NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kartu Kredit Tanpa Limit

...୨ৎ──── C H E R R Y ────જ⁀➴...

Perasaanku terus bolak-balik antara khawatir dan marah karena Cavell gak mau memberi tahu apa yang akan dia lakukan denganku.

Sudah tiga minggu aku tinggal di mansion ini. Walaupun aku suka menghabiskan waktu bersama Nyonya Rose dan Nyonya Persiie, ketidakpastian ini perlahan menggerogotiku.

Dan keadaan makin buruk karena Cavell gak pulang selama dua belas hari. Pria itu memberi aku ciuman yang bisa mengubah hidupku, lalu dia menghilang begitu saja.

Awal minggu ini aku mengumpulkan semua keberanian untuk meneleponnya, tapi dia begitu dingin di telepon sampai aku gak mendapat jawaban apa pun. Dan sekarang aku bahkan gak punya keberanian untuk meneleponnya lagi.

Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahuku dan membuat aku terkejut.

"Maaf, sayang," kata Nyonya Persiie. "Kamu jadi pendiam akhir akhir ini, jadi kami ingin mengecek kamu."

Dia membantu Nyonya Rose duduk di balkon kamarku, tempatku sudah berjam-jam duduk memikirkan masa depanku yang gak jelas.

Aku langsung duduk tegak di kursi dan melepaskan selimut yang membungkus tubuhku.

Udara dingin awal musim hujan langsung menyerang tubuhku dan mengingatkan bahwa aku butuh pakaian yang lebih hangat.

Nyonya Rose mengangkat satu alis. "Coba cerita."

"Apa?" tanyaku.

"Apa yang kamu sembunyiin di kamar kamu?"

Tatapan Nyonya Persiie meneliti wajahku. Ekspresinya penuh kekhawatiran.

"Gak ada yang perlu kalian khawatirin," kataku untuk menenangkan mereka.

Nyonya Rose mengulurkan tangannya ke arahku. Aku langsung condong ke depan untuk menggenggamnya.

"Sayang, ceritain ke kami," katanya lagi. "Kami bisa bantu."

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

"Cavell belum kasih tahu aku apa yang akan dia lakukan dengan aku."

"Kenapa itu bikin kamu begitu khawatir?" tanya Nyonya Persiie. "Kamu gak suka tinggal bersama kami?"

"Oh, bukan begitu," kata aku cepat. "Aku senang menghabiskan waktu bersama kalian. Aku cuma ingin tahu apa yang akan terjadi dengan hidupku."

"Itu wajar," gumam Nyonya Rose. "Nanti aku bicara dengan dia saat dia pulang."

Aku terkejut mendengar itu.

"Dia akan pulang?"

"Nanti juga pulang," katanya sambil menepuk tanganku sebelum melepaskannya.

"Kalian gak perlu bicara dengan dia. Aku gak mau dia berpikir kalau aku ngadu."

Karena itu hanya akan membuatku dalam masalah.

Kami tiba-tiba mendengar suara helikopter. Kepalaku langsung menoleh ke arah danau.

"Mungkin itu Cavell," kata Nyonya Rose sambil berdiri. "Keii, bantu aku ke balkon supaya aku bisa menyambutnya."

"Makasih," gumamku. Mataku bergantian melihat mereka dan danau.

"Tentu aja, sayang. Kami tunggu kamu di makan malam," kata Nyonya Rose.

"Oke."

Aku melihat Nyonya Persiie menuntunnya melewati kamarku dan keluar dari pintu. Setelah mereka pergi, aku kembali menatap pemandangan danau.

Suara helikopter makin keras. Saat helikopter itu muncul, angin dingin menerpa tubuhku dan aku langsung memeluk diri sendiri.

Helikopter itu mendarat. Beberapa saat kemudian Cavell dan Vloo keluar.

Saat mereka berjalan melintasi halaman, Cavell menoleh ke atas. Mata kami bertemu beberapa detik sebelum dia mengalihkan pandangannya.

Kenangan tentang ciuman itu langsung menyerbu pikiranku. Rasa panas merambat di leherku saat aku terus memandanginya sampai dia menghilang dari pandangan.

Aku mengambil selimut, masuk ke kamar, lalu menutup pintu agar angin gak masuk.

Selimut itu aku lipat dan aku letakkan di ujung tempat tidur. Aku menatap sekeliling kamar sambil menghela napas.

Yang aku inginkan hanya berbicara dengan Cavell. Tapi aku juga gak mau langsung menyerangnya begitu dia masuk mansion.

Sekarang dia sudah pulang, perutku mulai terasa mual karena gugup. Gugup karena ciuman itu dan karena aku gak tahu apa keputusan yang dia buat untukku.

Aku berjalan ke pintu kamar, membukanya, lalu keluar ke koridor.

Haruskah aku turun?

Aku masih mencoba memutuskan ketika Cavell muncul dari tikungan koridor.

Mata kami bertemu, dan mulutku langsung terasa kering.

Tanpa mengatakan apa pun, dia melewatiku dan masuk ke kamarku. Aku mengikutinya ke dalam. Kerutan muncul di dahiku saat dia berjalan menuju lemari pakaian.

Dia melihat pakaian-pakaianku. Alisku terangkat saat suara mirip geraman keluar dari mulutnya.

Dia memasukkan tangan ke saku, lalu mengeluarkan dompet. Aku benar-benar bingung melihat apa yang dia lakukan.

Cavell mengambil sebuah kartu hitam dari dompetnya dan menyerahkannya padaku.

"Beli pakaian musim hujan dan pakaian buat pernikahan. Hanya akan ada empat belas tamu. Gak termasuk kita."

"Hah pernikahan?" Aku terengah.

Dia mendekat, meraih tanganku, lalu menyelipkan kartu kredit itu ke telapak tangan aku.

Saat dia menjauh, aku bertanya, "Pernikahan apa? Dengan siapa?"

"Denganku!" gumamnya sebelum keluar dari kamar.

Apa?

Gelombang sensasi aneh langsung menyebar di seluruh tubuhku.

Sial.

Beberapa detik aku hanya berdiri terpaku sebelum akhirnya berlari mengejarnya.

Aku menyusul Cavell saat dia melewati area menuju sayap kanan mansion.

"Kamu gak bisa cuma bilang kita bakal menikah lalu pergi gitu aja."

Tanpa menoleh ke arah aku, dia berkata, "Aku capek, Cherry."

Saat dia masuk ke kamarnya, aku berhenti di depan pintu. "Kita bisa bicara nanti?"

Dia menatapku sambil melonggarkan dasinya. "Besok."

Tatapanku menyusuri wajah tampannya. Melihat kelelahan yang terpaut di wajahnya, aku bertanya pelan, "Kamu baik-baik aja?"

Dia terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Dia menatapku beberapa detik sebelum menjawab, "Aku baik. Dua minggu ini berat."

Aku mengangguk lalu mundur satu langkah.

Sesaat aku ragu, lalu bertanya, "Mau aku buatkan teh chamomile? Bisa bantu Kamu lebih rileks."

Dia menggeleng.

"Gak. Aku cuma mau mandi lalu tidur."

"Oke."

Aku berbalik untuk pergi, tapi dia memanggilku.

"Cherry."

Aku menoleh lewat bahu.

"Kartu kredit itu gak ada limitnya. Bawa beberapa pengawal saat kamu keluar dari mansion untuk beli pakaian. Musim hujan di sini jauh lebih keras daripada di Langkawi, jadi kamu harus berpakaian hangat."

Jariku menyentuh kartu kredit itu. Sebuah senyum muncul di bibirku. "Makasih."

Dia mengangguk lalu menutup pintu di antara kami.

Aku akan menikah dengan Cavell Rose.

Ya Tuhan.

Aku berlari kembali ke kamar dan melihat nama yang tercetak di kartu kredit itu.

Mr. DC Rose.

Gila.

Aku hampir gak bisa memproses semua yang baru saja terjadi. Dengan pikiran kacau, aku berjalan ke tempat tidur lalu duduk di tepi kasur.

Aku akan menikah dengan Cavell.

Sebelum menciumku, dia bilang dia gak pernah mengubah keputusan setelah membuatnya. Jadi gak ada yang bisa menghentikan pernikahan ini.

Aku akan menjadi istri Capo dei Capi.

Sial.

Aku duduk dalam keadaan syok sampai kamar mulai gelap. Baru saat itu aku sadar bahwa aku gak perlu kembali ke Langkawi. Aku gak perlu melihat orang tuaku lagi.

Rasa lega yang luar biasa langsung menyebar di tubuh aku. Mataku perlahan terpejam.

Terima kasih.

Hidupku di mansion ini sangat baik sejauh ini. Kalau beruntung, mungkin gak akan banyak berubah setelah aku menikah dengan Cavell.

Aku akan menghabiskan lebih banyak waktu dengan Nyonya Rose dan Nyonya Persiie.

Mansion ini akan menjadi rumahku.

Saat membuka mata, senyum mulai muncul di sudut bibirku. Tapi kemudian aku teringat ciuman yang Cavell berikan.

Dia ingin tahu apakah aku bisa punya anak. Jadi kemungkinan besar dia mengharapkan pewaris.

Alisku terangkat saat menyadari apa artinya itu.

Seks.

Sejak dulu aku tahu aku harus berbagi tempat tidur dengan pria yang akan aku nikahi. Tapi menyadari bahwa Cavell adalah pria yang akan mengambil keperawananku membuat gelombang gugup menyapu tubuhku.

Setidaknya aku gak merasa jijik seperti saat memikirkan Luke.

Aku menarik napas dalam-dalam, berdiri, lalu meletakkan kartu kredit di samping HP sebelum keluar dari kamar dan turun untuk makan malam.

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!