NovelToon NovelToon
Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aizu1211

Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Alya meminta adiknya pulang untuk sekedar tidur sebentar, awalnya Viko menolak, anak kecil itu masih saja berpikir kakaknya yang sedang libur ini butuh istirahat lebih setelah bekerja sembari menjaga kedua orang tua mereka.

“Kakak saja lah yang di rumah, istirahat kak” Alya kembali menggeleng tegas, bahkan saat adiknya sudah siap dengan barang yang akan dibawa pulang pertanyaan itu masih saja ditanyakan.

“Kamu yang istirahat, tidur di kasur, kakak tahu bahu kamu pegal, nanti kalau ada update kakak hubungi” Viko akhirnya menurut.

Pagi ini hari libur bagi Alya, maka dari itu dia akan ambil alih tugas menjaga kedua orang tuanya di rumah sakit, setelah Papa dan Mama mandi, kedua orang tuanya duduk di ranjang mereka masing-masing.

Papa membaca buku, Mama sedang merajut untuk membunuh rasa sepi.

Alya duduk disalah satu kursi menatap taman dari ruang rawat inap kedua orang tuanya.

Ini melegakan, mereka seperti telah melewati hari yang sulit, meski saat ini belum sepenuhnya baik. Hati Alya sudah agak tenang.

Tak lama seorang dokter dan perawat datang.

“Selamat pagi, mbak”

“Pagi dok, bagaimana kondisi orang tua saya dok?” dokter itu mengangguk dan meminta hasil pemeriksaan pasien pada suster kemudian membacanya di depan Alya dan orang tuanya.

Ekspresi dokter itu tidak bisa di tebak karena menggunakan masker, tapi jujur saja Alya tidak lagi merasakan ketakutan.

Seperti ada yang membisikkan kalimat penenang, bahwa semuanya sudah selesai dan baik-baik saja.

“saya sudah lihat hasil pemeriksaan terakhir dari bapak maupun ibu, hasilnya baik, tapi kita tunggu sampai nanti siang jika sudah tidak ada keluhan, bapak dan ibu mbak bisa pulang”

Satu kabar menggembirakan lagi.

Alya menoleh ke arah kedua orang tuanya yang tersenyum senang. Ini seperti hari kebebasan bagi orang tuanya.

“Ada yang perlu mbak konsultasikan?”

“Tidak ada dokter”

“Baik kalau begitu saya permisi mbak” setelah dokter itu pergi, Alya menatap kedua orang tuanya.

“Papa sama Mama sudah boleh pulang” Alya mengulang kabar gembira itu.

“Mama sudah kangen sama rumah” Alya berjalan ke Bed Mamanya, memeluk pelan tubuh wanita yang sudah melahirkannya itu.

“Nanti kita pulang Ma” Alya lagi-lagi mengulang kata-kata itu.

Alya melepas pelukannya saat ponselnya berbunyi.

Viko.

Lagi-lagi Alya tersenyum, adiknya pasti senang dengan kabar gembira ini.

“Kak bagaimana Papa sama Mama?”

“Kamu sudah sampai rumah?”

“Iya, bagaimana Papa sama Mama?” tanya Viko mengulang pertanyaan sebelumnya.

“Mama sama Papa sudah boleh pulang nanti siang” setelah mengucapkan itu Alya bisa mendengar helaan nafas lega di seberang sana.

Akhirnya hari ini datang, setelah beberapa hari yang menegangkan beberapa waktu lalu.

Tepat sore hari, Alya dibantu Viko mengemas barang Papa dan Mamanya.

Kebahagiaan itu juga mampir di wajah senja kedua orang tuanya, setelah hampir seminggu berada di rumah sakit.

“Sudah semua kak” Alya mengangguk, bagiannya juga sudah selesai. Viko membawa barang papanya dan mendorong kursi roda papanya.

Sedangkan Alya dapat bagian mamanya, mereka seperti konvoi di lorong rumah sakit merayakan sebuah kemenangan setelah beberapa hari meraung berperang dengan nasib.

Kali ini nasib baik berpihak pada keluarga mereka.

Dan disinilah mereka, di depan rumah yang tidak besar, yang selama ini menaungi mereka berempat.

“Akhirnya Papa bisa tidur di rumah lagi” Alya tersenyum, tangannya menggenggam pelan tangan papanya yang beberapa hari lalu terlelap dengan nyaman di rumah sakit.

Meski sudah di perbolehkan pulang, keduanya tetap harus selayaknya orang yang telah MRS. semuanya harus terpantau dengan obat yang ikut dibawa pulang untuk menunjang pengobatan lanjutan.

Untuk pertama kalinya setelah hari yang berat itu, mereka kembali makan bersama.

Sekitar pukul tujuh, Papa dan Mama sudah tidur.

Alya duduk diam, sembari meminum teh hangat setelah selesai cuci piring.

Viko datang dan bergabung, ia merebahkan tubuhnya di sebelah Alya, tidak ada perbincangan, tapi Alya tahu, rasa lelah mereka berbicara.

“Terimakasih kak” Alya menoleh pada Viko yang masih merebah dengan mata tertutup.

“Untuk?” ditanya seperti itu Viko terbangun, menegakkan badan, seolah akan terjadi perbincangan serius diantara mereka.

“Aku.. aku mengucapkan terimakasih karena kakak sudah berjuang paling berat, bekerja, merawat mama dan papa, memikirkan biaya rumah sakit, sendirian.. aku belum bisa bantu apa-apa selain meringankan beban kakak dengan menjaga Papa dan Mama” kalimat panjang itu diakhiri isakan kecil anak laki-laki yang kini sudah lebih dewasa.

“dan aku rasa.. itu kurang” Alya menggeleng pelan meski Viko yang sedang menunduk tidak bisa melihatnya.

“Itu kewajiban kakak, kebetulan kakak yang bisa jadi kakak yang handle, kakak yakin kalau kamu di posisi kakak kamu akan melakukan hal yang sama” Viko mengangguk masih dengan tangisnya.

Ternyata selain lelah, adiknya menyimpan rasa bersalah pada dirinya, pada orang tua mereka, dan pada kondisinya yang ia anggap tidak bisa apa-apa.

“Tapi tetap saja, kakak sudah banyak berkorban kemarin”

Alya merapatkan tubuhnya, merangkul adik laki-lakinya yang masih menangis.

“Viko, jangan ngomong begitu, gak ada yang banyak berkorban, gak ada yang kurang, kita keluarga, ingat?” Viko mengangguk, tangisnya sudah sedikit reda.

“Jangan ngerasa kayak begitu lagi, ok?” Viko memeluk kakaknya.

Mereka saling menguatkan melalui pelukan itu, Alya mengusap pelan punggung adiknya.

Sumpah demi apapun, Alya sangat menyayangi keluarganya lebih dari apapun.

Apapun yang terjadi asal mereka selalu berempat dunia akan terasa baik-baik saja.

Mereka masih duduk berdua di ruang tamu, menumpahkan semua yang mereka rasakan beberapa hari lalu.

“Kak, kamu capek ya, ngurus aku dan mama, papa?” Alya menggeleng.

Viko menegakkan badannya, melihat mimik wajah kakaknya, mengoreksi apa yang dikatakan kakaknya bohong atau tidak.

Viko bisa lihat kakaknya lelah.

“Jangan capek sendirian Kak, kita bisa lewatin ini bersama-sama ya kan?”

“Iya” jawab Alya dengan suara parau, sekuat tenaga ia mencoba menahan tangis, tapi akhirnya pecah juga.

Kali ini Viko yang bergerak memeluk kakaknya.

“Aku takut kak, aku takut mama dan papa meninggalkan kita kemarin” Alya juga merasakan hal sama, tapi ia berusaha menelan kata-katanya.

Membiarkan Viko menceritakan perasaannya.

“Aku juga takut, kamu tumbang dan ikutan meninggalkanku sendirian” Alya menggeleng.

Mana tega ia meninggalkan adik kecilnya sendirian.

“Kakak disini, kakak sama kamu, mama dan papa juga disini, masa-masa menakutkan itu sudah lewat” ucap Alya meyakinkan Viko, juga menguatkan dirinya.

“Kalau semuanya harus runtuh, kita masih punya satu sama lain kan Kak?”

“Selama kakak masih hidup, kamu gak akan melewati ini sendirian” mereka kembali berpelukan dengan erat, dengan sisa tangis yang masih ada, dan kesedihan juga ketakutan yang masih saja terasa.

Malam itu Alya tahu, masa-masa sulit itu bukan hanya untuk dirinya, tapi adiknya juga merasakan hal yang sama.

TBC

1
Yuni Ngsih
Authooooor ku lg asyik baca dipotong sedih ,karena ceritra ini ada contoh" fakta dlm pek sbg PNS...ok
Elvia Rusdi
Thor. ..Baru Nemu nih karya mu Thor...marathon baca sampui bab trakhir up...baru 4 bab...cerita nya bagus .
Yuni Ngsih
Aùthooor ceritramu kreeeeen banget ,nah itulah seorang PNS yg tanggung jawab terhadap pekerjaan & klwrga hebat peran utamanya Aliya ...mencerminkan anak yg berbakti ,jd bisa menjadi contoh " bg pmbaca kawula muda ....semangat ....& lanjut Thor...ok
Adhiefhaz Fhatim
😍
Adhiefhaz Fhatim
lanjut kk...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!