Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.
Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKR 14 — Kecurigaan
Langit siang itu tampak kelabu, seolah ikut menunduk bersama barisan pelayat yang memenuhi pemakaman keluarga Raine. Rumput masih basah oleh hujan dini hari, dan udara membawa aroma tanah yang baru digali. Peti jenazah Jean diturunkan perlahan, diiringi doa-doa yang terdengar lirih dan berat.
Sabrina berdiri paling dekat, tubuhnya gemetar sejak prosesi dimulai. Tangisnya tak pernah benar-benar berhenti, hanya mereda sesaat sebelum kembali pecah, lebih dalam, lebih hancur. Ia memeluk foto putranya erat-erat, seolah foto itu satu-satunya yang tersisa darinya. Setiap kata penghiburan yang diucapkan orang-orang di sekitarnya terdengar kosong di telinganya.
“Anakku,” bisiknya berulang kali, suaranya parau. “Kenapa kau pergi secepat ini. Kembalilah, Nak. Kembali padaku.”
Victor berdiri di sampingnya, diam seperti patung. Wajahnya keras, rahangnya terkunci rapat. Ia tidak menangis, tetapi kehilangan itu terpancar jelas dari matanya yang kosong. Di balik ketenangan itu, sesuatu mendidih, kemarahan yang belum menemukan sasaran.
Tangannya mengepal ketika tanah pertama dijatuhkan ke atas peti. Bunyi hentakan tanah pada kayu terdengar seperti penutup yang terlalu final.
Teman-teman Jean berdiri sedikit lebih jauh. Wajah mereka muram, sebagian menunduk, sebagian lagi menatap lurus ke liang kubur dengan ekspresi tak terbaca. Kesedihan ada di sana, tetapi juga sesuatu yang lain keganjilan yang tak bisa mereka jelaskan.
Kematian itu terasa terlalu mendadak bagi mereka. Baru beberapa hari lalu Jean masih bercanda, masih berbicara soal rencana pertemuan. Tidak ada tanda-tanda bahwa sesuatu akan berakhir secepat itu. Mereka saling bertukar pandang, seolah mencoba membaca pikiran masing-masing, tetapi tak seorang pun berani bersuara.
Di antara mereka, Benjamin memperhatikan lebih banyak daripada yang ia tunjukkan. Ia terbiasa membaca situasi, menangkap perubahan kecil dalam nada bicara dan bahasa tubuh. Ada celah dalam cerita ini. Ada sesuatu yang tidak cocok.
Ketika prosesi selesai dan para pelayat mulai berpencar, Benjamin mendekati Victor dengan sopan. “Om, Tante. Jika boleh, aku ingin membantu membereskan kamar Jean. Mungkin ada barang-barang yang perlu disimpan.”
Sabrina hanya mengangguk lemah.
Victor menatapnya sejenak sebelum memberi izin singkat. “Lakukan saja apa yang kalian perlu lakukan tapi jangan sampai merusak barang-barang putraku.”
Setelah upacara pemakaman itu selesai, mereka kembali ke rumah. Benjamin, Isaac, Chad dan Ernest turut ikut ke kediaman Raine. Mereka merasa perlu untuk menunjukkan petunjuk atau penyebab dari kematian Jean yang mendadak itu, apalagi kematiannya tidak biasa.
Kamar Jean masih seperti biasa. Namun ruangan itu kini terasa hampa, seperti tempat yang ditinggalkan terlalu tiba-tiba. Benjamin menutup pintu kamarnya perlahan.
Ia tidak benar-benar berniat merapikan apa pun. Ia menuju ke lemari Jean dan membuka laci yang biasa digunakan untuk menyimpan barang-barang pribadi. Ponsel cadangan ada di sana, juga laptop yang sering dibawa Jean. Ia menyalakan perangkat itu dengan hati-hati, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ketika layarnya menyala, ia langsung membuka folder yang berisi rahasia kotor mereka. Namun kini folder itu kosong.
Ia mengerutkan kening dan mencoba mencari di lokasi lain. Mengakses penyimpanan eksternal. Memeriksa riwayat cadangan. Tetapi hasilnya tetap sama saja. Semua file telah hilang.
“Apa ini? Kenapa semua file-nya hilang? Mungkinkah Jean sudah menghapus semuanya? Tapi untuk apa?” gumam Benjamin merasa tak yakin.
“Ben?”
Benjamin langsung menoleh dengan terkejut. Isaac, Ernest dan juga Chad masuk ke kamar dengan wajah yang penasaran.
“Kau sudah menemukannya? Kita harus segera menghapusnya, Ben.” Isaac yang lebih dulu bersuara sambil mendekati Ben.
Sementara Ernest dan Chad berdiri mematung di sana, melihat wajah Benjamin yang tampak keheranan.
“Ben? Kau sudah menghapusnya belum?” tanya Isaac lagi.
Ben menyerahkan laptop yang dipegangnya kepada Isaac. “Kau lihat saja sendiri,” katanya pelan.
Isaac langsung menerima laptop itu dan memeriksanya, ia langsung terkejut dan menatap Benjamin serius. “Kau sudah menghapus semuanya? Setidaknya buat dulu salinannya, Ben. Kenapa kau langsung menghapus semuanya?” gerutu Isaac meletakkan laptop itu di atas tempat tidur.
Ernest yang sedari tadi berdiri turut memeriksa, bahkan Chad juga mengambil ponsel milik Jean dan mencoba melihat file-file di sana, namun sama seperti halnya laptop, ponsel itu bersih.
“Kau juga sudah menghapus video yang ada di ponsel,” gumam Chad pelan seraya meletakkan kembali ponselnya.
“Apa?” Ernest tampak terkejut. “Bagaimana kau bisa menghapusnya secepat itu, Ben?”
Ben menoleh. “Aku bahkan baru menyentuhnya, bagaimana bisa aku menghapusnya?”
Ketiga pria itu saling berpandangan, bingung dan bertanya-tanya.
“Apa maksudmu kau belum menghapusnya? Jika kau belum menghapusnya, bagaimana file-file itu bisa hilang?” tanya Isaac sambil berkacak pinggang.
Ernest dan Chad kembali memeriksa laptop dan ponsel itu, keduanya bahkan memeriksa kartu memori di kamera. Tetapi nihil, semua file video dan foto-foto yang sudah mereka kumpulkan benar-benar sudah dihapus total.
Wajah mereka berubah tegang.
“Ben, apakah menurutmu Jean sudah menghapus semuanya?” tanya Ernest kemudian.
Benjamin menggeleng sambil mengusap wajahnya kasar. “Entahlah, tetapi rasanya tidak mungkin ia menghapus semuanya. Ia tahu kita akan mendapatkan keuntungan besar jika menjual video dan foto-foto Elijah,” katanya pelan.
“Lalu? Apakah mungkin mereka terhapus dengan sendirinya?!” sentak Isaac kesal. “Ini gawat, bukan?”
“Ini benar-benar sangat gawat! Apalagi kita sama sekali tidak memiliki salinannya. Sial! Seharusnya kita tidak memercayai Jean untuk menyimpan semuanya!” seru Ernest yang tak kalah kesal.
Sementara Chad memikirkan hal lain. “Mungkinkah ini ulahnya?” lirihnya. “Jika dia benar-benar mengetahui semuanya, aku juga pasti akan mati.”
“Kau kenapa, Chad? Apa yang sedang kau bicarakan itu?” Benjamin menatapnya dengan curiga.
“Apa? Tidak. Aku hanya sedang berpikir saja, semua kejadian ini terasa aneh bagiku,” jawabnya agak gugup.
Isaac dan Ernest ikut menatapnya, tetapi kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Ben. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Ben tampak berpikir keras, mencoba mengingat-ingat. “Apakah Jean pernah mengatakan sesuatu pada kalian?”
Mereka bertiga menggeleng bersamaan.
“Terakhir kali kita bertemu dengannya saat di pesta, tapi tak ada yang aneh, bukan? Selain dia yang tampak memikirkan sesuatu,” kata Isaac, ikut berpikir sambil menopang dagu.
“Mungkinkah saat itu sudah terjadi sesuatu, hanya saja dia tak mau mengatakannya pada kita?” tambah Ernest.
Benjamin mengangguk perlahan. “Sepertinya begitu. Aku harus memeriksa ponselnya, mungkin saja kita bisa menemukan petunjuk,” kata Ben kemudian.
“Bagaimana caranya kau memeriksa ponselnya? Ponsel Jean sekarang berada di kepolisian, bukan?”
Ernest yang duduk di sampingnya, memukul kepala Isaac pelan. “Kau lupa ayahnya kepala polisi? Tentu saja dia bisa mengambil ponselnya dengan mudah.”
Sementara itu, di balik pintu. Elizabeth mendengarkan semua percakapan mereka dalam diam sambil tersenyum tipis. Namun kepalanya mulai merancang rencana untuk memburu mereka sekaligus.
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇