Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Film apa Om?
" Terserah kamu, tapi siap-siap aja kasih sayang Hans hilang setelah dia punya kekasih baru " kata Dave dengan sengaja .
" Om kok bilang gitu sih " Ayra langsung sedih dan menatap Dave dengan tatapan sendu .
" Ehhhh, astaga, maksud Om tidak begitu Ay, " gelagapan Dave langsung menepuk mulutnya yang asal bicara .
" Terus apa?, kata Om Hans dia bakalan tetap sayang aku , walaupun sudah punya istri, apa iya nanti dia bakalan berubah " suara kecil Ayra menunduk sedih .
" Tidak, tidak Ay, sampai kapanpun Hans akan selalu sayang kamu tidak akan pernah berubah " kata Dave mengelus kepala Ayra dengan rasa bersalah karena sedikit ucapan nya malah membuat gadis itu sedih .
" Tapi aku rasa iya , lagian Om Hans kan bukan Om kandung aku wajarlah dia berubah , kayaknya aku harus mulai membiasakan diri" kata Ayra berlari pergi .
" Ayra " .
...........
1 Minggu kemudian.
Hans yang duduk disofa menatap Ayra yang lewat tak jauh darinya dengan tatapan mata menyipit merasa ada yang salah , tidak biasanya Ayra bersikap cuek padanya .
" Ayra " panggil Hans begitu Ayra akan menaiki tangga.
" Ya Om" jawab Ayra menatap Hans namun tidak menghampiri nya .
" Sini " Hans menepuk sofa disebelahnya yang dengan cepat Ayra duduk disebelah nya .
" Kamu kenapa? Marah sama Om? Om ada salah ?" pertanyaan beruntun Hans yang merasakan perubahan sikap Ayra cukup signifikan.
Ayra menggeleng terus menunduk sama sekali tidak menatap Hans .
" Kalau Om bicara tatap mata Om, kamu itu udah dewasa kalau ada masalah bicara sama Om bukan ngambek lagi kayak masih kecil dulu " ucap Hans memegang dagu Ayra .
" Aku nggak ngambek kok Om" jawab Ayra .
" Lalu apalagi yang kamu pikirkan hingga berubah pada Om?" tanya Hans yang bisa menebak pikiran dan kelakuan Ayra dengan detail .
" Aku nggak mikir apa-apa dan aku nggak ngambek , perasaan Om aja sikap aku berubah" kata Ayra mencoba menatap mata Hans beberapa saat.
" Ikut Om" ucap Hans memegang tangan Ayra dan membawanya menaiki tangga.
" Om mau keluar malam ini , cepat ganti baju kita jalan-jalan" Hans berhenti didepan kamar Ayra .
" Aku lagi nggak enak badan, Om keluar aja" alasan Ayra akan masuk kekamar nya .
" Kamu ini kenapa?" pertanyaan Hans memegang tangan Ayra dan menatap mata nya .
" Aku, aku nggak apa-apa Om " gelagapan Ayra merasa takut di tatap Hans dengan tatapan seperti itu.
" Ya kalau nggak apa-apa ikut Om " ucap Hans yang padahal sudah inisiatif mengajak Ayra keluar tapi Ayra malah menolak , tidak seperti biasanya yang selalu excited sampai merengek ingin ikut dengan Hans .
" Enggak, aku lagi males keluar malam Om, ingin nonton film aja dikamar " alasan Ayra lagi .
" Boleh juga, sudah lama kita tidak nonton bareng " ucap Hans yang setuju saja karena dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Ayra .
" Ayo " ucap Hans masuk lebih dulu kekamar Ayra yang punya fasilitas lengkap .
" Tidak, aku mengantuk jadi mau bobok aja " kata Ayra menguap .
" Jadi Om nggak boleh nonton dikamar kamu?" pertanyaan Hans to the poin.
" Ya, ya, boleh Om " kata Ayra menatap Hans takut-takut.
" Kalau boleh lalu kenapa terlalu banyak alasan?" pertanyaan Hans.
" Yaudah ayo " kata Ayra kembali menutup pintu kamar setelah mereka masuk.
Hans duduk disofa yang dipenuhi boneka sementara Ayra menyalakan TV dan memberikan remote pada Hans .
" Om mau nonton film apa?" tanya Ayra yang sedang mencari saluran yang diinginkan.
" Dewasa" jawab Hans singkat .
" Hahhhh" melek Ayra menatap Hans yang duduk itu .
" Ya apa salahnya, kamu juga sudah dewasa kan sama seperti Om " ucap Hans mengambil remote ditangan Ayra .
" Duduk sini , Om cari dulu Film nya " kata Hans meminta Ayra duduk disebelah nya.
" Tapi Om," ragu Ayra menatap tv merasa canggung saja masa nonton film dewasa sama Hans .
" Kenapa lagi?" pertanyaan Hans yang membuat Ayra terdiam .
Hans memilih satu film dan menatap Ayra setelah film itu dimulai .
" Boleh Om bertanya sesuatu?" tanya Hans pada Ayra yang duduk disebelah nya .
" Kamu sebenarnya kenapa? mengapa sudah seminggu ini seperti menjaga jarak dari Om , apa kamu sudah tidak ingin Om tinggal disini lagi?" pertanyaan Hans .
" Jika memang begitu Om akan pindah dan ," Hans berhenti bicara ketika Ayra menutup mulutnya.
" Tidak begitu Om, jangan pergi" suara kecil Ayra hampir menangis menatap Hans sendu .
" Terus ngapain Om masih tinggal dirumah ini , kamu aja marah tanpa sebab bahkan seperti tidak suka dengan kehadiran Om" ucap Hans .
" Ini adalah rumah kamu jika memang ada yang tidak kamu sukai kamu bisa melempar nya keluar termasuk Om " kata Hans .
" Ini bukan rumah aku , tapi rumah kita " pernyataan Ayra yang tidak pernah menganggap bahwa semua ini adalah miliknya sendiri .
" Tidak, Om tidak punya hak apa-apa atas semua harta ini , segalanya punya kamu dan Om hanya wali kamu " tegas Hans mengatakan kebenaran dan walaupun selama ini Hans yang mengelola segalanya tidak pernah terbesit dipikiran Hans untuk mengambil sepeserpun.
" Tapi tanpa semua usaha dan kerja keras Om maka semua ini tidak akan ada ataupun berkembang seperti sekarang, jadi semua ini punya kita bukan cuma aku " kata Ayra .
" Kamu tidak perlu membagi nya dengan Om , karena sekarang Om juga punya dan memiliki segala nya berkat didikan Papa " ucap Hans .
" Ohhhh, jadi setelah sukses Om mau ninggalin aku gitu aja , terus sengaja bikin seolah-olah aku yang ngusir Om dari rumah ini " kesimpulan Ayra yang jadi salah paham .
" Aku nggak ada ya bilang mau ngusir Om, bicara aja sama Om enggak " kata Ayra memangku kedua tangannya menatap Hans .
" Ya justru itu, kamu nggak ngusir tapi sikap kamu seolah-olah menyatakan itu , kamu pikir Om nyaman didiemin kayak gini" komplen Hans yang sungguh tidak tau apa salahnya.
" Nggak ada aku diemin Om " jawab Ayra .
" Lebih dari itu , pokoknya kalau malam ini kamu nggak jelasin semuanya pada Om dengan detail besok pagi Om pergi dari rumah ini " ancam Hans yang sungguh ingin tau apa yang membuat Ayra jadi begini .
" Mmmh, terus Om mau kemana ?" Ayra memegang tangan Hans yang sudah berdiri sebelum melangkah pergi .
" Lepasin Om, kamu udah nggak sayang sama Om lagi " ucap Hans melangkah pergi .
" Ommm, katanya mau nonton " rengek Ayra tidak melepaskan tangan Hans dan bergelayut benar-benar tidak membiarkan Hans pergi .
" Yaudah , Om kasih kamu waktu sampai film ini selesai jika masih belum cerita Om tinggal " kata Hans kembali duduk begitu Ayra mengangguk.
Begitu mereka duduk dan menatap TV Hans langsung meneguk ludahnya melihat adegan ciuman sepasang kekasih yang sedang memadu cinta .
" Om mereka mau bikin dedek ya?"