Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 RTJ
Matahari terbit dengan warna merah darah yang membasahi langit ibu kota, seolah memberikan pertanda akan peristiwa yang akan segera terjadi. Di Kediaman Jenderal Lin, kesibukan mencapai puncaknya. Ratusan pelayan berlalu-lalang membawa baki perak, gulungan permadani sutra, dan lampion emas. Perjamuan menyambut utusan dari Utara bukan sekadar pesta; ini adalah panggung sandiwara besar di mana nyawa ribuan rakyat di perbatasan sedang dipertaruhkan.
Lin Xi berdiri di depan cermin besar di Paviliun Tamu. Ia mengenakan jubah tabibnya yang paling formal—sutra putih bersih dengan sulaman benang abu-abu yang membentuk motif pegunungan. Di balik lengan bajunya yang lebar, ia telah menyembunyikan selusin pisau lempar tipis dan puluhan jarum yang telah dicelupkan ke dalam racun pelumpuh syaraf.
"Nona, semuanya sudah siap," suara Satu terdengar melalui transmisi suara rahasia dari balik dinding. "Sembilan orang lainnya telah menyusup sebagai pembawa arak dan pemusik. Kami hanya menunggu aba-aba darimu."
"Ingat," balas Lin Xi pelan, hampir tak menggerakkan bibir. "Jangan menyerang sebelum aku memberikan sinyal melalui ledakan asap hijau. Fokus kalian adalah mengamankan segel militer dan melumpuhkan jalur pelarian Lin Tian. Serahkan 'Empat Penjaga Iblis' padaku dan Pangeran Ketiga."
Langkah pertama rencana Lin Xi dimulai di dapur utama. Dengan alasan memeriksa kualitas bahan makanan yang akan disajikan kepada Pangeran Ketiga yang "sakit-sakitan", ia berhasil masuk tanpa dicurigai. Para koki membungkuk hormat, mengetahui bahwa Tabib Mo adalah orang kepercayaan baru Jenderal.
Saat kepala koki sedang sibuk memotong daging rusa, Lin Xi berjalan melewati deretan dupa besar yang akan dibakar di aula utama. Tangannya bergerak secepat kilat. Dari celah jarinya, debu halus berwarna ungu pucat jatuh dan menyatu dengan serbuk dupa. Itu adalah "Napas Naga Tidur".
"Tabib Mo, apakah ada masalah dengan dupanya?" tanya seorang pengawas pelayan dengan nada curiga.
Lin Xi menoleh dengan tenang, wajahnya tanpa ekspresi. "Aromanya terlalu kuat. Pangeran Ketiga memiliki paru-paru yang sensitif. Jika asapnya terlalu pekat, beliau bisa pingsan di tengah acara, dan aku ragu Jenderal Lin ingin bertanggung jawab atas kesehatan seorang Pangeran di hadapan tamu asing."
Mendengar nama Pangeran, pengawas itu segera menunduk ketakutan. "Terima kasih atas bimbingannya, Tabib. Kami akan memastikan ventilasi aula tetap terbuka."
Lin Xi tersenyum tipis. Itulah tepatnya yang ia inginkan. Aliran udara akan membawa racun itu menyebar secara merata ke seluruh penjuru aula, namun akan terkonsentrasi di titik-titik tertentu di mana para penjaga berdiri statis.
Perjamuan tiba, dan Aula Naga Emas di kediaman Lin bersinar benderang. Lin Tian duduk di kursi utama, tampak gagah dengan baju zirah upacaranya. Di sisi kirinya duduk Long Chen, yang tampak pucat dan sesekali terbatuk ke dalam sapu tangan sutranya. Di sisi kanan, duduk seorang pria bertubuh raksasa dengan pakaian bulu serigala—Jenderal Boru, utusan dari Kerajaan Utara.
Lin Xi berdiri di belakang kursi Long Chen, memegang kotak obatnya seolah-olah siap memberikan pertolongan medis kapan saja. Dari posisinya, ia bisa melihat "Empat Penjaga Iblis". Mereka berdiri di empat pilar utama aula. Mereka mengenakan topeng besi tanpa lubang mata, namun Lin Xi tahu mereka merasakan segala sesuatu melalui getaran energi Qi.
"Jenderal Lin," suara Boru berat dan menggelegar. "Kaisar kami sudah tidak sabar menunggu kerja sama ini. Perbatasan Utara sangat dingin, dan kami butuh kehangatan dari wilayah selatan yang subur ini."
Lin Tian tertawa, matanya berkilat penuh ambisi. "Semua ada harganya, Jenderal Boru. Dan saya yakin Anda membawa 'harga' yang sesuai dalam kotak hitam itu."
Boru meletakkan sebuah kotak kecil di meja. Isinya bukan emas, melainkan kontrak rahasia yang menyatakan dukungan militer untuk Lin Tian melakukan kudeta, dengan imbalan penyerahan tiga kota perbatasan.
Long Chen berdeham kecil, suaranya terdengar lemah namun tajam. "Jenderal Lin, bukankah terlalu dini membicarakan 'bisnis' sebelum kita menikmati tarian dan arak terbaik?"
"Tentu saja, Yang Mulia," jawab Lin Tian dengan nada meremehkan. "Pelayan! Sajikan arak terbaik!"
Sepuluh pelayan masuk, termasuk Satu yang menyamar. Saat mereka menuangkan arak, dupa di sudut-sudut ruangan mulai terbakar habis. Asap tipis yang hampir tak terlihat mulai memenuhi ruangan.
Beberapa saat kemudian, Lin Tian berdiri. Ia merogoh ke dalam jubahnya dan mengeluarkan sebuah benda berbahan perunggu berbentuk kepala macan—Segel Militer Wilayah Barat.
"Ini adalah kunci dari segalanya," ucap Lin Tian. "Dengan segel ini, seluruh pasukan di perbatasan akan tunduk pada perintahku, bukan pada Kaisar yang sudah tua dan lemah di istana sana."
Lin Xi merasakan tangannya gemetar karena amarah. Pria ini... pria yang menghancurkan keluarganya, kini dengan bangga menjual negara demi kekuasaan. Ia melirik Long Chen. Pangeran itu memberinya isyarat mata yang sangat halus. Waktunya telah tiba.
"Jenderal Lin!" Lin Xi melangkah maju, suaranya memotong keheningan aula. "Sebelum Anda menyerahkan segel itu, bukankah lebih baik Anda memeriksa isi arak yang baru saja Anda minum?"
Seluruh aula mendadak sunyi. Lin Tian menyipitkan matanya. "Apa maksudmu, Tabib?"
"Cobalah jalankan energi Qi Anda ke titik Dantian," tantang Lin Xi dengan senyum dingin.
Lin Tian mencoba melakukannya, dan seketika wajahnya memucat. Ia merasakan aliran energinya seperti tersumbat oleh lumpur yang sangat kental. Tidak hanya dia, Jenderal Boru dan para pengawalnya juga mulai merasa pusing.
"Kau... kau berani meracuniku?!" raung Lin Tian. Ia mencoba menarik pedangnya, namun gerakannya lambat.
"Bukan hanya araknya, Jenderal. Asap dupa yang Anda hirup sejak tadi adalah pelengkapnya," ucap Lin Xi sambil melepaskan penyamaran suaranya. Kini suaranya terdengar jernih dan penuh kebencian. "Apakah kau mengenalku sekarang, Lin Tian?"
Lin Xi menyambar cadar dan topi tabibnya, membiarkan rambut hitamnya terurai. Wajahnya yang asli kini terpampang nyata di bawah cahaya lampion.
Lin Tian terbelalak. "Lin Xi? Tidak mungkin... Kau sudah mati di Jurang Kematian!"
"Neraka tidak mau menerimaku sebelum aku menyeretmu ke sana, Ayah," ucap Lin Xi dengan penekanan pedas pada kata 'Ayah'.
"Bunuh dia! Penjaga Iblis, bunuh wanita jalang ini!" teriak Lin Tian.
Keempat penjaga bertopeng itu bergerak serentak. Meskipun mereka terkena dampak racun, kultivasi mereka yang tinggi memungkinkan mereka untuk tetap bergerak cepat. Mereka melompat dari pilar, membentuk formasi persegi yang mengurung Lin Xi.
"Sekarang!" teriak Lin Xi.
Boom!
Asap hijau meledak di tengah aula. Sepuluh prajurit bayangan Lin Xi muncul dari balik tirai dan langit-langit, menyerang para pengawal Lin Tian yang sedang linglung. Satu langsung menerjang ke arah meja utama untuk merebut segel militer.
Namun, Lin Tian bukan jenderal tanpa alasan. Meskipun energinya terhambat, ia masih memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Ia menghantam meja hingga hancur dan menendang Satu hingga terpental.
Di sisi lain, Lin Xi harus menghadapi Empat Penjaga Iblis. Mereka menyerangnya dengan rantai besi yang berputar-putar, menciptakan badai logam di sekelilingnya.
"Kakek Bai! Berikan aku 'Pedang Es Jiwa'!" seru Lin Xi dalam pikirannya.
Seketika, sebuah pedang pendek yang terbuat dari kristal es biru muncul di tangannya. Pedang itu memancarkan hawa dingin yang luar biasa, membekukan lantai di setiap langkah Lin Xi. Ia menari di antara rantai-rantai itu, jarum-jarum peraknya melesat dari tangan kirinya, mengincar celah-celah kecil di balik topeng besi para penjaga.
Clang! Clang!
Long Chen, yang tadinya tampak lemah, tiba-tiba berdiri. Ia tidak lagi batuk. Dengan satu gerakan tangan, ia melepaskan gelombang energi murni yang menjatuhkan tiga pengawal Boru sekaligus. "Garda Bayangan, amankan utusan Utara! Jangan biarkan satu pun meloloskan diri!"
Puluhan pria berbaju hitam turun dari atap aula, membuat situasi semakin kacau.
Lin Xi berhasil menusukkan jarumnya ke tenggorokan salah satu Penjaga Iblis, membuatnya jatuh berlutut. Ia melompat, mendarat tepat di depan Lin Tian yang sedang mencoba melarikan diri melalui pintu belakang bersama segel militer.
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana," desis Lin Xi.
Lin Tian menatapnya dengan kebencian murni. "Kau pikir dengan sedikit trik racun dan bantuan Pangeran lemah itu kau bisa mengalahkanku? Aku adalah penguasa perang!"
Lin Tian mengayunkan pedang besarnya. Benturan antara pedang zirah berat dan pedang es kecil milik Lin Xi menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan pilar-pilar kayu di sekitar mereka. Lin Xi terdesak mundur, lengannya terasa kebas karena kekuatan fisik Lin Tian yang sangat besar.
"Gunakan teknik 'Tujuh Bintang Pemutus Nadi', Xi'er!" teriak Kakek Bai. "Jangan lawan kekuatannya, gunakan kelemahannya!"
Lin Xi memejamkan mata sejenak, merasakan aliran Qi Lin Tian yang tidak stabil akibat racun. Saat Lin Tian mengayunkan pedangnya lagi, Lin Xi tidak menghindar. Ia justru maju ke depan, membiarkan pedang itu nyaris menyerempet bahunya, dan menusukkan lima jari tangannya ke lima titik syaraf utama di dada Lin Tian.
"Argh!" Lin Tian memuntahkan darah hitam. Segel militer jatuh dari tangannya dan menggelinding di lantai.
Lin Xi menangkap segel itu, lalu menendang dada Lin Tian hingga sang Jenderal terkapar di atas puing-puing perjamuan.
Namun, saat Lin Xi hendak mengayunkan pedangnya untuk mengakhiri nyawa pria itu, sebuah jeritan melengking menghentikannya.
"Berhenti! Atau aku akan membunuhnya!"
Lin Xi menoleh. Di ambang pintu, Lin Mei berdiri dengan rambut acak-acakan dan mata yang gila. Di tangannya, ia memegang pisau yang ditempelkan ke leher seorang wanita tua yang sangat dikenal Lin Xi—Pengasuh Han, satu-satunya orang yang menyayanginya di kediaman ini dan yang selama ini ia kira sudah meninggal.
"Lepaskan Ayah, atau wanita tua ini akan menyusul ibumu ke liang lahat!" teriak Lin Mei histeris.