Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 14 - Dua Kali
Alexa meringis kesakitan ketika merasakan nyeri di punggungnya akibat benturan ke aspal. Namun, di sisi lain, dia juga merasa sesak karena sesuatu menindihnya, sementara kepalanya menindih sesuatu yang terasa hangat.
Meski berat, Alexa membuka kedua matanya dan mendapati seseorang yang sebagian tubuhnya menindihnya.
"Berat..." kata Alexa memukul punggung orang itu.
"Kamu 'tuh beneran cari mati, ya?!"
Suara itu tidak asing.
"Udah dua kali loh kamu coba bun*uh diri! Orang gila aja mau hidup walaupun harus luntang - lantung!"
Alexa menghela nafas panjang mendengar ocehan itu. Tak ada niatan sedikit pun mengakhiri hidup dengan cara menyakitkan seperti itu. Kejadian yang menimpanya adalah karena hal lain. Bukan disengaja.
Tapi karena rasa kantuknya, Alexa malas sekali menjelaskan apa pun. Karena itu Steven.
"Marahnya bisa nanti nggak? Punggungku sakit," kilah Alexa.
Steven yang sadar dengan posisi mereka—segera bangkit dan membantu Alexa duduk.
Mata keduanya langsung tertuju pada mobil yang menabrak tiang listrik dan orang - orang yang mulai mengerumuni mobil itu untuk memastikan kondisi orang yang ada di dalam mobil.
"Steven!" Alexa menarik tudung hoodie yang dikenakan Steven. "Kalau orangnya meninggal, aku masuk penjara dong," bisiknya ketakutan.
Kantuk yang dirasakannya sesaat hilang ketika pikirannya membayangkan jika dia masuk penjara karena menewaskan orang yang ada di mobil itu.
Steven menepis tangan Alexa yang asal menarik tudungnya begitu saja. Kalau ada yang melihat keberadaannya, pasti kondisi semakin ribut.
"Nggak akan," balas Steven.
"Tapi mobil itu kecelakaan."
"Kayaknya ada masalah di mobilnya. Soalnya dari kejauhan udah klakson yang berarti sopirnya sudah lihat kamu, tapi nggak bisa menekankan laju mobilnya." Steven menjelaskan dengan detail.
Alexa seketika memasang wajah curiga pada Steven yang mengetahui semua kejadiannya dengan begitu detail.
"Kamu nguntit aku lagi?!" omelnya.
"Mana ada! A - aku mau pulang," elak Steven.
"Masa sih? Seorang Steven pulang jalan kaki?" Alexa semakin curiga.
Steven menunjuk ke sebuah motor sport yang terparkir di depan sebuah toko roti memberitahu Alexa kalau itu adalah motornya.
"Hari ini ulang tahun Ibuku, dan aku berencana beli kue. Tapi lihat kamu kayak orang m4buk. Jangan - jangan kamu mabuk!" Steven menjelaskan tapi menyelipkan tuduhan.
Alexa langsung memukul lengan Steven cukup kuat tak menerima tuduhan tak berdasar itu. Tapi kemudian dia menguap lebar semakin merasakan rasa kantuk yang luar biasa. Kepalanya juga semakin pusing dan perutnya mulai mual.
Seorang warga mendekat untuk menanyakan keadaan Alexa dan Steven tapi Alexa sudah tidak fokus mendengarkan. Dia hanya mencoba tetap membuka matanya menahan kantuk yang luar biasa.
"Baik, Pak. Terima masih banyak." Steven bangun setelah selesai bicara dengan warga itu.
Ambulans dan polisi datang membuat Alexa seketika bangkit dan bersembunyi di belakang Steven tak mau ditangkap. Dia benar - benar tidak siap jika harus mendekam di penjara.
"Kamu ngapain?" tanya Steven.
"Ada polisi. Mereka pasti mau bawa aku ke penjara," jawab Alexa berbisik.
"Nggak akan."
"Jangan bohong. Kamu mau balas dendam karena ucapan burukku waktu itu 'kan?"
Steven memijat pelipisnya frustrasi. Sejujurnya dia memang sempat kesal dengan cara Alexa bersikap saat itu. Alexa lebih menyebalkan dari sebelumnya bahkan sangat memuakkan.
Tapi saat tahu alasan Alexa seperti itu, Steven justru semakin merasa bersalah dan semakin khawatir dengan kondisi Alexa. Dia takut Alexa juga memiliki niat mengakhiri hidup. Itu sebabnya dia tadi sangat panik melihat Alexa hampir tertabrak mobil.
"Emang ada kejadian apa waktu itu?" celetuk Steven pura - pura lupa.
"Bodo ah!" Alexa masih menyembunyikan diri dibalik punggung Steven.
Polisi mendekat ke arah mereka setelah melihat kondisi mobil dan korban kecelakaan. Tangan Alexa refleks menggenggam bagian belakang hoodie Steven dengan erat dan menundukkan kepalanya dalam - dalam.
"Apakah anda saksi kecelakaan yang terjadi?" tanya Sang Polisi pada Steven.
Steven mengangguk tanpa ragu. Dia merasa tidak ada yang salah dari dirinya maupun Alexa, jadi sikapnya tenang agar Alexa yang ada di belakangnya juga merasa sedikit lebih tenang.
"Ada kartu Identitas?"
"Sebentar, Pak." Steven merogoh sakunya.
Polisi memeriksa kartu Identitas Steven tanpa mengetahui siapa Steven. Beberapa kali memandang aneh pada Steven yang menutupi kepalanya dengan tudung hoodie dan memakai masker.
Penampilannya memang sangat mencurigakan.
"Tolong tunjukkan wajah anda." Sang polisi meminta.
"Maaf, Pak. Yapi—"
"Anda mencurigakan."
Alexa mengangkat wajahnya dan menatap Steven dari belakang. Memang mencurigakan. Selalu memakai pakaian serba hitam dan hanya menunjukkan wajah di bagian mata saja.
Anak kecil yang melihat Steven juga akan berpikir kalau Steven adalah orang jahat.
"Bukan begitu, Pak. Saya tidak bisa menunjukkan wajah pada sembarang orang." Steven berusaha menjelaskan.
"Saya polisi, bukan orang sembarangan."
Steven memutar bola matanya kesal. Mau tak mau, dia membuka maskernya meskipun sempat melihat ke sekeliling memastikan kalau tidak akan ada yang melihatnya membuka masker juga. Harapannya, gelapnya malam sedikit membantunya.
Melihat wajah Steven, Sang Polisi menunjuk ke arah Steven dengan sedikit syok. Tapi Steven langsung memakai maskernya kembali dan menaruh jarinya di depan mulut memberi isyarat.
"N... NOVA! Salah satu anggota NOVA!" pekik Polisi berisik.
Steven mengangguk kecil berharap polisi itu tidak membuat kehebohan.
"B-baiklah. Kalau begitu, kami akan memanggil anda jika kami membutuhkan laporan." Polisi mengembalikan kartu Identitas Steven.
"Apa... orang - orang di dalam mobil meninggal, Pak?" Alexa melongok dari punggung Steven memberanikan diri bertanya.
"Oh, tidak. Korban hanya mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya."
Seketika Alexa menghembuskan nafas lega. Polisi itu kembali berbincang dengan Steven, bahkan meminta tanda tangan Steven secara diam - diam seolah kasus yang sedang ditanganinya tidak begitu penting.
Steven sempat menolak memberikan tanda tangan di saat - saat genting. Tapi demi mempercepat menyelesaikan masalah, dia akhirnya menandatangani sapu tangan milik Sang Polisi.
"Udah. Ayo, aku antar pulang." Steven menarik tangan Alexa.
Kali ini Alexa tidak menepis, tidak menolak dan tidak juga memarahi Steven atas apa yang telah terjadi pada ayahnya.
Alexa langsung naik ke motor Steven tanpa diminta.
"Kamu tahu alamat kontrakan aku?" tanya Alexa ragu.
"Tahu." Motor mulai melaju.
"Kok bisa?"
Steven mengatupkan bibirnya rapat - rapat karena keceplosan. Bisa - bisa dia ketahuan kalau selama ini menguntit Alexa di jam - jam senggang.
Ah bukan senggang. Dia sudah melewatkan banyak latihan karena khawatir pada Alexa.
"Aku liat kamu masuk gang pemukiman kecil." Steven menjawab asal.
"Kapan?"
"Udah agak lama sih."
Kemudian hening.
Selama perjalanan, mereka hanya menikmati angin malam itu yang sedikit lebih hangat membuat Alexa menyandarkan kepalanya di punggung lebar Steven.
"Jangan tidur, bahaya." Steven memberi peringatan.
"Hm..." sahut Alexa berusaha menahan kantuk sampai akhirnya motor berhenti karena sudah sampai.
Segera, Alexa turun dari motor dan berjalan sempoyongan menuju pintu unit kontrakannya sembari melambaikan tangan pada Steven karena tak lagi memiliki energi untuk mengatakan apa pun.
Namun keseimbangannya runtuh dan Alexa roboh tepat di depan pintu kontrakannya. Untungnya, Steven segera menangkap tubuh Alexa.
"Sumpah, kamu ngerepotin banget!" keluh Steven padahal dia sendiri yang datang untuk direpotkan.
Steven mengambil kunci yang ada di tangan Alexa yang sudah terlelap begitu saja, membawa Alexa ke dalam rumah.
Sempat bingung mau menidurkan Alexa di mana melihat berapa berantakannya rumah Alexa, akhirnya dia meletakkan tubuh Alexa di atas meja.
Dia memandang sekeliling ruangan yang sangat kotor itu. Namun Steven tahu arti berantakan itu—karena dia juga pernah ada di posisi itu. Dia bisa merasakan betapa sesaknya situasi Alexa hanya dengan melihat kontrakan Alexa.
"Dia..." Steven kemudian kembali memandang Alexa—lama.
Entah kenapa, itu menjadi menyenangkan. [ ]