"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU BULAN YANG MENENTUKAN
Dua jam terasa seperti waktu yang tidak pernah berakhir. Cassian dan pendukungnya menunggu di ruang tunggu dengan energi gugup yang sangat tinggi.
"Menurutmu bagaimana hasilnya?" tanya Seraphina sambil mondar-mandir dengan gelisah.
"Sangat sulit diprediksi," jawab Duke Harrison dengan wajah serius. "Dewan terbagi hampir sama rata. Semuanya tergantung pada pemilih yang masih ragu, mereka yang masih netral."
Catharina duduk di samping Lucian, tangannya digenggam sangat erat oleh calon suaminya.
"Apa pun yang terjadi nanti, setidaknya kita sudah berjuang sebaik mungkin," bisik Lucian dengan lembut.
"Itu tidak cukup. Kita harus menang," balas Catharina dengan tegas.
Akhirnya, pintu terbuka dan seorang pelayan memanggil mereka kembali ke ruang dewan.
Semua kembali ke tempat duduk masing-masing dengan hati yang berdebar sangat kencang.
Lord Chancellor berdiri dengan sebuah perkamen di tangannya yang gemetar sedikit.
"Setelah musyawarah yang sangat panjang dan pertimbangan yang sangat hati-hati dari semua bukti yang ada, dewan telah mencapai keputusan."
Hening total. Semua orang menahan napas.
"Kami menemukan bahwa bukti terhadap Duke Blackwood adalah sangat meyakinkan dan tidak bisa dibantah. Dia terbukti bersalah atas konspirasi untuk menyerang anggota keluarga kerajaan dan akan dipenjarakan serta dicabut semua gelar dan hartanya."
Duke Blackwood terkulai sangat lemas di kursinya seperti boneka matti.
"Mengenai keterlibatan Pangeran Alexander, bukti yang ada bersifat tidak langsung tapi sangat mengkhawatirkan. Namun, tidak cukup kuat untuk tuduhan formal."
Alexander tersenyum tipis, merasa dia sudah menang.
"TAPI," lanjut Lord Chancellor dengan penekanan yang sangat kuat, "mengingat kekhawatiran yang sangat serius yang diangkat tentang kelayakan untuk memerintah, dan mengingat kondisi kritis Raja saat ini, dewan memutuskan untuk memberlakukan hukum kuno Pasal 47."
Senyum Alexander langsung hilang total. "Apa maksudnya itu?"
"Pasal 47 menyatakan bahwa dalam situasi di mana legitimasi pewaris dipertanyakan, dewan boleh memerintahkan ujian berdasarkan kemampuan. Kedua pangeran akan diberikan waktu satu bulan untuk menunjukkan kemampuan mereka untuk memerintah. Pada akhir bulan tersebut, dewan akan memilih berdasarkan kinerja dan dukungan publik yang mereka dapatkan."
Cassian terlihat sangat terkejut tapi sangat senang. Ini persis kesempatan yang dia butuhkan.
"Keputusan ini final dan mengikat. Sidang ditutup."
Lantas ketukan palu mengakhiri sidang paling dramatis dalam sejarah dewan kerajaan.
***
Berita tentang keputusan dewan menyebar dengan sangat cepat ke seluruh kerajaan. Dalam waktu kurang dari sehari, semua orang sudah tahu bahwa akan ada semacam kompetisi antara dua pangeran untuk menentukan siapa yang jauh lebih layak menjadi raja.
Di kediaman Elsworth, Catharina mengadakan pertemuan darurat dengan semua anggota inti tim pendukung Cassian. Ruang kerjanya penuh sesak dengan orang-orang yang duduk di kursi, sofa, bahkan ada yang berdiri bersandar di dinding karena tempat duduk sudah habis semuanya.
"Satu bulan," ujar Catharina sambil menulis dengan spidol besar di papan putih yang dipasang di dinding. "Kita punya waktu hanya satu bulan untuk membuktikan bahwa Cassian adalah pilihan yang jauh lebih baik."
"Apa kriteria yang akan digunakan dewan untuk menilai kinerja kami?" tanya Duke Harrison dengan wajah serius.
"Lord Chancellor mengatakan mereka akan melihat tiga aspek utama," jawab Cassian yang berdiri di depan bersama Catharina. "Pertama, dukungan publik yang nyata. Kedua, usulan kebijakan dan kelayakan pelaksanaannya. Ketiga, demonstrasi kepemimpinan dalam menangani masalah yang sebenarnya terjadi."
Victoria membuka buku catatannya yang penuh dengan tulisan rapi. "Untuk dukungan publik, kita perlu melanjutkan pertemuan terbuka dan menambahkan lebih banyak keterlibatan langsung dengan rakyat. Tidak hanya di ibukota, tapi juga di kota-kota kecil dan desa-desa terpencil."
"Itu akan membutuhkan sangat banyak waktu dan sumber daya," ujar Duchess Margaret dengan nada khawatir.
"Kita punya sumber daya yang cukup," jawab Lucian dengan mantap. "Aku sudah menghitung dengan detail. Dengan kontribusi dari semua bangsawan pendukung dan dana bisnisku sendiri, kita bisa menutup biaya transportasi dan logistik untuk tur kampanye ke minimal sepuluh kota besar."
Duke Henry mengangguk setuju. "Keluarga Elsworth akan menyumbang dana untuk mencetak materi kampanye dan mempekerjakan staf tambahan untuk mengorganisir acara."
"Terima kasih banyak," ujar Cassian dengan sangat tulus. "Tapi aku tidak mau ini hanya terlihat seperti bangsawan kaya yang membeli dukungan rakyat dengan uang. Kita perlu menunjukkan bahwa ini gerakan yang benar-benar tulus."
"Maka kita libatkan rakyat secara langsung dalam prosesnya," usul Catharina dengan mata berbinar. "Bagaimana kalau kita buat program sukarelawan? Rakyat biasa yang mendukung Cassian bisa mendaftar jadi sukarelawan untuk membantu mengorganisir acara, mendistribusikan pamflet, atau bahkan berbagi cerita mereka sendiri tentang kenapa mereka mendukung reformasi."
Seraphina matanya berbinar sangat terang. "Itu ide yang luar biasa cemerlang! Itu akan menunjukkan bahwa ini gerakan dari bawah ke atas, bukan sekadar kampanye dari atas ke bawah oleh elit."
"Dan untuk usulan kebijakan," lanjut Catharina sambil menulis poin-poin di papan, "kita perlu rencana aksi yang sangat detail. Bukan hanya janji-janji yang samar, tapi langkah-langkah konkret dengan garis waktu dan anggaran yang jelas."
Victoria sudah menyiapkan dokumen yang sangat tebal. "Aku sudah menyusun draf awal usulan kebijakan untuk reformasi pendidikan, perluasan layanan kesehatan, dan restrukturisasi pajak. Tapi ini perlu ditinjau oleh para ahli untuk memastikan kelayakannya."
"Aku bisa menghubungkan dengan penasihat ekonomi yang aku kenal dari serikat pedagang," tawarkan Lucian. "Mereka bisa membantu meninjau dan menyempurnakan usulan."
"Bagus sekali," ujar Cassian sambil mencatat dengan teliti. "Dan untuk demonstrasi kepemimpinan, ini yang paling rumit. Kita perlu menemukan masalah nyata yang bisa aku tangani untuk menunjukkan kompetensi."
"Kebetulan ada masalah yang sangat mendesak sekarang," ujar Duke Harrison dengan wajah yang sangat serius. "Di provinsi utara, ada gagal panen karena kekeringan parah. Banyak petani yang sangat kesulitan. Ini bisa jadi kesempatan bagus untuk menunjukkan manajemen krisis."
Cassian langsung sangat tertarik. "Apa yang paling dibutuhkan di sana?"
"Bantuan pangan untuk jangka pendek. Sistem irigasi untuk jangka panjang. Dan mungkin bantuan keuangan untuk petani yang kehilangan penghasilan mereka."
"Aku bisa mengorganisir bantuan pangan," ujar Duchess Margaret dengan cepat. "Beberapa perkebunan kami punya surplus biji-bijian yang bisa disumbangkan."
"Dan aku bisa mendanai proyek irigasi," tambah Duke Henry. "Tapi itu perlu perencanaan dan koordinasi yang sangat matang."
Cassian berpikir sejenak dengan wajah serius. "Bagaimana kalau aku secara pribadi pergi ke provinsi utara? Menilai situasi secara langsung, berbicara dengan petani, dan menyusun rencana solusi yang komprehensif?"
"Itu akan memakan banyak waktu," ujar Seraphina dengan sangat khawatir. "Dan berpotensi berbahaya. Provinsi utara cukup jauh dari sini."
"Justru karena itulah aku harus pergi," ujar Cassian dengan sangat tekad. "Alexander pasti akan tetap di ibukota, berpolitik dengan anggota dewan. Kalau aku menunjukkan bahwa aku bersedia turun langsung ke lapangan, terlibat langsung dengan rakyat yang menderita, itu pesan yang sangat kuat."
Victoria menggenggam tangan Cassian dengan erat. "Kalau kamu pergi, aku ikut. Aku bisa membantu dengan penilaian dan perencanaan."
"Aku juga ikut," ujar Catharina dengan sangat tegas.
Lucian langsung protes dengan keras. "Catharina, itu berbahaya. Kamu baru saja diserang beberapa hari yang lalu."
"Justru karena itulah aku harus ikut. Kalau aku takut dan bersembunyi setiap kali ada ancaman, aku tidak akan mencapai apa-apa." Catharina menatap Lucian dengan tatapan yang sangat tidak bisa dibantah. "Kamu bisa ikut juga kalau kamu sangat khawatir."
Lucian tahu dia tidak akan menang dalam perdebatan ini. "Baiklah. Kita semua ikut."
"Bagus," ujar Cassian dengan senyum lega. "Kita akan berangkat dalam dua hari. Itu cukup waktu untuk menyiapkan persediaan dan tim."
***
Sementara itu, di istana, Pangeran Alexander mengadakan pertemuan dengan para pendukungnya sendiri. Suasana di ruangannya sangat berbeda dengan pertemuan Cassian. Tidak ada suasana kolaboratif, hanya intimidasi dan perintah yang harus dipatuhi.
"Duke Blackwood sudah ditangkap karena kebodohannya yang tidak termaafkan," ujar Alexander dengan nada yang sangat dingin. "Itu menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengandalkan metode yang halus lagi."
"Apa maksud Yang Mulia?" tanya Count Richard, sepupu Alexander yang sama ambisius dan kejam.
"Maksudku kita perlu jauh lebih agresif. Cassian akan mencoba mendapat dukungan publik dengan taktik populis yang murahan. Kita perlu melawan itu dengan menunjukkan kekuatan dan otoritas tradisional."
"Bagaimana caranya?"
Alexander tersenyum dengan sangat dingin. "Cassian akan pergi ke provinsi utara untuk menangani krisis di sana. Itu akan membuat dia tidak ada di ibukota selama beberapa hari. Dalam waktu itu, kita konsolidasikan kekuasaan di sini. Lobi lebih keras kepada anggota dewan, tawarkan mereka insentif yang menggiurkan, ingatkan mereka tentang urutan suksesi tradisional."
"Dan kalau mereka masih tidak mau mendukung Yang Mulia?"
"Maka kita ingatkan mereka tentang konsekuensi dari mendukung pihak yang salah." Alexander menatap para pendukungnya dengan tatapan yang sangat mengancam. "Aku tidak akan menggunakan preman bayaran seperti Blackwood yang bodoh itu. Tapi ada cara-cara lain untuk memberikan tekanan. Tekanan finansial, tekanan sosial, tekanan politik."
Salah satu penasihat yang lebih tua terlihat sangat tidak nyaman. "Yang Mulia, bukankah itu akan memperkuat narasi bahwa Anda memerintah dengan ketakutan bukan dengan rasa hormat?"
Alexander menatapnya dengan mata yang sangat dingin. "Ketakutan jauh lebih bisa diandalkan daripada rasa hormat. Rasa hormat bisa hilang. Ketakutan adalah pencegah yang permanen."
Penasihat itu langsung diam, tidak berani menantang lebih lanjut.
"Selain itu," lanjut Alexander, "kita juga perlu melawan citra populis Cassian. Aku akan mengadakan upacara besar di katedral, menunjukkan tradisi dan kesinambungan. Undang semua bangsawan tinggi, tunjukkan bahwa aku adalah pilihan dari kalangan establishment."
"Tapi bukankah opini publik juga sangat penting?" tanya Count Richard.
"Opini publik itu tidak stabil. Hari ini mereka mendukung reformasi, besok mereka akan menyadari bahwa stabilitas dari tatanan tradisional jauh lebih berharga. Kita hanya perlu sabar dan strategis."
Pertemuan berlanjut dengan Alexander mendelegasikan berbagai tugas kepada para pendukungnya. Tidak ada diskusi, tidak ada masukan, hanya perintah yang harus diikuti tanpa pertanyaan.
******
BERSAMBUNG