Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyamaran
Karena kesalahpahaman Rhea dalam memahami permintaannya, Azz meluruskan pemahamannya dengan wajah malu. “Bukan membuat emas asli, pakailah sihir ilusi.”
“Sebenarnya tidak apa-apa jika Guru bisa membuat yang asli…” lanjut Azz sambil merenung, mengingat sesuatu. “Tetapi setahu saya, emas itu tidak sah digunakan dan merupakan tindakan ilegal.”
Rhea tak sanggup menatap wajah muridnya dan hanya mengangguk diam-diam mendengar penjelasannya. Lalu, ia menemukan sesuatu yang lucu dari kalimat terakhirnya.
“Kalau sudah ada larangan, berarti memang sudah ada yang berhasil membuatnya?” tanya Rhea sambil menahan tawa.
“Kebanyakan mage yang memiliki afinitas dengan logam dan tanah dapat membuatnya,” Azz mengonfirmasi dengan anggukan kecil.
“Tetapi saya hanya butuh emas untuk menarik perhatian. Kalau Guru membuat emas asli… terlalu merepotkan untuk dibawa.”
Ini mengingatkan Rhea pada kejadian sebelumnya. Ransel itu sekarang sudah cukup berat; jika ia menambah lagi, yang repot malah dirinya sendiri.
“Merepotkan… kenapa tidak ada inventaris di dunia fantasi ini?” Rhea menggerutu, memandang pakaian yang bertumpuk itu, lalu membatalkan mantranya.
“Inventaris?” Azz mendengar gerutuannya dan menimpali. “Apa itu sebuah benda yang diukir dengan mantra subruang dan membuatnya dapat menampung banyak barang?”
Rhea menajamkan pandangannya, lalu bertanya, “Benda itu memang ada? Kenapa Anda tidak menggunakannya?”
Azz terdiam, berkedip seolah baru teringat sesuatu, lalu menjawab samar-samar, “Sekarang masih belum ada. Mungkin nanti.”
“Mungkin nanti?” Rhea menyipitkan mata. “Berarti Anda tahu benda itu akan muncul di masa depan? Bagaimana Anda tahu, Yang Mulia?”
Kecurigaan Rhea bertambah. Ia ingin bertanya lagi untuk mengonfirmasi sesuatu, tetapi Putra Mahkota mengubah topik pembicaraan.
“Ah, Guru. Bisakah Anda mencoba menggunakan sihir ilusi sekarang?” kata Azz dengan wajah serius.
“Aku akan pura-pura tidak tahu,” gumam Rhea ketika mengalihkan pandangannya dari Azz ke tumpukan koin emas di atas kasur.
Rhea sudah berkali-kali menggunakan mantra ilusi sampai-sampai ia tak perlu memilih jenis ilusi apa yang harus digunakan.
Ketika energi dari lingkaran sihirnya keluar dari ujung jarinya, mantra tergambar di udara.
Dalam sekejap, tumpukan koin itu menggunung setinggi dirinya. Rhea menoleh ke samping untuk bertanya pada Putra Mahkota.
“Seperti ini? Cukup?”
Azz meminta agar jumlahnya ditambah, dan Rhea menurut. Ia menambahkannya lagi.
Permintaan berulang terus keluar dari mulut Azz sampai-sampai Rhea mulai merasa sedikit takut. Kini, koin emas itu sudah menutupi separuh kamarnya.
“Yang Mulia? Terus terang saja, Anda ingin menutupi kamar ini dengan koin emas untuk mengubur saya, ya?”
Rhea menghela napas, menyandarkan bahunya ke dinding, lalu menendang emas yang menggelinding di kakinya. Ia memperhatikan Putra Mahkota yang sibuk mengamati koin-koin itu, sesekali mengambil satu dan memeriksanya di tangannya.
Setelah beberapa saat, Azz berbalik dan bertanya pada Rhea dengan ekspresi serius.
“Guru, seberapa yakin Anda dapat menipu seseorang dengan mantra ilusi?” tanyanya sambil menatap Rhea tajam. “Jika seseorang memiliki keahlian yang lebih kuat dari Anda, mampukah mereka menyadari bahwa ini ilusi?”
Bibir Rhea bergetar menahan cemberut. Ia memaksakan senyum dan berkata, “Orang kuat seperti apa yang Anda maksud? Archmage Lingkaran Sembilan saat ini? Kaisar Arcana?”
Ia melanjutkan sebelum Putra Mahkota sempat membalas.
“Guru memang baru mempelajari sihir beberapa hari lalu, tetapi Anda tidak perlu khawatir soal kredibilitas mantra ini.”
Rhea berdehem dan berbisik, “Sekalipun itu Kaisar, kemungkinan besar beliau masih bisa tertipu oleh ilusi.”
Ini adalah pernyataan tanpa bukti—hanya tebakan Rhea setelah mengetahui identitas Komandan Louise sebagai Lucy dan melihat bagaimana ia berhasil tidak dicurigai selama lebih dari tiga tahun.
Fakta itu saja sudah cukup membuktikan keefektifan mantra ilusi Rhea dalam menipu mata para mage tingkat tinggi dan bangsawan.
Mungkin tidak sampai menipu Kaisar dalam jangka panjang, tetapi mampu membuatnya tidak menemukan kejanggalan selama beberapa jam saja sudah menjadi bukti betapa kuat keahliannya dalam sihir ilusi.
“Kalau begitu, sepertinya efektif juga padanya.” Azz mengangguk dan bergumam pada dirinya sendiri.
Setelah memerintahkan Rhea membatalkan mantranya, dia membawa emas itu kembali ke kamarnya di bawah pengamatan Rhea.
“Apa sih yang direncanakan bocah itu?” Rhea menggaruk kepalanya dengan bingung.
Hingga sekarang, belum ada satu pun penjelasan tentang maksud Putra Mahkota membawanya ke sini.
Sore harinya, Azz mengajak Rhea keluar dari penginapan. Mereka duduk di sebuah bar terkenal di Kota Templess.
Ransel berisi emas itu telah berubah menjadi tas selempang wanita di bawah ilusi. Setelah mengingatkan Putra Mahkota untuk tidak perlu repot memakai jubah, Rhea mengubah penampilan mereka berdua dengan sihirnya.
“Kita seperti pasangan muda yang sedang berlibur, bukan?” Rhea mendongak menatap mata Azz yang kini posisinya lebih tinggi darinya.
Rhea dan Putra Mahkota mengubah penampilan mereka secara drastis. Putra Mahkota yang aslinya hanyalah bocah sepuluh tahun kini menjadi pria muda tampan dengan rambut dan mata hitam, berwajah tajam.
Sementara itu, Rhea mengubah penampilannya dari rambut perak dan mata biru menjadi penampilan aslinya—mahasiswi yang baru masuk kuliah dari Bumi.
Rhea mengambil cermin untuk melihat rupanya dan sesekali mencuri pandang ke samping. Wajahnya yang lembut sangat cocok dengan wajah Putra Mahkota yang telah dimodifikasinya.
Gadis lembut dan penuh ketenangan, bersanding dengan pria dingin berwajah tegas dan posesif. Rhea ingin melompat kegirangan karena fantasinya bisa menjadi kenyataan di sini.
Azz sedang berbicara dengan pemilik bar tentang sesuatu yang tidak ia pahami. Beberapa menit kemudian, pemilik bar membawa dua botol wine berwarna kuning keemasan dan menepuk punggung Azz beberapa kali dengan keras.
Rhea memasukkan cermin di tasnya dan menatap wajah pria tampan yang twrlihat menggoda dengan dua botol wine ditangannya, sebelum tersadar akan lamunannya.
Ada yang salah, putra mahkota hanya bocah sepuluh tahun. Dia belum boleh menyentuh alkohol.
Rhea berkedip, kemudian mengerutkan kening.
“Kita tidak bisa minum alkohol, Azz,” Rhea mengingatkannya bahwa ia masih anak kecil, meskipun kini berpenampilan dewasa.
“Aku tahu. Ini bukan untuk kita minum,” jawab Azz santai. Mereka berbincang tanpa menggunakan etiket formal guru–murid atau atasan–bawahan untuk menghindari kecurigaan.
Setelah mengambil dua botol wine itu dari Putra Mahkota, Rhea mendengar pertanyaan yang tidak sesuai dengan situasi darinya.
“Sebenarnya siapa orang ini?” tanya Azz sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Hah?” Rhea masih linglung sesaat sebelum bertanya balik dengan bingung. “Maksudmu wajah yang aku gunakan untuk penyamaranmu?”
Azz mengangguk, menatapnya dengan tidak senang. “Aku terus merasa tatapanmu tadi.”
“Menusuk, penuh ketertarikan.”
“Ehm, bagaimana aku menyebutnya...” Rhea berkedip malu-malu.
“Anggap saja tipe idealku,” katanya akhirnya. “Ta-tapi dia bukan orang asli! Ini hanya gambaran saja!”
“Semua orang punya fantasi tentang pasangan ideal, kan!”
“Anak kecil sepertimu mana tahu!” ucapnya, memalukan, sungguh memalukan saat mengatakannya.
“Jadi tipe Guru adalah pria berwajah dingin dan tegas.”
“Di masa depan aku sering disebut seperti itu oleh orang-orang. Mungkin ini akan berguna untuk mengendalikannya,” bisik Azz sambil menyentuh wajahnya sendiri.
“Apa yang kamu bisikkan? Mengejek seleraku?”
“Tidak. Cuma memikirkan rencana selanjutnya.”
Rhea menggigit souffle sambil mendengus tak percaya. Meski begitu, dia diam-diam menikmati percakapan santai dengan Putra Mahkota tanpa terhalang etiket. Jika bukan karena etiket itu, mengingat betapa seringnya mereka bertemu, mereka pasti sudah sangat akrab.
Saat Rhea menelan stroberi terakhir di mulutnya, pintu bar terbuka keras. Orang-orang di dalam, termasuk Rhea dan Azz, menoleh bersamaan ke arah pintu.
Tiga orang ksatria dengan kencana keluarga Marquis masuk sambil memasang wajah kesal dan kelelahan.
Mereka tinggi dan tampan, tetapi kantung mata hitam di bawah mata mengurangi ketampanan mereka beberapa poin, malah membuatnya tampak seperti pembuat onar.
Pemilik bar langsung menghampiri mereka, menawarkan beberapa makanan dan minuman dengan akrab, serta memberi isyarat kepada para pengunjung agar tidak memperhatikan mereka.
Namun, terlepas dari peringatan itu, ketiga ksatria tetap menarik perhatian beberapa pengunjung—termasuk Rhea dan Azz. Azz-lah yang menangkap pembicaraan mereka dengan tajam.
“Ini sudah kasus ke sepuluh. Marquis akan memarahi kita jika tidak segera menangkap pelakunya,” desah salah satu ksatria.
“Dalam dua hari, membabat habis hampir sepuluh gudang bangsawan dan para taipan. Kalau tingkat keahlian pencuri ini lemah, para ksatria tidak mungkin melewatkannya,” kata ksatria yang berada di tengah, terlihat paling kuat.
“Mungkinkah pelakunya seorang mage? Jika benar, kejanggalan ini masuk akal.”
“Mage mana di Kerajaan Romanov yang susah payah merampok? Mereka sangat kaya.”
“Benar, kekurangan mage di kerajaan ini membuat mereka sangat dibutuhkan dan kaya. Namun, kemungkinan dia mage dari kerajaan tetangga juga masuk akal.”
Azz diam-diam memberi isyarat pada Rhea untuk duduk di tempatnya, mengambil kembali botol wine mahal yang disembunyikannya dan mendekati meja para ksatria.
“Tuan-tuan, aku boleh bergabung di meja ini? Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian, dan tertarik untuk berdiskusi.” Azz menaruh botol wine di meja para ksatria dan tersenyum ramah.
“Siapa tahu bisa membantu menyelesaikan masalah kalian?”