dihadapi dan apalagi semua orang menyalahkan dirinya Wilona satu-satunya orang yang tidak menyalahkannya dan ada disamping.
"Astaga Letisha! kita memang harus pulang, aku lupa jika orang tuaku hari ini datang," ucap Winona ketika melihat ponselnya dengan mendapatkan pesan dari ibunya yang baru saja tiba dari Singapura.
"Hmmm, ya sudah kalau begitu kamu pulang terlebih dahulu saja. Aku masih mau di sini, jika di rumah kepalaku akan semakin sakit," ucap Letisha.
"Aku tidak bisa membiarkan kamu sendirian di club seperti ini dan apalagi suasana hati kamu berantakan. Nanti ada orang macam-macam pada kamu kan kamu bisa lengah," ucap Winona.
"Sudahlah sebaiknya kamu pergi saja," Letisha mendorong temannya itu untuk turun dari kursi meja bar tersebut. Winona sepertinya tidak bisa menemani Letisha dalam masa galaunya yang membuat Winona dengan terpaksa harus pergi.
Sementara Rakash baru saja mendapatkan telepon.
"Baiklah, terima kasih kamu sudah memberitahu saya, saya akan segera ke sana untuk menjemputnya," ucap Rakash terdengar begitu tenang dalam panggilan teleponnya.
Rakash mengucapkan salam dan kemudian menutup telepon tersebut dan ternyata orang yang baru saja meneleponnya tak lain adalah Winona yang berada di dalam Taxi.
"Walaikumsalam," ucapnya menjawab salam tersebut ketika telepon itu sudah mati.
"Memang lebih baik aku memberitahunya. Aku takut terjadi sesuatu kepada Letisha. Huhhh padahal pria tua itu sangat baik, dia juga terlihat bertanggung jawab. Letisha saat ini hanya salah paham saja dan aku yakin pria tua itu sebenarnya tidak ingin meninggalkannya," gumam Winona Dengan berpikir positif.
Winona saat ini sudah merasa jauh lebih lega karena sudah ada yang akan mengawasi temannya.
Bersambung....