Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng dan Realita
Matahari California yang masuk melalui jendela kaca besar ruang kuliah terasa menyengat bagi Nomella Kamiyama. Bagi gadis yang mendewakan keteraturan, pagi ini adalah sebuah bencana berskala nasional. Nomella, yang selalu tiba lima belas menit lebih awal untuk memastikan kursinya bersih dari debu, justru harus menelan pil pahit: ia terlambat dua menit.
Insiden itu terjadi begitu tiba-tiba di koridor utama. Sebuah kram perut yang tajam disusul dengan sensasi dingin yang membuatnya membeku di tempat. Sebagai gadis yang terobsesi pada kesempurnaan tubuh dan pakaian, menyadari bahwa ada noda merah yang mengancam rok span berwarna pearl putih-nya adalah mimpi buruk yang lebih buruk daripada kegagalan akademis.
Ia telah menghabiskan sepuluh menit yang penuh kepanikan di toilet, mencuci noda dengan teknik secepat kilat menggunakan sabun tangan dan pengering rambut otomatis, sambil merutuk dalam hati mengapa siklus bulanannya harus datang di hari ia mengenakan warna terang.
Dengan napas yang sedikit memburu dan wajah yang dipaksa tetap tenang, Nomella membuka pintu kelas yang berat.
"Terima kasih sudah bergabung dengan kami, Miss Kamiyama," sindir Prof. Miller tanpa mengalihkan pandangan dari whiteboard.
Nomella hanya mengangguk singkat, harga dirinya sedikit terluka, dan segera mencari kursi kosong. Hanya ada satu yang tersisa. Tepat di samping Zeus Sterling.
Nomella duduk dengan kaku, meletakkan tasnya untuk menutupi bagian belakang roknya yang mungkin masih sedikit lembap. Ia tidak menoleh, namun ia bisa merasakan kehadiran Zeus. Pria itu tidak sedang memperhatikannya; ia sedang sibuk berbisik dengan seorang mahasiswa di sebelah kanannya.
"Jadi, kau benar-benar memenangkan turnamen poker itu akhir pekan lalu? Luar biasa! Aku tahu kau punya bakat, kawan. Lain kali, aku harus ikut untuk meramaikan suasana," ujar Zeus dengan suara yang hangat dan penuh semangat. Ia tertawa, menepuk bahu teman sekelasnya itu dengan keakraban yang tampak sangat alami.
Nomella berpura-pura sibuk mengeluarkan tabletnya, namun sudut matanya terus mengawasi Zeus. Pria itu tampak begitu... hidup. Ia menanggapi setiap lelucon, memberikan senyuman terbaiknya pada setiap orang yang menyapa, dan mempertahankan postur tubuh yang santai namun tetap menonjolkan karismanya.
Berapa lama kau harus berlatih untuk menjadi kakakmu, Zeus? batin Nomella.
Setelah melihat foto-foto di akun @Zzzz semalam, setiap gerak-gerik Zeus kini terasa seperti koreografi baginya. Nomella membayangkan Zeus di depan cermin apartemennya, melatih senyum lebarnya, memastikan nada suaranya tidak terdengar terlalu dingin, dan memaksa dirinya untuk menyukai keramaian yang sebenarnya mungkin ia benci.
Kelas berakhir satu jam kemudian. Saat Prof. Miller menutup laptopnya, kelas langsung riuh.
"Hei, Zeus! Jadi ke pantai sore ini?" teriak seorang mahasiswa dari barisan belakang.
Zeus berdiri, menyugar rambutnya dengan gerakan narsis yang sudah menjadi ciri khasnya. "Tentu saja! Apa gunanya punya wajah setampan ini kalau tidak dipamerkan di bawah sinar matahari? Aku akan di sana, pastikan kalian membawa kamera untuk memotret sang legenda."
Tawa pecah di sekelilingnya. Zeus sedang berada di puncak panggungnya. Ia tidak sadar bahwa satu meter di sampingnya, seorang gadis dari Manhattan sedang menatapnya dengan pandangan yang tidak lagi mengandung kejengkelan, melainkan sebuah analisis mendalam.
Nomella masih duduk, menunggu kelas sedikit kosong agar ia bisa memastikan roknya benar-benar aman saat ia berdiri. Ia memperhatikan bagaimana Zeus melayani setiap obrolan pendek, bagaimana ia mengingat nama-nama mahasiswa yang bahkan mungkin baru ia temui sekali. Itu adalah dedikasi yang luar biasa untuk sebuah penyamaran.
"Masih terpesona oleh ketampananku, Nomella?"
Suara itu mengejutkan Nomella. Zeus sudah berdiri di depan mejanya, satu tangannya bertumpu pada pinggiran meja Nomella, wajahnya hanya berjarak beberapa inci. Kehangatan itu kembali memancar, namun kali ini Nomella melihatnya sebagai perisai.
"Kau terlambat dua menit tadi," ujar Zeus, matanya berkilat jahil. "Apa kau menghabiskan waktu terlalu lama untuk memastikan setiap helai rambutmu berada di tempat yang benar? Aku mengerti, bersaing denganku memang berat."
Nomella menarik napas panjang, menatap langsung ke mata biru Zeus yang jernih. "Aku mengalami masalah teknis. Dan percayalah, Zeus, aku tidak sedang mencoba bersaing denganmu."
Zeus mengangkat alisnya, tersenyum lebar. "Baguslah. Karena posisi nomor satu sudah dipesan secara permanen olehku." Ia berdiri tegak, merapikan kaos polonya yang sebenarnya sudah sangat pas. "Kau mau ikut ke pantai? Aku bisa memberimu pelajaran tentang bagaimana cara menikmati hidup di California, bukan sekadar hidup di antara tumpukan buku."
Nomella menatapnya lurus. "Kenapa kau melakukan ini?"
Pertanyaan itu membuat gerakan Zeus terhenti sejenak. "Melakukan apa? Menjadi sangat baik hati dan menawarimu tumpangan? Itu karena aku orang yang hangat, Nomella. Tidak semua orang sedingin es sepertimu."
"Bukan," potong Nomella pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan agar tidak terdengar mahasiswa lain yang masih ada di kelas. "Kenapa kau memaksakan diri menjadi matahari bagi orang lain, padahal kau sendiri sedang membeku di dalam?"
Hening.
Untuk sesaat, keramaian di kantin dan riuh kelas yang baru bubar seolah menghilang. Senyum narsis di wajah Zeus perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi datar yang sangat mirip dengan foto-foto di akun @Zzzz. Tatapannya berubah menjadi tajam dan sangat dingin—sebuah tatapan yang seolah-olah bisa membekukan apa pun yang disentuhnya.
Topeng itu tidak jatuh sepenuhnya, tapi retakannya sangat lebar sekarang.
Zeus tidak menjawab. Ia hanya menatap Nomella selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Kehangatan yang tadi ia pamerkan seolah terserap kembali ke dalam tubuhnya, meninggalkan sosok pria yang sebenarnya asing bagi semua orang di kampus ini.
"Jangan merasa kau mengenalku hanya karena kau punya mata yang tajam, Nomella," ujar Zeus dengan suara yang rendah, jauh dari nada ceria yang tadi ia gunakan. "Beberapa hal lebih baik tetap terkunci di New York, dan beberapa hal di California... lebih baik kau biarkan tetap terkubur."
Tanpa kata lagi, Zeus berbalik dan berjalan keluar kelas. Kali ini, ia tidak menyapa siapa pun. Langkahnya cepat dan kaku. Ia tidak lagi melambaikan tangan atau melemparkan senyuman narsisnya.
Nomella duduk terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ia baru saja menyentuh saraf yang paling sensitif dari seorang Zeus Sterling. Ia telah merobek naskah teater yang telah Zeus mainkan selama tiga tahun terakhir.
"Aku memang tidak mengenalmu, Zeus," gumam Nomella sambil berdiri perlahan, memastikan roknya sudah kering dan aman. "Tapi sekarang, aku tahu siapa yang kucari."
Nomella melangkah keluar kelas dengan kepala tegak. Ambisinya kini bukan lagi tentang nilai atau penampilan. Ia ingin tahu, sejauh mana Zeus bisa bertahan dengan identitas kakaknya sebelum ia benar-benar hancur. Dan Nomella Kamiyama, dengan segala ketelitiannya, tidak akan berhenti sampai ia melihat Zeus yang asli kembali ke permukaan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰