Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Punya saham tersendiri
" Om " panggil Ayra setelah beberapa saat sementara Hans masih berdiri terdiam .
" Udah selesai?" Hans berbalik begitu Ayra menyentuh punggung nya .
" Udah " kata Ayra .
Hans menghapus sisa air mata yang jatuh di pipi Ayra dan menunduk kearah Ayra lalu memeluk nya .
" Maafkan Om " ucap Hans mengelus punggung Ayra .
" Udah berapa kali Om bilang jangan membantah " kata Hans mengecup kening Ayra .
" Sekarang Om udah mulai sulit mengendalikan emosi dan kamu juga sudah dewasa jadi bersikaplah sewajarnya, dan Om minta maaf kalau reaksi Om terlalu berlebihan hingga membuat kamu tak nyaman " ucap Hans yang juga mengakui kesalahan nya .
" Maafin ya, Om nggak bermaksud buat cabul atau melakukan," Ayra menutup mulut Hans dengan tangan nya .
" Aku nggak berpikir Om akan melakukan itu kok " kata Ayra yang sangat percaya Hans .
" Lalu mengapa menangis? Kamu marah karena Om gunting rok nya?" pertanyaan Hans yang diangguki Ayra .
" Aku suka Om, pengen pakai " rengek Ayra yang memang menyukai rok mini .
" Baiklah kamu boleh membeli dan memakainya sebanyak yang kamu inginkan, tapi hanya boleh dipakai di kamar saja ingat itu " ucap Hans .
" Mmmh, kalau gitu ngapain pake rok cantik nggak bakalan ada yang lihat juga " cemberut Ayra .
" Kamu menyukai rok itu atau suka orang memandang kamu ketika memakainya?" pertanyaan Hans.
" Kamu itu sudah dewasa dan jangan mengundang gairah pria yang ujung-ujungnya akan mencelakakan kamu " nasehat Hans .
" Om nggak larang kamu pakai rok , tapi pakailah pakaian yang sesuai dan pantas lagian nggak harus rok mini yang ngepas di tubuh , rok selutut juga banyak yang cantik tidak harus rok pendek " kata Hans yang membuat Ayra berpikir ucapan Hans ada benarnya.
" Aku nggak ada nemu yang cantik , semua jelek" jujur Ayra .
" Yaudah nanti pulang dari kantor Om temenin cari rok yang cantik, tapi janji sama Om nggak bakal pakai rok pendek lagi " kata Hans yang diangguki Ayra .
" Maafin aku udah nggak nurut sama Om , janji nggak bakal membantah Om lagi " kata Ayra memeluk Hans .
" Bagus, gadis yang patuh " senang Hans mengelus-elus kepala Ayra dengan sayang .
" Om baru ganti parfum ya?" tanya Ayra membenamkan wajahnya di dada Hans .
" Iya, coba kamu cium apa ini lebih wangi dari yang sebelumnya atau tidak ?" ucap Hans meminta pendapat Ayra .
" Dimana aku cium Om?" tanya Ayra dengan polos bertanya dititik mana Hans menyemprotkan parfum.
" Ini, coba hirup aroma dada Om" kata Hans melepas dasi dan beberapa kancing kemeja .
" Mmmh, harum banget, enak " komentar Ayra berjinjit dan mencium aroma parfum baru Hans .
" Tapi tetap aja aku suka aroma parfum lama Om " kata Ayra setelah beberapa saat.
" Kenapa?" tanya Hans jadi terdiam .
" Aku suka aroma itu bahkan bisa mengenali Om hanya dengan menghirup aroma nya " kata Ayra .
" Mmmm, baiklah besok Om akan pakai parfum itu lagi " ucap Hans .
" Tapi ini juga harum kok Om , aku suka juga " komentar Ayra menghirup lagi .
" Kamu ini benar-benar tidak konsisten " geleng kepala Hans melihat Ayra yang sangat mudah berubah pikiran.
" Hehehe"
" Rapikan lagi baju Om cepat" perintah Hans seolah Ayra yang mengacaukan penampilan nya .
Ayra mengancingkan kemeja Hans dan juga memasang kembali dasinya " tumben Om biarin aku sentuh Om dekat-dekat biasanya nggak boleh " kata Ayra yang merasa akhir-akhir ini Hans tidak lagi menjaga jarak darinya .
" Kamu ini dibiarkan salah , dicegah salah , capek Om sama kamu " ucap Hans mendadak bad mood .
" Lohhh kok Om malah ngambek " ucap Ayra berlari mengejar Hans .
............
Diruang kerja nya Hans melamun memikirkan segalanya, menatap Ayra yang duduk mempelajari beberapa berkas di sofa .
" Bagaimana cara nya agar Ayra bisa jatuh cinta padaku bahkan dia sama sekali tidak tertarik padaku " batin Hans memijit pelipisnya yang terasa sakit memikirkan semuanya .
Tok
Tok
" Masuk " suara berat Hans tersadar dari lamunannya.
" Selamat siang pak Hans , Bu Bella salah satu investor perusahaan baru ingin bertemu dengan bapak secara pribadi " ucap sekretaris Hans menyampaikan informasi.
" Suruh dia masuk " kata Hans karena Bella merupakan salah satu pemegang saham cukup besar di perusahaan baru yang akan diresmikan beberapa hari lagi .
" Om bikin perusahaan baru?" tanya Ayra yang mendengar percakapan mereka.
" Iya, ini anak perusahaan Om yang keempat" ucap Hans menatap Ayra yang menatapnya.
" Ihhhhh, Om diam-diam aja buat perusahaan tidak mengajak aku berinvestasi" cemberut Ayra merasa Hans melupakan nya .
" Kamu tidak perlu berinvestasi Ay , kamu punya saham tersendiri di perusahaan Om " kata Hans yang memberikan nya dengan suka rela .
" Wahhhh, jadi Om ngasih saham perusahaan baru itu untuk aku?" pertanyaan Ayra dengan mata melotot .
" Mmmmm" Hans hanya bergumam , namun langsung tersenyum lebar begitu Bella masuk kedalam ruangan nya .
" Selamat siang pak Hans " sapa Bella berjabat tangan dan tersenyum pada Hans .
" Siang, ada apa ? Mengapa datang kemari ? Apa ada masalah yang serius?" pertanyaan Hans menatap wanita yang duduk dihadapan nya dengan fokus .
" Tidak pak Hans , ini hanya masalah kecil , aku butuh konfirmasi langsung itu saja" kata wanita itu menunjukkan beberapa berkas yang dibawanya .
" Oooo iya, apa ada beberapa poin yang tidak Bu Bella pahami?" tanya Hans dengan formal .
" Pak Hans panggil Bella saja , jangan Ibu " komplen Bella rada merengek hingga membuat Hans tertawa spontan.
" Baiklah Bella tapi jangan panggil aku bapak juga " ucap Hans dengan nada hangat .
" Hummmm, sama-sama tua pun kalian " komentar Ayra berdiri dari duduknya dan pergi keluar ruangan Hans dengan perasaan kesal .
Hans hanya mengulum senyum melihat kilatan cemburu dimata Ayra yang tidak bisa bohong .
" Lohhhh Ay, mau kemana?" tanya Dave yang berpapasan dengan Ayra yang baru keluar ruangan Hans namun mood nya terlihat jelek sekali.
"Jangan ganggu , Om Hans lagi sama gebetan baru nya " ketus Ayra dan berjalan pergi dengan langkah lebarnya .
" Ayra kenapa dek " ucap Dave mengejar Ayra yang berhenti disudut ruang tunggu .
" Cerita sama Om, kenapa?" tanya Dave membawa Ayra duduk di kursi tunggu .
" Aku lagi ngomong sama Om Hans dan belum selesai, tapi begitu wanita itu datang Om Hans langsung fokus sama dia seolah melupakan aku, ngeselin banget " kesal Ayra tidak terima .
" Ya udahlah, kenapa harus marah, mungkin wanita itu rekan kerjanya " ucap Dave .
" Terserah mau wanita itu siapa , tapi aku nggak suka Om Hans kayak gitu, nggak mau bicara lagi sama dia " kata Ayra memangku tangan nya .
" Kamu cemburu Ay, Om kamu dekat dengan seorang wanita?" tanya Dave yang ingin tau perasaan Ayra melihat respons berlebihan nya.
" Aku tidak cemburu Om, hanya tidak suka Om Hans mengabaikan aku demi wanita itu " kata Ayra .
" Ehhhh, tapi harusnya aku bahagia kan jika Om Hans udah bisa bicara hangat dengan seorang wanita " kata Ayra setelah beberapa saat membuat Dave langsung menepuk jidat mendengarnya.
wah ada baby Zoe, jangan bilang kecebong Hans itu 🤭🤭😆