NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Kilas balik dari penderitaan Lady Genevieve yang asli melintas di benaknya, memberikan bahan bakar pada api amarahnya. Tabib tua itu telah berdiri di ruangan ini setiap hari selama sebulan penuh. Pria itu menatap wajah pucat Genevieve yang asli dengan senyum kebapakan palsu, menyuruhnya meminum 'obat' yang pelan-pelan membunuhnya, menyaksikan wanita itu layu dari hari ke hari demi sekantong keping emas dari ibukota. Silas bukan hanya seorang pembunuh; ia adalah penyiksa yang menikmati prosesnya. Malam ini, hutang darah itu akan mulai dibayar lunas.

Sayup-sayup, melampaui suara lolongan angin di luar, dentang lonceng menara pengawas berbunyi. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Lonceng itu berdentang dengan nada yang berat dan panjang, memecah kesunyian malam di seluruh penjuru Kastil Ravenscroft.

Tengah malam telah tiba. Pergantian penjaga sedang berlangsung. Perhatian seluruh penghuni kastil sedang teralih.

Lima menit berlalu setelah dentang terakhir mereda. Kesunyian kembali merajai koridor sayap barat. Lalu, pendengaran Genevieve yang telah dipertajam oleh Sistem menangkapnya. Suara decit pelan dari lantai kayu di ujung lorong luar. Langkah kaki itu tidak berat seperti sepatu bot penjaga bersenjata, melainkan langkah yang ringan, berhati-hati, dan dilapisi sol kulit lembut yang sengaja dipilih untuk menyamarkan kedatangan.

Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya.

Genevieve menahan napasnya. Jari-jarinya mencengkeram erat ukiran mawar hitam pada tusuk kondenya hingga buku-buku jarinya memutih.

Gagang besi pintu ek berputar dalam gerakan lambat yang menyiksa. Pintu terbuka sedikit demi sedikit, menyisakan celah yang cukup untuk dilalui oleh seorang pria. Tidak ada cahaya obor yang dibawa masuk. Sosok bayangan itu meluncur ke dalam kamar dengan kelicinan seekor ular berbisa, lalu menutup kembali pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang nyaris tidak terdengar.

Dari balik celah tirai, Genevieve memperhatikan siluet yang kini berdiri membelakangi pintu. Pria itu mengenakan jubah abu-abu gelap yang menyatu dengan kegelapan ruangan. Sosoknya sedikit bungkuk, namun gerakannya tidak menunjukkan kerapuhan usia tua. Udara di dalam kamar perlahan dipenuhi oleh aroma samar yang menempel pada jubah pria itu—kombinasi tajam dari alkohol medis, kapur barus, dan aroma manis bunga poppy kering. Itu jelas Tabib Silas.

Silas berdiri terdiam selama beberapa detik, matanya mencoba membiasakan diri dengan keremangan kamar. Hanya ada sedikit cahaya bulan pucat yang menyelinap dari jendela sempit, jatuh tepat di atas ranjang kanopi yang menonjolkan tumpukan selimut di tengahnya.

Dari dalam saku jubahnya, Tabib Silas mengeluarkan sebuah benda. Benda itu terlihat empuk dan besar. Sebuah bantal ekstra tebal berbahan bulu angsa padat, yang jelas ia bawa dari kamarnya sendiri agar tidak menggunakan bantal milik Genevieve dan meninggalkan jejak bulu yang mencurigakan jika penjaga menyelidikinya nanti.

Genevieve melihat Silas menarik napas dalam-dalam. Ada sebuah kekehan pelan, sangat pelan dan serak, yang keluar dari kerongkongan pria tua itu. Kekehan yang memancarkan rasa superioritas murni dan kekejaman absolut. Pria itu mengira ia datang untuk menyembelih seekor domba yang sudah setengah mati.

Langkah demi langkah, Silas bergerak maju. Ia tidak lagi menyembunyikan suara langkah kakinya, karena ia yakin majikannya sudah tidak bisa mendengar apa-apa. Pria itu berjalan memutar, mengitari tiang ujung ranjang, dan mendekati sisi kiri kasur—tepat di seberang tempat Genevieve bersembunyi.

"Tidurlah yang nyenyak, Lady Genevieve," bisik Silas dengan nada ejekan yang kental, suaranya serak dan bergetar menahan kegembiraan yang mengerikan. "Kau seharusnya mati di ibukota. Sayang sekali Nyonya Besar harus membuang begitu banyak emas hanya untuk menyingkirkan lalat kecil sepertimu di ujung dunia ini. Tapi jangan khawatir, racun atau bantal... akhirnya akan sama saja. Perjalananmu berakhir malam ini."

Silas mengangkat bantal tebal itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya. Otot-otot punggungnya yang bungkuk menegang, mengumpulkan seluruh sisa tenaga tua yang dimilikinya. Dengan satu gerakan brutal yang mematikan, ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menekan bantal itu sekuat tenaga ke arah gundukan di ujung selimut, tepat di atas posisi di mana ia mengira wajah Genevieve berada.

Ia menindihnya dengan berat badannya sendiri, bersiap untuk menahan rontaan apa pun dari tubuh yang sekarat itu. "Matilah dengan tenang dan berikan kami kedamaian, wanita sialan!" desisnya ganas.

Satu detik berlalu. Dua detik. Silas menekan lebih kuat, wajahnya berkerut penuh konsentrasi.

Namun... tidak ada gerakan balasan. Tidak ada rontaan lengan yang putus asa mencoba menggapai udara. Tidak ada kaki yang menendang-nendang selimut. Dan yang paling ganjil, tidak ada suara napas tertahan dari balik bantal. Tubuh di bawah selimut itu terasa sangat aneh, terlalu keras di beberapa bagian dan terlalu lembek di bagian lain, sama sekali tidak menyerupai struktur tulang manusia.

Tangan Silas mulai bergetar. Bukan karena menahan tenaga, melainkan karena kebingungan yang tiba-tiba menyergap otaknya.

Dengan napas yang sedikit memburu, Silas mengendurkan tekanannya. Ia mengangkat bantal itu dengan satu tangan, sementara tangan kirinya yang bebas langsung menyambar tepi selimut wol kusam dan menyibakkannya dengan kasar.

Cahaya bulan pucat yang masuk dari jendela menimpa langsung ke atas kasur. Mata Silas membelalak lebar, memancarkan horor yang tidak bisa ia cerna seketika. Tidak ada tubuh wanita kurus bersimbah keringat dingin di sana. Yang ada hanyalah tiga buah bantal bulu yang disusun memanjang, berselimutkan kain wol tua yang digulung, dan beberapa helai rambut perak yang sengaja dijatuhkan di atasnya.

Sebuah pancingan murni. Sebuah jebakan badut.

"Apa-apaan ini—" gumaman Silas terhenti di pangkal tenggorokannya. Rasa dingin yang sangat mengerikan, jauh lebih dingin dari badai salju di luar, tiba-tiba merayap di tengkuk lehernya. Pria tua yang licik itu seketika menyadari bahwa ia bukan lagi si pemburu di ruangan ini. Ia adalah mangsa yang baru saja masuk ke dalam kandang secara sukarela.

Silas mencoba memutar tubuhnya untuk melihat ke belakang, jantungnya berpacu liar memompa kepanikan ke seluruh aliran darahnya.

Namun, sebelum pria itu sempat berbalik sepenuhnya, sebuah bayangan gelap melesat keluar dari balik tirai beludru di seberang kasur dengan kecepatan yang mustahil dilakukan oleh wanita sekarat.

Genevieve memotong jarak di antara mereka dalam hitungan dua detik. Ia menggunakan sisa momentum geraknya untuk melompat ringan ke atas tepi ranjang kayu, memposisikan tubuhnya lebih tinggi dari pria bungkuk itu. Tangan kirinya melesat maju seperti cakar rajawali, mencengkeram kerah belakang jubah abu-abu Silas, mengunci pergerakan pria itu dengan kekuatan yang ditenagai oleh adrenalin dan kebencian murni.

Silas terkesiap, matanya terbelalak penuh teror, mulutnya terbuka untuk meneriakkan panggilan tolong.

Namun teriakan itu tidak pernah keluar.

Tangan kanan Genevieve bergerak memotong udara. Tusuk konde perak yang ujungnya berkilau gelap karena cairan konsentrat Silvershade meluncur ke depan dengan presisi bedah yang mematikan. Ujung tajam logam itu tidak menembus kulit, melainkan berhenti tepat satu milimeter di atas pembuluh nadi berdenyut di leher samping Silas. Rasa dingin dari logam perak itu mengirimkan sengatan listrik kejut ke sekujur tubuh sang tabib, membekukan pita suaranya seketika.

"Buka mulutmu dan berteriaklah, Silas," bisik Genevieve dari balik bahunya. Suaranya terdengar sangat dekat, berhembus sedingin es di telinga pria tua itu. "Dan aku bersumpah demi Dewa Aethelgard mana pun yang kau sembah, aku akan menancapkan jarum ini ke nadimu, membiarkan konsentrat murni akar Silvershade yang kau racik sendiri mengalir langsung ke jantungmu. Kau memiliki waktu kurang dari hitungan mundur jarinya untuk mati dalam kondisi paru-paru meledak. Mau mencoba?"

Tabib Silas berdiri mematung, tubuhnya gemetar hebat layaknya daun kering yang diguncang badai. Bantal pembunuh di tangannya merosot jatuh ke lantai batu dengan bunyi gedebuk pelan. Mata tuanya melirik ke bawah dengan panik, melihat ujung perak berlumur cairan kecokelatan yang menempel menekan kulit lehernya. Pria itu menelan ludah, jakunnya bergetar liar, menyadari sepenuhnya bahwa wanita di belakangnya ini tidak sedang menggertak.

Sang Lady yang ia anggap bodoh dan pasrah, kini tengah memegang kendali penuh atas napasnya. Dan dari aura membunuh pekat yang menguar dari tubuh wanita ini, Silas tahu bahwa satu pergerakan salah saja, ia tidak akan pernah melihat matahari terbit besok pagi.

1
Bambang Widono
🙏👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄
Wahyuningsih
thor sustemnya kok cuman gitu aja gk srulah
Wahyuningsih
thor buat suaminya menyesal d buat segan matipun tk mau biar nyakho dia n buat bbadaz abuz biar mkin keren
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!