Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Setelah Badai
Koridor Sekolah – Senin, Pukul 07.00 WIB
Sisa-sisa euforia festival semalam masih terasa di udara, namun bagi Reina Calista, kemenangan itu terasa seperti ketenangan sebelum badai besar menghantam. Ia berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang sengaja ia buat setegas mungkin. Di balik seragam putihnya yang licin tanpa cela, ia bisa merasakan logam dingin dari kalung perak pemberian Kenzo yang bersentuhan dengan kulitnya—sebuah rahasia kecil yang memberinya kekuatan.
Namun, langkahnya terhenti tepat di depan mading utama.
Kerumunan siswa yang tadinya berisik mendadak senyap saat melihat sang Ketua OSIS datang. Di sana, tertempel selebaran berwarna merah mencolok yang menutupi foto-foto dokumentasi festival. Isinya bukan ucapan selamat, melainkan petisi pencabutan jabatan.
"Menyalahgunakan wewenang? Menggunakan dana donasi untuk kepentingan romansa pribadi?" Reina membaca baris-baris itu dengan suara yang hampir tidak terdengar. Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.
"Cantik ya, main drama di panggung pakai uang orang lain?"
Sebuah suara melengking yang sangat Reina kenali memecah keheningan. Sarah, Wakil Ketua OSIS yang selama ini selalu tersenyum manis di depan namun dingin di belakang, melangkah maju. Ia melipat tangan di dada, menatap Reina dengan binar kemenangan yang tidak lagi disembunyikan.
"Semua orang tahu Kenzo itu berandal. Dan sekarang, kamu menyeret nama sekolah ke jalanan hanya demi mendukung hobi basket kekasihmu? Kamu bukan pemimpin, Reina. Kamu cuma gadis yang sedang dimabuk cinta dan kehilangan logika," lanjut Sarah, disambut bisikan setuju dari beberapa siswa di belakangnya.
Reina menatap Sarah tepat di matanya. "Semua kuitansi transparan, Sarah. Kalau kamu mau bicara soal logika, mari kita bicara di forum resmi, bukan di depan mading seperti pengecut."
Kantor Yayasan – Pukul 09.00 WIB
Tekanan tidak berhenti di koridor. Reina dipanggil ke ruang rapat yayasan yang beraroma kayu cendana dan kekuasaan. Di sana, suasana jauh lebih mengintimidasi. Ibu Aris, dengan setelan blazer sutra dan tatapan setajam silet, duduk di ujung meja panjang. Di sampingnya, Pak Bramantyo duduk dengan wajah yang kembali menjadi topeng es—tidak ada jejak pria yang memberi tepuk tangan di tribun semalam.
"Reina," Ibu Aris memulai dengan suara yang tenang namun mematikan. "Tindakanmu mengikutsertakan siswa dengan catatan kriminal dan disiplin buruk seperti Kenzo dalam acara puncak adalah kesalahan fatal. Kamu mencitrakan SMA Garuda sebagai sarang pemberontak."
"Kenzo membantu kita saat sponsor menarik diri, Bu. Tanpa dia, tidak akan ada festival," bela Reina.
"Tapi cara kalian mendapatkannya?" sela Pak Bramantyo, suaranya berat dan menggelegar. "Bertaruh di jalanan seperti preman? Itu mencoreng martabat keluarga dan yayasan. Kami memberikan dua pilihan: kamu mundur secara sukarela sebagai Ketua OSIS untuk memulihkan nama baik sekolah, atau kami akan menurunkan tim audit eksternal untuk memeriksa setiap rupiah dana festival. Dan kamu tahu, audit bisa menjadi sangat... tidak menyenangkan bagi masa depan akademismu."
Reina merasakan tenggorokannya kering. Ini bukan lagi soal organisasi sekolah. Ini adalah upaya pembunuhan karakter. Namun, ia menangkap kilasan aneh di mata Pak Bramantyo—sebuah kerlingan singkat yang seolah-olah menyuruhnya untuk tidak langsung menyerah.
Gudang Belakang – Pukul 15.30 WIB
Reina baru saja keluar dari gedung yayasan saat sebuah tangan menariknya lembut ke balik bayangan gudang. Kenzo berdiri di sana, masih mengenakan kruk, namun wajahnya penuh dengan kecemasan yang nyata.
"Apa yang mereka katakan?" tanya Kenzo langsung.
Reina menceritakan semuanya—tentang Sarah, petisi itu, dan ancaman audit dari Ibu Aris serta ayahnya sendiri. Kenzo terdiam, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. Ia memukul dinding gudang dengan telapak tangannya, menciptakan suara dentuman yang menggema.
"Si brengsek itu... mereka mau menjatuhkanmu gara-gara aku," desis Kenzo. "Kalau aku harus keluar dari sekolah ini supaya mereka berhenti mengganggumu, aku bakal lakukan sekarang juga, Rein."
Reina meraih tangan Kenzo, menahannya. "Jangan. Itu yang mereka mau, Ken. Mereka mau kita pecah. Ibu Aris bukan cuma benci padaku, dia benci pada pengaruh kita. Kita nggak akan main bertahan lagi. Kita bakal serang balik."
"Caranya?"
"Aku butuh 'mata-mata' di dalam rumahmu," Reina menatap Kenzo dengan serius. "Ayahmu adalah kunci. Cari tahu kenapa Ibu Aris sebegitu ambisiusnya menghancurkan OSIS. Ini bukan cuma soal sentimen pribadi."
Malam itu, Kenzo pulang ke rumah dengan taktik baru. Ia berpura-pura tunduk, meminta maaf pada ayahnya, dan berjanji akan fokus pada pelajaran. Pak Bramantyo hanya mengangguk singkat dan membiarkan Kenzo masuk ke ruang kerjanya untuk "mengambil buku".
Saat ayahnya sedang berada di ruang makan, Kenzo dengan cepat menyelinap ke balik meja jati besar milik ayahnya. Di bawah tumpukan dokumen logistik, ia menemukan sebuah map berlabel "PROYEK GARUDA MAS".
Kenzo membuka map itu dengan tangan gemetar. Isinya bukan soal pendidikan, melainkan cetak biru arsitektur. Sebuah rencana akuisisi lahan SMA Garuda untuk diubah menjadi kompleks apartemen mewah dan pusat perbelanjaan.
Di lembar terakhir, ada tanda tangan Ibu Aris sebagai perwakilan investor utama.
"Jadi ini alasannya..." gumam Kenzo. "Mereka bukan mau memperbaiki sekolah. Mereka mau membunuhnya."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat ke ruang kerja. Kenzo dengan cepat memotret dokumen itu menggunakan ponselnya, namun sebuah suara menghentikan gerakannya.
"Mencari sesuatu yang menarik, Sepupu?"
Kenzo berbalik. Di ambang pintu berdiri Vino, sepupunya yang baru saja kembali dari luar negeri—pemuda berwajah licik dengan senyum yang menyimpan sejuta muslihat. Vino dikirim oleh keluarga besar untuk memastikan Kenzo tetap "di jalurnya".
Perang sesungguhnya baru saja dimulai.