Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Misi Rahasia Sekte
Beberapa hari setelah duel sengit dengan Jin Hae-Rin, Goo Yoon duduk di aula latihan sendirian. Tubuhnya masih terasa pegal akibat latihan intensif Teknik Langkah Bayangan, tapi matanya tetap bersinar penuh tekad. Ia tahu bahwa pertarungan dengan Jin hanyalah awal dari perjalanan panjangnya di Sekte Cheonma.
Tiba-tiba, sebuah suara lembut namun tegas terdengar di belakangnya.
“Goo Yoon.”
Ia menoleh dan melihat seorang tetua sekte berdiri di ambang pintu aula, jubahnya berkibar pelan. Wajahnya tegas namun tidak mengintimidasi, seakan menyampaikan otoritas sekaligus ketenangan.
“Tatapanku lama mengamati latihanmu,” kata tetua itu. “Kamu memiliki potensi yang luar biasa, dan sekte ingin mengujimu lebih jauh.”
Goo Yoon mengangguk, siap untuk apapun.
“Apa yang harus saya lakukan, Tuan?”
Tetua itu melangkah masuk, menatapnya dengan serius.
“Aku memberimu misi rahasia. Misi ini tidak diumumkan kepada murid lain. Tujuan utamanya adalah menguji ketahanan fisik, kecerdasan, dan kemampuan strategi. Ini adalah ujian sejati bagi murid yang ingin menembus batas kemampuannya.”
Goo Yoon merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.
“Misi rahasia… apakah berbahaya?” tanyanya waspada.
Tetua itu tersenyum tipis.
“Setiap misi selalu memiliki risiko. Tapi bagi mereka yang berhasil, hadiah dan pengetahuan yang diperoleh akan jauh melampaui apa yang bisa diajarkan di kelas biasa atau dari latihan rutin.”
Ia menyerahkan sebuah gulungan tua kepada Goo Yoon. Gulungan itu terbuat dari kulit hitam tipis, dan di atasnya tertulis huruf-huruf kuno yang berkilat di bawah cahaya lentera.
“Ini peta lokasi rahasia,” kata tetua itu. “Di sana terdapat tiga rintangan utama: jebakan fisik, teka-teki logika, dan musuh yang terlatih. Kamu harus melewati semuanya untuk mendapatkan inti dari misi ini.”
Goo Yoon membuka gulungan itu perlahan, menatap setiap garis, simbol, dan tanda. Jalur yang digambarkan berliku-liku, melewati hutan gelap, sungai deras, dan gua berbatu curam.
“Berapa lama saya punya waktu?” tanyanya.
“Waktu terbatas,” jawab tetua itu. “Jika gagal, bukan hanya misi yang hilang… tapi sekte akan menilai ulang kelayakanmu sebagai murid yang potensial.”
Mendengar itu, tekad Goo Yoon semakin menguat.
“Aku mengerti. Aku akan menyelesaikannya.”
Tetua itu mengangguk. “Baik. Perjalananmu dimulai besok saat fajar. Jangan beri kesempatan musuh atau jebakan untuk mengalahkanmu.”
Malam itu, Goo Yoon berlatih lebih lama dari biasanya. Ia meninjau Teknik Langkah Bayangan di pikirannya, mencoba menggabungkannya dengan strategi pertahanan dan serangan yang ia pelajari dari duel melawan Jin. Ia tahu, misi ini bukan hanya tentang kekuatan fisik, tapi juga akal, ketepatan, dan ketenangan dalam menghadapi situasi tak terduga.
Fajar berikutnya tiba dengan kabut tipis yang menutupi halaman sekte. Goo Yoon membawa tongkatnya, pakaian ringan namun tangguh, serta gulungan peta rahasia yang dibungkus kain. Ia berjalan ke arah pintu belakang sekte, tempat titik awal misi ditandai.
Sesampainya di hutan pertama, suasana berubah. Pepohonan rapat, dedaunan basah, dan kabut membuat jarak pandang sangat terbatas. Goo Yoon menatap gulungan peta, memastikan langkahnya tepat.
Tiba-tiba, suara daun berderak terdengar di dekatnya. Ia langsung menahan napas, menyadari ada sesuatu yang bergerak di bayang-bayang. Dari balik pepohonan muncul tiga figur bersenjata, masing-masing membawa senjata pendek dan aura yang mengintimidasi.
Mereka adalah musuh pertama dari misi rahasia. Tanpa peringatan, mereka menyerang bersamaan. Goo Yoon menggerakkan tongkatnya, memutar dan menangkis serangan pertama dengan cepat, memanfaatkan gerakan bayangan yang telah ia latih tanpa henti selama sebulan terakhir.
WHACK! SWISH! CLANG!
Debu beterbangan. Goo Yoon bergerak dengan kecepatan yang hampir mustahil diikuti mata biasa. Ia menendang, menangkis, dan menyerang balik, menempatkan setiap musuh dalam posisi yang sulit. Dalam beberapa menit, semua lawan terjatuh, tak mampu bangkit lagi.
Namun Goo Yoon tahu ini baru awal. Misi rahasia ini akan menuntut lebih dari sekadar kekuatan fisik. Ia menatap peta, menentukan jalur selanjutnya yang penuh jebakan logika dan gua berbatu curam.
Hatinya dipenuhi tekad. Ia ingin menjadi lebih kuat, melampaui semua rivalnya, dan memahami rahasia yang tersembunyi di Sekte Cheonma. Misi rahasia ini bukan hanya ujian, tapi juga langkah awal menuju takdirnya yang lebih besar.
Kabut hutan bergerak pelan, menelan Goo Yoon, sementara petualangan dan rintangan berikutnya menantinya di depan.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/