NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 Terpaku

"Di balik berlalunya waktu, tersimpan kenangan yang masih terpaku."

—Celine Chadia Cendana— 

Arena balap perlahan kehilangan riuhnya. Satu per satu sorak sorai mereda, berganti dengan suara langkah kaki yang menjauh dan mesin-mesin yang dimatikan. Lampu sorot masih menyala, namun atmosfernya tidak lagi seganas sebelumnya. Malam kembali menjadi malam—sunyi, dingin, dan menyisakan sisa adrenalin yang belum sepenuhnya turun.

Celine melangkah keluar dari area arena bersama Calvin dan Aldivano. Jaketnya terlipat di lengan, wajahnya masih menyimpan sisa kegembiraan, namun di balik itu ada sesuatu yang mengganjal. Sejak Aldivano datang, sejak tatapan itu tertuju padanya dengan intens yang tak biasa, perasaannya tak lagi tenang.

Calvin menghentikan langkahnya lebih dulu.

“Aku ke parkiran depan,” katanya santai. “Kalian nyusul aja.”

Celine menoleh. “Mas, kamu—”

Calvin tersenyum tipis. “Tenang. Aku tahu jalannya.”

Ia pergi begitu saja, meninggalkan mereka berdua dalam jarak yang tak terlalu dekat, namun juga tak cukup jauh untuk menghindar.

Aldivano berdiri dengan tangan di saku jaketnya. Posturnya tegap, seperti biasa. Namun raut wajahnya lebih kaku dari sebelumnya. Ia menatap lurus ke depan, seolah jalan aspal di hadapannya jauh lebih menarik daripada gadis yang berdiri di sampingnya.

Celine melirik. Lalu menunduk.

Keheningan itu terasa berat.

“Mas Aldi,” ucap Celine akhirnya, memecah sunyi.

“Iya?” jawab Aldivano singkat, tanpa menoleh.

“Kamu marah?”

Pertanyaan itu kembali terucap. Kali ini lebih pelan. Lebih hati-hati.

Aldivano berhenti melangkah. Ia menoleh, menatap Celine dengan sorot mata yang sulit ditebak. Ada banyak hal di sana—khawatir, lelah, menahan diri—namun tidak ada kemarahan.

“Aku tidak marah,” jawabnya pelan.

“Boong,” kata Celine spontan.

Aldivano terdiam.

“Kamu berubah sejak di arena,” lanjut Celine. “Kamu kayak… menahan sesuatu.”

Angin malam bertiup pelan, menggerakkan ujung rambut Celine. Aldivano menarik napas panjang. Dalam sekali tarikan itu, ia mencoba merapikan perasaannya.

“Aku hanya tidak suka kamu ada di tempat seperti itu,” ucapnya akhirnya.

Nada suaranya rendah. Terkendali. Tapi justru itu yang membuatnya terasa tajam.

Celine mengangkat wajahnya. “Kenapa?”

“Karena berbahaya.”

“Aku nggak sendirian.”

“Bahaya tidak selalu menunggu kamu sendirian,” potong Aldivano, sedikit lebih tegas dari yang ia rencanakan.

Celine tersentak. Matanya membesar, bukan karena takut—melainkan karena terkejut. Aldivano jarang berbicara seperti itu padanya.

“Kamu nggak bisa ngatur hidupku, Mas,” ucap Celine lirih, namun jelas.

Kalimat itu seperti pisau kecil yang menyayat pelan.

Aldivano menatapnya lama.

“Aku tahu.”

“Terus kenapa kamu bersikap seolah—” Celine berhenti. Dadanya naik turun. “—seolah kamu punya hak lebih dari yang seharusnya?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Untuk sesaat, Aldivano merasa napasnya tercekat. Hak. Kata itu bergaung keras di kepalanya. Hak yang sah. Hak yang telah Allah tetapkan. Hak yang belum boleh ia sentuh.

“Aku tidak bermaksud seperti itu,” jawabnya perlahan. “Aku hanya…”

Ia terdiam.

Karena kalimat selanjutnya tak boleh keluar.

Celine menunggu. Namun yang ia dapatkan hanya keheningan.

“Mas Aldi,” suaranya melembut, “kamu tahu kan, aku nggak suka kalau orang terlalu mengatur.”

“Aku tahu,” jawab Aldivano cepat.

“Terus kenapa kamu lakukan itu?”

Karena aku mencintaimu.

Karena aku suamimu.

Karena aku bertanggung jawab atas keselamatanmu.

Semua itu hanya bergema di benaknya.

Aldivano mengalihkan pandangan. “Mungkin aku terlalu khawatir.”

Celine menghela napas. Ada rasa kecewa yang samar. Bukan pada larangan—melainkan pada jarak yang tiba-tiba terasa semakin nyata.

“Kamu akhir-akhir ini sering begitu,” ucap Celine pelan. “Datang, tapi kayak nggak benar-benar ada.”

Aldivano menatapnya kembali. “Apa maksudmu?”

“Kamu jaga jarak,” jawab Celine jujur. “Kamu peduli, tapi juga menjauh. Itu bikin aku bingung.”

Kalimat itu jatuh tanpa tuduhan, namun cukup untuk mengguncang pertahanan Aldivano.

Ia mengatupkan rahangnya. Tangannya mengepal di dalam saku jaket. Ia ingin mengatakan semuanya. Ingin menghentikan kebingungan itu. Namun ia teringat satu hal: janji.

“Aku minta maaf kalau bikin kamu tidak nyaman,” ucapnya akhirnya.

Celine mengernyit. “Itu bukan jawaban.”

“Aku tahu,” Aldivano tersenyum tipis, pahit. “Tapi itu yang bisa aku beri sekarang.”

Sekali lagi—jarak.

Celine menatapnya lama. Dalam diam, ia mulai merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar konflik kecil. Ada rahasia. Ada sesuatu yang ditahan terlalu rapi.

“Kalau suatu hari aku tahu alasannya,” ucap Celine pelan, “aku harap kamu jujur.”

Aldivano mengangguk. “Aku akan.”

Janji itu meluncur dengan berat.

Mereka melanjutkan langkah menuju parkiran. Tidak ada lagi percakapan. Namun konflik itu tidak hilang—ia hanya berpindah tempat. Dari kata-kata, ke dalam hati masing-masing.

Di depan mobil Calvin, Celine berhenti.

“Makasih udah nyamperin,” katanya singkat.

Aldivano mengangguk. “Jaga diri.”

Celine membuka pintu mobil, lalu menoleh sekali lagi.

“Mas Aldi…”

“Iya?”

“Kamu bukan orang jahat,” ucapnya. “Tapi jangan jadi orang yang membuatku merasa jauh.”

Mobil tertutup. Mesin menyala. Dan Celine pergi, membawa pertanyaan yang kini tak hanya miliknya—tapi juga Aldivano.

Aldivano berdiri sendirian di bawah lampu parkiran. Malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Ia mengusap wajahnya pelan, lalu menengadah.

“Ya Allah,” bisiknya, “aku hampir kalah.”

Namun ia tahu, menahan diri hari ini adalah bagian dari menjaga. Dan menjaga, meski menyakitkan, adalah bentuk cinta yang paling ia yakini.

Karena tidak semua konflik harus diselesaikan dengan kebenaran yang terbuka.

Sebagian hanya perlu ditahan—hingga waktu mengizinkan.

***

Beberapa pekan berlalu sejak malam di arena balap itu. Waktu berjalan seperti biasa—tidak tergesa, tidak pula menunggu siapa pun. Namun bagi Aldivano, hari-hari setelahnya terasa berbeda. Ada sesuatu yang ia jaga lebih hati-hati, ada perasaan yang ia simpan lebih dalam. Ia tetap Aldivano yang tenang, tertib, dan terukur. Hanya saja, kini setiap langkahnya disertai kesadaran penuh akan satu nama yang tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.

Celine.

Pagi itu, Aldivano datang ke rumah Calvin dengan agenda yang jelas: membahas bisnis yang sedang mereka rintis bersama. Sebuah proyek yang menuntut fokus, ketelitian, dan keputusan-keputusan matang. Namun ia tahu, rumah ini tak pernah hanya tentang bisnis. Ada perasaan lain yang selalu menyertai setiap kunjungannya—perasaan yang tak ia undang, tapi selalu datang dengan sendirinya.

Begitu pintu terbuka, aroma rumah yang hangat langsung menyambutnya. Aldivano bahkan belum sempat melangkah masuk ketika suara lembut Mommy Chailey terdengar dari dalam.

“Aldivano?”

Senyum itu langsung merekah di wajah sang ibu. Matanya berbinar, langkahnya ringan menghampiri.

“Masya Allah, kamu datang,” ucap Mommy Chailey hangat. “Masuk, Nak. Jangan sungkan.”

Aldivano menunduk hormat, mencium tangan beliau dengan penuh takzim.

“Assalamu’alaikum, Mom.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab Mommy Chailey lembut. Tangannya sempat menepuk bahu Aldivano pelan, seperti seorang ibu pada anaknya sendiri. “Kamu kelihatan sehat.”

“Alhamdulillah.”

“Calvin masih di ruang kerjanya,” lanjut Mommy Chailey. “Tapi kamu ke ruang keluarga dulu saja. Celine ada di sana.”

Nama itu terucap begitu alami. Namun bagi Aldivano, selalu ada getaran kecil yang mengikutinya.

“Iya, Mom,” jawabnya pelan.

Mommy Chailey tersenyum, memandang Aldivano dengan rasa sayang yang tak disembunyikan. Bagi beliau, lelaki itu bukan lagi tamu. Bukan pula sekadar rekan bisnis anaknya. Aldivano telah lama menjadi bagian dari keluarga—meski belum semua kebenaran boleh terucap.

Aldivano melangkah menuju ruang keluarga. Langkahnya terukur, tenang, namun hatinya sedikit berdebar ketika melihat sosok yang duduk di sofa panjang dekat jendela.

Celine.

Gadis itu sedang duduk bersila, laptop terbuka di hadapannya. Beberapa buku tebal tersusun di meja. Kertas-kertas penuh coretan berserakan. Sesekali Celine menghela napas panjang, menutup wajahnya dengan telapak tangan, lalu menghela napas lagi—lebih berat dari sebelumnya.

Aldivano berhenti sejenak di ambang pintu. Ia tidak ingin mengganggu. Namun napas berat Celine itu terdengar seperti panggilan yang tak terucap.

“Kenapa?” tanyanya akhirnya, lembut.

Celine mendongak. Matanya melebar sejenak, lalu tersenyum kecil.

“Oh, Mas Aldi.”

Aldivano mendekat perlahan. “Capek?”

Celine mengangguk. “Iya. Materinya ribet. Kayaknya dosenku sengaja.”

Nada suaranya setengah bercanda, setengah lelah.

Aldivano tersenyum tipis. Ia menatap layar laptop, sekilas membaca isi yang terpampang di sana. Alisnya sedikit mengernyit—bukan karena bingung, tapi karena memahami.

“Bagian mana yang bikin kamu stuck?” tanyanya.

Celine ragu sejenak. “Ganggu nggak?”

“Tidak,” jawab Aldivano cepat. “Aku juga nunggu Calvin.”

Celine bergeser sedikit, memberi ruang. “Yang ini,” katanya sambil menunjuk salah satu bagian. “Aku baca berkali-kali, tapi tetap nggak nyambung.”

Aldivano duduk di sebelahnya, dengan jarak yang masih sopan. Ia mengambil satu buku, membukanya, lalu mulai menjelaskan perlahan. Tidak terburu-buru. Tidak meremehkan. Suaranya tenang, pilihan katanya sederhana, namun tepat.

Celine mendengarkan dengan saksama. Awalnya ia fokus pada materi. Namun entah sejak kapan, perhatiannya terpecah. Cara Aldivano menjelaskan terlalu sabar. Terlalu rapi. Terlalu… menenangkan.

Ia menatap wajah Aldivano sekilas. Garis rahangnya tegas. Sorot matanya teduh. Tidak ada kesan menggurui. Tidak pula merasa lebih pintar. Hanya ingin membantu.

Ada rasa kagum yang tiba-tiba muncul di dada Celine.

Ia segera menggeleng kecil, menepis perasaan itu.

Mas Aldi itu seperti abang.

Ia mengulang kalimat itu dalam hati, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.

“Oh…” Celine mengangguk pelan saat akhirnya memahami penjelasan Aldivano. “Jadi maksudnya gitu.”

“Iya,” jawab Aldivano. “Kamu sebenarnya sudah di jalur yang benar. Cuma terlalu keras sama diri sendiri.”

Kalimat itu membuat Celine terdiam sejenak.

“Aku sering dibilang gitu,” katanya pelan.

Aldivano menoleh. “Dan kamu tetap melakukannya.”

Celine tersenyum kecut. “Susahlah.”

Aldivano ingin mengatakan banyak hal. Ingin bilang bahwa Celine tidak perlu memikul semuanya sendirian. Ingin mengatakan bahwa ada seseorang yang akan selalu ada untuknya. Namun ia menahan diri.

Ia hanya berkata, “Istirahat sebentar juga nggak apa-apa.”

Di sudut ruangan, Calvin berdiri tanpa suara. Ia baru saja keluar dari ruang kerja dan melihat pemandangan itu—Aldivano dan Celine duduk berdampingan, kepala mereka sedikit condong ke arah yang sama, suasana hangat yang sulit diabaikan.

Calvin tersenyum kecil.

Ia tidak mendekat. Tidak ingin merusak momen yang jarang itu. Ada sesuatu yang terasa tepat di sana—sesuatu yang seharusnya memang begitu adanya.

Dengan niat iseng yang muncul begitu saja, Calvin mengeluarkan ponselnya. Tanpa suara rana, ia mengambil satu foto. Cukup satu. Tidak dramatis. Tidak dibuat-buat. Hanya momen sederhana—namun sarat makna.

Ia tersenyum lalu mengirimkannya ke grup keluarga.

Tak lama kemudian, notifikasi masuk bertubi-tubi.

Mommy Chailey: Masya Allah…

Daddy Caesar: Indah.

Reina: Aku terharu.

Bunda Afsheen: Couple favorit ini mah❤️

Ayah Aarash: Ciee.. Udah ada kemajuan, nih.

Calvin menahan tawa kecil. Ia tahu, di balik foto sederhana itu, ada rahasia besar yang masih dijaga. Ada janji yang belum boleh terungkap.

Di ruang keluarga, Celine kembali fokus pada layarnya. Aldivano masih di sampingnya, sesekali menunjuk bagian tertentu, sesekali membiarkan Celine berpikir sendiri.

“Terima kasih, Mas,” ucap Celine tulus. “Kalau nggak ada kamu, mungkin aku sudah menyerah.”

Aldivano menatapnya, senyum kecil terukir di wajahnya.

“Jangan menyerah.”

Celine mengangguk.

Dan di ruang itu, di waktu yang terasa biasa, cinta berdiri dalam bentuk paling sunyi—menjaga jarak, menahan rindu, dan tetap setia pada waktunya.

Karena tidak semua kedekatan harus diakui.

Sebagian cukup dirasakan… dan dijaga.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!