Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Cover Ilustrasi by ig pixysoul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Gara-gara keasbunan Acila, ditambah tingkahnya yang makin lama makin gila, lagi-lagi Dafsa jadi kena getahnya. Balik ke kantor kecamatan, dia disambut gembira sama semua orang. Katanya, Dafsa adalah cowok paling hoki karena udah berhasil dapetin Arcila Astoria, yang mana semua orang juga tau, kalau perempuan itu bakalan jadi satu-satunya pewaris semua cabang hotel Astoria.
"Mas Biro, alias Mas Dafsa, alias calon suaminya Mbak Arcila Astoria pewaris tunggal Astoria Group, alias juga Mas Kasi Kesos yang terhormat, bijaksana, sekaligus yang dimuliakan dan senantiasa dilindungi oleh Allah SWT, terima kasih sudah memberikan aura menyegarkan, aura terang benderang buat kantor kita yang biasanya agak angker ini."
Aduh, panggilan sekaligus sambutan itu agak berlebihan nggak, sih? Dafsa jadi malu sendiri. Tapi mau gimana lagi, dia tetep nyengir sambil terus jalan ke mejanya.
Soal angkernya kantor kecamatan, itu semua udah jadi urban legend. Cerita hantu gentayangan semacam jadi cerita turun temurun dari pegawai satu ke pegawai lainnya. Katanya, tiap di atas jam sebelas malem, semua komputer di kantor kecamatan bakalan nyala sendiri kayak ada yang mainin. Terus ... eh? Kok Dafsa jadi nggak fokus, ya?
"Mas Dafsa," panggil Ayu, sekretaris lurah yang dandanannya sungguh menor sekali. Lipstiknya merah menyala, ngalah-ngalahin warna cabe seger di kebun belakang milik Sri. Alisnya agar menukik, mirip juga sama tanjakan curam di deket rumah Dafsa.
Di sini, Dafsa nggak ada maksud ngeledek. Dia cuma lagi mendeskripsikan gimana penampilan Ayu.
"Oh, iya, Bu Ayu? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dafsa ramah.
"Ada atuh, Mas, makanya saya panggil juga," kata Ayu dengan logat Sunda yang agak kental. Dia emang keturunan Sunda-Betawi, tapi dari brojol tinggal di Jakarta.
"Sini ikut saya, Mas," ajak Ayu melipir ke halaman belakang kantor.
Dafsa agak deg-degan, takutnya Ayu nyuruh dia ngelakuin sesuatu yang nggak sesuai sama kerjaannya. Misal nyuruh nilep uang bansos, yang harusnya dikasih ke masyarakat yang membutuhkan.
Astaghfirullah, Dafsa ....
Dafsa geleng-geleng sambil ngusap muka. Emang ya, sejak dia banyak interaksi sama Arcila, sekaligus nyaksiin sendiri tingkah perempuan itu yang kadang berubah-ubah, otak Dafsa jadi sering eror. Dia juga nggak bisa lagi mikir positif. Pokoknya bagi Dafsa, semua orang yang ngomong sama dia nggak ada yang tulus.
"Pengaruh buruk Bu Arcila emang nggak main-main. Apa aku harus minta diruqiyah biar pengaruhnya ilang?" tanya Dafsa dalam hati, bengong sampai nggak nyimak kalau sekarang, Ayu lagi berkeluh kesah soal adiknya yang gagal nikah.
"Aduh, Mas Dafsa dengerin saya nggak?" protes Ayu, sadar dari tadi dikacangin si Mas Biro.
"Oh, maaf, Bu Ayu, ada apa?" tanya Dafsa.
Ayu buang napas. Kalau aja yang ada di depannya bukan Dafsa dan dia nggak butuh jasa si Mas Biro ini, udah pasti deh, omelannya bakalan ngerembet ke mana-mana.
"Saya mau nyariin adik saya jodoh, Mas. Adik saya 'kan cowok. Nah, harusnya dia nikah tahun ini, tapi calonnya tiba-tiba mundur gitu aja, padahal kami sekeluarga udah ngasih dia ayam jago dua ekor sama satu ekor kambing. Itu syarat dari keluarganya. Mereka bilang sih udah jadi tradisi ngasih hewan sembelihan sebelum lamaran. Tapi da saya mah yakin, itu bukan sekedar syarat cuma-cuma. Kayaknya buat tumbal pesugihan ...."
Astaghfirullah .... Dafsa istighfar lagi. Ternyata bukan dia aja yang suka out of topic alias OOT, tapi Ayu juga sama aja!
"Kriteria adik Bu Ayu seperti apa?" Akhirnya Dafsa menyela. Kalau nggak gitu, dia bakalan dengerin ocehan nggak penting dari Ayu sampai sore, sementara kerjaannya masih banyak banget.
"Ah, gak muluk-muluk kalau adik saya mah, Mas. Dia sukanya sama perempuan yang mirip-mirip kayak pacarnya Mas Dafsa."
Hah?
Dafsa bengong. Otaknya butuh waktu buat mencerna omongan Ayu. Maksudnya ... adik Ayu pengen punya calon istri kayak Arcila?
Waduh! Udah di luar nalar banget ini kriterianya. Dafsa berusaha biar nggak geleng-geleng supaya keliatan tetep sopan.
"Dari segi apanya, Bu? Sifat atau—"
"Semuanya, Mas. Iya sifatnya, iya juga harta sama keturunannya. Pokoknya menurut saya sama adik saya, pacarnya Mas Dafsa itu adalah tahta tertinggi perempuan."
Omongan Ayu bener sih, tapi ... Dafsa capek! Semuanya makin nggak masuk akal. Masalahnya, Dafsa juga tahu siapa adik Ayu. Cowok itu usianya 28 tahun. Dari lulus kuliah sampe detik ini nggak pernah kerja. Tiap hari kerjaannya cuma live Tiktok sambil nyanyi nggak jelas terus tebar pesona, yang padahal pesonanya itu nggak seberapa. Pokoknya udah kayak seleb terkenal, padahal yang nonton nggak lebih dari sepuluh orang. Dafsa pusing banget, dia mau pingsan!
"Maaf sekali, Bu Ayu, kalau yang seperti Bu Arcila, eh, maksud saya kalau yang seperti Arcila, itu cuma ada satu-satunya, dan nggak akan pernah masuk ke kandidat di lapak saya juga," terang Dafsa.
Dia ngomong jujur soal ini. Uniknya Arcila, ya cuma Arcila aja yang punya. Yang hartanya berlimpah, ceplas-ceplos, agak seenaknya, tapi pinter dan elegan? Sekali lagi cuma ada di diri Arcila. Dafsa nggak pernah ketemu sama perempuan nyebelin sekaligus mengagumkan di satu waktu, selain Arcila Astoria.
"Ah, masa nggak ada sih, Mas? Emangnya gimana Mas Dafsa bisa ketemu sama pacar Mas Dafsa yang sekarang? Pasti dia juga daftar jadi klien di lapak Mas Dafsa, kan?" tebak Ayu setengah sewot.
"Bu Ayu salah, Arcila nggak pernah jadi klien saya." Sungguh kebohongan yang sangat besar. Kelak, Dafsa harus mempertanggungjawabkan omongannya ini di akhirat. Tapi ya udahlah, namanya juga kepepet. Nanti kalau Dafsa ngomong jujur, yang ada Ayu malah maksa Dafsa nyari duplikatnya Arcila.
"Tapi Mas Dafsa bisa nyariin buat adik saya, kan?" Sekarang Ayu menodong.
"Insya Allah bisa, Bu, tiap manusia 'kan sudah ada jodohnya masing-masing," kata Dafsa, lalu menambahkan, "kalau jodohnya nggak orang, ya pasti kematian." Tapi cuma berani diucapin dalam hati.
Dafsa nggak mau nyari gara-gara sama perempuan, terlebih perempuan itu adalah Ayu yang punya koneksi langsung sama lurah. Urusannya bisa merembet ke kerjaan. Dafsa cuma mau hidup tenang, kerja sampe beres terus terima gaji. Udah, sesimpel itu emang.
"Bu Ayu bisa kirim CV adik Bu Ayu nanti sore. Insya Allah saya carikan kandidat yang cocok, yang kalau mau lamaran nggak nuntut yang aneh-aneh." Dafsa serius soal itu.
Untungnya Ayu ngangguk, percaya banget sama Dafsa. Obrolan mereka berakhir. Dafsa pikir dia udah bisa tarik napas lega. Tapi tau nggak, setelah kabar kalau Dafsa punya pacar anak orang kaya makin nyebar ke semua kalangan seantero Jaksel, klien yang datang ke Kios Makcomblang Dafsa juga makin aneh-aneh.
"Mas, saya mau bule Turki, ya."
"Sultan Dubai bisa 'kan, Mas?"
"Saya nggak perlu dicariin orang luar negeri, Mas, cukup yang mirip sama Zhang Linghe versi lokal juga udah alhamdulillah, saya bakalan sujud syukur di kios ini."
Dafsa benturin kepalanya ke permukaan meja, waktu dia sigap dateng ke kios habis kerja terus dengerin semua mau kliennya. Dafsa capek pake banget, nggak nyangka ternyata standar orang-orang di sekitarnya bisa setinggi dan seenggak masuk akal itu.
"Mereka pikir kios kita ini udah terkenal sampai ke kancah internasional kali, ya?" gerutu Dafsa sambil ketawa garing. Dia ngomong sama Diva yang lagi sama pusingnya.
Untung aja hari ini Dafsa nggak dapet WhatsApp atau telfon dari Arcila. Dafsa bisa lebih santai, meski ... ya, ujung-ujungnya tetep sesek sama pening bukan main.
"Mas mau kopi nggak?" tawar Diva lesu. Seluruh energinya kesedot habis.
"Mau, Div, tolong beliin, ya."
Diva ngangguk, keluar dari kios. Tapi nggak lama, perempuan itu balik lagi. Dia masuk ke ruangan Dafsa dengan wajah kaget. Kayak habis lihat sesuatu yang harusnya nggak dilihat.
“Mayday … siaga satu Mas Dafsa! Gawat ini!”
"Kenapa?" tanya Dafsa ikut panik, udah ngira yang dateng adalah Arcila.
Diva nggak jawab pertanyaan itu, Dafsa jadi penasaran. Dia keluar dari ruangan. Baru dua langkah, Dafsa bengong di tempat. Yang dateng ke kiosnya bukan Arcila si CEO cegil, tapi si Raja Terakhir, alias Suseno Astoria!