Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Briana Calista
Hampir dua bulan lebih Aiza menjadi istri dari pilot dingin itu, tapi hari-hari yang ia lewati bukanlah kebahagiaan, melainkan penderitaan batin setiap harinya.
Selama dua bulan Arjuna tak pernah untuk sekedar menatapnya, bahkan dia lebih sering pergi dengan alasan kerja, dan saat pulang pun tak sempat satu hari.
Seperti malam ini, Arjuna memutuskan untuk pergi dengan alasan ada penerbangan ke Swedia dan tak bisa ditunda.
“Mas, kamu baru pulang sore tadi loh, masa malam kamu pergi lagi."
Aiza berdiri di belakang, memperhatikan Arjuna yang sedang sibuk di depan cermin dengan seragamnya itu. Dua tak menoleh, apalagi sekedar tersenyum hangat.
"Suka-suka saya. Kenapa, kamu keberatan?” Arjuna berbalik dengan tatapan yang masih dingin.
"Mas, Aiza ini istri Mas Arjuna, jadi wajar kalau Aiza keberatan, Mas. Mas hampir ndak pernah punya waktu buat Aiza. Mas anggap Aiza apa?" Terasa sesak dadanya, alhasil Aiza melupakan apa yang dia rasakan.
Namun yang Aiza dapatkan hanya senyum merendahkan dari suaminya sendiri.
“Jadi ceritanya kamu mau dihargai?” Pria itu menyeringai, lalu mendekati Aiza dan meraih dagunya. "Memangnya berapa harga semalamnya? Kalau dilihat-lihat, harganya sih nggak mahal, mungkin sepuluh ribu.” Arjuna semakin mendekatkan wajahnya pada Aiza. " Atau mungkin….. nggak ada harganya.” Arjuna menjauhkan tubuhnya lalu tertawa terbahak-bahak.
Sementara Aiza hanya bisa meremat rok gamisnya kuat-kuat. Matanya memerah karena menahan tangis serta emosi.
"Mas, mulut kamu itu terlalu tajam, aku takut kamu akan mendapat karma karena mulut kamu sendiri." Tatapan marah yang menyimpan sebuah arti.
Arjuna tertawa remeh, seakan ucapan Aiza di matanya hanyalah ancaman dari semut kecil.
“Okey, suka-suka kamu saja. Saya nggak punya waktu buat meladeni ocehan kamu itu." Arjuna lantas mengambil kopernya, menatap Aiza sebelum pergi. “Kalau kamu merasa hidup sama saya itu berat, saya saranin buat nemuin papa, bilang kalau kamu sudah melambaikan tangan buat menjalani rumah tangga toksik ini." Suaranya rendah, tapi penuh penekanan.
Arjuna lantas berlalu pergi tanpa menghiraukan Aiza lagi.
Namun, baru saja sampai di depan pintu, Aiza berseru dan membuat Arjuna sempat menghentikan langkahnya.
“Mas, aku ndak rida kamu pergi!" Dadanya naik-turun, rasanya emosi sudah memuncak ke ubun-ubun.
Namun respon Arjuna hanya datar, lalu pergi tanpa sepatah katapun lagi.
***
Arjuna menghela nafas lega, seolah telah berhasil keluar dari beban berat yang menimpa hidupnya.
Ia melajukan mobilnya menuju bandara, membelah jalanan yang mulai sepi oleh kendaraan.
Arjuna tidak bohong, dia memang akan ke bandara, namun bukan untuk kerja, melainkan menjemput Briana yang baru saja selesai bertugas.
Senyum bahagia terpancar di wajahnya. Dia begitu senang sampai-sampai, ia tak menyadari ada kucing yang menyeberang jalan tepat saat mobilnya melaju. Alhasil Arjuna pun refleks banting setir hingga mobilnya menabrak pembatas jalan.
Arjuna mengusap dadanya dengan nafas memburu. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran. Wajahnya frustasi. Hampir saja maut menghampirinya jika saja ia tidak refleks menginjak rem.
Beruntungnya tidak ada kerusakan parah pada mobilnya. Namun mobil itu tiba-tiba mogok sehingga ia harus meminta supir pribadinya untuk menjemput.
__
Disisi lain, Aiza mondar-mandir di depan televisi. Wajah khawatirnya begitu jelas. Pasalnya ia melihat berita bahwa satu jam yang lalu ada pesawat yang kecelakaan dan jatuh di perairan Indonesia. Dan kebetulan satu jam yang lalu adalah keberangkatan suaminya dari rumah.
Rasa takut itu hadir begitu saja karena naluri. Dia hanya gadis desa yang minim pengetahuan tentang penerbangan atau tentang kota metropolitan itu. Yang dia tahu suaminya bekerja sebagai pilot, dia khawatir salah satu di antara penumpang itu adalah suaminya.
“Bi!" panggilnya pada seorang pembantu yang lewat.
“Iya, nona?"
“B-boleh Aiza pinjam ponselnya? Aiza mau menghubungi Mas Arjuna,” katanya sedikit ragu.
“Oh, boleh, nona. Ini.”
Pembantu itu langsung memberikan ponselnya pada Aiza.
"Terima kasih, Bi.”
Dengan bantuan pembantu itu, Aiza lantas menghubungi nomor Arjuna. Namun nomor iya malah tidak aktif.
Aiza sudah menghubungi berkali-kali, tapi tetap saja tak aktif.
Sementara di tempat lain, tepatnya di bandara. Arjuna baru saja tiba. Tadi di perjalanan ia juga sempat mampir ke toko bunga, sekedar memberi kejutan kecil untuk kekasihnya.
"Arjuna!”
Seruan itu membuat Arjuna menoleh ke asal suara yang tak asing lagi baginya. Ia tersenyum mendapati Briana berdiri menatapnya dari kejauhan, meminta untuk segera disambut kedatangannya.
Tanpa menghilangkan senyum di wajahnya, Arjuna lantas berlari menghampiri Briana.
Arjuna memeluk wanita itu, seolah rindu tak bisa dibendung lagi.
“Sayang, aku kangen tau sama kamu. Kamu kenapa sih semalam pake libur segala?" Suara Briana terdengar begitu manja, namun hal itu yang selalu membuat Arjuna merindukannya.
“Maaf, sayang, kamu kan tau sendiri sekarang aku nggak bisa leluasa kayak dulu. Papa pasti ngawasin aku.”
Dengan manjanya Briana menyandarkan kepalanya pada pundak Arjuna.
"Ih, lagian kenapa sih papa kamu nggak nerima aku aja sebagai menantunya, malah cari perempuan kampung.” Briana menegakkan kepalanya, menatap penuh peringatan pada Arjuna.
"Tapi awas aja ya kamu, kalau sampai nyentuh perempuan itu sedikitpun! Aku nggak terima! Karena kamu itu cuma punya aku.”
"Kamu tenang aja. Walaupun dia menggoda sekalipun aku juga nggak akan selera.”
Arjuna menatap lembut pada Briana, tatapan yang tak pernah ia berikan pada Aiza sebagai istri sahnya.
Pria itu meraih tangan Briana, lalu dengan lembut mengecup punggung tangannya.
“Ayo sayang, aku udah kangen banget sama kamu," kata Arjuna.
Sambil tersenyum malu-malu, Briana lantas mengangguk.
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍