NovelToon NovelToon
Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:867
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.

Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.

Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beranggapan itu hanya gelar

"Semua buku di sini sudah aku baca semuanya," gumam Ruoling duduk di kursi yang ada di dalam kediamannya dengan menatap tumpukan buku di sudut ruangan yang sedang di angkut pada pengawal dan pelayan ke perpustakaan. "Suka tidak suka aku harus keluar mencari buku baru di perpustakaan, tapi aku sedang tidak ingin keluar."

Ruoling masih bergumam tanpa memperdulikan tatapan yang di berikan orang yang keluar masuk dari kediamannya. "Atau aku minta mereka untuk membawakan buku ke sini saja ya? Tapi tidak... tidak... mereka pasti dengan sengaja membawakan buku yang jelas sudah aku baca."

"Tugas yang anda berikan sudah selesai, Tuan Putri." Kata seseorang pria yang tak lain adalah pengawal setelah memastikan semua buku di pindahkan kembali ke perpustakaan Istana. "Apakah masih ada yang bisa kami bantu lagi?"

"Ada, kalian... tidak ada, sudah selesai. Kalian bisa pergi, " kata Ruoling pada akhirnya karna tidak yakin dengan pilihan orang lain.

Mereka pamit pergi meninggalkan kediamannya dengan membungkuk sopan. Ruoling hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun, tapi diam-diam dirinya yakin mereka melakukan pekerjaan itu dengan setengah hati.

Lalu Ruoling menghela nafas kasar menyadari dirinya harus keluar menuju perpustakaan untuk mencari buku baru. Ia dengan sedikit enggan meninggalkan kediamannya menuju tempat tujuannya yang berada di wilayah timur.

Setiap langkahnya menuju perpustakaan banyak yang menghentikannya jalan atau aktifitasnya hanya untuk sekedar memberikan penghormatan yang di sambutnya dengan baik.

Jika mereka sopan maka ia juga akan melakukan hal yang sama, tak peduli setelahnya mereka kembali membicarakannya lagi yang terpenting tidak di lakukan di sekitarnya.

"Hormat tuan putri," kata seseorang pria berpakaian rapi khas anggota menteri di kerajaan dengan sedikit membungkuk yang di tanggapi dengan senyum kecil oleh Ruoling. "Jarang sekali saya melihat Anda berjalan-jalan di wilayah timur, wilayah yang di persiapkan untuk tempat kediamannya para menteri kerajaan. Kalau boleh tahu apa tujuan Tuan Putri ke sini?"

"Saya ingin ke perpustakaan, Paman." Balas Ruoling ramah. "Buku-buku di kamar sudah habis saya baca."

"Kenapa Tuan Putri tidak meminta pelayan yang mengantarkan buku-buku baru ke kediaman?" Tanya perdana menteri Xuan lagi pada Ruoling.

"Untuk yang satu ini aku lebih suka memilih sendiri," ungkapnya. "Genre yang sedang aku suka belum tentu mereka tahu."

"Benar juga, tapi biasanya Tuan Putri tidak pernah melakukan ini. Saya sering dengar kalau Tuan Putri sering menolak menghadiri sebuah acara atau pertemuan penting dengan alasan sibuk ini dan itu. Tapi untuk buku ternyata Tuan Putri memberikan pengecualian," ungkapnya penuh dengan sindiran, membuat Ruoling menatap pria itu tidak ramah lagi. "Tapi beruntungnya ada Putri Ruoyi... dia yang dulunya tidak suka menjadi pusat perhatian, pemalu seolah-olah tidak tertarik dengan apapun kecuali ibunya malah menawarkan dirinya untuk menggantikan Tuan Putri."

"Dia memang anak baik, tapi saya harus buru-buru, sebentar lagi gelap sementara kediamanku jauh dari sini."

"Tunggu, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan." Pria itu menghentikan gerakan Ruoling yang handak melangkah menjauhinya. "Bagiamana rasanya tinggal di kediaman itu?"

"Lebih baik dari pada yang kalian semua pikirkan." Tanpa menunggu balasan, Ruoling buru-buru meninggalkan pria itu dengan emosi yang di tahan.

Ruoling bisa saja melawan atau membantah semua fitnah yang di berikan padanya, tapi ia tahu kalau asal mula semua rumor itu berasal dari adiknya. Ruoyi.

Sebagai seorang kakak Ruoling tidak ingin adiknya di benci semua orang karna menyebarkan fitnah, tapi sebagai manusia biasa ia ingin mengungkapkan pelaku yang sebenarnya pada semua orang.

Ruoling menggeleng pelan, ia tidak perlu melakukan itu. Mereka saudara, keluarga yang sedang jalan. Semua yang terjadi pada Ruoyi tak lain karna hasutan dari sahabat adiknya yang sangat membencinya dan selama mereka masih tidak di pisahkan maka Ruoyi pasti masih membencinya.

Ia juga sadar harusnya tidak memperdulikan sikap mereka yang membenci karna tidak berpengaruh pada hidupnya sambil terus berjalan. Tapi langkahnya melambat melihat beberapa orang pelayan berkumpul dan sepeti sedang membicarakan sesuatu yang seru.

Mereka juga menyadari keberadaannya hingga Ruoling berusaha untuk tidak terpancing emosi.

"Itu dia anak pembunuh," kata seseorang, membuat langkah Ruoling terhenti lalu menatap tajam asal suara. Ternyata tak jauh di sampingnya ada beberapa pelayan sedang berkumpul sambil sesekali menoleh padanya.

"Jangan bicara lagi, dia sedang melihat kita!" Pelayan lain membuka suara sambil menoleh dengan takut pada Ruoling yang sedang melipat kedua tangan di dada sambil memperhatikan mereka.

Ruoling sengaja menantang keberanian dari Pelayan yang berkerja entah untuk siapa di istana ini yang berulang kali membicarakan hal yang sama dengan harapan mereka tidak melupakan kisah kelam yang menyeret ibunya.

"Apa kau takut? Tapi wajar kau masih baru beberapa Minggu kerja sini." Lanjutnya sepertinya sengaja menantang kemarahan Ruoling. "Percayalah apapun yang kita katakan adalah fakta jadi tak perlu takut kehilangan pekerjaan ini."

"Tentu saja tidak, tapi walau bagaimanapun dia itu Tuan Putri kita. Kita harus–"

"Khusus untuk dia, itu hanya gelar belakang." Sela pelayan itu cepat. "Karna kenyataannya dia tidak memiliki perlindungan yang harus membuat kita takut atau segan pada putri dari mantan seorang Selir beracun itu! Aku masih tidak habis pikir, ada orang sejahat Selir Hua. Meracuni banyak orang tanpa alasan yang jelas, tapi tidak memperbolehkan anaknya–"

"Apa kalian tidak pernah belajar tentang sopan santun ke anak-anak Kaisar?" Tanya Ruoling berusaha tenang di saat emosinya ingin meledak-ledak sambil berjalan mendekati beberapa pelayan itu. "Apakah harus aku ajarkan bagaimana caranya?"

"Maaf–"

"Tuan Putri, kami hanya menyampaikan fakta." Sela salah satu Pelayan dengan berani. "Maaf jika itu menyingung anda, tapi–"

"Tuan putri saya minta maaf, tapi di sini saya hanya mendengarkan, tidak mengomentari apa-apa. Saya permisi duluan," sela seorang pelayan lalu melangkah menjauhi Ruoling dan dua orang Pelayan lainnya.

"Kau sangat berani ya..." Ruoling mendegus, menatap pelayan kurang ajar itu dengan tajam. "Apa kau tidak takut kehilangan pekerjaan ini?"

"Jika Tuan Putri lupa, tapi Tuan Putri tidak punya hak untuk menghentikan pekerjaan kami. Hanya Yang Mulia Permaisuri yang punya kuasa untuk melakukan itu!"

"A-apa yang kau katakan itu berlebihan, aku tidak ikut-ikutan jika mendapatkan masalah karna ini." Kata pelayan lainnya dengan takut.

"Tidak akan mendapatkan masalah selagi yang kita bicarakan adalah kenyataannya," balasnya berani. "Lagian kita bekerja bukan untuk melayaninya, tapi–"

"Apa kau pikir pantas bicara seperti itu padaku?" Ruoling mengepalkan tangannya.

"Tidak, mohon maafkan saya, Tuan Putri. Saya masih baru jadi tidak tahu masalah ini. Saya juga tidak bertanya, tapi pelayan ini yang tiba-tiba menceritakannya."

"Kau–"

"Maafkan saya, mohon izin pamit pergi, Tuan Putri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!