NovelToon NovelToon
Surga Yang Tak Diinginkan

Surga Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Perjodohan / Poligami / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Romansa Love

"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.

"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."

Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.

Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.

Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14 (Penguntit)

Fania berjalan sendiri mencari tempat untuk menenangkan diri. Dia melangkah pelan menuju Arasta Bazaar yang berada di belakang Blue Mosque. Tempat itu menyediakan souvenir dan berbagai kerajinan tangan lainnya.

"Tempat ini bagus sekali," gumam Fania sambil melihat sekeliling. "Aku harus membelikan oleh-oleh untuk Mama dan Ibu. Pasti mereka akan senang sekali. Lagipula uang ini harus dimanfaatkan dengan baik bukan?" lanjut Fania berdiri di salah satu lapak yang menyediakan pernak pernik dari batu alam yang dijadikan tasbih.

Fania memilih tiga tasbih untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Fania menggunakan bahasa inggris utuk berkomunikasi. Dia berbicara ramah dengan penjual souvenir tersebut. Hingga pesonanya menarik perhatian Devan. Pria itu sepertinya sudah kehilangan akal sehatnya. Membuntuti seorang wanita yang sudah bersuami.

Devan kembali mengikuti langkah Fania yang tampak menikmati perjalanannya. "Cantik sekali, andai saja statusnya single, sudah kupastikan tidak akan bersembunyi seperti ini. Aku sudah menolak beberapa project demi hal ini. Untuk itu aku akan mengabadikan semua keindahan ini. Ya, aku sudah gila. Menguntit seseorang yang baru saja kukenal."

Pria bertubuh jangkung itu memposisikan kameranya di setiap gerak gerik Fania yang dianggapnya indah. Perjalanan di tempat souvenir pun selesai, langkah kecil itu beranjak menuju ke Taman Sultanahmet. Fania membawa tiga paper bag yang berisi banyak oleh-oleh.

"Lelah sekali rasanya, sepertinya aku banyak membeli barang. Gamis ini bagus sekali, warnanya juga cocok." Fania membuka paper bag itu dengan senyum sumringah.

Fania menghela napas panjang sembari melihat dua gedung besar yang ada di depannya. Sementara itu dari kejauhan, Devan sibuk mengabadikan pose Fania yang sangat fotogenik. Terlalu asyik memotret, hingga tidak tahu jika keberadaanya diketahui oleh Fania.

"Siapa dia? Apa dia sedang diam-diam memotretku? Sangat tidak sopan." Fania berjalan menuju ke arah Devan berdiri. Pria itu segera sadar dan mulai gugup saat ketahuan.

"Siapa Anda? Kenapa memotret tanpa izin seperti ini? Anda tahu jika sikap ini tidak sopan," tegur Fania membuat Devan menghentikan aksinya.

"Karena sudah ketahuan, maaf melakukan itu pada Anda." Devan membuka maskernya dan membuat Fania terkejut.

"Mas Devan? Kok Anda bisa ada di sini? Lalu apa yang anda lakukan? Menguntit?" tanya Fania sedikit kesal.

Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tersenyum canggung. "Maaf, saya lancang sudah memotret sembarangan. Untuk hasilnya Mbak Fania bisa lihat sendiri, sangat indah untuk dilewatkan."

Devan memberikan kameranya pada Fania. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman yang terjadi. Kamera itu pun diterima dengan cepat, dia sangat penasaran dengan hasilnya. Sepertinya ada kekhawatiran jika terjadi sesuatu.

"Bagaimana cara menggunakan ini?" tanya Fania penasaran, dia sedikit bingung dengan kamera yang dibawanya.

Devan mendekat dan memberitahunya. "Tekan saja bagian ini. Sudah terlihat semuanya."

Fania melihat hasil foto itu. Dia tersenyum tipis karena memang hasilnya sangat cantik. "Meski hasilnya bagus, Anda tidak bisa memotret sembarangan. Itu namanya tidak sopan."

"Saya mengerti, untuk itu saya meminta maaf karena sudah lancang." Devan berkata sekali lagi. Fania menghela napas berat. Dia berbalik dan meninggalkan Devan di tempatnya.

Devan segera mengejar, dia berjalan di samping gadis incarannya. "Apa yang Anda lakukan di sini? Apa Anda sedang liburan?"

Fania diam sejenak, dia menoleh ke arah Devan. "Saya rasa Anda sudah tahu semuanya. Justru saya yang harus bertanya, apa tujuan Anda sebenarnya?"

"Apa tujuan Anda mengikuti saya sampai di sini?" Fania mengulang lagi pertanyaannya.

"Jika saya menjawab mengikuti Anda, apa Anda akan marah?" jawab Devan mengejutkan Fania. "Jujur sejak pertemuan pertama itu saya selalu memikirkan Anda. Rasa penasaran membawa saya sampai di sini. Dugaan jika rumah tangga Anda yang bermasalah itu memang benar. Sekali lagi saya meminta maaf sudah sejauh ini."

Fania menahan rasa kesalnya. Dia membalas pengakuan itu dengan ucapan sinis. "Status Anda adalah seorang pengacara, bagaimana bisa melakukan hal yang melanggar privasi seperti ini?"

"Sekarang apa yang kan Anda lakukan setelah mengetahui semuanya? Membeberkan ke semua orang atau ...."

"Saya akan membantu Anda lepas dari pria bodoh sepertinya. Setelah itu, saya yang akan berjuang mendapatkan hati Anda yang terluka. Saya akan menyembuhkannya dan .... "

Fania melanjutkan lagi langkahnya. Dia tidak ingin mendengar lanjutan ucapan tadi. Hal itu membuat Devan gugup, ternyata pengakuannya membuat Fania tersinggung.

"Maksud saya bukan seperti itu, Anda sudah salah paham," teriak Devan sambil mengejar Fania. Sementara itu, Fania terus berjalan sambil membawa paper bagnya tadi.

Keduanya terus berjalan hingga sampai di sebuah restoran yang menyajikan makanan khas Turki. Fania masuk ke dalam sana dan diikuti oleh Devan. Pria itu sangat antusias sekali sampai membuatnya bahagia.

"Kebetulan makanan di sini rasanya enak sekali. Saya sudah sering ke sini saat ada tugas. Silakan pesan kali ini saya yang traktir." Devan mencoba mencairkan suasana.

Fania diam tidak mempedulikan, dia membuka daftar menu dan langsung memesa makanannya. Begitu juga dengan Devan, dia memesan banyak makanan untuk menarik perhatian gadis pujaannya.

Selesai memesan, Fania mengambil handphonenya. Dia meminta foto yang diambil oleh Devan tadi. "Bisakah Anda mengirimkan foto yang Anda ambil? Lewat email saja, ini email saya."

Devan tersenyum manis, dia merasa mendapatkan sebuah peluang. "Dengan senang hati saya akan mengirimkan itu."

Fania mengalihkan pandangannya, dia melihat ke arah lain. Ternyata di sana dia melihat Raditya yang masih sibuk berfoto untuk mengabadikan pernikahannya. Devan yang penasaran juga menoleh ke arah yang sama. Dia bertanya untuk memastikan sesuatu.

"Bagaimana perasaan Anda saat melihat mereka? Apa Anda baik-baik saja?" tanya Devan dan tidak dijawab oleh Fania.

"Saya tidak perlu menjawab karena itu rahasia. Anda tidak berhak mengetahui apapun dari saya," jawab Fania ketus, dia tidak akan bersikap lembut

Devan memberikan kartu namanya. "Jika Anda membutuhkan pembelaan suatu hari nanti. Saya akan membantu dengan sepenuh hati. Simpan kartu nama saya, siapa tau Anda membutuhkannya."

Fania meluruskan pandangannya, lalu ada pelayan yang datang membawa pesanan makanan. Devan terus memancing percakapan agar suasana tidak begitu canggung.

"Setelah makan nanti, saya akan menjadi pemandu Anda untuk berkeliling di daerah sini. Pasti mereka juga tidak kan peduli, untuk itu nikmati waktu sebelum kembali," ucap Devan dengan percaya diri.

"Saya akan pergi sendiri, jadi Anda tidak perlu repot-repot mengantar," balas Fania acuh.

"Baiklah, jika seperti itu biar saya yang ikut Anda untuk berlibur. Bagaimana? Apa saya diizinkan?" tanya Devan penuh harap.

Fania menghela napas dalam, dia melanjutkan makannya lagi dan mengabikan Devan yang terus berbicara. Sepertinya dia mengizinkan meski kalimat itu tidak terucap secara langsung.

Devan terus memandang gadis yang ada di depannya. Dia tidak menyangka jika akan berinteraksi lama tanpa adanya pengganggu. "Semoga setelah ini hubungan kita akan lebih baik lagi. Tidak apa-apa jika hanya berteman. Selanjutnya aku akan bekerja keras untuk meluluhkan hatimu, Fania."

1
Sanda Rindani
ya ,apa salahnya ibunya lapor polisi
nunik rahyuni
bagus jgn mau lkian.model kya itu .biar mmnya baik tp kmu hidup sama anaknya.lagian dia sdh tidur sm.wewe jd jgn mau dipake ma dia
nunik rahyuni
bangke kalian be2 ni.....pasangan yg cocok..kedua duanya g ada otak
nunik rahyuni
hadaw kok lemes to yuu yuuu ...biar dikata wanita itu lemah tp ya jgn lemah2 bgt gitu lho
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡
nunik rahyuni
knp mau maunya disuruh2 baik minggat j
nunik rahyuni
knp klo bikin kisah pasti seorg istri yg lemah...bru mulai baca sdh mo kluar golok aq
Romansa Love: Kak😭 Goloknya simpan dulu buat motong ayam nanti dibuat opor 😭🤭 Terima kasih sudah mampir di karyaku Kak😍
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
skip dulu terlalu gedek untuk d baca. dan untuk kesehatan mental d bln puasa 🙏
Romansa Love: Bacanya pas buka puasa Kak😭😅
total 1 replies
partini
ga mempan hemm kamu salah doa paling mustajab itu doa seorang ibu untuk anaknya
partini
fania agak bandel, mencintai lebih baik di cintai
partini
sedih sekali ini cerita nya,i hope happy dengan lelaki lain biar beda sama novel yg lain
Romansa Love: Halo, Kak Terima kasih sudah membaca ceritaku😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!