NovelToon NovelToon
Subosito

Subosito

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: eko yepe

Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.

Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.

Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka

Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.

Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?

Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan Beracun

Istana Kadipaten malam itu tampak seperti potongan surga yang turun ke bumi. Ribuan lampion sutra berwarna kuning bergantungan diantara pilar-pilar marmer yang megah, memantulkan cahaya di lantai hingga menyerupai permukaan air yang tenang.

Suara gamelan yang mengalun mendayu-dayu memenuhi udara, beradu dengan aroma wangi kemenyan dan hidangan kelas atas yang menggugah selera. Namun, bagi Subosito, kemewahan ini terasa seperti sebuah peti mati yang dihias dengan bunga-bunga cantik.

Mengenakan pakaian pesilat pengelana dari kain lurik kasar yang sengaja dipilih untuk menyamarkan identitasnya, Subosito duduk di barisan tamu pinggiran. Di depannya, meja-meja rendah dari kayu jati penuh dengan penganan.

Jauh di depan terlihat Sang Adipati duduk di atas singgasana emas. Pria itu tampak seperti mayat hidup; mata cekung, kulitnya pucat keabu-abuan, dan hanya bergerak ketika Patih Mangkubumi membisikkan sesuatu ke telinganya.

Di samping sang Patih, duduk seorang pria dengan raut wajah yang lebih tajam dan licik—Tumenggung Kerti Rekso. Dialah sosok Durjana yang dikenal sebagai ahli racun dan strategi kotor Kadipaten. Matanya yang sipit terus menyisir tamu, mencari satu sosok yang dia curigai sebagai pembawa ramalan kuno.

“Gusti Adipati sangat menghargai kehadiran para pendekar pengembara malam ini,” suara Patih Mangkubumi menggelegar, memecah keriuhan pesta. "Sebagai tanda kehormatan, setiap tamu akan disajikan hidangan khusus: Sup Jamur Hutan Lawu yang dimasak dengan rempah rahasia istana!"

Subosito merasakan getaran halus di punggungnya. Segel Garuda Paksi tidak panas, tapi berdenyut dengan frekuensi yang cepat—sebuah peringatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Seorang pelayan muda dengan tangan gemetar meletakkan porselen kecil di depan Subosito. Cairan di dalamnya berwarna bening kecokelatan, mengepulkan aroma gurih yang sangat menggoda.

Namun, saat Subosito mendekatkan wajahnya ke sup itu, hidungnya yang dilatih oleh udara murni pegunungan menangkap satu aroma asing: bau amis yang sangat samar, mirip dengan bau tanah basah yang bercampur dengan karat besi.

Racun Kalajengking Hitam.

Pikiran Subosito melayang pada ingatan yang dibisikkan seorang pengemis di pasar tadi siang. Racun itu tidak membunuh secara langsung, racun itu bekerja seperti pembeku.

Racun Kalajengking Hitam mencari energi panas di dalam tubuh dan mengkristalkannya, membuat aliran tenaga dalam tersumbat dan kekuatan magis apa pun akan terkunci, menyebabkan rasa sakit yang luar biasa seolah-olah darah berubah menjadi pecahan kaca.

Subosito melirik ke arah panggung utama, Tumenggung Kerti Rekso sedang mengawasi sambil mengangkat cawan anggurnya sendiri. Sudut bibir terangkat membentuk senyum tipis yang penuh kemenangan.

Mereka tahu siapa dia, ini bukan sekadar perjamuan; ini adalah eksekusi yang disamarkan sebagai pesta.

Jika Subosito tidak meminumnya, para prajurit yang bersiaga di setiap sudut akan curiga, dan segera mencari alasan, dia menghina jamuan Adipati. Namun jika pemuda itu meminumnya, dia akan mati sebelum sempat mendekati Sang Adipati untuk melakukan penyembuhan.

“Percayalah pada apimu, Subosito,” suara Nyai Ambarwati terngiang di relung kepala Subosito. “Api murni tidak bisa ditahan, ia hanya bisa menyala jika wadahnya menyerah!”

Dengan gerakan yang tenang, Subosito mengangkat mangkuk itu, lalu meminumnya dalam satu tegukan besar.

Satu embusan napas pertama, rasa gurih memenuhi lidahnya, hingga tiga embusan napas berikutnya, bencana dimulai.

Rasa dingin yang luar biasa tiba-tiba meledak di dalam perut Subosito, menyebar secepat kilat menuju tulang belakangnya—tepat ke arah Segel Garuda Paksi.

Subosito merasa seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya. Darahnya mendingin secara tidak wajar, dan keringat dingin mulai membasahi dahi.

Di hadapan publik, Subosito tetap duduk tegak, memaksa wajahnya tetap datar, meski di dalam tubuhnya sedang terjadi peperangan dahsyat. Racun Kalajengking Hitam itu mulai mengacaukan inti api emasnya, mencoba membungkus energi Garuda Paksi dengan lapisan es mistis yang hitam pekat.

Sakit...

Gigi Subosito bergemeletuk halus, seraya memeras lututnya di bawah meja hingga ruas-ruas jarinya memutih. Pandangannya mulai kabur, suara gamelan terdengar seperti dengungan lebah yang menyakitkan.

“Bagaimana supnya, Anak Muda?” Tumenggung Kerti Rekso tiba-tiba berdiri dan melangkah turun dari panggung, mendekati barisan tamu pengembara. Nada suaranya penuh ejekan. "Kau tampak, sangat menikmatinya hingga tak bisa berkata-kata!"

Subosito mendongak perlahan, matanya mulai memancarkan guratan merah akibat tekanan dari dalam tubuhnya. Subosito bisa merasakan energi Garuda Paksi yang sedang meronta-ronta di balik segelnya, marah karena mencoba dipadamkan oleh racun hina tersebut.

"Sangat, sangat berkesan, Gusti Tumenggung," jawab Subosito, suaranya parau mencoba tetap stabil. Setiap kata yang pemuda itu ucapkan, terasa seperti tarikan napas di tengah kebakaran.

Kerti Rekso berhenti tepat di depan Subosito, menunduk, lalu berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh pemuda itu. "Jangan memaksakan diri, titisan burung api. Racun itu akan membekukan jantungmu dalam sepuluh embusan napas. Jika kau menyerah sekarang dan menyerahkan cincin itu, mungkin aku akan memberikan penawarnya!"

Subosito memejamkan mata, di dalam batinnya tak lagi melawan racun itu. Subosito justru melakukan apa yang dipelajarinya saat Tapa Pendem : Subosito membiarkan racun itu masuk lebih dalam, lalu memeluk racun itu dengan api emasnya.

Subosito tidak membakarnya dengan ledakan, melainkan melelehkannya dengan panas yang berkala, secara terus menerus dan lembut.

Manunggal...

Suhu tubuh Subosito melonjak, uap tipis mulai keluar dari pori-pori kulitnya, tersamarkan oleh asap kemenyan yang memenuhi ruangan.

Butiran es dari racun di dalam nadinya mulai retak, rasa sakitnya justru berlipat ganda saat es itu kembali mencair menjadi api, Subosito tetap tak bergeming seperti arca batu.

Satu, dua, tiga.

Pada umumnya, alih-alih tumbang, Subosito justru membuka matanya. Mata cokelatnya sejenak berpendar emas cerah, memancarkan aura wibawa yang membuat Tumenggung Kerti Rekso terhuyung mundur kaget karena kejutan.

“Terima kasih atas jamuannya!” ucap Subosito, kali ini dengan suara yang jauh lebih bertenaga. "Namun, sepertinya rempah-rempah rahasia istana tidak cukup kuat untuk menjamin dahaga seorang pengembara dari Lawu!"

Memucat Wajah Kerti Rekso, “Bagaimana bisa! Aku tak percaya!”

Racun Kalajengking Hitam adalah ramuan paling mematikan yang pernah dibuatnya, bahkan bisa menjatuhkan seekor gajah dalam hitungan sepuluh embusan napas.

Bagaimana mungkin bocah ini masih bisa bicara dan duduk tegak?

Patih Mangkubumi yang melihat dari singgasana segera memberi kode pada para penari yang sedang tampil. Tarian yang tadinya lembut berubah menjadi gerakan yang lebih cepat dan agresif. Para penari itu membawa keris yang terhunus, dan gerakan mereka mulai membentuk formasi yang mengurung Subosito.

Ketegangan hampir mencapai puncaknya, setiap tamu kini menahan napas, menyadari ada sesuatu yang tidak beres di tengah aula tersebut. Namun, di tengah kemelut itu, seorang pelayan wanita mendekati Subosito dan meletakkan sebuah nampan berisi air putih. Di bawah cawan air itu, terdapat secarik kertas kecil.

Subosito melirik kertas itu sambil meminum air putih—yang kali ini benar-benar murni.

"Ikuti aku saat lentera dimatikan. Waktumu di sini habis. Mangkubumi akan menguasai istana ini, dan mungkin saja akan membunuhmu!"

Tanda di bawah kertas itu adalah gambar sekuntum bunga Melati—simbol pribadi Putri Dyah Ayuwangi.

Tiba-tiba, sebuah suara ledakan kecil terdengar dari arah dapur istana, disusul dengan padamnya seluruh lampion secara serentak. Kegelapan total aula, teriakan panik tamu undangan pecah. Para prajurit berteriak memberikan perintah yang tumpang tindih.

Subosito merasakan sebuah tangan halus menarik lengannya di kegelapan.

"Cepat, sebelum Kerti Rekso menggunakan indra penciuman batinnya untuk melacakmu!" bisik suara yang sangat dikenal Subosito.

Dyah Ayuwangi yang melepas pakaian penyamarannya, menyeret Subosito menembus kepadatan yang kacau. Mereka tidak menuju pintu keluar utama, melainkan ke arah dinding di belakang singgasana Adipati. Dyah menekan sebuah ornamen ukiran kayu, dan sebuah pintu rahasia terbuka, menelan mereka berdua ke dalam lorong yang dingin dan gelap.

Pintu itu tertutup tepat saat cahaya obor para prajurit mulai menyala di dalam aula istana.

Lorong itu gelap, Subosito jatuh terduduk. Sisa-sisa racun yang dinetralkan olehnya, menyisakan rasa lemas yang luar biasa.

"Kau gila meminum itu!" desis Dyah Ayuwangi sambil memapah Subosito. "Meski begitu kau telah membuktikan satu hal: kau memang benar-benar dia. Sang pembawa Warangka Jati!"

"Apa, apa itu Warangka Jati?" tanya Subosito sambil mengatur napasnya yang tersengal.

Dyah Ayuwangi membantu Subosito berdiri dan menuntunnya menuruni tangga batu yang melingkar jauh ke bawah tanah.

"Rahasia yang membuat Mangkubumi sangat ketakutan. Rahasia tentang mengapa api Garuda Paksi bukan sekadar kekuatan, tapi kunci untuk membuka sejarah yang dipalsukan di negeri ini!"

Di dasar tangga, sebuah ruangan luas terbuka. Itu bukan penjara, melainkan sebuah perpustakaan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad di bawah fondasi istana Kadipaten.

Ribuan manuskrip emas dan kotak-kotak kayu jati berukir berderet rapi. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja batu dengan sebuah kitab yang memancarkan cahaya biru redup.

“Selamat datang di pusat Kadipaten yang sesungguhnya, Subosito,” ucap Dyah Ayuwangi lembut. "Di sini, kau akan menemukan apa itu yang disebut Warangka Jati!”

Subosito baru saja selamat dari maut yang disajikan di atas piring emas, tetapi kini dihadapkan pada kenyataan yang jauh lebih berat. Di bawah tanah istana, sejarah mulai berbisik, mengungkapkan pengkhianatan yang jauh lebih dalam dari sekadar perebutan takhta.

Apakah isi dari Kitab Warangka Jati yang membuat para penguasanya gemetar? Dan apa yang membuat Putri Dyah Ayuwangi tetap menuntun Subosito?

Jangan lewatkan kelanjutan kisah Subosito.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!