NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 - Spotlight

Setelah hampir saja membuka mulut tentang Henry dan Ana kepada Caca, aku memilih diam. Caca sempat mengirim pesan, menanyakan lagi dengan nada mendesak, namun tetap tak kubalas. Belum saatnya ia tahu tentang mereka. Sejak itu, di kantor aku menjaga jarak. Aku hanya berbicara dengan Caca seperlunya saja, sebatas urusan pekerjaan.

Dan hari ini, pikiranku tidak boleh bercabang ke mana-mana. Hari yang kutunggu sekaligus menegangkan akhirnya tiba—hari perilisan produk baru, produk yang lahir dari ideku sendiri. Acara besar ini digelar di aula utama sebuah hotel bintang lima di pusat kota, dengan persiapan yang begitu matang.

Begitu aku melangkah masuk, mataku langsung disambut warna merah-oranye yang menyala dan hitam-emas yang elegan. Dua kombinasi itu mendominasi dekorasi, seakan-akan merangkul semua orang yang hadir. Nuansa merah-oranye mewakili tteokbokki, sementara hitam-emas melambangkan jjajangmyeon instan. Aku menatap sekeliling dengan perasaan campur aduk—deg-degan, bangga, juga sedikit takut kalau ada yang tidak berjalan sesuai rencana.

Spanduk besar bertuliskan Grand Launching Natura Foods terbentang megah di belakang panggung, dihiasi logo baru yang kami buat dengan penuh pertimbangan. Di sisi kanan dan kiri, poster produk terpampang dengan desain mencolok. Semua terasa nyata, seolah aku sedang berada di tengah mimpi yang dulu hanya kubicarakan di ruang rapat.

Aku dan tim marketing sibuk mondar-mandir memastikan detail terakhir. Bersama Fera dan Riki, aku merapikan booth sampel produk, sementara Merry, Dina, dan Beni membantu mengawasi food station yang ditangani katering. Kami saling melirik dan memberi kode semangat, seolah berkata: sebentar lagi semua akan dimulai. Rasanya semua orang bekerja lebih cepat dari biasanya, digerakkan oleh satu semangat yang sama: menjadikan hari ini sukses.

Aku melirik jam tangan. Di luar ruangan, suara riuh mulai terdengar. Media sudah berdatangan, kilatan kamera sesekali menembus celah pintu yang terbuka. Suara MC yang berlatih terdengar samar, memanggil tamu undangan untuk menempati kursi putih yang tersusun rapi.

Aku mengusap kemeja putih yang kukenakan, memastikan tidak ada lipatan mengganggu. Rok hitam yang kugunakan terasa pas, tapi bukan itu yang membuatku gelisah. Dadaku seperti dihantam palu berkali-kali. Aku tahu, hari ini bukan sekadar launching. Ini tentang pembuktian. Tentang ide kecilku yang akhirnya diberi kesempatan untuk menjadi besar.

“Lia, sini sebentar.” Fera memanggilku sambil menenteng clipboard.

Aku segera menghampirinya. “Ada apa, Ra?”

“Kamu cek sekali lagi rundown. Jangan sampai ada yang kelewat.”

Kami berdiri berdampingan, memastikan urutan acara: sambutan CEO, penayangan video iklan, sesi tanya jawab media, lalu penutup dengan mencicipi produk. Semua sudah siap.

“Oke. Kalau gitu kita tinggal berdoa semoga lancar.” Fera menepuk bahuku.

Aku menghela napas dalam. “Semoga, ya.”

Beberapa menit kemudian, suasana aula berubah drastis. Henry memasuki ruangan.

Aku tidak bisa menahan diriku untuk menoleh. Seperti biasa, kehadirannya langsung mencuri perhatian semua orang. Jas biru tua membalut tubuhnya, dasi perak memberi kesan elegan. Cara ia berjalan—tegak, mantap, tanpa ragu—membuat banyak kepala spontan berbalik. Di belakangnya, Dimas mengikuti sambil membawa berkas.

“Pak Henry!” seru MC dari panggung, penuh semangat. “Selamat datang di acara Grand Launching produk terbaru Natura Foods!”

Tepuk tangan meriah bergema. Musik ceria diputar, kamera televisi lokal dan media online langsung mengarahkan lensa ke wajah Henry. Aku buru-buru mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk menata meja booth.

Namun, jujur saja, dari kejauhan pun aku bisa merasakan wibawa pria itu. Aura dingin yang biasa kulihat di ruang rapat kini berubah jadi pesona publik yang memikat. Entah bagaimana caranya, Henry selalu bisa menyesuaikan diri dengan panggung.

Acara resmi dimulai. MC membuka sambutan singkat, lalu mempersilakan Henry naik ke panggung.

Aku ikut bertepuk tangan ketika ia berdiri. Semua mata tertuju padanya. Ia melangkah ke podium dengan percaya diri, suara riuh tepuk tangan segera berganti hening penuh perhatian.

“Selamat siang, Bapak dan Ibu sekalian,” ucapnya, suara tegas namun hangat. “Hari ini adalah hari penting bagi Natura Foods. Kami meluncurkan produk baru yang lahir dari semangat inovasi, sekaligus keinginan untuk memberikan kebahagiaan sederhana bagi semua kalangan.”

Slide di layar besar menampilkan kemasan produk. Henry melanjutkan, “Tteokbokki dan jjajangmyeon instan ini bukan sekadar makanan. Ia adalah pengalaman. Kami ingin menghadirkan cita rasa Korea yang selama ini hanya bisa dinikmati di restoran, kini tersedia di rumah masing-masing, mudah, terjangkau, dan tetap lezat.”

Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan senyum. Kata-kata itu… terdengar persis seperti kalimat yang pernah kuucapkan di rapat. Henry memang tidak menyebut namaku, tapi aku tahu. Itu ideku. Dan kini, ia menjadikannya bahasa perusahaan di depan publik. Rasanya seperti menonton mimpiku dibacakan dengan suara orang lain.

Lampu ruangan meredup. Semua orang menahan napas. Iklan perdana mulai diputar di layar besar.

Adegan pertama: seorang siswi SMA pulang sekolah dengan wajah lelah, lalu tersenyum cerah ketika menyantap semangkuk tteokbokki instan. Lalu adegan berganti: sekelompok mahasiswa duduk di kamar kos sederhana, tertawa bersama sambil berbagi jjajangmyeon.

Musik latar riang, hangat, penuh semangat kebersamaan. Dan akhirnya muncul tagline:

“맛있게, 쉽게, 행복하게. Lezat, mudah, membahagiakan.”

Aku merinding.

Seketika ruangan dipenuhi tepuk tangan meriah. Beberapa wartawan sibuk memotret layar, sebagian menulis cepat di ponsel. Aku sempat mendengar bisikan positif: “Konsepnya bagus sekali.”

“Tagline-nya catchy.”

Aku menunduk, menahan senyum yang hampir pecah.

Sesi tanya jawab dimulai. Wartawan melontarkan pertanyaan seputar harga, distribusi, hingga target penjualan. Henry menjawab dengan lugas, sesekali melemparkan detail pada tim lain.

“Untuk harga, kami pastikan terjangkau,” katanya. “Mulai dari sepuluh ribu rupiah per porsi. Kami ingin semua kalangan bisa menikmatinya. Lili, bisa tambahkan soal strategi promosi?”

Aku hampir menjatuhkan pena yang kugenggam. Spontan, aku berdiri. Panitia menyodorkan mikrofon.

“Terima kasih, Pak Henry,” ucapku, lalu menatap ke arah audiens. “Kami sudah menyiapkan rangkaian promosi, dimulai dari teaser di media sosial hingga kerja sama dengan influencer. Harapannya, produk ini tidak hanya dikenal, tetapi juga dicintai, terutama oleh anak muda.”

Beberapa wartawan tersenyum, lalu salah satunya bertanya, “Kenapa memilih tagline bahasa Korea? Tidak khawatir masyarakat tidak mengerti?”

Aku menarik napas. “Kami menambahkan terjemahan bahasa Indonesia di bawahnya. Justru penggunaan bahasa Korea bisa menarik perhatian generasi muda yang dekat dengan budaya tersebut. Itu membuat produk lebih otentik sekaligus kekinian.”

Ada sorakan kecil dari barisan mahasiswa undangan. Aku nyaris tertawa melihat antusiasme mereka.

Saat menoleh sekilas, aku menangkap Henry menatapku dengan ekspresi nyaris datar, tetapi ada kilau samar di matanya. Kilau bangga.

Sesi terakhir: mencicipi produk.

Food station langsung diserbu tamu. Aroma pedas gurih tteokbokki dan manis khas jjajangmyeon memenuhi udara. Beberapa influencer sibuk merekam konten TikTok, memuji rasa produk dengan suara lantang.

Aku ikut membagikan sampel, meski tanganku sempat gemetar.

“Lili.”

Aku menoleh. Henry berdiri tidak jauh dariku, jasnya sudah dilepas, hanya mengenakan kemeja. Senyum samar terukir di bibirnya.

“Ya, Pak?”

“Kamu bekerja dengan sangat baik hari ini.”

Aku hampir salah langkah. “T-terima kasih, Pak.”

Dia mendekat sedikit, suaranya merendah, nyaris tenggelam oleh riuh keramaian. “Kamu tahu? Dari semua peluncuran produk yang pernah kita lakukan… ini yang paling terasa hidup.”

Aku menahan napas. Tatapan matanya bertemu denganku hanya sekejap, tapi cukup membuat wajahku panas. Aku buru-buru menunduk, menyodorkan sampel ke tamu lain agar tidak terlihat canggung.

Tapi jantungku berdebar lebih kencang daripada suara tepuk tangan tadi.

Acara ditutup dengan foto bersama. Aku berdiri di barisan depan, mencoba tersenyum senatural mungkin. Kilatan kamera menyala berkali-kali. Meski fokusku harus pada kamera, aku sadar Henry beberapa kali melirik ke arahku, seakan memastikan aku baik-baik saja.

Ketika semua orang mulai bubar, aku duduk sebentar, menghela napas panjang. Kakiku pegal, kepalaku pusing, tapi hatiku terasa penuh.

Aku menatap panggung yang perlahan dibongkar. Senyum samar muncul di bibirku.

Ide kecilku… benar-benar bisa sampai sejauh ini.

Dan entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya tentang pekerjaan. Bukan hanya tentang keberhasilan produk. Tapi tentang tatapan Henry yang masih membayang-bayang bahkan setelah acara selesai.

Seolah… di balik semua kerja keras hari ini, ada arti lain yang hanya bisa kurasakan di dalam dadaku sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!