NovelToon NovelToon
Clean Off

Clean Off

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arena di Balik Meja Kayu

Pintu ruang kuliah terbuka dengan bunyi klik yang tajam, seirama dengan langkah kaki Nomella Kamiyama. Bagi siapa pun yang melihatnya pagi itu, Nomella tetaplah sang dewi perfeksionis. Tidak ada maskara yang luntur, tidak ada rambut yang mencuat, dan gaun broken white-nya telah dirapikan sedemikian rupa hingga kerutan akibat dorongan kasar di parkiran tadi lenyap tak berbekas.

Namun, di balik sepasang mata tajamnya, ada badai yang sedang berkecamuk.

Nomella berjalan menyusuri lorong di antara deretan kursi, kepalanya tegak, bahunya membusur kaku. Ia tidak mencari tempat duduk di barisan belakang untuk bersembunyi. Sebaliknya, ia melangkah menuju barisan tengah, tempat di mana ia bisa memiliki jarak pandang yang luas ke arah depan. Ke arah dia.

Di sana, di barisan paling depan, duduklah sang predator.

Tidak ada satu pun jejak kegelapan di wajah Zeus Sterling. Hilang sudah cengkeraman maut di leher, hilang sudah tatapan dingin yang membekukan darah, dan hilang sudah tangan kasar yang baru saja melanggar privasi Nomella dengan cara yang paling hina.

Zeus yang duduk di sana adalah Zeus sang idola kampus. Ia sedang tertawa kecil menanggapi ucapan seorang mahasiswi di sebelahnya, menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi di bawah lampu neon kelas.

Nomella duduk, meletakkan tasnya dengan perlahan, lalu menatap punggung Zeus. Pandangannya turun ke arah tangan kanan Zeus yang kini sedang memutar-mutar sebuah buku catatan dengan lincah.

Tangan itu.

Nomella merasakan perutnya mual sejenak, sebuah kilas balik panas menjalar di kulitnya. Tangan yang sekarang terlihat begitu ramah dan santai itu adalah tangan yang beberapa menit lalu menginjak-injak harga dirinya di sudut parkiran yang sepi.

Tangan yang memaksa masuk ke dalam ruang paling personalnya, menghancurkan martabatnya sebagai seorang wanita hanya untuk sebuah peringatan gila.

Nomella bukan gadis lemah. Di New York, ia belajar bahwa air mata hanya akan membuat musuhmu merasa menang. Ia tidak akan meraung, ia tidak akan mengadu pada otoritas kampus yang hanya akan mengubahnya menjadi bahan gosip, dan ia tidak akan membiarkan dirinya hancur.

Kupastikan tangan itu... tangan yang kau gunakan untuk merendahkanku, suatu saat nanti akan berada di bawah kakiku, batin Nomella. Ia tidak hanya ingin melihat Zeus jatuh; ia ingin melihat pria itu merangkak di bawah standar kesempurnaan yang akan ia ciptakan sebagai jebakan.

Seolah memiliki indra keenam, Zeus tiba-tiba memutar tubuhnya. Ia menyandarkan punggungnya pada meja, menghadap ke arah kelas yang mulai penuh. Matanya menyisir ruangan hingga berhenti tepat pada titik di mana Nomella berada.

Mata mereka bertemu.

Nomella tidak membuang muka. Ia menatap Zeus dengan tatapan yang ingin melahap pria itu hidup-hidup. Ada api kemarahan murni yang berkilat di pupil matanya, sebuah deklarasi perang yang tak terucapkan namun sangat nyata.

Melihat tatapan itu, Zeus justru melebarkan senyumnya. Itu bukan senyum mengejek yang terang-terangan, melainkan senyum hangat yang menawan—senyum Zayn yang sangat manis hingga mata birunya ikut menyipit ramah. Namun, bagi Nomella, senyuman itu adalah penghinaan tingkat tinggi.

Zeus mengangkat tangannya yang tadi memutar buku, lalu dengan gerakan yang sangat halus dan terukur, ia merapatkan jemarinya, seolah sedang menggenggam sesuatu yang tak kasatmata di udara. Ia menatap Nomella sambil tetap mempertahankan senyum hangatnya, sementara jemarinya bergerak-gerak pelan seakan-akan sedang merasakan kembali memori sentuhannya di parkiran tadi.

Gerakan itu sangat samar, hanya Nomella yang bisa menangkap maknanya. Seolah Zeus sedang berkata tanpa suara: Tangan ini yang tadi membuatmu takluk. Tangan ini yang membuat kesempurnaanmu gemetar.

Nomella mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Rasa sakit itu ia gunakan untuk tetap sadar, untuk tidak melompat dan mencakar wajah tampan yang penuh kepalsuan itu.

"Selamat pagi semuanya," suara dosen yang baru masuk memecah ketegangan hening di antara mereka.

Zeus kembali berputar ke depan dengan gerakan santai, seolah-olah interaksi tadi hanyalah sapaan pagi yang biasa antara dua teman sekolah. Ia membuka bukunya, mulai mencatat dengan tangan yang sama yang telah melecehkan Nomella, sementara Nomella hanya bisa menatap punggung pria itu dengan napas yang mulai teratur namun berat.

Sepanjang jam kuliah, Nomella tidak mencatat satu kata pun dari penjelasan dosen tentang riset pasar. Pikirannya bekerja seribu kali lebih cepat daripada proyektor di depan kelas. Ia sedang menyusun skenario. Ia sedang memetakan setiap informasi yang ia punya tentang duka Zeus, tentang psikolognya, tentang kakaknya, dan tentang ketakutan terbesarnya.

Ia menyadari bahwa Zeus menggunakan pelecehan itu sebagai senjata terakhir karena dia merasa terancam. Dia takut Nomella berhasil membongkar topengnya. Dan jika Zeus ingin bermain di zona yang paling gelap, maka Nomella akan menyesuaikan diri.

Kau pikir kau bisa mengendalikan hidupmu dengan menjadi orang lain, Zeus? pikir Nomella sambil menatap tajam ke arah belakang kepala pria itu. Aku akan membiarkanmu menikmati peranmu sebagai matahari sedikit lebih lama. Tapi saat awan yang kubangun datang, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa menemukan jalan kembali ke kegelapanmu yang nyaman.

Kelas berakhir dua jam kemudian. Zeus berdiri, dikelilingi oleh beberapa mahasiswa yang mengajaknya makan siang bersama. Ia tetaplah sang bintang, sang pangeran hangat yang dicintai semua orang.

Saat melewati meja Nomella untuk keluar kelas, Zeus berhenti sejenak. Ia merapikan tas punggungnya, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arah Nomella, masih dengan senyum paling menawan yang pernah ada.

"Belajar yang rajin, Nomella. Jangan sampai pikiranmu... terdistraksi oleh hal-hal lain," bisiknya lembut, terdengar seperti perhatian seorang teman yang peduli di telinga orang lain, namun terasa seperti siraman bensin pada api di telinga Nomella.

Zeus berjalan pergi, tertawa bersama teman-temannya.

Nomella tetap duduk di kursinya sampai ruangan itu kosong. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kembali data yang ia kumpulkan semalam. Ia tidak akan menangis. Ia tidak akan menyerah.

"Tangan itu, Zeus," gumam Nomella pada ruangan yang kosong. "Tangan itu yang akan pertama kali menyentuh tanah saat kau bersujud memohon maaf padaku."

Nomella bangkit, merapikan gaunnya sekali lagi, dan berjalan keluar dengan langkah yang jauh lebih mantap daripada saat ia masuk. Permainan di California baru saja berganti level, dari penyelidikan menjadi pembalasan dendam yang dingin dan sistematis.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🫶

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!