Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PECAHNYA KARANG BOLONG
Aula besar itu kini dipenuhi oleh uap panas yang begitu pekat, hasil dari benturan energi api murni Tirta dengan elemen air milik Kapten Kraken. Jarak pandang menjadi nol, namun bagi seorang pendekar tingkat tinggi, mata hanyalah alat bantu sekunder. Tirta memejamkan matanya, mengandalkan indra perasanya untuk menangkap getaran molekul air yang masih bergerak liar di sekelilingnya.
"Kau pikir uap ini melindungimu, Bocah?" Suara Kraken menggema, terdengar berat dan basah dari balik kabut uap. "Di dalam uap ini, aku ada di mana-mana!"
Tiba-tiba, dari arah kanan Tirta, sebuah cambuk air yang tajam melesat. Tirta menghindar tipis, namun cambuk itu segera berubah menjadi belasan duri es yang mengincar titik vitalnya.
TRANG! TRANG! TRANG!
Tirta memutar Sasmita Dwipa dengan kecepatan kilat, menciptakan perisai cahaya yang menghancurkan es-es tersebut menjadi serpihan. Namun, Kraken tidak berhenti. Ia menyerang dari sudut-sudut yang tak terduga, memanfaatkan uap sebagai medium untuk menyembunyikan keberadaannya.
Di saat yang sama, di ruang mesin, alarm mulai berbunyi nyaring. Getaran hebat merambat di dinding gua.
"Mayang, kita harus pergi sekarang!" teriak Sekar Wangi.
"Sabotasemu membuat tekanan uap di pipa utama menjadi tidak stabil. Jika katup ini meledak, seluruh bagian bawah benteng ini akan runtuh!"
Mayangsari menarik tangannya dari mesin, wajahnya pucat namun penuh tekad. "Aku harus memberikan sinyal pada Tirta. Dia tidak akan tahu kalau tempat ini akan segera meledak!"
Mayang mengangkat kedua tangannya ke atas. Ia tidak menyerang, melainkan melepaskan gelombang energi Rembulan Merah yang berdenyut selaras dengan jantungnya. Gelombang itu merambat melalui dinding karang, sebuah panggilan batin yang hanya bisa dirasakan oleh Tirta.
Kembali ke aula, Tirta merasakan denyutan itu. Waktunya habis, pikirnya.
Ia berhenti menghindar. Tirta berdiri tegak di tengah aula, membiarkan energi Sinar Gadhing miliknya meredup hingga hampir padam. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh sisa tenaga dalamnya bukan ke pedang, melainkan ke pusat pusar sukmanya.
"Menyerah?" Kraken muncul dari balik kabut uap, tinju airnya yang raksasa sudah siap menghantam kepala Tirta. "Pilihan yang bijak untuk seorang pecundang!"
Saat tinju Kraken hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya, mata Tirta terbuka lebar. Cahaya di matanya kini bukan lagi perak, melainkan emas putih yang menyilaukan.
"Sinar Gadhing: Matahari di Dasar Laut!"
Tirta tidak menebas. Ia menghentakkan kakinya ke lantai karang. Sebuah ledakan cahaya dan panas yang luar biasa masif memancar dari tubuhnya, menguapkan seluruh air milik Kraken dalam sekejap—termasuk pelindung air yang menyelimuti tubuh sang kapten.
"ARGHHHH!" Kraken terhempas ke belakang, tubuh raksasanya menghantam pilar utama aula hingga hancur.
Tanpa elemen airnya, ia hanyalah pria besar yang terluka bakar hebat.
Tirta tidak membuang waktu untuk menghabisi Kraken. Ia melihat Mustika Samudra di tengah kolam yang kini mulai retak karena ketidakseimbangan energi. Tirta melompat, menyambar bola kristal biru itu, dan menyimpannya di balik jubahnya.
"Mayang! Sekar! Lari ke arah dermaga!" teriak Tirta melalui transmisi suara tenaga dalam.
Tepat saat itu, pipa-pipa uap di bawah lantai aula meledak. Lantai karang mulai runtuh ke dalam laut yang bergejolak di bawahnya. Tirta berlari di atas reruntuhan yang jatuh, menggunakan teknik Langkah Awan untuk melompat dari satu bongkahan batu ke bongkahan lainnya.
Di lorong menuju dermaga, ia bertemu dengan Mayang dan Sekar yang sedang dikejar oleh puluhan bajak laut yang selamat.
"Tirta! Lewat sini!" Sekar melepaskan tiga anak panah api ke arah tumpukan tong mesiu di dekat gerbang, menciptakan ledakan yang menutupi jalur pengejaran musuh.
Mereka bertiga melompat keluar dari mulut gua yang menghadap langsung ke samudra luas. Di bawah sana, di tengah ombak yang mengganas, sebuah perahu kecil nampak bergoyang-goyang hebat.
"DIMAS!" raung Tirta.
"AKU DI SINI, KAWAN! CEPAT LOMPAT!" Dimas berdiri di atas perahu, memegang galahnya untuk menstabilkan posisi di antara karang-karang tajam.
Mereka bertiga meluncur turun dari ketinggian sepuluh tombak. Tirta memeluk Mayangsari untuk melindunginya dari benturan air.
BYURRR!
Mereka muncul ke permukaan, terengah-engah, dan segera naik ke atas perahu. Dimas dengan sigap mendayung sekuat tenaga menjauhi tebing. Beberapa detik kemudian, bagian bawah Benteng Karang Bolong runtuh sepenuhnya ke dalam laut, menciptakan suara gemuruh yang menyaingi petir. Asap tebal dan debu karang menutupi pandangan.
Setelah berada di jarak yang cukup aman, Tirta mengeluarkan Mustika Samudra dari balik jubahnya. Bola itu masih berdenyut biru, namun kini lebih tenang.
"Kita berhasil..." bisik Mayangsari, ia menyandarkan kepalanya yang basah di bahu Tirta.
Dimas berhenti mendayung sejenak, menatap kehancuran benteng di kejauhan. "Satu benteng hancur, satu kapten kalah... tapi lihat itu."
Dimas menunjuk ke arah cakrawala. Di sana, nampak belasan bayangan kapal besar dengan layar hitam yang baru saja muncul dari balik kabut laut. Itu bukan kapal Bajak Laut Mata Satu yang biasa; itu adalah armada utama dari Fraksi Mata Meratap.
"Mereka tidak akan membiarkan kita membawa mustika itu begitu saja," ujar Sekar Wangi sambil memeriksa sisa anak panahnya.
"Perang di laut baru saja dimulai."
Tirta berdiri di ujung perahu, menatap armada musuh yang mendekat. Meskipun tubuhnya lelah dan lukanya perih karena air garam, semangatnya justru semakin berkobar. Ia menggenggam hulu pedangnya dan menatap Mustika Samudra.
"Biarkan mereka datang," ucap Tirta dingin. "Lautan ini akan menjadi kuburan bagi siapa pun yang mencoba menyentuh rembulan di sisiku."
Fajar mulai pecah di ufuk timur, namun bagi Tirta dan kawan-kawannya, hari ini bukanlah akhir dari pelarian, melainkan awal dari pengejaran yang akan membawa mereka melintasi samudra menuju jantung kegelapan yang sesungguhnya.