"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: RAHASIA DI BALIK DETAK JANTUNG
Malam semakin larut, namun cahaya di ruang kerja Gwen masih berpijar terang. Kalimat dari utusan Global Syndicate tadi sore terus terngiang-ngiang di kepalanya seperti kaset rusak.
"Data terakhir... jantung Elang... micro-chip."
Gwen menatap botol wiski di sudut meja, tapi dia tahu alkohol tidak akan membantunya sekarang. Dia butuh jawaban. Selama ini dia mengira Elang adalah pemburu yang haus dendam, namun ternyata pria itu adalah "wadah" dari rahasia yang paling dicari di dunia.
Gwen berdiri, langkahnya mantap menuju kamar tamu di sayap barat mansion—kamar yang ditempati Elang selama masa pemulihannya. Dia tidak mengetuk. Dengan satu dorongan kuat, pintu terbuka.
Di dalam, ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya bulan dari jendela. Elang tidak sedang tidur. Dia duduk di tepi ranjang dengan bertelanjang dada, sedang berusaha mengganti perban di bahunya sendirian. Gerakannya tampak kaku dan menyakitkan.
"Nona?" suara Elang terdengar parau dan terkejut. "Apa yang Anda lakukan di sini? Saya pikir saya sudah diusir."
Gwen menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang tajam. Dia melangkah mendekat, mengabaikan ketegangan yang mendadak memenuhi udara. Matanya tertuju pada tubuh Elang yang penuh dengan bekas luka—luka tembak, luka sayatan, dan luka bakar dari ledakan tempo hari.
Namun, fokusnya beralih pada sebuah bekas luka lama yang melintang tepat di atas jantung Elang. Bekas luka itu tampak sedikit menonjol, seolah-olah ada sesuatu yang tidak alami di baliknya.
"Buka tanganmu, Elang," perintah Gwen dingin.
"Gwen, apa—"
"Aku bilang buka tanganmu. Biar aku yang mengganti perbannya," Gwen merampas kain kasa dari tangan Elang.
Elang terdiam, membiarkan Gwen berlutut di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Gwen bisa merasakan panas tubuh Elang dan mencium aroma sabun bercampur obat luka. Jemari Gwen yang dingin menyentuh kulit hangat Elang, membuat pria itu sedikit tersentak.
Saat Gwen membersihkan luka di bahu Elang, jemarinya sengaja bergeser sedikit ke bawah, mendekati bekas luka di dada kiri pria itu.
"Bekas luka ini... dari mana?" tanya Gwen, mencoba menahan getaran di suaranya.
Elang menunduk, menatap jemari Gwen yang berada di atas jantungnya. "Ledakan sepuluh tahun lalu. Aku tertusuk serpihan logam saat mencoba menyelamatkan ayahku. Dokter bilang itu sebuah keajaiban karena tidak mengenai jantungku secara langsung."
Gwen menekan sedikit bagian yang menonjol itu. Dia bisa merasakan sesuatu yang keras dan dingin di bawah kulit Elang.
DEG.
Jantung Elang berdetak kencang di bawah telapak tangan Gwen. Detakannya begitu kuat, seolah-olah ingin menceritakan rahasia yang selama ini disembunyikan.
"Elang," bisik Gwen, matanya kini menatap langsung ke manik mata Elang yang kelam. "Apakah kamu tahu kalau ayahmu menanamkan sesuatu di dalam tubuhmu sebelum dia meninggal?"
Rahang Elang mengeras. Dia menarik tangan Gwen menjauh dari dadanya. "Apa maksudmu? Ayahku meninggal di pelukanku. Dia tidak sempat menanamkan apa pun."
"Global Syndicate baru saja menghubungiku," suara Gwen kini setajam pisau. "Mereka bilang kamu adalah kunci Proyek Gerhana. Ada chip di dekat jantungmu, Elang. Itulah alasan kenapa Sarah muncul kembali. Itulah alasan kenapa mereka belum membunuhmu. Mereka butuh jantungmu... atau setidaknya, apa yang ada di dalamnya."
Elang tertawa sumir, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Jadi... setelah aku menyelamatkan nyawamu berkali-kali, sekarang kamu mengira aku adalah alat? Kamu pikir aku mendekatimu hanya untuk melindungi chip sialan ini?"
"Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan lagi, Elang!" suara Gwen naik satu oktav. "Duniaku runtuh! Suamiku mengkhianatiku, pamanku ingin membunuhku, dan sekarang pengawalku ternyata adalah target berjalan yang menyimpan rahasia kehancuran keluargaku sendiri!"
Gwen berdiri, napasnya memburu. "Jika chip itu benar-benar ada, itu berarti setiap detik kamu bersamaku, kamu menarik maut ke arahku. Apakah kamu sadar itu?"
Elang ikut berdiri. Dia melangkah maju hingga Gwen terdesak ke dinding. Dia menaruh tangan Gwen kembali ke dadanya, tepat di atas jantungnya yang berdebar kencang.
"Jika benar ada chip di sini, maka silakan ambil, Gwen," bisik Elang di depan wajahnya. "Belah dadaku. Ambil apa yang kamu butuhkan untuk menyelamatkan perusahanmu. Bukankah itu yang dilakukan orang-orang Adiguna? Mengambil apa pun yang mereka inginkan dari keluargaku?"
"Elang, jangan bicara begitu..."
"Kenapa? Bukankah kamu membenciku semalam? Bukankah kamu bilang aku hanya pengawal bayaran?" Elang mencengkeram pinggang Gwen, menariknya lebih rapat. "Ambil chip-nya, Gwen. Dan setelah itu, kita impas. Aku tidak berutang nyawa padamu, dan kamu tidak berutang apa pun padaku."
Gwen menatap Elang dengan mata berkaca-kaca. Rasa benci dan cinta berperang hebat di dalam dirinya. Dia benci karena Elang menyimpan begitu banyak misteri, tapi dia juga benci karena hatinya masih bergetar setiap kali pria ini menyentuhnya.
"Aku tidak ingin chip-nya, bodoh..." isak Gwen akhirnya pecah. "Aku ingin kamu jujur padaku! Aku ingin tahu kalau aku tidak sendirian di dunia ini!"
Elang menatap wajah Gwen yang basah oleh air mata. Pertahanannya runtuh. Dia tidak bisa lagi bersikap dingin kepada wanita yang telah mencuri kewarasannya ini. Tanpa aba-aba, Elang membungkuk dan mencium Gwen dengan penuh tuntutan—sebuah ciuman yang meledak dengan emosi yang tertahan, rasa takut akan kehilangan, dan gairah yang menyakitkan.
Gwen membalas ciuman itu dengan sama liarnya, melampiaskan seluruh rasa frustrasinya. Di dalam kamar yang gelap itu, mereka seolah lupa bahwa dunia luar sedang mengincar nyawa mereka.
Namun, di tengah kemesraan yang intens itu, lampu mansion mendadak padam total.
KLIK.
Hanya ada satu sumber cahaya yang masuk: lampu laser berwarna merah dari arah luar jendela, tepat membidik ke arah dada Elang.
"Menunduk!" teriak Elang.
PYAARRR!
Kaca jendela hancur berkeping-keping. Peluru sniper melesat tipis di atas kepala mereka, menghantam lemari kayu di belakang Gwen.
"Mereka sudah di sini," desis Elang sambil menarik Gwen ke lantai. "Mereka tidak lagi menginginkan pembicaraan. Mereka datang untuk mengambil chip ini secara paksa."
Gwen mencengkeram baju Elang, ketakutan kini merayapi seluruh tubuhnya. "Siapa mereka, Elang?"
"Tim pembersih Global Syndicate. Dan jika Sarah ada bersama mereka, maka kita tidak punya waktu untuk melarikan diri lewat pintu depan."
Elang meraih pistolnya dari bawah bantal. Dia menatap Gwen dengan tatapan yang sangat dalam. "Gwen, dengarkan aku. Jika sesuatu terjadi padaku, kamu harus lari ke brankas rahasia di bawah kantor ayahmu. Kode aksesnya bukan angka, tapi frekuensi detak jantung yang tersimpan di dalam liontin ini."
Elang mengalungkan liontin perak milik Sarah ke leher Gwen.
"Kenapa kamu memberikan ini padaku?"
"Karena liontin ini bukan berisi foto Sarah untuk kenang-kenangan, Gwen," bisik Elang sambil mempersiapkan senjatanya. "Isinya adalah kunci enkripsi Proyek Gerhana. Ayahku memberikannya pada Sarah sebelum ledakan, dan Sarah ternyata mengembalikannya padaku semalam saat ledakan di gudang tanpa aku sadari. Dia tidak mengkhianatiku sepenuhnya... dia menyelamatkanku."
Gwen tertegun. Jadi ciuman Sarah semalam di gudang... adalah untuk menyelipkan liontin ini?
Belum sempat Gwen mencerna informasi itu, pintu kamar didobrak dari luar. Beberapa pria bersenjata dengan topeng hitam merangsek masuk.
"Serahkan Elang, atau Nona Adiguna mati!" teriak salah satu penyusup.
Perang besar di dalam mansion Adiguna baru saja dimulai.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia