NovelToon NovelToon
Paper Plane Memories

Paper Plane Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Bullying dan Balas Dendam / Ibu Tiri / Balas Dendam / Romantis
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: SellaAf.

Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Sakit part 1

Belva Terbaring dengan luka yang sudah di jahit di perutnya karena tusukan gunting yang Aera lakukan.

Ia di bawa oleh anak buahnya ke rumah sakit yang sama dengan Aera karena memang hanya rumah sakit itu yang letaknya paling dekat dengan lokasi kejadian.

Luka di wajah dan di perut Belva tentu tidak sebanding dengan luka yang Aera rasakan, luka fisik yang di dapat oleh Belva bisa sembuh dalam hitungan hari.

Sedangkan luka batin yang di dapat oleh Aera tidak akan sembuh hanya dengan hitungan hari, mungkin sampai kapanpun luka itu akan terus bersarang di hati gadis itu.

...----------------...

Suasana SMA Galaksi terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Bangku kosong milik Leo dan Wain seakan menjadi pengingat bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja. Zayyan duduk di sudut kelas dengan mata sembab. Tangisnya memang sudah reda, tapi napasnya masih tersengal, seolah dadanya menahan rindu yang terlalu berat untuk anak seusianya.

"Wain ke mana?"

"Kenapa Wain nggak masuk?"

"Kalian bohong, kan? Wain pasti datang..."

Pertanyaan itu terus keluar dari bibir Zayyan, berulang-ulang, tanpa peduli siapa yang menjawab—atau justru memilih diam. Salah satu anak Alaxtar mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras, bukan karena marah sepenuhnya, tapi lebih karena lelah menghadapi sikap Zayyan yang hari ini begitu rapuh.

"Zay, cukup," ucapnya akhirnya, berusaha setenang mungkin. "Kami juga nggak tahu."

Namun Zayyan menggeleng keras, air matanya kembali jatuh. "Kalian tahu... kalian pasti tahu... Wain janji nggak akan ninggalin aku."

Kalimat itu membuat kelas mendadak hening.

Tak ada yang berani menatap Zayyan terlalu lama. Kata janji terdengar terlalu menyakitkan, seolah menyimpan sesuatu yang belum siap diungkapkan.

Zayyan melipat bibirnya ke dalam, ia sangat merindukan Wain walaupun baru semalaman tidak bertemu dengan pemuda itu.

"Davin, anterin aku ke Wain yah," pintanya dengan memelas.

"Kalau gue tau dia dimana pasti udah gue anterin, cil!" Ucapnya dengan gemas karena pemuda itu terus sama membicarakan Wain.

"Udah deh, nanti juga Wain hubungi lo kok," Alex mencoba menenangkan.

"Betul itu, dia mana bisa tenang tinggalin lo sendirian di basecamp lama-lama," ucap Davin.

...----------------...

Disisi lain, Stella dan Sheina merasa kehilangan karena Aera tidak berangkat bersama dan tidak mengabari mereka.

Biasanya kalau ada apa-apa Aera selalu menghubungi mereka berdua. Tapi kali ini ia sama sekali tidak ada kabar.

"Aera sakit?" Tanya Stella.

"Nggak tau, dia nggak ngasi tau gue."

"Gue chat belum juga di balas," gerutu Stella.

Sheina menatap layar ponselnya lama. Nama Aera masih berada di urutan paling atas, dengan tanda centang satu yang tak kunjung berubah.

"Aneh," gumamnya. "Dia bukan tipe yang ngilang gini."

Stella menghela napas kasar, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Iya. Biasanya dia yang paling cerewet kalau pagi. Sekarang... sepi banget."

Sepanjang pelajaran, Stella berkali-kali melirik ponselnya yang ia sembunyikan di bawah meja. Tidak ada notifikasi. Tidak ada balasan. Hanya keheningan yang terasa makin berat.

"Naaa," bisik Stella pelan, "gue takut."

Sheina menoleh cepat. "Takut kenapa?"

"Takut kenapa-kenapa sama Aera."

Sheina terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tak bisa menyangkal perasaan itu. Ada firasat aneh yang sejak pagi menempel di dadanya.

Jam istirahat, mereka berdua memutuskan keluar kelas. Tanpa banyak bicara, langkah mereka otomatis menuju tempat yang biasa Aera datangi.

Bangku taman—kosong.

Kantin—tak ada sosok itu.

Lorong kelas—hanya lalu lalang siswa lain.

"Dia beneran nggak ke sekolah," lirih Sheina.

Stella mengepalkan tangan. "Kita ke rumahnya aja sepulang sekolah."

Sheina mengangguk pelan. "Kalau sampai sore dia masih nggak ngabarin..."

Drettt... Drettt... Drettt...

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya ponsel milik Stella berdering dengan cepat tertera nama Aera. Orang yang ia tunggu sedari tadi.

"Na, Aera Telepon."

"Cepat Angkat."

Dengan tangan sedikit gemetar, Stella akhirnya menggeser layar ponsel itu ke arah Aera. Nama itu masih menyala, seakan ikut menekan dadanya.

"Halo...," suaranya lirih, nyaris tak terdengar. Di seberang sana, hanya ada jeda beberapa detik. Sunyi yang terasa terlalu panjang.

"Ini gue Leo."

Deggg...

"L-Leo... kok hp Aera ada di lo sih?" suara Stella bergetar, jelas tak siap dengan jawaban apa pun.

Di seberang sana, Leo menghela napas panjang. Ada jeda singkat, seolah ia sedang menata kata-kata agar tidak terdengar terlalu mengkhawatirkan.

"Aera lagi di rumah sakit," jawabnya.

Stella terdiam. Jemarinya dingin. Otaknya berusaha mencerna, tapi dadanya sudah lebih dulu sesak.

"Aera sakit apa?" Tanya Stella dengan khawatir.

"Lo datang langsung ke rumah sakit Jakarta Selatan, sekarang dia sudah di pindahkan ke ruang rawat." Ucapnya.

"O-oke... thanks, gue kesana sekarang." Ucap Stella yang diakhiri dengan sambungan telepon nya.

"Na... ikut gue sekarang!" ucap Stella sambil menarik lengan Sheina.

Sheina yang baru saja memakan makanannya itu langsung saja beranjak kaget karena lengannya di tarik oleh Stella. Ia pun hampir terjungkal karena ulah Stella yang menarik nya dengan sangat kasar.

"Mau ke mana El?" Tanya Sheina terkejut.

"Ke rumah sakit, Aera masuk rumah sakit." Jawab Stella.

Langkah Sheina mendadak terhenti.

"Aera?" ulangnya lirih, wajahnya seketika pucat. "Kenapa dia bisa masuk rumah sakit?"

Stella tak menjawab. Tangannya justru semakin erat menarik Sheina, seolah waktu adalah musuh yang harus mereka kalahkan. Suara langkah kaki mereka berpadu dengan detak jantung Sheina yang kian tak karuan.

"Stella, jawab gue," desak Sheina, suaranya mulai bergetar. "Dia kenapa?"

Stella akhirnya menoleh. Matanya memerah, napasnya tak beraturan. "Dia masuk rumah sakit. Kata Leo. Gue aja nggak tau kenapa? Jadi sekarang kita datang langsung kesana." ucapnya, nyaris seperti bisikan.

Sheina menelan ludah. Ingatannya langsung melayang pada Aera—senyumnya yang selalu dipaksakan, tawa kecil yang sering menyembunyikan lelah.

"Kenapa gue gak dikabarin dari tadi?" tanyanya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

"Yang penting sekarang kita ke sana."

Stella menarik tangan Sheina dengan langkah tergesa menyusuri koridor samping sekolah. Wajah mereka pucat, napas tak beraturan. Baru beberapa meter dari gerbang belakang—

BRAK!

Tubuh Stella bertabrakan keras dengan seseorang.

"Eh, hati-hati dong!" suara cowok itu terdengar kaget.

Stella mendongak. Di hadapan mereka berdiri Davin, Alex, dan Zayyan. Ketiganya langsung menyadari ada yang tidak beres dari raut wajah Stella dan Sheina.

"Kalian kenapa?" tanya Zayyan, menatap curiga.

"Mau ke mana lari-lari gitu?" tambah Alex.

Sheina refleks memegang lengan Stella, ragu untuk bicara. Davin menyilangkan tangan, menajamkan pandangan.

"Jangan bilang mau kabur sekolah," katanya setengah bercanda, tapi matanya serius.

Stella menghela napas panjang.

"Kami... dapet kabar," ucapnya pelan.

"Kabar apa?" Davin langsung memotong.

Sheina akhirnya angkat bicara, suaranya bergetar. "Aera... masuk rumah sakit."

Ketiganya langsung terdiam.

"Apa?" Davin menoleh cepat ke Alex dan Zayyan.

"Serius?"

Stella mengangguk. "Kami baru tau. Kami harus ke sana sekarang."

Zayyan mengusap tengkuknya.

"Kenapa bisa? Aera baik-baik aja kemarin. " tanya Zayyan.

"Karena kemarin belum semuanya kelihatan." Jawab Alex.

Mereka semua menoleh bersamaan.

Alex berdiri beberapa langkah dari mereka, ekspresinya sulit ditebak.

"Kamu dengar?" tanya Davin.

Alex mengangguk pelan. “Cukup buat bikin gue curiga."

"Curiga soal apa?" Sheina bertanya pelan.

Alex melirik Stella dan Sheina, lalu ke Davin, dan Zayyan.

"Kejadian ini mirip dengan yang lain."

"Yang lain?" Davin mengernyit.

"Leo," lanjut Alex. "Dan Wain."

Nama itu membuat suasana makin dingin.

"Leo ngilang," kata Davin pelan.

“Wain juga nggak masuk sekolah." Alex menatap mereka satu per satu.

"Aera masuk rumah sakit. Leo dan Wain menghilang. Terjadi hampir di waktu yang sama."

Zayyan menelan ludah.

“Jadi menurut kamu... ini saling berhubungan?" Alex mengangguk tipis.

Stella mengepalkan tangan. “Kami tetap ke rumah sakit."

Alex melangkah maju. "Gue ikut."

Davin menatap yang lain, lalu berkata, "Kalau ini ada hubungannya sama mereka bertiga, kita nggak bisa tinggal diam."

Alex dan Zayyan mengangguk setuju. Tanpa banyak kata, mereka berlima bergerak ke arah gerbang sekolah—dengan satu perasaan yang sama.

1
SellaAf
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!