NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta Berondong

Terbelenggu Cinta Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mahlina

Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.

Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.

Di balik ruang kebesaran Joseph.

"Pelan pelan, sayang!"

"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"

"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"

"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"

"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.

Ceklek.

"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"

Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

...🌻🌻🌻🌻🌻...

Bi Yati berjalan mundur, hendak menutup pintu kamar yang akan di tempati Jenny. Sementara di belakangnya ada Jenny tengah fokus menatap ponselnya.

Brugh.

Prak.

“Ponsel ku!” Jenny memekik kaget, ponsel yang semula berada dalam genggamannya kini tergeletak di lantai.

Bi Yati memungut ponsel Jenny dari lantai, dengan wajah pias dan bersalah, ‘Ya Tuhan! Ada aja masalah ku. Baru juga tiba di kediaman Tuan besar! Semoga ponsel Non Jen gak kenapa kenapa! Mana ponsel mahal.’

‘Semoga ponsel ku gak mati!’ jerit batin Jenny penuh harap.

“Makasih, bi!” beo Jenny, menerima ponselnya dari tangan bi Yati yang gemetar.

“Maaf Non! Bibi gak sengaja! Bibi gak lihat ada Non di belakang! Tolong jangan pecat bibi, Non! Jangan potong gaji bibi juga ya, Non! Ponsel Non Jen pasti mahal bangat! Semoga ponsel Non gak kenapa kenapa!” cerocos bi Yati dengan tatapan bersalah, ia bahkan menangkupkan kedua tangannya di depan wajah.

“Eh gak gitu kok, bi! Ini salah saya juga, saya gak lihat jalan. Maaf ya, bi!” timpal Jenny, mencengkram lembut lengan sang asisten rumah tangganya itu dengan tatapan gak enak hati.

Bi Yati menatap haru Jenny, “Ya gusti, bersukur bangat saya punya majikan kaya Non! Di cek dulu Non ponselnya. Tapi kalo alamat ponsel Non mati, gimana Non?”

“Loh Non, masih di sini? Nungguin bi Sari ya?” beo bi Sari. Melihat Jenny tampak fokus dengan ponselnya, sementara rekannya bi Yati. Tampak tegang, harap harap cemas dengan tatapan fokus pada ponsel Jenny.

Dada Jenny semakin sesak, ponselnya gak mau menyala, bukan karena banyak foto kenangan dengan ia dan Joseph. Melainkan, ponsel itu adalah ponsel kesekian kalinya yang Jaya berikan padanya.

“Bibi balik kamar aja, atau kerjain yang lain. Saya mau di pijat dulu sama bi Sari.” titah Jenny sebelum berbalik badan, menuju kamarnya.

“I- iya Non! Sekali lagj maafin bibi ya, Non!” beo bi Yati.

Sari mengerdikkan dagunya, menatap Yati penuh tanya, “Kamu udah buat salah apa lagi, mbak?”

“Di larang tau! Udah sana buru! Pijetin Nona Muda ku! Non pasti lelah seharian sibuk di luar rumah.” bi Yati mengibaskan tangannya, bak mengusir anak ayam.

Sari mendengus kesal, menyusul langkah Jenny, tapi tatapan nya masih terfokus pada bi Yati, terbilang asisten rumah tangga senior di keluarga Jaya.

“Dasar mbak pelit! Aku pasti akan tau dari Non Jen!”

Sementara Jenny, netranya mengedar di tengah kamar. Memperhatikan tiap sudut ruang. Di mana banyak momen yang sudah ia habiskan di kamar itu.

‘Aku gak pernah nyangka, kembali lagi menempati kamar ini. Kamar yang aku tinggalkan selama menikah dengan mas Jo.’ pikir Jenny.

Dari ambang pintu kamar, Sari menatap penuh tanya Nona mudanya itu, ‘Kalo di pikir pikir, gak ada yang salah dengan pertanyaan ku! Kali aja kan, Non Jen lagi hamil. Secara Non Jen dan Tuan muda sudah 2 tahun menikah. Tapi kenapa juga Tuan besar yang marah? Harusnya kan senang bakal menimang cucu.’

Sari menggeleng, menepis isi pikirannya, sebelum ia menghampiri Jenny. Gak lupa menutup pintu kamar yang akan di tempati Jenny kembali.

“Tunggu apa lagi, Non? Buru masuk Non! Biar bisa langsung bibi pijat! Non pasti udah kangen sama pijetan tangan bibi! Di jamin, abis di pijat. Malamnya Non bakal tidur pulas!”

“Saya ganti baju dulu, bi!” beo Jenny.

Sementara di sisi lain, jam kerja kantor baru aja usai. Semua karyawan dengan pasti, satu persatu ke luar meninggalkan gedung.

Dari tempatnya berpijak, sesekali Serli menoleh ke arah resepsionis dan ruang hrd bergantian, bak seorang pengintai yang sedang menjalankan misi berbahaya.

“Aduh, gimana caranya ya? Kalo langsung nyamperin ke meja resepsionis. Ketawan bangat itu mah! Mancing curiga yang ada  belum lagi mbak Reina pasti kepo, gak biasa nya kan gua ngobrol sama Lia.” gumam Serli.

“Loh, bu? Ngapain di sini? Biasanya langsung pulang! Ada yang di tunggu ya?” tegur Deri, saat sudah berdiri di depan Serli.

Serli memutar bola matanya malas, “Bukan urusan mu! Sana pulang! Ngapain masih di sini!”

Deri menatap jengah Serli, “Lagi palang merah bu? Sentimen bangat! Saya mah cuma nanya bu! Gak biasanya gitu, bu Serli gak langsung pulang! Kaya ada yang di tunggu! Tunggu jemputan ya bu?”

Serli mencengkram udara gemas, “Sumpah demi apa pun! Pak Deri langsung aja pulang! Gak usah peduli saya mau tunggu jemputan atau mau apa! Bukan urusan pak Deri kan!”

“Sekretaris aneh!” cibir Deri, sebelum berlalu dari pandangan Serli.

Serli masih sibuk memikirkan alasan apa untuk ia menyampaikan pesan Jenny. Hingga netranya melihat Lia meninggalkan meja resepsionis dengan tas di bahunya. Bukan untuk meninggalkan kantor, melainkan untuk ke toilet wanita.

Gak ingin membuang waktu, Serli melangkah kan kakinya ke arah toilet wanita.

“Kenapa Ser?” tebak Lia, saat seseorang masuk ke dalam toilet wanita. Sementara ia sendiri tengah membasuh wajahnya di depan wastafel dengan sabun.

“Ko kamu tau ini aku?”

“Tau lah! Tapi gak usah banyak tanya. Langsung aja! Takut ada orang lain masuk! Kita juga yang repot!” beo Lia.

“Bu Jenny nyuruh kamu ke minimarket dekat kontor, bu Jen ninggalin ponsel kamu di sana. Minta kita kerja sama buat ngumpulin bukti pak bos.” ujar Serli dengan serius.

Lia mengangguk mengerti, meraih tisu lalu mengelap wajahnya yang ba5ah, “Aku rasa pasti bu Jen langsung dengerin saran aku yang lain.”

Serli mengerutkan keningnya, “Saran yang lain apa?”

“Bodyguard buat kita termasuk buat bu Jen. Tau sendiri, kita ini bantuin bu Jen buat ngelawan pak bos dan bu Karin. Nyawa kan taruhannya!”

“Benar juga! Semoga misi kita buat bantuin bu Jen, berjalan tanpa ada yang curiga ya!”

Lia terkekeh, sebelum meninggalkan toilet wanita, “Amin! Tapi omong omong! Jangan terlalu ketus lah sama pak Deri! Gaswat loh kalo ampe ke hati!” 

“Kenapa jadi nyasar ke pak Deri sih? Dasar resepsionis aneh! Bisa bisanya bu Jen minta bantuan Lia buat ngumpulin bukti perselingkuhan pak bos.”

Berbeda situasi dan tempat, namun masih di waktu yang sama.

Alan menatap langit langit kamarnya, dengan kedua tangan membentang. Kedua kakinya menggantung ke lantai.

“Aku harus muter otak nih! Gimana caranya bisa ngambil perhatian itu mbak cantik! Secara umur kita beda, pikiran juga pasti beda. Tapi itu yang harus di bikin sejalan pikirannya!” gumam Alan pada dirinya sendiri.

[ “Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif. Atau berada di luar jangkauan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi.” ]

Alan berdecak kesal, “Kenapa pake gak aktif sih nomor nya! Gak bisa liat mukanya kan! Gak tau orang lagi kangen apa!”

Suara ketukan di susul seruan, mengalihkan perhatian Alan.

Tok tok.

“Boleh mama masuk, nak?” seru Alena.

“Masuk aja, mah! Gak di kunci!”

Kreeek.

Alan langsung beranjak dari posisinya, melihat Alena melangkah masuk.

“Kamu lagi santai, Lan? Mama pikir kamu lagi ngerjain tugas sekolah!” beo Alena.

“Mama ke sini mau ngomongin apa? Bukan itu kan ingin mama tanyakan?” tebak Alan penuh selidik 

Alena mendaratkan bobot tubuhnya, tepat di samping Alan. Wanita paruh baya itu, menggenggam tangan putra semata wayangnya. dengan tatapan meyakinkan.

“Mama pikir kamu keliru mengartikan perasaan mu untuk Jenny, Lan! Kalian bah kan belum saling mengenal! Baru 3 kali bertemu kan? Bukan berarti itu tanda kalian berjodoh!” beo Alena, tanpa saringan.

Raut wajah Alan berubah gak senang, ‘Papa gimana sih! Katanya mama akan setuju! Ini apa! Masih aja mencari alasan buat nolak mbak cantik!!’

“Jangan marah, Alan! Mungkin kamu hanya terpana saat pandangan pertama. Tapi setelah mengenalnya lebih jauh. Mama yakin, perasaan kamu akan pudar, karena Jenny bukan jodoh kamu!” imbuh Alena meyakinkan.

Dengan pasti, Alan melepaskan genggaman tangan sang ibu. Beranjak dari duduknya, melangkah ke arah lemari pakaiannya.

“Kamu itu masih muda, Lan! Jangan sibukkan diri kamu dengan mengejar wanita yang sudah bersuami! Mending kamu fokus pada sekolah, belajar mengelola perusahaan keluarga! Itu akan jauh lebih berguna buat masa depan kamu, Lan!” kilah Alena.

Alan mengeluarkan jaket dari dalam lemari dan mengenakan nya, ‘Mending aku ke rumah mbak cantik lah! Om Rendra pasti tau alamatnya. Dari pada di rumah, dengerin alasan penolakan mama.’

“Itu kan yang mama pikirin! Beda versi Alan! Saat ini mungkin mama belum setuju. Tapi bukan berarti Alan akan mundur untuk mengejarnya! Keputusan Alan tetap akan mengejarnya!” tegas Alan, melangkah ke arah pintu kamarnya.

Alena beranjak, menyusul langkah Alan. “Mau kemana kamu, Lan? Mama belum selesai bicara!”

Alan terus melangkah menuruni anak tangga, tanpa peduli dengan seruan Alena.

“Mama bicara aja sama papa! Papa pasti punya waktu senggang buat dengerin alasan penolakan mama!”

“Astaga, Alan! Jaga sikap kamu! Mama perlu bicara dengan kamu, nak!” seru Alena, melambaikan tangannya.

Rayan yang baru keluar dari ruang kerjanya, mendapati Alan yang sudah berada di ambang pintu utama, sementara Alena berada di ujung anak tangga.

“Astaga, kalian berdua. Ibu dan anak, Sudah seperti tom and jerry!” kekeh Rayan, menggelengkan kepala gak habis pikir.

“Ini semua gara gara papa! Kenapa sih harus merestui hubungan Alan dengan Jenny?” sentak Alena, menatap jengkel Rayan.

Rayan mengerutkan keningnya, berkata dengan santai. Sebelum berlalu dari hadapan sang istri.

“Yakin mama masih mau mendengar alasan papa? Udah siap belum itu jantung mama untuk mendengarnya?”

Rayan mengirim pesan, meski pesannya belum di baca. Tapi jelas pesannya terkirim.

^^^“Mau kemana kamu, Lan? Pergi gak pamit sama orang tua! Sopan sekali kamu jadi anak!”^^^

Ngeeeng.

Alan menunggangi motor sport nya yang berwarna merah, dengan pasti melewati gerbang rumah yang menjulang tinggi.

“Tinggal telpon om Rendra, minta kirim alamat mbak cantik!” gumam Alan dengan senyum sumringah.

Bersambung…

1
lina
waduh
lina
yah begitu lah pentingnya restu
lina
emng itu yg d arepin 🤣🤣🤣
lina
lama amat makan doang ampe 1 jam
lina
wah wah wah. enaknya d apain y 🤔
lina
🤔🤔 kalo mabok... suka dvluar nurul gitu sikapnya?
lina
kaga mabok. cuma minum dikit doang 🤣
lina
obsesi lah itu mah
lina
udah bulet nih. mau ngejer janda 🤣
lina
tul itu
lina
udh brpa kali pindah kerja bi? bneran di pecat gegara devi? lempar bae anak begitu mah
lina
pede gila u 🤣🤣
lina
keracunan iya 🤣🤣
lina
adem kan d liat nya
lina
pembantu ngelunjak lgi
lina
🤣🤣 tau bae nuari alasan
lina
klo siang, nmanya solat zuhur
lina
mimpi apa s neng? seneng bagt kayanya 🤣🤣
lina
situ waras? ko bisa punya anak dr wanita lain?
lina
dia bapak kndung u cok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!