Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Novita begitu sampai di kostnya langsung masuk tanpa menyapa siapa pun. Pintu kamar ditutup pelan, tetapi napasnya terdengar berat. Dadanya terasa sesak menahan semua emosi yang sejak tadi ia tahan di kantor.
Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju kamar mandi kecil di sudut kamar. Begitu keran dibuka, air mengalir deras mengenai lantai keramik yang dingin. Novita berdiri di bawah pancuran sederhana itu, membiarkan air membasahi rambut dan wajahnya.
Beberapa detik pertama ia hanya diam. Namun perlahan bahunya mulai bergetar.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh.
Mandi adalah kebiasaannya sejak kecil ketika ingin menangis. Saat masih tinggal bersama ibunya, ia tidak pernah boleh terlihat lemah. Setiap kali ketahuan menangis, ibunya justru akan memarahinya, bahkan kadang memukulnya.
Karena itu Novita belajar satu hal sejak kecil.
Menangislah saat mandi.
Air akan menyembunyikan semuanya.
"Kenapa harus aku..." gumamnya pelan.
Bayangan wajah Andra muncul di kepalanya. Nada bicara dingin lelaki itu, tatapan tajamnya, serta cara ia memperlakukannya seolah ia bukan siapa-siapa.
"Menyebalkan... benar-benar menyebalkan," bisiknya dengan suara serak.
Air mata terus bercampur dengan air mandi yang mengalir di wajahnya. Semua rasa kesal, sakit hati, dan kelelahan yang ia rasakan hari ini tumpah begitu saja.
Entah berapa lama ia berdiri di sana. Sampai akhirnya tangisnya mulai mereda dan napasnya kembali teratur.
Novita mematikan keran.
Ia mengusap wajahnya, lalu menarik napas panjang.
"Sudah cukup..." katanya pelan pada dirinya sendiri.
Setelah berganti pakaian, Novita keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih sedikit basah ketika ia menjatuhkan diri ke kasur tipis yang terletak langsung di lantai.
Kamar kostnya kecil dan sederhana. Hanya ada kasur lantai, meja lipat, lemari plastik, dan kipas angin tua yang berputar pelan.
Novita mengangkat kakinya dan mulai memijat betisnya yang terasa pegal.
Hari ini ia bolak-balik berjalan menuju ruangan Andra berkali-kali. Tangga kantor yang cukup tinggi terasa seperti hukuman tambahan baginya.
"Kalau setiap hari begini, aku bisa mati duluan," keluhnya pelan.
Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Perlahan sebuah pikiran muncul di kepalanya.
Ia tidak mungkin bertahan lama di perusahaan itu.
Bukan hanya pekerjaannya yang melelahkan, tetapi atasannya juga terlalu menyebalkan. Andra selalu mencari kesalahan, berbicara dingin, dan memperlakukannya seperti bawahan yang tidak berharga.
"Perusahaan dengan atasan seperti itu pasti tidak akan nyaman," gumam Novita.
Ia duduk perlahan.
Tangannya meraih tas lalu mengambil ponsel dan buku catatan kecil.
"Aku harus cari tempat lain," katanya lebih tegas.
Novita mulai membuka internet di ponselnya. Ia mencari alamat beberapa perusahaan di Jakarta dan Bandung yang membuka lowongan administrasi.
Satu per satu alamat itu ia catat di bukunya.
Kemudian ia membuka laptop lamanya.
Suara ketikan mulai memenuhi kamar kecil itu.
Tok. Tok. Tok.
Ia menulis surat lamaran kerja dengan sangat serius. Setiap kalimat ia periksa dengan hati-hati.
"Kepada Yth. HRD..." gumamnya sambil mengetik.
Setelah satu surat selesai, ia membuat lagi untuk perusahaan lain.
Dan lagi.
Dan lagi.
Waktu terus berjalan tanpa ia sadari.
Jam di ponselnya menunjukkan lewat tengah malam, tetapi Novita masih duduk di depan laptop.
Matanya mulai terasa berat, namun ia tetap memaksa dirinya menyelesaikan semua surat lamaran itu.
"Kalau aku diterima di tempat lain... aku langsung resign," katanya pelan.
Akhirnya setelah beberapa jam, semua surat lamaran selesai.
Novita meregangkan tubuhnya yang pegal.
"Semoga ada yang menerimaku," bisiknya penuh harap.
Ia kemudian menutup laptop dan akhirnya tertidur tanpa sempat mematikan lampu.
Keesokan paginya, Novita bangun dengan mata sembab dan tubuh yang terasa lelah.
Namun ia tidak punya waktu untuk mengeluh.
Setelah bersiap-siap, ia membawa semua surat lamaran itu ke kantor pos.
Di depan loket pengiriman, Novita menyerahkan amplop-amplop besar itu satu per satu.
Petugas pos menatapnya sedikit heran.
"Banyak juga suratnya, Mbak," kata petugas itu sambil tersenyum.
Novita ikut tersenyum kecil.
"Iya, Pak. Semoga ada yang nyangkut," jawabnya ringan.
Setelah semua selesai dikirim, ia keluar dari kantor pos dengan perasaan sedikit lega.
Setidaknya sekarang ia punya harapan.
Ia segera menaiki motornya dan memacu kendaraan itu lebih cepat dari biasanya.
"Jangan sampai terlambat lagi," gumamnya.
Angin pagi menerpa wajahnya ketika ia melaju menuju kantor.
Namun rasa kantuk masih terasa karena semalam ia hampir tidak tidur.
Sesampainya di kantor, langkah Novita terlihat sedikit lesu.
Yanti yang duduk di meja sebelah langsung memperhatikannya.
"Vi, kamu kenapa? Kelihatan capek banget," tanya Yanti khawatir.
Novita langsung tersenyum cepat.
"Enggak apa-apa kok," jawabnya.
"Serius? Wajahmu kayak orang habis lembur dua hari," kata Yanti sambil menyipitkan mata.
Novita terkekeh kecil.
"Cuma begadang aja semalam. Jadi masih ngantuk," katanya santai.
"Begadang ngapain?" tanya Yanti penasaran.
"Nonton film," jawab Novita cepat.
Ia sengaja mengalihkan pembicaraan sebelum Yanti bertanya lebih jauh.
"Aku ambil kopi dulu ya. Biar melek," katanya sambil berdiri.
Di pantry kecil kantor, Novita mengambil cangkir lalu menuangkan kopi panas.
Aroma kopi langsung memenuhi ruangan kecil itu.
Ia mengaduk kopi perlahan.
Namun baru saja sendoknya berputar beberapa kali, sebuah suara dingin tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
"Kamu di sini rupanya."
Tangan Novita langsung berhenti.
Ia menoleh perlahan.
Andra berdiri di ambang pintu pantry dengan wajah datar seperti biasa.
"Pak Direktur..." kata Novita pelan.
Andra melangkah masuk.
"Buatkan saya kopi," katanya singkat.
Novita sedikit terdiam.
"Biasanya kopi untuk Pak Direktur dibuatkan OB, Pak," jawabnya hati-hati.
Andra menatapnya tajam.
"Bukankah kamu sudah berjanji akan melakukan apa pun yang saya minta?"
Kalimat itu membuat Novita terdiam.
Andra melanjutkan dengan nada dingin.
"Kalau begitu, kamu hanya perlu melakukan tugas yang saya berikan."
Novita mengepalkan tangannya sebentar.
Namun ia tidak berkata apa-apa lagi.
"Baik, Pak," jawabnya akhirnya.
Ia mengambil cangkir baru dan mulai membuatkan kopi untuk Andra.
Sendok di tangannya bergerak perlahan mengaduk gula dan kopi.
Sementara Andra berdiri di sana menunggu dengan ekspresi tenang.
Novita hanya bisa menunduk.
Di dalam hatinya, ia semakin yakin.
Ia harus segera keluar dari perusahaan ini.
Ia mengangkat cangkir kopi yang sudah selesai dibuat lalu menyerahkannya kepada Andra dengan kedua tangan.
"Silakan, Pak," katanya pelan.
Namun Andra tidak langsung menerimanya.
Pria itu hanya melirik cangkir tersebut sekilas, lalu kembali menatap Novita.
"Antar ke ruangan saya," katanya singkat.
Novita sempat terdiam.
"Sekarang, Pak?" tanyanya ragu.
"Apa saya harus mengulanginya dua kali?" balas Andra datar.
"Tidak, Pak," jawab Novita cepat.
Ia segera mengambil sebuah nampan kecil dari rak pantry. Cangkir kopi itu ia letakkan di atasnya dengan hati-hati agar tidak tumpah.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengikuti Andra keluar dari pantry menuju ruangan direktur di ujung koridor.
Sepanjang jalan Novita hanya menunduk sambil berjalan di belakangnya.
Beberapa karyawan sempat melirik mereka dengan rasa penasaran.
Sesampainya di depan ruangan, Andra membuka pintu lalu masuk lebih dulu.
Novita mengikuti dari belakang dan meletakkan nampan di atas meja kerja besar di depan Andra.
"Kopinya, Pak," katanya pelan.
Andra duduk di kursinya lalu mengambil cangkir itu.
Ia meniup sedikit permukaan kopi, kemudian mencicipinya.
Hanya satu tegukan kecil.
Namun ekspresinya langsung berubah.
Andra meletakkan kembali cangkir itu di atas meja.
"Terlalu manis," katanya dingin.
Novita berkedip bingung.
"Maaf, Pak?" katanya pelan.
"Saya bilang terlalu manis," ulang Andra tanpa emosi.
Novita langsung menunduk.
"Baik, Pak. Saya buatkan lagi."
Ia segera mengambil kembali cangkir itu dan bergegas keluar dari ruangan.
Di pantry ia menghela napas pelan.
"Padahal gulanya cuma satu sendok," gumamnya.
Namun ia tetap membuat kopi baru dengan gula yang lebih sedikit.
Beberapa menit kemudian ia kembali ke ruangan Andra.
"Silakan, Pak," katanya lagi sambil meletakkan cangkir baru.
Andra kembali mencicipinya.
Kali ini ia bahkan tidak menelan kopi itu sepenuhnya.
"Masih terlalu manis," katanya singkat.
Novita terdiam.
"Kurangi lagi gulanya," tambah Andra.
"Baik, Pak," jawab Novita menahan kesal.
Ia kembali ke pantry.
Kali ini gulanya hanya setengah sendok.
Setelah selesai, ia kembali lagi ke ruangan direktur.
Andra mencicipinya untuk ketiga kalinya.
Ia menatap cangkir itu sejenak.
"Masih manis," katanya.
Novita hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Namun ia tetap menunduk.
"Saya buatkan lagi, Pak," katanya pelan.
Kali ini ia membuat kopi tanpa gula sama sekali.
"Kalau ini masih manis juga, berarti lidahnya yang aneh," gumamnya pelan saat mengaduk kopi.
Ia kembali ke ruangan Andra.
Andra mencicipinya lagi.
Keningnya sedikit berkerut.
"Sekarang terlalu pahit," katanya datar.
Novita benar-benar ingin menghela napas keras, tetapi ia menahannya.
"Maaf, Pak. Saya buatkan lagi," katanya dengan suara tetap sopan.
Ia kembali membuat kopi untuk kelima kalinya.
Kali ini ia mencoba menyeimbangkan rasa dengan sangat hati-hati.
Beberapa menit kemudian ia kembali lagi membawa cangkir baru.
Andra mencicipinya.
Ia menatap cangkir itu beberapa detik.
Lalu tanpa berkata apa-apa, ia meletakkannya kembali di meja.
"Saya tidak jadi minum kopi," katanya tiba-tiba.
Novita membeku.
"Maaf, Pak?" tanyanya pelan.
Andra menunjuk lima cangkir kopi yang kini berjajar di atas meja kerjanya.
"Minum semuanya," katanya singkat.
Novita menatapnya tidak percaya.
"Pak?" suaranya hampir seperti bisikan.
"Bukankah kamu berjanji akan melakukan apa pun yang saya minta?" kata Andra dengan nada yang sama sekali tidak berubah.
Novita mengepalkan tangannya.
"Itu… lima cangkir kopi, Pak," katanya hati-hati.
"Saya bisa menghitung," jawab Andra dingin.
Ruangan itu menjadi sangat sunyi.
Novita berdiri beberapa detik tanpa bergerak.
Namun akhirnya ia mengambil salah satu cangkir.
Ia meminumnya.
Kopi pertama masih sangat panas.
Rasanya pahit menusuk lidah.
Namun ia tetap menelannya.
Andra hanya memperhatikan dari kursinya tanpa mengatakan apa-apa.
Cangkir pertama habis.
Novita mengambil yang kedua.
Lalu yang ketiga.
Perutnya mulai terasa tidak nyaman karena terlalu banyak kopi.
Tangannya sedikit gemetar ketika mengambil cangkir keempat.
Andra tetap diam memperhatikannya.
Akhirnya Novita meneguk cangkir kelima.
Setelah selesai, ia meletakkan cangkir itu kembali ke meja.
Napasnya sedikit berat.
Namun ia tetap berdiri tegak.
"Sudah, Pak," katanya pelan.
Andra menatapnya beberapa detik.
Lalu ia berkata datar.
"Kamu boleh kembali bekerja."
Novita menunduk singkat.
"Baik, Pak."
Ia segera keluar dari ruangan itu.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, Novita berhenti sejenak di koridor.
Perutnya terasa panas karena kopi.
Namun yang lebih panas adalah rasa kesal di dalam hatinya.
"Tunggu saja," gumamnya pelan.
"Begitu aku dapat pekerjaan baru… aku pasti keluar dari sini."